Selasa, 31 Juli 2012

KWANGEN SEBAGAI SIMBOLISASI OMKARA


Pelaksanaan keagamaan Hindu tak pernah lepas dari simbolisasi nilai-nilai agama yang diaplikasikan langsung ke dalam budaya lokal setempat daerah agama Hindu tersebut berkembang. Agama Hindu merupakan agama yang ritualnya dihiasi dengan sarana atau upakara. Ini bukan berarti upakara itu dihadirkan semata-mata untuk menghias pelaksanaan ritual. Pelaksanaan ritual dengan jenis upakara tertentu memiliki makna dan tujuan tertentu sesuai dengan jenis yadnya yang dilaksanakan. Demikian halnya yang terjadi di Bali, hampir sebagian besar dan bahkan secara keseluruhan nilai-nilai agama itu menjiwai kebudayaan Bali. Darah seni berkolaborasi dengan nilai religius keagamaan merasuk dalam nafas kreativitas orang-orang Hindu Bali. Begitu pula dalam pelaksanaan yadnya, baik sarana-sarana yadnya maupun hal-hal lainnya.

Upakara ritual agama Hindu di Bali kaya dengan jenis dan bentuk upakara. Baik dari bentuk yang paling kecil dan sederhana, sampai yang paling besar dan rumit. Sebagai contoh dalam pelaksanaan upacara keagamaan atau dalam persembahyangan diperlukan beberapa sarana, seperti penjor, gebogan, daksina, canang sari, dan sebagainya. Termasuk juga salah satunya berupa “kewangen”, namun sebelumnya kita bahas sedikit tentang canang sari sebagai sarana sembahyang umat Hindu di Bali.

Canang Sari
Canang berasal dari bahasa jawa kuno yang pada mulanya berarti sirih, yang disuguhkan pada tamu yang sangat dihormati. Jaman dulu, sirih benar–benar bernilai tinggi. Setelah agama Hindu berkembang di Bali, sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain. Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri. Canang  belum bisa dikatakan bernilai agama jika belum dilengkapi porosan yang bahan pokoknya sirih.
Perlengkapan canang adalah alasnya dipakai ceper atau daun pisang berbentuk segi empat, di atasnya berturut – turut disusun plawa, porosan, urasari kemudian bunga.

Makna masing – masing perlengkapan canang :
Plawa adalah daun–daunan. Telah disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa plawa merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, sehingga dapat menangkal pengaruh busuk dari nafsu duniawi.
Porosan adalah dari pinang dan kapur yang dibungkus daun sirih. Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan pinang, sirih dan kapur adalah lambang pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. Pinang lambang pemujaan pada Dewa Brahma, kapur lambang pemujaan pada Dewa Siwa, sirih lambang pemujaan pada Dewa Wisnu.
Urasari adalah jejahitan, reringgitan, dan tetuwasan sebagai lambang ketepatan dan kelanggengan pikiran dan lambang permohonan pada Tuhan Yang maha esa agar alam lingkungan hidup kita selaras dan seimbang.
Bunga adalah lambang keikhlasan. Apapun yang mengikat diri kita di dunia ini harus kita ikhlaskan sebab cepat / lambat dunia inipun akan kita tinggalkan.
Dalam Bhagawad Gita IX.26 disebutkan:
“Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati,
Tad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah”.
Artinya:
Siapapun yang dengan sujud bhakti kepada-Ku mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bungan, sebiji buah-buahan, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Berdasarkan sloka tersebut, unsur persembahan kepada Tuhan tidak mengikat, dapat berupa daun, bunga, buah, air dan lain-lain, asal diberikan dengan tulus ikhlas, diterima. Tanpa itupun juga boleh, sebagaimana dinyatakan dalam Rg Weda IV.25.8 jo Rg Weda VIII 70.3. Mengacu pada sloka tersebut, leluhur umat Hindu di Bali mengembangkan tatwa suci itu dengan kecerdasan lokal jenius yang mereka miliki (lokal wisdom). Maka munculah sebuah budaya “canang” sebagai wujud persembahan rasa syukur umat Hindu Bali atas segala yang ada di dunia ini. Karena kalau kita cermati, semua bahan untuk membuat “canang” itu berasal dari alam, alam adalah ciptaan Tuhan. Segala sesuatunya berasal dari Tuhan, lalu apa yang manusia persembahkan?. Manusia diberikan satu kelebihan dibandingkan semua ciptaan Tuhan yang lainnya, yaitu “idep” atau pikiran. Dengan mengolah pikiran, cipta, rasa dan karsanya leluhur umat Hindu di Bali membuat sebuah simbolisasi persembahan dengan mengaplikasikan sloka Bhagawad Gita tersebut ke dalam bentuk sebuah persembahan yang kita sebut dengan “canang”. Selain itu jika kita lihat juga “canang” yang lengkap dengan kembang rampainya terlihat menyerupai sebuah linggayoni, sebagai simbolisasi kesuburan dan penciptaan. Maka dari itu, diusahakan jika menghaturkan “canang” kalau bisa untuk membuat sendiri sebagai persembahan rasa syukur kita atas semua yang ada di dunia ini.
Jadi canang mengandung arti dan makna rasa syukur dan bhakti serta perjuangan hidup manusia dengan selalu memohon bantuan dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, untuk dapat menciptakan, memelihara dan meniadakan yang patut diciptakan, dipelihara, dan ditiadakan demi suksesnya cita–cita hidup manusia yakni kebahagiaan.
Canang dari segi penggunaannya dan bentuk serta perlengkapannya ada beberapa macam, misalnya: Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, Canang Meraka, dan lain – lain.

Kwangen
Kalau dikaitkan dengan huruf suci, kwangen merupakan sejenis upakara simbol “Omkāra”  (Niken Tambang Raras, 2006: 2). “Om”  adalah huruf suci, singkat dan mudah diingat. Demikian juga dalam bentuk upakaranya berupa “kewangen” memiliki bentuk kecil, mungil, praktis, dan indah serta berbau harum. Keharuman ”kewangen” ini adalah suatu tanda atau isyarat agar umat atau bhakta senantiasa mengingat, mengucapkan, dan mengharumkan nama suci Tuhan. Keberadaan “Kewangen” sangat penting dalam upacara persembahyangan karena memiliki makna simbolik yang dipuja yaitu Tuhan Yang Mahaesa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Sebagai simbolik Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), tentunya “kewangen” dibuat dengan bentuk yang indah dari bahan-bahan yang indah juga dan harum. Hal ini dapat dimaknai bahwa Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah indah, harum, dan suci sehingga menarik untuk dipuja dan dimuliakan. Dalam Siwagama disebutkan bentuk Kewangen Sebagai simbol “Omkara” dalam bentuk upakara, “kewangen” memiliki ukuran bentuk yang kecil, yaitu bagian bawah lancip dan bagian atas mekar seperti bunga sedang kembang. Kewangen biasanya terdiri dari: kojong dari daun pisang, plawa, porosan silih asih, pis bolong, sampian kewangen dan bunga-bunga harum yang ditusuk dengan semat (bilih bambu yang dibelah kecil-kecil). Semua bahan tersebut dipadukan atau disatukan. Porosan sisih asih dan pelawa dimasukan ke dalam kojong. Selanjutnya sampian kewangen, bunga-bunga harum, dan terakhir adalah pis bolong yang lobangnya diisi lidi (batang daun kelapa yang kecil) yang dilipat sehingga mudah ditancapkan.

