Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozaik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

Tekor Bubuh

Hari ini adalah hari Saniscara Kliwon Wariga, atau yang masyarakat Bali kenal dengan nama Tumpek Bubuh/Tumpek Wariga. Ada satu budaya dalam masyarakat Hindu Bali, bahwa pada hari ini biasanya masyarakat Hindu di Bali melakukan upacara yg ditujukan pada tumbuh-tumbuhan sebagai rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh tumbuh-tumbuhan itu pada manusia. Dalam hal ini pemujaan ditujukan pada Dewa Sangkara selaku penguasa tumbuh-tumbuhan. Adapun salah satu sarana upacara yg digunakan adalah menggunakan sarana bubur/bubuh sumsum, jaja kukus serta jajan bali lainnya seperti giling-giling dan sebagainya. Setelah melakukan prosesi upacara biasanya masyarakat Hindu di Bali menyantap 'lungsuran' atau sisa 'bubuh sumsum' tersebut. Bagi masyarakat modern ada yang menggunakan piring untuk menyantapnya, tetapi bagi masyarakat tradisional biasanya menggunakan daun pisang yang diolah sedemikian rupa menjadi sesuatu yg lazim disebut 'tekor'. Sejenak bila perhatikan cara pembuatan tekor bubuh itu mengisyarakat suatu makna filosofi dalam hidup ini.

'Tekor' terbuat dari lembaran daun pisang, lembaran yang menyiratkan kita selalu memulai dengan lembaran baru. Daun pisang, daun yang sangat murah dan dapat diperoleh, seperti niat baik kita yang harus dengan murah dan mudah diproduksi dalam hati kita. Lembaran daun pisang itu kemudian dibentuk, ini seperti mengingatkan bahwa niat baik kita juga harus dengan mudah dibentuk dan disesuaikan dengan situasi. Proses ketiga yaitu lembaran yang sudah dibentuk itu ditusuk dan dikunci dengan ‘semat’ atau lidi yang tajam, ini menggambarkan bahwa niat baik kita harus dimantapkan dengan usaha keras, pemikiran yang tajam, seksama, hati-hati dan tegas. Kemudian 'tekor' itu dituangkan bubur sumsum yang panas dengan gulanya yang panas pula. Namun 'tekor' itu tahan panas, ini mengingatkan bahwa kita juga harus tahan terhadap segala ganjalan, halangan, dan kesulitan yang kita hadapi. Untuk menikmati bubur itu kita memerlukan sendok, untuk itulah kita menyobek daun 'tekor' itu dan dilipatkan untuk menyendok makanan tersebut, ini mengingatkan bahwa niat, usaha, masih belum cukup untuk mewujudkan semuanya, butuh pengorbanan dari diri kita untuk mewujudkannya. Posisi telapak tangan dalam memegang 'tekor' telapak tangan kita harus melindungi 'tekor' agar tidak tumpah, seperti sikap kita dalam menghadapi permasalahan dengan ikhlas. Bentuk 'tekor' yang terbuka pada satu sisinya dan tertutup pada sisi lainnya mengingatkan kita untuk selalu terbuka untuk segala ilmu dan ditutup untuk segala pengaruh buruk. 'Tekor' juga langsung dibuang oleh pemakannya ketika sudah selesai, dan ini memberikan pelajaran bagi kita siapkah kita untuk dilupakan ketika semuanya telah selesai.

Seperti itulah 'tekor bubuh' memberikan pelajaran pada pagi yang cerah ini. Selamat menikmati bubur sumsum. (˘ڡ˘)

Rabu, 06 Maret 2013

Dua Pilihan


Pada sebuah jamuan makan malam amal penggalian dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

"Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Arjun. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?"

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Arjun, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:

Arjun dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Arjun bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Arjun ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Arjun mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Arjun dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "Kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti"

Arjun berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Selasa, 26 Februari 2013

Kisah Seorang Mahatma Gandhi

Pasukan Inggris sebagai salah satu tentara terkuat dan disegani dunia, kala itu harus ditarik mundur dari India hanya karena kekuatan cinta seorang manusia kurus kering, berbaju sangat sederhana, dan memakan apa yang dimakan sebagian besar rakyatnya. Beliau adalah Mohandas Karamchand Gandhi, atau biasa dikenal dengan Mahatma Gandhi (Jiwa yang agung).

Sebagai seorang pengacara kenamaan, Gandhi seharusnya bisa menikmati kehidupan yang sangat nyaman di Afrika Selatan. Namun perlakuan yang dialaminya sebagai warga kelas dua disana, membuat ia selalu terbayang akan nasib bangsanya, yang masih hidup di bawah penjajahan Inggris.

Ia pun meninggalkan semua kehidupan mewahnya di Afrika Selatan dan pulang kembali ke negerinya. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung untuk berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat : "”Terima kasih atas penyambutan Anda semua,”" kata Gandhi sambil memberikan salam khas bangsa India. Dengan rendah hati ia mengaku, bertahun-tahun meninggalkan negerinya, ia merasa tak tahu akan keadaan bangsanya, jadi tidak mungkin ia bisa berbicara banyak.

Kamis, 21 Februari 2013

2 Orang Negro di Dalam Lift


Baru-baru ini di Atlantic City - AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.

Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, "Dua orang ini akan merampokku." Tapi pikirnya lagi, "Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah."

Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!

Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.

Kamis, 07 Februari 2013

Secarik Cerita Tentang Upacara Mecaru


MECARU
Oleh: Ida Bhawati Putu Setia

Nabe Waktra saya, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Prateka Tenaya dari Griya Padangsari, Desa Padangan, Tabanan, dikenal sebagai Sulinggih yang tidak banyak bicara. Orangnya sangat kalem dan cenderung pendiam. Namun beliau, sangat terbuka dan menyediakan waktunya berjam-jam untuk memberi pencerahan.

Suatu kali beliau guyonan dengan saya, dan katanya hal ini jarang dilakukan. Tema guyonan adalah soal mecaru, tentu di antara guyonan itu banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Ceritanya, suatu kali ada sekelompok orang yang datang ke griya Pandita Mpu. Mereka ingin melaksanakan pecaruan di merajannya. Namun, karena mereka mengikuti kelompok spiritual tertentu, mereka ingin mecaru yang mereka sebut "secara moderen". Jenis pecaruan itu sendiri adalah Panca Sanak, artinya memakai lima ayam dan satu itik. Tentu tergolong besarlah. Namun, karena ini mecaru "secara moderen", mereka tak ingin memotong ayam dan itik. Pokoknya tidak ada binatang yang dibunuh dan tak ada tetesan darah hewan apa pun yang ada. Itu himsa karma, tak sesuai dengan Weda, begitulah mereka menyebutkanya.

Rabu, 06 Februari 2013

Gunung dan Hutan Itu Mendamaikan



Mendaki Gunung Dan Menjelajah Hutan

Kadang kadang aku bertanya pada saat kami berkemah dan berada disekitar api unggun.
Apa yang kami cari jauh begini mendaki gunung?
Apa gunanya?
Apa kurang kerjaan atau perlu ke dokter jiwa atau bagaimana?
Dalam hening malam sepi terkadang kita mendengar jawabannya.
Ditengah hutan dipuncak yang jauh, tinggi dan sepi, seakan ada jawabannya.

Kalau kita jauh dari kota, jauh dari orang banyak, tanpa radio, tv, dvd atau telephone, kita bisa lebih tenang.
Mata kita lebih melihat.
Pendengaran lebih mendengar.
Perasaan lebih merasa.
Penglihatan lebih melihat.

Jumat, 07 Desember 2012

Upacara Rsi Gana, Dewa Yadnya atau Bhuta Yadnya?


Warga Hindu di Bali dan orang Bali yang berada di luar Bali mengenal ada banyak jenis upacara. Ada yang menyebutkan upacara Rsi Gana itu bukan sebagai caru atau bhuta yadnya, melainkan digolongkan ke dalam dewa yadnya. Alasannya, Rsi Gana bukan untuk mengharmoniskan alam lewat proses somya, melainkan pemujaan kepada Ganapati sebagai Wigneswara agar terhindarkan dari berbagai rintangan. Menurut Ida Pandita Dukuh, yang manakah betul sesungguhnya, apakah Rsi Gana itu upacara tergolong bhuta yadnya ataukah dewa yadnya?

Made A Dwipranatha
Sidemen, Karangsem

Rentan Waktu Caru dan Tawur


Di Bali ada berbagai jenis upacara keagamaan. Di antaranya bhuta yadnya, setingkat macaru dan tawur. Lantas, apa ada batasan jangka waktu setiap tingkatan dan jenis upacara macaru dan tawur? Pada saat seperti apa mesti digelar upacara bhuta yadnya yang dinamakan caru dan bilamana lantas menggunakan tawur? Mohon penjelasannya.

Ni Wayan Sukasih
Buahan, Payangan, Gianyar

Banten Bukan Penebus Dosa


Banten vs Dosa

Warga Hindu (Bali) tiap kali menggelar upacara keagamaan bersaranakan banten. Termasuk saat melakukan upacara menyucikan diri secara niskala, banten juga menjadi sarana utama. Ida Pandita Dukuh, sesungguhnya seberapa besar banten bisa menyucikan dosa? Apakah banten bisa menggantikan dosa? Kalau banten memang bisa menebus dosa, atau setidaknya mengurangi berat-ringan dosa, tidakkah orang-orang kaya akan berlomba-lomba menebus dosa dengan banten, lalu tinggallah si miskin yang sakit-sakitan saja terus berkubang sepanjang hayat pada dosa? Kalau cuma miskin, orang pun bisa saja meminjam dulu uang, yang penting dosa akhirnya bisa dihapuskan.

Bagaimana ini mesti dipahami, diterangkan, biar pihak non-Bali Hindu juga bisa memahami praktek keagamaan kita di Bali yang sampai kini sedikit-sedikit menggunakan banten sebagai sarana rasa bakti, meskipun tidak lagi dengan membuat langsung, melainkan cukup dengan membeli, layaknya membeli komoditas lain di pasar swalayan? Terus terang saya belum menemukan jawaban tepat, karena itulah saya bertanya kepada Ida Pandita Dukuh. Mohon dapat diterangkan sejelas-jelasnya. Matur suksma.
                                                                                              
Made Yudyastana
Tampaksiring, Gianyar

Sabtu, 17 November 2012

Keutamaan Seorang Anak

Anak Penyelamat Leluhur dari Siksa Neraka
By: Mertamupu


Anak atau disebut putra merupakan asset bagi orang tua dan leluhur. Anak bukan hanya bertanggungjawab atas perihal urusan kehidupan di dunia nyata bagi orang tua, tetapi ia juga memiliki tanggung jawab terhadap orang tua maupun leluhurnya. Anak memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan roh orang tua dari api neraka. Oleh karena itu anak disebut putra.

Anak keturunan merupakan kelanjutan dari kehidupan atau eksistensi keluarga. Anak dalam Bahasa Kawi disebut “Putra” asal kata dari “Put” (berarti neraka) dan “Ra” (berarti menyelamatkan). Jadi Putra artinya: “yang menyelamatkan dari neraka” (Bhagawan Dwija, 2010).

Seorang anak/putra yang suputra (anak yang baik/mulia) merupakan cahaya keluarga, seperti dinyatakan di dalam Canakya Nitisastra “Bagaikan bulan menerangi malam dengan cahayanya yang terang dan sejuk, demikianlah seorang anak yang suputra yang memiliki pengetahuan rohani, insyaf akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra yang demikian itu member kebahagiaan kepada keluarga dan masyarakat” (Canakya Nitisastra III.16). Sebuah keluarga tanpa anak bagaikan sayur tanpa garam, kehidupan pasangan suami istri menjadi hambar tanpa kehadiran seorang anak.

Rabu, 14 November 2012

Pengertian "Artha"


ARTHA, SIDDHARTHA & PARAMARTHA
Oleh: Sugi Lanus


Kata artha diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi harta atau arta yang berarti kekayaan (uang di dalamnya). Dikenal luas istilah arta benda yang bermakna berbagai benda kepemilikan. Berkembang pula ungkapan gila harta: mabuk kepayang lupa laut-daratan diperbudak nafsu menimbun kekayaan (duit); dan istilah gila harta sepadang dengan mata duitan, atau dalam ungkapan zaman sekarang kerap disebut matre! Apa sesungguhnya makna kata artha?

ARTHA dalam literatur SANSEKERTA

Dalam literatur Sansekerta, kata artha mengandung makna yang netral. Artha berarti tujuan. Simak saja gelar beliau yang tercerahi meraih kesempurnaan pikiran dalam samadi, beliau yang telah mencapai ke-buddha-an bergelar SIDDHARTHA (siddha+artha). Beliau yang terjapai dan terpenuhi (siddha) tujuannya (artha). Artha dalam konteks siddhartha adalah tujuan mulia kehidupan yaitu pencerahan bathiniah. Tujuan perjalanan sang roh, yaitu tercerahi atau moksa.

Demikian juga artha dalam Catur Purusartha (catur=empat; purusa=manusia, tertinggi; artha=tujuan). Penyusun Catur Purusartha adalah dharma, artha, kama, moksa. Jika digambarkan seekor burung; dharma dan artha berada di satu sayap, dan kama dan moksa adalah sayap lainnya. Ada kewajiban (dharma) dan tujuan (artha), ada getar energi (kama) dan keheningan tertinggi (moksa). Empat variable kehidupan itulah yang menjadi pilar-pilar penyusun dan sekaligus saran pembebasan manusia.

Śrīmad Bhāgavatam, 5.6.17, menyebutkan: parama-puruṣa-artham — bermakna the best of all human achievements. Parama=tertinggi, purusa=manusia, artham=pencapaian. Sebait kutipan itu berbunyi seperti ini: yasyām eva kavaya ātmānam avirataḿ vividha-vṛjina-saḿsāra-paritāpopatapyamānam anusavanaḿ snāpayantas tayaivaparayā nirvṛtyā hy apavargam ātyantikaḿ parama-puruṣārtham api svayam āsāditaḿ no evādriyante bhagavadīyatvenaivaparisamāpta-sarvārthāḥ

[Pelayan Tuhan selalu menyucikan diri dalam pelayanan kebaktian agar terbebas dari berbagai kesengsaraan eksistensi material. Dengan jalan ini, pelayan Tuhan menikmati kebahagiaan tertinggi (parama-puruṣārtham), dan pembebasan dipersonifikasikan(bahkan) datang untuk melayani mereka. Meskipun demikian, mereka tidak menerima layanan tersebut, sekalipun jika ditawarkan oleh Yang Maha Tinggi. Untuk pelayan Tuhan, pembebasan (mukti) menjadi tidak penting karena mereka telah mencapai mencapaian transendental melalui pelayanan kasih, mereka telah mencapai semua yang diinginkan dan telah melampaui semua keinginan material].

Selasa, 13 November 2012

Pemaknaan Sembah Puyung


Sembah Puyung dan Puyung Maisi
BY SUGI LANÚS
Mataram, 7 Oktober 2010


Sembah Puyung adalah doa yang pertama (pembuka) dalam rangkaian Panca Sembah (5 puja-doa) yang bersifat “standar” dalam persembahyangan masyarakat Hindu-Bali.

Dalam Sembah Puyung kedua telapak tangan dan jari-jari dicakup di atas kepala. Tangan kosong. Orang Bali selama ini banyak yang keliru dan menyederhanakan: Disebut Sembah Puyung karena tangan kosong tanpa sarana bunga. Puyung memang mengandung makna kosong tapi sekaligus mencakup embang (sepi dan hening). Akibat ketakpahaman akan makna istilah Sembah Puyung, mereka kadang mengganti istilah Sembah Puyung menjadi: Sembah tanpa serana (sembah tanpa sarana). Maksudnya tanpa memakai sarana bunga. Keluh mereka yang tak paham, “Masak kita sembah kosong! Menyembah kosong?”

Orang lupa bahwa mantra Sembah Puyung: “Om àtmà tattwàtmà sùddhamàm swàha”.

Atma adalah esensi puyung (kekosongan/keheningan). Puji pada esensi keheningan diri (atma) yang menjadi pembuka doa Panca Sembah, lalu penutup Panca Sembah adalah Ngaturang Parama Shanti, berkulminasi pada shanti (kedamaian). Puyung dalam kontek sebuah ungkapan terdalam dalam masyarakat Bali: “Puyung Maisi” (Kosong berisi), atau dalam bentuk kalimat lain: Ngalih isin puyung (Menelisik isi sepi); membuat jelas bahwa Puyung bukan bermakna kosong melompong. Puyung adalah titik dimana berhentinya materi dan penampakan. Titik dimana kita diajak menjadi lebih mendalam. Menghayati yang tak tampak. Baik di dalam dan di luar diri.

Senin, 12 November 2012

Kendali Kemarahan


Kemarahan tanpa kendali akan menghancurkan diri sendiri. Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stres yang lain, dengan efek-efek yang nyata pada fisik Anda. Wajah menjadi merah, tekanan darah semakin tinggi, nada suara kita menjadi tinggi, pernafasan kita menjadi cepat, detak jantung tidak teratur dan otot-otot kaki maupun tengan mulai tegang. Seluruh tubuh kita merasakan perubahan semacam ini. Apabila seseorang sering marah, keadaan itu akan berulang terus dan pada akhirnya dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang serius. Situasi seperti ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, maag, dan lain sebagainya. Karena itu, demi kebaikan Anda sendiri, hendaknya Anda mengendalikan emosi kemarahan ini.

Ada tiga cara untuk menangani kemarahan. Yang pertama adalah dengan cara mengekspresikannya. Para ahli ilmu berpendapat bahwa ini adalah cara yang terbaik. Dengan menyatakan atau mengekspresikan kemarahan, kita membagi beban pikiran kita dengan orang lain dan karena beban atau sebagian beban itu terangkat dari kita, kita lalu merasakan ketenteraman. Pendapat itu memang benar, namun keadaan semacam ini tidak langgeng. Kita tidak pernah bebas dari kegelisahan. Pada akhirnya, kemarahan menjadi kebiasaan dan Anda menjadi budak amarah. Anda menjadi budaknya dan amarah adalah atasan yang kejam. Saya pernah mendengar tentang seorang ibu yang membakar anaknya hanya karena marah.

Cara kedua adalah dengan menahan atau menekan kemarahan. Ini pun tidak bagus, karena menekan kemarahan hanya memaksanya untuk menjadi bagian dari alam bawah sadar kita, dan dapat membahayakan kita. Cara ketiga dan cara yang benar adalah dengan memaafkan. Maafkan dan bebaskan diri Anda dari kegelisahan! Setiap malam sebelum tidur, renungkan kembali sejenak kejadian-kejadian sepanjang hari yang telah Anda lalui. Apakah ada seseorang yang menipu Anda? Apakah ada yang menyinggung perasaan atau menghina Anda? Kalau ada, ucapkan namanya dan katakan, “Sdr. X, saya maafkan Anda.”

