Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2013

Sekilas Tentang Cuntaka


CUNTAKA

I.                   Arti Cuntaka
Cuntaka maarti nenten suci manut pandangan Hindu. Sane mawasta nenten suci inggih punika keadaan sane ngeranayang goyah, nenten tenang, nenten mantep ngelaksanayang upacara Agama Hindu.

II.                Sane Ngeranayang Cuntaka/ Sebel:
1.      Seda/ padem (kematian)
2.      Wiwaha (perkawinan)
3.      Ngembas rare (melahirkan)
4.      Kruron (menggugurkan)
5.      Sebel kandel (kotor kain)
6.      Mitra ngalang (kumpul kebo)
7.      Agamya gamana/ salah timpal
8.      Sakit ila/ gering agung
9.      Bobot tan maduwe laki
10.  Lekad rare tan maupakara wiwaha
11.  Cilaka (tan dados menek bajang)
12.  Cuntaka ngelarang Sad Atatayi
13.  Cuntaka manak salah
14.  Cuntaka menolong kematian
15.  Cuntaka melayat/ mejenukan

Tios ring punik wente taler mawit buron, kayu muwah tiosan, minakadi:
1.   Ubuan sampi, kebo, kambing, celeng, yan masuk genah suci, taler ngeranayang letuh/ cuntaka. (Yening anggen upacara nenten ngeletehin.)
2.      Kayu/ entik-entikan sane mentik ring setra, sander kilap taler leteh.
3.      Bunga sane mentik ring setra, bunga Sari Lonto, Sungenge taler leteh.
4.      Alat-alat/ pangangge kematian taler leteh.
5.      Pangangge anak sebel kandel taler leteh, muwah sane tiosan.

Senin, 19 November 2012

Karakter 4 Punakawan Wayang Bali


Karakter Wayang Bali


Dalam pewayangan Bali, ada 4 karakter punakawan yg bisa menjadi renungan: 1) Tualen. 2) Merdah. 3) Sangut. 4) Delem. Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam 4 gambaran umum.

1. Tualen, dia “tidak tahu dirinya tahu”. Dia kontemplatif, murni bersandar pada batin, sederhana dan penuh kearifan.

2. Merdah, dia “tahu dirinya tahu”. Dia paham, berani dan penuh percaya diri.

3. Sangut, dia “tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak paham, namun bersikap menerima ketidakpahamannya, mengakui kelebihan orang lain, penuh pertimbangan.

4. Delem, dia “tidak tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak tahu tapi merasa tahu, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain, angkuh dan congkak di depan orang-orang, dan dia tidak bisa mengukur diri. Percaya diri di tengah ketakpahaman. Angkuh dan pongah, merasa paling benar.

Dari para punakawan ini, sadar atau tak sadar, masyarakat Bali memetik sikap: Kita memilih berperan seperti siapa?

Rabu, 14 November 2012

Bali dan Agama Tirta


Air, Agama Tirta dan Pariwisata Bali
Oleh Sugi Lanus*


Ada yang dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Bali dalam menata pembangunan Bali, yaitu air. Air dalam sejarah peradaban Bali memiliki peran paling vital, baik secara spiritual maupun material. Teknologi irigasi tradisional, pola pengorganisasian pembagian air, ritual dan demokrasi dalam penjatahan air di daerah-daerah pertanian, telah mengkristal menjadi ”institut” subak. Ini menjadi kebanggaan kita semua orang Bali, sebagai sebuah hasil kearifan masyarakat Bali. Walaupun kalau kita jujur, sebagian dari kita tak banyak mengerti kearifan leluhur yang diwariskannya dalam tradisi subak, karena kaki dan tangan generasi kita kebanyakan tak pernah menyentuh lumpur sawah dan tegalan. Kita lebih akrab dengan jalan raya, pertokoan, pelataran hotel, sekolah pariwisata dan institusi-institusi modern.