Estetika Kewangen
Keindahan (estetika) hasil dari kreativitas manusia baik sengaja atau tidak, pada prinsipnya adalah untuk memenuhi kepuasan bathin atau rohani bagi pembuat karya itu sendiri dan bagi masyarakat penikmat. Kehidupan manusia dalam kesehariannya selalu memerlukan keindahan untuk memenuhi kepuasan bathinnya, baik yang diperoleh dari keindahan alami maupun keindahan karya manusia. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan keindahan (estetika), karena keindahan sebagai penyeimbang logika manusia. Keindahan dan seni sebagai penghalus hidup manusia. Tanpa keindahan (estetika), hidup manusia akan terasa kaku dan kehilangan nilai rasa. Oleh karena itu kahadiran karya estetika sangat dibutuhkan manusia sebagai penghalus rasa dalam kehidupannya. Demikian juga halnya dalam simbol upakara ” Omkāra” dalam bentuk ”Kewangen” yang merupakan hasil buatan manusia yang mengandung nilai estetika. ”Kewangen” memang bukan karya seni, karena tidak sengaja diciptakan untuk keperluan seni. Akan tetapi tanpa disadari ”kewangen” yang merupakan sarana dalam persembahyangan umat Hindu di Bali memiliki keindahan (estetika). ”Kewangen ” sebagai sarana dalam persembahyangan yang ditujukan kepada Tuhan, hendaknya membawa suasana bathin yang indah, senang, suci, kusyuk dan nyaman sehingga memudahkan berkonsentrasi dalam memuja atau memulikan Tuhan. Karena itulah ”kewangen” dibuat dengan bentuk yang indah yang mampu menciptakan suasana senang, suci, kusyuk dan nyaman dalam sembahyang.
1. Unsur-unsur keindahan Kewangen
Untuk mewujudkan estetika “kewangen” diperlukan beberapa unsur yang mengandung makna tersendiri dalam persembahyangan dan mendukung terciptanya keindahan (estetika) pada pada bentuk “kewangen”. Adapun unsur tersebut antara lain:
1) Kojong kewangen
Kojong kewangen dibuat dari daun pisang, bagian bawahnya dibentuk lancip, bagian atas lebih lebar, dan bagian depan atas terlihat ada lekukan atau cekungan. Unsur ini dibentuk mengikuti kaidah-kaidah seni bentuk (seni rupa) sehingga bentuk yang ditampilkan indah untuk dilihat. Lekukan kojong kewangen melambangkan “Arda Candra”, badang kojong melambangkan “Suku Tunggal”.
2) Plawa
Pelawa adalah sejenis daun-daunan (cukup selembar), daun yang dimaksud bisa dari daun kemuning, daun pandan harum, daun kayu (puring) atau daun sejenisnya. Pelawa tersebut melambangkan ketengan dan kejernihan pikiran. Pelawa juga memiliki bentuk dan warna yang menarik sehingga dapat mendukung estetika “kewangen”.
3) Porosan silih asih
Porosan silih asih adalah dua lembar daun sirih yang digabung berhadaphadapan, ditengahnya berisi kapur sirih dan buah pinang. Porosan silih asih simbol dari kedekatan umat dengan Dewa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Unsur ini juga melengkapi keindahan komposisi dari bentuk “kewangen”.
4) Sampian kewangen
Sampian kewangen berbentuk cili dari daun kelapa (busung) dan dihiasi dengan bunga-bunga yang harum. Sampian kewangen sebagai simbol “Nada”. Unsur ini paling dominan terlihat dalam mendukung estetika kewangen. Sampian kewangen dari rangkaian tuesan/ rerunggitan daun kelapa yang melambangkan rasa ketulusan hati, dibuat mengikuti unsur-unsur keindahan bentuk dan dipadukan dengan bunga warna-warni serta harum serta penataan yang mengikuti komposisi seni bentuk (seni rupa) tentu akan menambah keindahan (estetika) sebuah “kewangen”.
5) Pis bolong
Pis Bolong atau uang kepeng adalah sejenis uang yang diperlukan dalam upacara keagamaan umat Hindu. Uang kepeng melambangkan sesari / sarining manah. Selain itu uang kepeng berfungsi sebagai penebus segala kekurangan yang ada. Kalau kita perhatikan dengan seksama, uang kepeng juga memiliki keindahan tersendiri yang terdapat huruf mandarin dan sanskerta pada sisi uang tersebut. Keindahan uang kepeng ini tentu juga mendukung estetika dari “kewangen”. Uang kepeng simbol dari “Windu” (O), yaitu penyatuan Siwa Budha.

2. Komposisi keindahan Kewangen
Komposisi merupakan penataan unsur-unsur yang membentuk keindahan suatu karya. Komposisi keindahan “kewangen” adalah menata atau menyusun unsurunsur dari “kewangen” itu sendiri, seperti: menata atau menyusun kojong kewangen, pelawa, porosan silih asih, pis bolong, sampian kewangen dan bunga-bunga, sehingga menjadi bentuk yang indah dan menarik.
1) Keseimbangan
Penataan unsur-unsur “kewangen” dengan memperhatikan keseimbangan antara bagian kiri dan kanan dengan menerapkan keseimbangan simetris, yaitu bagian kiri dan kanan diusahakan unsur-unsurnya memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang sama. Hal ini dilakukan agar “kewangen” tidak berkesan berat sebelah.
2) Kesatuan
Penataan unsur-unsur “kewangen” agar berkesan suatu keutuhan bentuk. Unsur yang satu menukung unsur yang lainnya sehingga tidak ada kesan yang lepas atau terpisah antara bagian-bagian dari “kewangen” itu sendiri. Penataan ini perlu dilakukan agar pandangan orang terhadap “kewangen” terfokus pada keutuhan bentuk “kewangen”.
3) Irama
Penataan unsur-unsur “kewangen” berdasarkan irama untuk menimbulkan keharmonisan bentuk “kewangen”. Penataan ini dapat dilakukan dengan mengatur gradasi bentuk, ukuran dan warna unsur, misalnya dari bentuk kecil ke bentuk yang lebih besar dan kembali ke bentuk yang kecil, atau dari warna yang terang ke warna yang lebih gelap dan kembali ke warna yang terang.
4) Proporsi
Proporsi merupakan perbandingan dalam penataan unsur-unsur pembentuk “kewangen” termasuk ketepatan penempatan posisi dari masing-masing bagianbagian dari “kewangen”, seperti penempatan sampian kewangen pada bagian belakang, pis bolong pada bagian depan, dan sebaginya. Penempatan unsur-unsur kewangen yang tepat pada posisinya tentu akan mendukung keindahan bentuk “kewangen”.

3. Hubungan bentuk, esteika dan fungsi
Kwangen berasal dari bahasa jawa kuno yaitu kata “Wangi” yang artinya harum. Mendapat awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’ menjadi kewangian disandikan menjadi kwangen artinya keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa.
Bentuk “kwangen” yang kecil dan mungil serta seolah-olah berbentuk segitiga terbalik tentu telah memperhitungkan fungsi dari “kwangen” tersebut. Fungsi yang dimaksud adalah saat digunakan untuk sembahyang, yaitu “kwangen” dipegang (dijepit) pada cakupan kedua telapak tangan tepat sejajar dengan ubun-ubun dan menghadap pada diri kita. Artinya “kwangen” nyaman digunakan saat sembahyang, tidak susah dipegang, tidak mudah jatuh dan tidak mengganggu konsentrasi. Keserasian antara bentuk dan fungsi mutlak harus dikondisikan. Keindahan suatu bentuk jangan sampai mengganggu fungsi dan sebaliknya fungsi jangan sampai menganggu bentuk. Kalau diperhatikan, pada bagian badan “kwangen” yang merupakan kojong “kwangen” dibuat polos (sederhana) tanpa hiasan, hal ini untuk memudahkan dipegang (dijepit) pada cakupan kedua telapak tangan. Demikian juga, keindahan bentuk jangan sampai tergganggu akibat salah menggunakan atau memegang “kwangen”. Keserasian bentuk dan fungsi “kwangen” akan memberikan kepuasan bathin saat memandangi estetika “kwangen”, seperti dapat menimbulkan kesenangan, menyejukkan pikiran, dan kedamaian hati. Demikian juga saat digunakan untuk sembahyang dapat memberikan kekusukan dan kesucian bathin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa estetika “kwangen” nampak pada bentuknya yang kecil dan mungil yang tersusun atas komposisi unsur-unsur yang indah dan bermakna simbolik serta dihiasi dengan bunga-bunga yang harum. Keindahan (estetika) kewangen memiliki keserasian bentuk dan fungsi sehingga nyaman digunakan pada saat sembahyang baik secara fisik maupun bathin.
Kwangen digunakan sebagai sarana dalam upacara yaitu sebagai pelengkap upakara / bebantenan. Kwangen paling bangak digunakan dalam upacara persembahyangan. Selain itu juga sebagai pelengkap dalam upakara untuk upacara Panca Yadnya.
Dewa Yadnya, sebagai pelengkap Banten Tetebasan, prascita, dan berbagai jenis sesayut.
Rsi Yadnya, juga sebagai pelengkap Banten Tetebasan.
Pitra Yadnya, dipakai dalam upacara menghidupkan mayat secara simbolis untuk diupacarakan yaitu pada setiap persendian tubuhnya.
Manusia Yadnya, digunakan pada setiap upacara ngotonin, potong gigi, perkawinan, dan pelengkap banten.
Bhuta Yadnya, digunakan dalam upacara memakuh, macaru, dll


Sumber: