Minggu, 05 Februari 2012

MENANGISI KEMATIAN

Pada suatu hari Brahma bertanya kepada Narada yang bijaksana, "Hai Narada, hal apakah yang paling mengherankan yang engkau lihat di bumi?".
Narada menjawab, "Hal yang paling mengherankan yang saya lihat di bumi adalah orang yang hampir mati menangisi orang yang mati. Mereka sendiri yang setiap saat mendekati kematian, menangisi yang telah mati, seolah-olah tangisan mereka mempunyai akibat baik untuk menghidupkan lagi yang telah mati atau mencegah kematian mereka sendiri".
Brahma meminta Narada untuk mengatakan hal yang mengherankan lainnya. Narada berkata, "Setiap orang tahu akibat dosa, walaupun demikian, tetap saja melakukan dosa. Setiap orang amat sangat ingin mendapatkan hasil dari pahala, tetapi setiap orang enggan melakukan perbuatan yang berpahala".
by Bhagawan Baba.

VALENTINE DARI PERSPEKTIF HINDU

Sebentar lagi sebagian besar remaja-remaja putri di seluruh belahan dunia akan disibukkan dengan agenda mereka membeli kado dan cokelat. Seluruh toko-toko souvenir dan pernak pernik berbau cinta dan kasih sayang akan dipadati oleh para remaja, demikian pula pedagang cokelat akan ramai diserbu pesanan cokelat cinta pada saat itu. Hari itu adalah tanggal 14 Februari, hari yang sebagian orang lebih dikenal dengan hari Valentine (Valentine Day). Hari Valentine dimaknai sebagai hari kasih sayang, yang lebih sempitnya lagi saat dimana seorang wanita memberikan cokelat atau kado kepada laki-laki yang mereka sayangi, atau yang mereka sukai secara spesial. Hal itu tidak hanya terjadi di luar negeri saja, tetapi di Indonesia pun para remaja tidak kalah antusiasnya merayakan hari tersebut. Semua ini karena pengaruh globalisasi. Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan.

KAKAWIN SUTASOMA


Kakawin Sutasoma adalah sebuah kakawin dalam bahasa Jawa Kuna. Kakawin ini termasyur, sebab setengah bait dari kakawin ini menjadi motto nasional Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Motto atau semboyan Indonesia tidaklah tanpa sebab diambil dari kitab kakawin ini. Kakawin ini mengenai sebuah cerita epos dengan pangeran Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Kakawin ini digubah oleh mpu Tantular pada abad ke-14.

Sabtu, 21 Januari 2012

SIWA RATRI SEBAGAI MALAM KESADARAN


Sehari sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering disebut prawaning tilem kapitu, umat hindu memperingati Hari Siwaratri. Jika di urut dari asal katanya, “siwa” itu dapat diartikan sebagai terang dan “ratri” itu dapat diartikan gelap. Jadi Siwaratri dapat diartikan bahwa yang terang telah menjadi gelap dan yang gelap menjadi terang kembali. Dalam diri manusia bersemayam Tuhan beserta sifat - sifat ketuhanan, namun seiring perjalanan hidup, kegelapan dan ilusi duniawi membuat manusia semakin lupa akan asal dan jati diri.