Rabu, 25 Juli 2012

Hanoman: Pemuja yang setia dan berbhakti


Dalam sebuah percakapan antara Arjuna dan Krishna, Arjuna bertanya, “mengapa Rama harus menurunkan tentara kera jika Ia memang hebat? Aku sendiri dapat membuat jembatan dengan panah saya.” Pada saat itu, Hanoman berada di sana juga, kemudian Krishna berkata pada Hanoman, “Bagaimana Hanoman? Junjunganmu diremehkan, engkau ditantang oleh Arjuna.” Hanoman berkata, “baiklah Arjuna, silakan buatlah sebuah jembatan dan aku akan menguji kekuatan jembatanmu.” Arjuna menjawab dan bertanya, “Baik, bagaimana jika aku menang?” Hanoman menjawab, “Jika engkau menang, aku akan memujamu, dan jika engkau kalah, pujalah diriku.” Dan Arjuna pun bersedia menerima tantangan ini. 

Rabu, 18 Juli 2012

Wijayakusuma: Kembang Sri Krshna


Wijayakusuma adalah salah satu nama tanaman yang mempunyai bunga yang sangat indah. Berasal dari Amerika Latin. Nama latinnya Epiphylum Anguliger. Dia termasuk tanaman langka. Tanamannya tergolong tanaman kaktus. Sementara arti dari nama bunga Wijayakusuma ini sangat indah yaitu bunga kemenangan. Mitos di jaman Hindu bunga ini milik Kresna dan dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Mekar di waktu malam hari, layu dan kuncup kembali di pagi hari. Saat mekar bunga ini mengeluarkan bau yang sangat harum. Mitosnya juga, jika bunga ini mekar akan ada rejeki yang mendekat.

Senin, 16 Juli 2012

Karna seorang pejuang berprinsip


Seperti diketahui bahwa Karna lahir akibat perbuatan ceroboh Kunti yang masih muda merapal mantera yang diberikan oleh Resi Durvasa yang mengakibatkan hadirnya Dewa Surya untuk memberikannya seorang anak yang sekuat Dewa Surya. Anak itu lahir dilengkapi dengan Kavacha ( zirah, baju perang) dan Kundala (sepasang anting-anting). Dengan pertolongan Dhatri, dayang keputren, Karna dilarung ke sungai Gangga.
Bayi Karna dipungut oleh Adiratha, kusir Raja Dhristrashtra, Raja Hastinapura. Oleh Adiratha dan istrinya, Radha, bayi Karna diberi nama Vasusena. Tetapi karena dianggap anak Radha, maka julukan lainnya yang disandangkan kepada Karna adalah Radheya (Anak Radha).
Karna kecil lebih tertarik belajar ilmu perang daripada meneruskan tradisi keluarganya menjadi kusir kereta Raja. Maka dia pun menemui Dronacharya. Dronacharya adalah guru ilmu perang dari para pangeran dinasti Kuru. Dan karena Karna bukan dari kasta Ksatria, Dronacharya pun menolak permintaan Karna untuk mengajarkan ilmu perang kepadanya.

Minggu, 08 Juli 2012

Cumbuan Kehidupan

Banyak hal yang terjadi dalam hidup ini tanpa pernah kita duga, sekarang senang bisa pula sebentarnya lagi penuh derai air mata. Itulah yg membuat perasaan kita terombang-ambik bak perahu kecil di tengah samudra kehidupan yg luas. Kadang dibawa ke kanan, kadang dilempar ke kiri. Seperti itulah hidup ini, yang tak punya tujuan dan pegangan hidup niscaya deburan ombak akan menghempaskannya pada kegelisahan mendalam akan riak-riak ombak kehidupan yang kian waktu menciumi perahunya. Tak ayal pula ciuman mesra sang ombak kian lama membuat perahunya terbuai akan ayunan gelombang samudra hingga terbalik tak berdaya tenggelam dan karam. Tetapi bisa juga bagi mereka yang mampu memberikan perlawanan pada ciuman hangat nan mesra itu terlecut birahinya, semakin bergairah mengarungi samudra bersama cumbuan sang ombak yang mengantarkannya sampai di tujuan. Keyakinannya akan hadirnya sang mentari esok hari, kemauan usahanya membalas cumbuan sang ombak, ketegarannya menampik desah rayuan fatamorgana ilusi maya, serta ketabahan dan keikhlasan totalitas penjiwaannya melakoni peran laksana sang aktor menjalankan script skenario sang sutradara, niscaya membuatnya mampu mencapai dermaga pelabuhan terakhir hidupnya di dunia ini.

Rabu, 06 Juni 2012

Interpelasi dan penanggalan Uttarakanda


The Dating of the Old Javanese Uttarakanda
S.Supomo, Australian National University

Untuk waktu yang lama, sisipan dianggap sebagai semacam penyakit dalam literatur jawa kuno. Sekecil apapun gejalanya, penyunting selalu diharapkan berhati-hati dalam mendekati sebuah kakawin dan harus cepat memutuskan: bagian-bagian yang dicurigai diletakkan di dalam kurung kotak. Bagian yang sakit ini pada umumnya tidak tersentuh karena itu sudah diterima sebagai kebiasaan umum diantara generasi awal peneliti jawa kuno, seperti Kern, Juynboll dan Poerbatjaraka. Itu mungkin disebabkan oleh prasangka buruk terhadap apapun yang dianggap sebagai sisipan bagi murid jawa kuno (yang juga mendapat sanskrit dalam pendidikan mereka dan familiar dengan teori bahwa Uttarakanda adalah edisi terakhir dari teks asli Ramayana Walmiki. Hanya sedikit perhatian pada kerja salinan Jawa Kuna. Demikianlah meskipun keberadaanya telah diketahui setidaknya dari waktu pengumuman dari laporan Friederich’s di tahun 1849-50. Uttarakanda Jawa Kuna belum diterbitkan secara menyeluruh. Di lain pihak, sebagian besar adaptasi dari parwa epos Mahabharata yang sampai kepada kita, beberapa bagian dari mereka telah dipublikasikan, dan beberapa bagian dari mereka telah diterjemahkan dan didiskusikan.

Jumat, 01 Juni 2012

Dua Sisi Yang Harus Ada (Mahabharata)


APAKAH arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang Kuruksetra tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing galak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah. Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan. Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apa lagi? Dalam dongeng yang biasa, setelah kemenangan tercapai, si pendongeng akan menyebut bahwa, "rakyat pun hidup aman dan sejahtera . . .". 

Rabu, 23 Mei 2012

Teori Terjemahan


Jenis-Jenis Penerjemahan.
Penerjemahan ada 2, yaitu penerjemahan harfiah dan penerjemahan idiomatis. Penerjemahan yang berdasarkan bentuk yang berusaha mengikuti bentuk bahasa sumber disebut penerjemahan harfiah. Penerjemahan  yang berdasarkan makna berusaha menyampaikan makna teks bahasa sumber dengan bentuk bahasa sasaran yang wajar disebut penerjemahan idiomatis. Penerjemahan harfiah sering difungsikan oleh orang yang belajar linguistik,tetapi sulit ditangkap. Penerjemahan yang idiomatis adalah yang paling baik digunakan berkomunikasi. Penerjemahan tersebut akan terasa seperti sumbernya. Perlu dibatasi penerjemahan idiomatis tidak boleh terlalu bebas.
Amanat yang ada dalam teks sumber harus dipilih secara gramatikal dan leksikal yang wajar dalam bahasa tersebut. Menerjemahkan dengan ciri gramatikal :