Agama masyarakat Bali, sebelum kemerdekaan dan era keindonesiaan, oleh generasi 1920-an lebih condong disebut sebagai Agama Tirta. Bacalah kembali dialog-dialog dalam bentuk tulisan di majalah atau terbitan era itu, yaitu Surya Kanta, Jatayu, dan Bali Adnyana.

Dalam nama Agama Tirta ini, secara verbal sudah menyatakan bahwa air/tirta menduduki posisi paling hakiki, dan paling sakral. Hingga kini, kalau kita amati secara mendalam, adakah sebuah upakara/ritual di Bali yang bisa di-puput tanpa tirta? Tidak ada. Upacara selalu terkait dengan mata air, beji dan patirtan. Tak ada pewalian atau odalan tanpa rangkaian mendak tirta (menjemput tirta). Ini sebuah bentuk sublim penghargaan terhadap ibu. Ini bisa kita lihat dari roh suci yang menjaga sumber air dan sungai selalu feminin, bergelar Dewi, Ratu Ayu, atau Batari. Bukankah ini sebuah warisan “pelajaran gender” dan feminisme yang diturunkan dalam ritual?

Selasa, 13 November 2012

Pemaknaan "Majejahitan" Pada Manusia Bali


Majejahitan: Pewarisan Kesadaran Estetika Manusia Bali
oleh Sugi Lanus
Karang Jasi, Cakranegara, 14  Nopember 2005


Setiap orang Bali, walaupun ia terlahir sebagai laki-laki, pasti pernah matanding atau majejahitan. Metanding adalah kegiatan untuk menyanding-nyandingkan atau menata berbagai bahan sesaji sehingga menjadi sebuah keutuhan sebuah banten (sesaji). Sementara majejahitan merupakan bagian dari matanding, yaitu menjahit janur dirangkai dengan berbagai bunga dan daun-daunan tertentu. Mejejahitan menghasilkan canang (merangkai janur dan warna-warni bunga dan daun). Canang dan berbagai hasil majejahitan dipersatukan dalam matanding menjadi banten. Walaupun jarang yang aktif, biasanya anak laki-laki dilibatkan juga dalam memetik bunga, memanjat kelapa, mencari janur, atau berbagai perlengkapan dalam tahap persiapan.

Bagi para ibu dan anak perempuan Bali, membuat untaian keindahan (majejahitan dan metanding) adalah “mata pelajaran pokok” dalam kehidupannya. Laki-laki mendampingi untuk mempersiapkan bahan-bahannya. Setiap hari diwajibkan untuk membuat canang atau tangkih untuk persembahan pagi atau sore. Canang adalah peraduan berbagai unsur-unsur keindahan. Berbagai jenis dan warna bunga, janur, dupa, beras, dstnya. Mereka dirangkai, dijahit, ditata atau ditanding menjadi sebuah kesatuan yang kita sebut canang. Kata canang mengandung arti persembahan. Persembahan atau canang kita adalah keindahan. Keindahan bentuknya dan tentunya juga keindahan hati pembuatnya.

Biasanya canang atau metanding (menata sesaji) dilakukan di atas meja. Atau tikar. Yang beruntung punya bale (bangunan khusus untuk matanding) mereka membuatnya disana. Janur dituas. Lalu dijahit dengan ketelitian yang tinggi. Berbagai bentuk kurva dan persegi. Di sini orang Bali diperkenalkan pada dimensi dan bentuk. Janur yang dijahit ini menjadi semacam penyangga bagi bunga-bunga yang dirangkai di atasnya. Dilengkapi berbagai kelengkapan tambahan sesuai kebiasaan atau tata cara keluarga atau desa bersangkutan.

Selasa, 31 Juli 2012

KWANGEN SEBAGAI SIMBOLISASI OMKARA


Pelaksanaan keagamaan Hindu tak pernah lepas dari simbolisasi nilai-nilai agama yang diaplikasikan langsung ke dalam budaya lokal setempat daerah agama Hindu tersebut berkembang. Agama Hindu merupakan agama yang ritualnya dihiasi dengan sarana atau upakara. Ini bukan berarti upakara itu dihadirkan semata-mata untuk menghias pelaksanaan ritual. Pelaksanaan ritual dengan jenis upakara tertentu memiliki makna dan tujuan tertentu sesuai dengan jenis yadnya yang dilaksanakan. Demikian halnya yang terjadi di Bali, hampir sebagian besar dan bahkan secara keseluruhan nilai-nilai agama itu menjiwai kebudayaan Bali. Darah seni berkolaborasi dengan nilai religius keagamaan merasuk dalam nafas kreativitas orang-orang Hindu Bali. Begitu pula dalam pelaksanaan yadnya, baik sarana-sarana yadnya maupun hal-hal lainnya.

Kamis, 19 Juli 2012

Sejarah Banten di Bali dan Aspek Upacara Hindu


Sejarah Banten di Bali 

Membaca sejarah/babad/prasasti-prasasti/pelelutuk yang ada di Bali (antara lain: Markandeya Tattwa, Tutur Kuturan, Sanghyang Aji Swamandala, Gong Besi, Dwijendra Tattwa), maka: Upakara yang juga dinamakan: banten, bali, hanya bagi umat Hindu yang di Bali, atau bagi umat Hindu Bali yang merantau keluar Bali.
Sebabnya, Maharsi Markandeya yang datang ke Bali pada abad ke-8 mendapat wahyu bahwa umat Hindu di Bali perlu:
1. Melengkapi upakara dengan bentuk sesajen, yang kemudian bernama bali. Jadi nama bali berasal dari artinya yaitu : sajen/banten/upakara. Orang yang memuja Tuhan dengan sarana banten/bali dinamakan orang Bali. Tempat mereka tinggal dinamakan tanah/pulau Bali.
2. Pada awal kedatangan Maharsi Markandeya, beliau tidak tahu bahwa tata-cara di Bali harus menggunakan banten/upakara. Maka pengikutnya yang berjumlah 400 orang terkena bencana dan meninggal dunia.

Minggu, 05 Februari 2012

VALENTINE DARI PERSPEKTIF HINDU

Sebentar lagi sebagian besar remaja-remaja putri di seluruh belahan dunia akan disibukkan dengan agenda mereka membeli kado dan cokelat. Seluruh toko-toko souvenir dan pernak pernik berbau cinta dan kasih sayang akan dipadati oleh para remaja, demikian pula pedagang cokelat akan ramai diserbu pesanan cokelat cinta pada saat itu. Hari itu adalah tanggal 14 Februari, hari yang sebagian orang lebih dikenal dengan hari Valentine (Valentine Day). Hari Valentine dimaknai sebagai hari kasih sayang, yang lebih sempitnya lagi saat dimana seorang wanita memberikan cokelat atau kado kepada laki-laki yang mereka sayangi, atau yang mereka sukai secara spesial. Hal itu tidak hanya terjadi di luar negeri saja, tetapi di Indonesia pun para remaja tidak kalah antusiasnya merayakan hari tersebut. Semua ini karena pengaruh globalisasi. Globalisasi merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi eksistensi Agama Hindu. Tidak ada satu bangsa atau budaya apapun di belahan dunia ini yang tidak terlepas dari globalisasi atau era kesejagatan yang demikian tampak pesat mendera setiap bangsa. Berbagai produk budaya global telah merambah berbagai aspek kehidupan.

Sabtu, 29 Januari 2011

PEMASUPATIAN DAN PENGEREHAN.



Petapakan adalah topeng dalam wujud sosok mahluk magis yang menyeramkan, terbuat dari kayu tertentu, dibentuk sedemikan rupa sebagai simbul unsur niskala ( tidak nampak) dari adanya Ida Bhatara Rangda.

Ketakson berasal dari kata taksu mendapat awalan “ ke “ dan akhiran “ an “, sehingga menjadi kata ketaksuan dan orang bali lebih mudah mengucapkan dengan kata ketakson yang artinya kesaktian dari proses sakralisasi.

Panugrahan artinya pemberian dari Dewa.