Kamis, 07 Februari 2013

Secarik Cerita Tentang Upacara Mecaru


MECARU
Oleh: Ida Bhawati Putu Setia

Nabe Waktra saya, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Prateka Tenaya dari Griya Padangsari, Desa Padangan, Tabanan, dikenal sebagai Sulinggih yang tidak banyak bicara. Orangnya sangat kalem dan cenderung pendiam. Namun beliau, sangat terbuka dan menyediakan waktunya berjam-jam untuk memberi pencerahan.

Suatu kali beliau guyonan dengan saya, dan katanya hal ini jarang dilakukan. Tema guyonan adalah soal mecaru, tentu di antara guyonan itu banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Ceritanya, suatu kali ada sekelompok orang yang datang ke griya Pandita Mpu. Mereka ingin melaksanakan pecaruan di merajannya. Namun, karena mereka mengikuti kelompok spiritual tertentu, mereka ingin mecaru yang mereka sebut "secara moderen". Jenis pecaruan itu sendiri adalah Panca Sanak, artinya memakai lima ayam dan satu itik. Tentu tergolong besarlah. Namun, karena ini mecaru "secara moderen", mereka tak ingin memotong ayam dan itik. Pokoknya tidak ada binatang yang dibunuh dan tak ada tetesan darah hewan apa pun yang ada. Itu himsa karma, tak sesuai dengan Weda, begitulah mereka menyebutkanya.

Pandita Mpu kemudian memancing: "Bagaimana caranya, ya? Apakah ayam itu dilepas kembali setelah dipakai upacara? Lalu bagaimana dengan cacahan atau ulaman-nya? Pakai daging apa?" "Tidak boleh pakai daging apapun Pandita," kata salah seorang dari mereka. "Pokoknya semuanya tanpa daging. Ini semacam mecaru vegetarian."

Pandita Mpu konon tertawa sebentar, baru pertama kali itu mendengar istilah "mecaru vegetarian". Namun, beliau meminta penjelasan Iebih lengkap. Dan salah seorang dari mereka, mungkin pemimpin kelompoknya, memberikan penjelasan panjang lebar. Banten itu adalah simbol belaka, jangan terjebak pada banten.

Begitu kurang lebih penjelasan mereka. Umat Hindu di Bali selalu terjebak pada banten. Yang penting sesungguhnya adalah ketulusan beryadnya dan keyakinan yang tinggi. Kalau kita sudah yakin melakukan yadnya, termasuk .yadnya mecaru, tidak harus ada banten, karena banten itu hanyalah simbol. Atau simbol itu diganti simbol lain, yang penting kan yakin.

"Banten sebagai simbol diganti, maksudnya bagaimana," kembali Pandita Mpu bertanya. "Jadi, banten mecaru itu dibuat simple dan jangan rumit.

Kalau kita tak bisa membuat pejati yang lengkap, cukup kelapa saja ditaruh, kemudian ditulisi: ini pejati. Maksudnya supaya Pandita Mpu yang akan muput tahu di mana letak pejati yang isinya simbol itu. Lalu kalau harus ada ayam, buat saja gambar ayam dari kertas, lalu gambar itu ditaruh di banten yang sederhana. Kalau ada belulang ayam yang digantung, gambar lagi di kertas dan kertasnya digantung. Itik juga begitu, tinggal menggarnbar saja di kertas. Bahkan kalau ada banten yang rumit apa itu namanya byakawon, prascita dan entah apa lagi, cukup ditulis di kertas saja: ini byakawon, ini prascita, ini durmanggala dan sebagainya. Yang penting kan keyakinan Pandita, kalau kita sudah yakin, apa pun di depan kita itu tak ada artinya lagi, Tuhan sudah tahu kok. Apalagi Tuhan sesungguhnya kan ada di dalam diri kita sendiri, jangan rumit-rumitlah Pandita," kata orang itu.

Pandita Mpu Nabe hanya rnerenung sebentar lalu menjawab: "Bagus sekali, ini ide yang baik. Yang penting kan yakin."

Lalu semuanya tertawa tanda ada kecocokan dan semua merasa puas. Ketika Pandita Mpu bertanya, kapan mecaru, salah seorang menjawab: "Hari Minggu nanti Pandita, dan Pandita akan kami jemput pagi-pagi: Berapa orang yang ngiring?" Pandita Nabe pun menjawab dengan tenang: "Tak ada yang ngiring, bahkan Bapa juga tak ikut. Nanti nanak akan Bapa berikan foto Bapa. Taruh foto Bapa di kursi dekat banten pecaruan itu dan anggaplah Bapa sendiri sudah datang dan muput upacara. Yang penting nanak kan yakin, kalau sudah yakin apa pun yang ada itu semua kan simbol saja. Nanak sudah mecaru . Setulus itu, ya, tentu semuanya akan diterima oleh Hyang Widhi, apakah itu benar atau salah, sudah diterima atau belum, tanya saja kepada Hyang Widhi yang ada di dalam diri nanak."

Cerita selesai, Pandita Mpu tak melanjutkan lagi bagaimana kisahnya, yang terang kelompok orang itu terus pergi dan tak pernah datang lagi. Tapi ada cerita lain yang berlanjut. Suatu ketika ada keluarga yang datang ingin mecaru di rumahnya. Katanya, keluarga itu bertengkar terus setelah membangun kakus dekat dapur. Setiap masak atau makan, selalu diganggu bau busuk dari WC itu. Anggota keluarga sering bertengkar, ibu dengan bapak, bapak dengan anak, anak kecil menangis melulu sejak adanya WC yang dibuat tak sempurna itu. Setelah mereka menanyakan kepada balian, katanya perlu mecaru di pekarangan rumah itu. Mecaru dengan anjing, jadi setingkat Panca Kelud.

"Mecaru Panca Kelud itu besar biayanya," kata Pandita Mpu. Keluarga itu menjawab: "Berapa pun besarnya, akan saya buat, jika perlu menggadaikan sawah, supaya kami tenang." Pandita Mpu kemudian memberi nasihat dan nasihatnya itu dituruti. Kini keluarga itu sudah tenang, tak lagi ada yang bertengkar. Apa nasihatnya? Hanya mecaru kecil saja, itu pun karena tak pemah mecaru sejak membangun rumah. Cukup seekor ayam brumbun, namun WC dipindahkan ke tempat yang lebih jauh dari dapur. Septitank juga diperbaiki. Kita jarang mengkaji untuk apa sebenarnya caru itu, perlu atau tidak. Lihatlah, ritual caru selalu dilakukan dengan memutar. Namun yang lebih utama, pikiran kitalah yang perlu diputar, jangan-jangan pikiran kita yang kotor atau dipenuhi kegelapan. Kalau begitu halnya, pikiran kitalah yang perlu diberi caru.

Source :  Raditya 133
Sumber:  Parisada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar