Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2019

Pengorbanan Karna

Dialog imajiner yang terjadi antara Basudewa Krisna dan Prabu Karna sebelum berlangsung perang Baratayudha :

Krisna ; Saya minta dinda kembali ke Pandawa, berkumpul kembali dengan saudara saudara Pandawa lainnya,

Karna ; Tidak kanda ! ini sudah pilihanku, .. toh tidak akan ada bedanya, jika kelak aku mati di perang Baratayudha, Pandawa tetap lima, begitu juga jika Harjuna yang mati, Pandawa tetap lima.

Krisna ; Kenapa harus saling membunuh, padahal kamu tahu Pandawa itu adalah saudara saudaramu sendiri ? Kamu, Putadewa, Bima, dan Harjuna adalah putra-putra Kunti !,

Karna ; Ini bukan persoalan bunuh-membunuh, ini persoalan tugas suci yang harus diemban oleh setiap Ksatria untuk membuktikan bahwa pilihannya adalah benar,

Krisna ; Bagaimana engkau bisa mengatakan pilihanmu adalah benar, sementara engkau membela angkara murka?

Karna ;  Jangan cuma melihat kulit, kakanda ..

Krisna ;  Maksudmu ?

Karna ; Kanda tahu ? bahwa setiap orang memiliki cara untuk menyampaikan kebenaran, Pandhita menyampaikan kebenaran melalui nasihat nasihatnya, sedang Ksatria seperti saya yaa lewat perang, aaah, kakanda Krisna pasti sudah tahu maksudku,

Krisna terdiam, sebagai titisan Dewa Wisnu, Kresna memang diberi kelebihan mengetahui sesuatu yang akan terjadi .....

Karna ; Begini, kakanda, berkali-kali para Pandhita menasihati Raja Hastina, Duryudana, untuk berbuat baik, tapi tetap saja ia masih bersifat angkara murka, maka satu-satunya jalan bagiku adalah mendorong dirinya dan Kurawa untuk berani beperang melawan Pandawa dalam Baratayudha.

Krisna ; Kenapa harus melalui peperangan !??

Karna ; Karena hanya melalui peperanganlah angkara murka Prabu Duryudana akan punah sampai ke akar-akarnya !,

Betapa Karna siap untuk menjadi tumbal bagi kejayaan saudara saudaranya keluarga Pandawa, di satu sisi ia ingin membasmi sifat angkara murka Kurawa, disisi lainnya ia siap mati oleh panah adiknya sendiri Harjuna, padahal jika ia mau, tidak ada jenis pusaka apapun yang sanggup menghalau dan menandingi kesaktian senjata Kunta Wijaya Danu milik Sang Prabu Karna !,

Sumber: Ra Hyang
https://facebook.com/story.php?story_fbid=2360030924240231&id=100007000398328

Kamis, 31 Januari 2013

Lontar Kala Tatwa


Om Awighnamastu

Nihan Kala Tatwa nga, indik Bhatara Kala duk sira wahu mijil. Caritan Bhatara Siwa sareng swaminida Bhatarì Girìputri lungha nulu sagara.

Ndah tan dwa prapta ring luhur ing samudra. Tan dwa kasmaran Bhatara Siwa ahyun asanggama ring rabhi Sang Hyang Girìputri. Tan kahyun Ida Siwa ahyun asanggama ring rabhi Sang Hyang Girìputri. Tan kahyun Ida Bhatarì, eling ring paragan ing Hyang.

Dadya ta wirosa Bhatara Siwa. Umatura Bhatarì; ”Uduh pukulun aja mangkana, dudu polah ing Hyang”. Ling Bhatara; ”Singgih Bhatarì aja sira mangkana, apan tan siddha inandetan ikang indriya yan tan aweh tan suka aku”.

Tan dwa pada rosa-wirosa. Durung tutug ing citta Bhatara, dadi mijil ikang kama tiba ring sagara. Kunang Bhatara mantuka maring swarga, sahardhanareswarì nira.

Tan caritanan Ida Bhatara lawan Bhatarì. Ndan tucapa sira Sang Hyang Brahma Wisnu andulu ikanang kama, katon ocak ikang samudra, neher sira mayoga sareng kalih. Tan dwa kumpul ikang kama dadi marupa raksasa agung kabinawa, tan kabina-bina rupa. Irika malayu Bhatara Brahma Wisnu.

Tan caritanan ri palakun ira ikang raksasa arep sira wruh ring yayah-rena. Kadeleng ikang samudra sunya. Kadeleng mangetan sunya. Mangidul sunya. Mangulwan sunya. Mangalor sunya. Maring sor sunya. Maring luhur sunya.

Tandwa makrak ikang raksasa masinghanada, gumeter ikang nagara, menggang-menggung tang swarga kabeh. Tadwan mijil prawatek Dewata Nawasangha kabeh, katon tikang danuja agung krura rupa, makrak manggrang masinghanada. Tadwan muntab krodhan ira Bhatara watek Dewata Nawasangha kabeh, teher mapag i mamanuhi. Karebut ikang raksasa dening Dewata kabeh. Tan wikara mwah ikang danuja, neher sira umatur. ”Ah ah bhagya ko kapangguh aja sira amrang ngong, ngong aminta bener?”.

Ling Dewata: ”Ah ah mami, aja sira akweh ujar, apan sira danuja lwih murkha tan urung sing ko mati”. Neher sira maprang. Tandwa kapes ikang Dewata binurunia, kabalasan watek Dewata kabeh pada umungsi jeng ira Bhatara Siwa.

Selasa, 04 Desember 2012

Kisah Parikesit dan Dewi Kunti: Pencarian dan Keyakinan Seorang Bhakta


Dewi Drupadi histeris, lima putra dan semua saudaranya terbunuh pada malam hari selagi tidur seusai perang Bharatayuda. Aswatama telah membunuh seluruh keturunan Pandawa yang masih hidup, sebagai balas dendam atas kematian Drona, ayahandanya, yang menurutnya dilakukan Pandawa dengan penuh tipu muslihat. Arjuna bersama Sri Krishna mengejar Aswatama yang bersembunyi di pertapaan Abyasa, kakek para Pandawa dan Hastina. Saat Arjuna menemukan Aswatama, mereka berperang tanding. Akhirnya, Bramastra, senjata Brahma, senjata sangat canggih dari Aswatama dilepaskan. Arjuna merasakan bulu kuduknya meremang, dan diingatkan Sri Krishna untuk segera melepaskan senjata yang sama.

Saat kedua senjata mengudara, Abyasa berteriak menggelegar, “Batalkan segera arah senjata-senjata itu, apabila sempat bertemu dunia akan musnah dan kalian berdua harus menanggung akibatnya! “Arjuna dapat mengendalikan dan menarik kembali senjatanya. Akan tetapi tidak demikian dengan Aswatama, dia belum mahir mengendalikan senjata tersebut dan agar tidak kembali dan membunuh dirinya maka senjata itu diarahkannya ke calon cucu Pandawa yang masih berada dalam kandungan, agar habis anak keturunan Pandawa.

Dewi Utari merasa ada sebuah gumpalan energi gelap mengejar dan mengancam kehidupan kandungannya dan dia memanggil nama Sri Krishna. Dewi Utari merasakan bahwa Sri Krishna memintanya duduk diam, menutup mata dan berdoa. Dewi Utari merasakan kedamaian, dan dalam bayangannya Sri Krishna telah masuk ke dalam kandungannya menunggu bramastra datang, kemudian menangkap dan membawa senjata itu keluar dari tubuhnya. Ada rasa kelegaan setelah bahaya yang mengancam bayi dalam kandungannya hilang. Bayinya telah diselamatkan Sri Krishna.

Kisah Parikesit: 7 Hari Menjelang Kematian


Kala itu Maharaja Parikesit sedang berburu di hutan, hari sangat panas dan dia merasa sangat kehausan. Sang Raja masuk pertapaan seorang pertapa dan minta air penghapus dahaga. Sang pertapa sedang khusyuk bermeditasi, matanya tertutup dan tidak ada perhatian dengan kedatangan sang maharaja. Parikesit berkata, “Apakah Resi benar-benar bermeditasi sehingga pikiran dan indera terabaikan, ataukah hanya mencoba menghindari saya karena keangkuhan dari seorang resi? Apabila seorang maharaja yang belum mencapai kesadaran sempurna datang, apakah seorang resi tidak perlu membuka mata?” Dalam keadaan tak nyaman karena sangat kehausan, pikiran jernih sang raja sedikit terkesampingkan. Keangkuhan seorang maharaja bangkit, dirinya mengambil bangkai ular dan meletakkannya di leher sang resi. Dan sang maharaja pun pergi meninggalkan pondok tersebut.

Di dalam salah satu kamar, Sringi, putra sang resi mendengar gerutuan seorang ksatria yang tidak sopan dan kemudian melihat ada ular yang dilingkarkan di leher ayahnya yang sedang bermeditasi. Putra sang resi menjadi marah, “Bagaimana etikanya seorang kesatria dapat melakukan hal demikian terhadap seorang brahmana? Tugas kesatria adalah melindungi orang-orang suci. Hal ini dapat terjadi karena Sri Krishna sudah tidak ada tak ada di atas permukaan bumi lagi. Wahai kesatria kukutuk dirimu agar digigit ular beracun dalam waktu seminggu!”

Saumika, sang resi terganggu oleh kemarahan sang putra dan membuka mata, “Wahai putraku, kau telah berdosa terhadap seorang maharaja. Akibat kesalahan kecil, kau mengutuk terlalu berat. Apabila sang maharaja mati, para penjahat akan berkembang biak, peran agama menurun dan terjadi kebingungan di masyarakat. Dan, semua kejahatan yang akan terjadi ini berasal dari ketergesa-gesaanmu dan akan membunuh kita semua. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengampuni  pemahamanmu yang belum matang ini.”

Kisah Asura Hiranyaksa dan Waraha Awatara


Setelah banjir besar dan bumi tenggelam dalam mahapralaya, semuanya berada dalam ketenangan yang sempurna. Ketiga guna: rajas-agresif, tamas-malas, dan satwik-tenang berada dalam keseimbangan,  seperti api yang ditarik ke dalam kayu. Tak ada gerakan. Setelah beberapa lama, ada waktunya keseimbangan terganggu. Munculah tangkai bunga teratai dari pusar Narayana. Brahma lahir dan merasa berada dalam bunga teratai yang tak terukur besarnya. Brahma mencari pangkal bunga dan tak bisa tercapai sehingga kembali pada tempatnya semula. Seakan ada suara yang menyuruh dia bertapa dan dia mendapat visi tentang Narayana yang sedang terbaring pada Adhisesha yang putih seperti tangkai teratai. Seakan Narayana berkata, “Aku memberi tugas menciptakan dunia dan makhluknya.” Dan Brahma menjawab, “Semoga demikian.”

Pencarian Brahma yang gagal untuk mencapai pangkal bunga teratai yang tidak tidak terukur besarnya, adalah seperti pencapaian manusia dalam mencari Tuhannya. Akhirnya Brahma mendengarkan suara nuraninya dan mendapat petunjuk untuk bertapa. Keluar dari Brahma wujud empat resi: Sanaka, Sananda, Sanatama dan Sanathkumara dan mereka menolak permintaan Brahma untuk mencipta lebih lanjut. Brahma sangat marah tetapi dapat mengendalikannya dan dari keningnya keluar bayi merah yang menangis yang dinamakan Rudra. Brahma berkata, “Tempat kamu adalah hati, indera, hidup , langit, dan semua unsur alam. Kamu dapat mencipta di tempat-tempat tersebut!” Brahma kemudian mencipta sepuluh putra, Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Bhrigu, Daksa, Marici, Wasishta, Narada. Dharma dan Adharma pun adalah putra Brahma. Dari hati Brahma juga lahir keinginan. Bayang-bayang Brahma mengambil bentuk sebagai putra yang bernama Kardama. Dari pikiran dan badan Brahma diciptakalah seluruh dunia. Dari empat mukanya lahir empat Weda. Brahma kemudian membagi tubuhnya menjadi satu pria dan satu wanita yang disebut Swayambhu Manu dan Satarupa. Dari mereka lahir lima anak, tiga putri: Akuti, Prasuti Dan Dewahuti serta dua pria: Priyawrata dan Uttanapada. Akuti menikah dengan Ruchi, Dewahuti dengan Kardama dan Prasuti dengan Daksa. Dan anak-anak mereka mendiami dunia ini. Kisah-kisah dalam Srimad Bhagawatam adalah kisah-kisah dari semua anak keturunan Brahma.

Kisah Kardama: Putra, Suami, dan Ayah yang Mampu Memberi Teladan


Dalam Srimad Bhagawatam dikisahkan bahwa setelah mahapralaya, Brahma yang baru saja muncul dari bunga teratai tidak dapat mengukur kedalaman tangkai bunga teratai yang keluar dari pusar Narayana.  Narayana pun masih merupakan misteri bagi Brahma. Kemudian Brahma mendapat perintah untuk bertapa dan baru setelah itu memperoleh visi tentang Narayana dan mendengar perintah-Nya untuk menciptakan dunia dan makhluknya. Akan tetapi tidak semua putra yang diciptakannya mematuhi perintah Brahma untuk membantu penciptaan. Sanaka, Sananda, Sanatama dan Sanathakumara menolak permintaan Brahma untuk mencipta lebih lanjut. Kardama dan Manu adalah dua orang putra Brahma yang patuh kepada perintah Bapaknya.

Kardama pergi ke hulu sungai Saraswati dan bertapa hingga beberapa tahun lamanya.  Pada suatu hari dalam pandangan Kardama, Narayana muncul dan bertanya tentang apa yang diinginkannya. Kardama menjawab, “Hamba adalah manusia yang beruntung yang telah mendapatkan karunia untuk menyaksikan Tuhan. Tuhan adalah Parambrahman, Roh Yang Maha Agung, dan setelah menyaksikan Tuhan manusia tak punya keinginan lainnya lagi. Saudara hamba Narada telah melakukan hal demikian pada kalpa yang lalu, sehingga pada kalpa ini dia dilahirkan lagi sebagai dewaresi. Akan tetapi ayahanda hamba telah memerintah hamba untuk melakukan tugas penciptaan, oleh karena hamba tidak dapat menghilangkan keinginan untuk menyelesaikan tugas dari ayahanda kami. Oleh karena itu kami mohon agar Tuhan berkenan memberikan wanita sempurna kepada kami, sehingga kami dapat mempersembahkan putra-putri terbaik bagi dunia. Bagaimana pun tujuan utama kami adalah Tuhan, oleh karena itu mohon berkahmu agar kami sekeluarga selamat dalam melaksanakan peran kami di dunia ini.”

Senin, 03 Desember 2012

Kisah Dewahuti: Seorang Putri, Istri, Ibu dan Sekaligus Hamba Yang Berbhakti


Ketika Kardama telah pergi melanjutkan perjalanan spiritualnya sebagai Sanyasin. Dan, Kapila sudah menginjak remaja kala Dewahuti teringat kehidupannya di masa lalu. Dewahuti adalah seorang putri yang baik yang patuh terhadap kedua orang tuanya, Swayambhu Manu dan Satarupa. Sejak kecil Dewahuti begitu yakin bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih akan membimbing dirinya lewat orang-orang yang berada di dekatnya. Dewahuti yakin bahwa ayah dan ibunya adalah guru pemandu yang diutus Tuhan untuk membimbingnya saat dirinya lahir ke dunia. Setelah Dewahuti kawin dengan Kardama dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Dewahuti menganggap Kardama sebagai guru spiritualnya. Dan, setelah Kardama pergi, maka Dewahuti merasa yakin bahwa Kapila, putranya sendiri adalah wujud Narayana yang akan memandu dirinya yang tidak mengenal Weda dan ilmu ketuhanan lainnya kecuali hanya berbekal pengabdian yang tulus.

Dewahuti teringat pesan Brahma, sang mertua pada saat dirinya dan Kardama menikah, “Menantu terkasihku, Narayana berkehendak mengajarkan Brahmawidya, ilmu tentang ketuhanan kepada dunia. Oleh karena itu, Narayana akan lahir sebagai putramu. Dia akan mengajari ilmu itu pertama kali kepadamu, agar kau terbersihkan dari Awidya, ketidaktahuan yang menjadi penyakit di dunia ini! Mereka yang sakit jiwanya merasa dirinya hampa, akan selalu mengejar kedudukan, ketenaran dan kekayaan. Seseorang yang ingin menonjolkan dirinya pun,  sedang menderita sakit.”

Dewahuti berkata kepada Kapila, “Putraku, ibu tahu bahwa kau adalah Narayana sendiri. Aku minta kau membantu ibumu ini. Aku lelah dan muak hidup dengan hanya memuaskan kesenangan indera dan pikiran. Kamu adalah matahari yang dapat mengusir kegelapan pikiran orang awam seperti diriku. Di dalam badan yang terdiri dari 5 elemen alami, sudah Kau tanamkan rasa “aku” dan “milikku”. Berilah aku jalan untuk menuju kedamaian dan keselamatan.” Kapila tersenyum dan berkata, “Wahai ibu, menurutku hanya ada satu yoga yang  mengakhiri penderitaan atau samsara. Aku telah mengajarkannya kepada para resi yang sudah siap pada kalpa lalu. Dan, Aku akan memberi pelajaran yang lebih mudah. Ibu, adalah pikiran yang menyebabkan perbudakan atau kebebasan. Manakala pikiran di arahkan keluar diri, ia akan mengembara menjauhi Atman. Akan tetapi jika pikiran berbalik ke dalam diri, mengarah kepada-Ku, maka ia akan menjadi penyebab kebebasan dari jerat indera. Ini adalah langkah pertama menuju tujuan. Manakala rasa “aku” dan “milikku” lenyap, pikiran akan bebas dari nafsu, kemarahan dan lain-lainnya. Pikiran menjadi murni. Kesenangan dan penderitaan dunia tidak akan mempengaruhinya. Keterikatan pada dunia dilepaskan dengan jalan bhakti terhadap-Ku dan mempertahankan kesadaran kebenaran tentang Aku, maka selanjutnya pikiran dapat merasakan ketuhanan. Dari semua jalan kepada-Ku, Bhakti adalah yang paling mudah. Para bijak mengatakan keterikatan adalah salah satu sifat yang tak dapat dipisahkan dari manusia. Keterikatan selalu ada, maka ubahlah obyek keterikatan dari obyek luar diri kepada obyek di dalam diri, dari obyek duniawi menjadi keterikatan pada-Ku.

Jumat, 30 November 2012

Kisah Daksha: Keangkuhan Seorang Prajapati


Daksha adalah salah satu putra Brahma diantara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti putri dari Swayambhu Manu dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadewa. Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang diketuai oleh Marici, kakak Daksha. Semua penduduk kahyangan hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua resi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadewa. Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadewa yang tidak berdiri menyambutnya seperti resi-resi yang lain, padahal Mahadewa adalah menantunya.

Daksha kemudian mengambil air di dengan telapak tangannya dan mengutuk, “Mahadewa ini adalah yang terburuk di antara semua dewa, dia tidak akan menerima bagian yajna seperti dewa yang lain.” Dan Daksha langsung pulang ke rumahnya. Para pengikut Mahadewa tersinggung dan Nandikeswara berkata, “Daksha ini orang bodoh, ia sangat angkuh dan melupakan Mahadewa. Sesungguhnya ia bernasib sial, ia jauh dari rahmat Tuhan. Ia tidak lebih baik dari binatang yang hidup hanya untuk kepuasan laparnya. Para resi yang setuju dengan kutukan Daksha akan menderita. Mereka akan mengalami siklus kelahiran dan kematian. Mereka akan disibukkan dengan urusan duniawi dan meninggalkan Tuhan. Mereka akan terlibat dalam banyak upacara agama, mereka akan kehilangan cinta mereka terhadap disiplin, tapa. Mereka akan menjadi peka terhadap bujukan pikiran dan juga terhadap ketidaktahuan sehingga mereka terlibat dalam hal-hal duniawi.”

Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk, “Aku mengutuk para pengikut Mahadewa, mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka akan menentang Weda dan tidak aktif dalam upacara yang ditentukan oleh Weda. Mereka menjadi kotor. Mereka berpakaian seperti Mahadewa, memakai perhiasan yang dibuat dari tulang.” Mahadewa merasa sedih dan segera meninggalkan tempat upacara tersebut.

Kisah Dhruwa: Kegigihan Tekad Seorang Anak Menemukan Tuhan


Uttanapada putra Manu mempunyai dua istri: Suniti dan Suruchi. Suniti mempunyai putra bernama Dhruwa dan Suruchi mempunyai putra bernama Uttama. Pada suatu saat Raja bermain dengan Uttama dan sang putra duduk dalam pangkuannya. Dhruwa datang dan ingin duduk di pangkuan ayahnya juga. Suruchi, ibu tiri Dhruwa mendatangi Dhruwa, menyeretnya menjauhi suaminya dan berkata, “Dhruwa, kamu adalah putra raja juga, akan tetapi kamu bukan putraku, kau tidak akan memperoleh perlakuan yang sama dengan Uttama. Kau adalah anak sial. Kesialanmu adalah karena kamu putra perempuan yang bukan diriku. Jika ingin mendapat perlakuan yang sama dengan Uttama, maka kau harus bertapa agar dikehidupan berikutnya kau lahir dari Suruchi bukan lahir lewat ibumu!”

Raja mendengarkan, akan tetapi dia diam saja, karena dia memang lebih sayang kepada Suruchi daripada Suniti. Dhruwa kecil sakit hati atas kata-kata kejam ibu tirinya dan menoleh kepada ayahnya yang hanya diam saja. Dhruwa kemudian lari menuju ibunya dan menangis terisak-isak. Suniti langsung memangkunya dan ikut menangis. Suniti berkata, “Dhruwa, ada dua jalan untuk menyelesaikan kekecewaan, jalan pertama berupaya memenuhi keinginanmu, akan tetapi raja memang lebih suka pada Suruchi daripada aku. Ada benarnya juga kata Suruchi, bahwa ini terkait dengan masalah sebab-akibat di masa lalu, sehingga kau dapat memperbaiki nasib dengan jalan berbuat kebaikan. Jalan kedua adalah jalannya orang yang gigih, jalannya orang bijak yaitu tidak berkeinginan lagi terhadap sesuatu. Bila seseorang sudah menyaksikan Narayana, maka dia sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Putraku, berdoalah kepada Narayana Yang Agung, tempat perlindungan bagi semua yang menderita. Setelah bertemu dengannya, maka kau tidak menginginkan yang lainnya lagi.” Suniti tidak pernah mengira bahwa perkataannya untuk menenangkan Dhruwa, menjadi pemicu baginya untuk menemukan Narayana.

Kisah Wena: Kelahiran Putra Yang Dipaksakan Karena Hasrat Orang Tua


Setelah 30 ribu tahun memerintah, maka Dhruwa telah mempersiapkan sistem pemerintahan yang baik, serta sebuah institusi dari kumpulan para resi sebagai Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik dan mestinya pemerintahan selanjutnya akan berjalan dengan lancar. Akan tetapi sebuah sistem yang baik tetap memerlukan manusia yang handal untuk menjalankan sistemnya. Ternyata tidak mudah mendapatkan seorang raja yang baik yang melindungi negara dan rakyatnya serta sekaligus menjadi bhakta yang saleh. Utkala adalah putra Dhruwa yang menggantikannya sebagai raja. Utkala adalah seorang ahli filsafat dan di usia muda sudah mendapat gelar Brahmi. Namun ia tidak begitu memperhatikan kepemerintahan. Dia tidak menjaga kemuliaan dan kewibawaan sebagai seorang raja.

Para resi akhirnya memilih Watsara, adik Utkala sebagai penggantinya. Selanjutmya setelah Utkala sudah merasa tua maka dia menunjuk putranya, Anga sebagai raja penggantinya. Pada suatu hari, Anga yang belum dikaruniai seorang putra mengadakan upacara Aswamedha, persembahan kepada Narayana, akan tetapi sampai akhir upacara tidak ada dewa yang hadir. Sang Raja merasa sangat sedih dan bertanya kepada para bijak, apakah kesalahannya sehingga para dewa tidak berkenan hadir. Para resi menjawab, bahwa tidak ada sesuatu yang salah dalam upacara tersebut. Bisa jadi dikarenakan kesalahan sang raja dalam kelahiran sebelumnya. Kemudian para resi menyarankan sebaiknya raja mengadakan upacara yang lain untuk meminta putra terlebih dahulu.

Sebagai seorang raja tentu saja dia berhasrat mempunyai seorang putra yang dapat meneruskan tahtanya setelah dia memasuki usia tua. Sang raja tidak sadar bahwa waktunya belum tepat. Sang raja masih diliputi suasana kekecewaan dan kemarahan kepada para dewa yang tidak berkenan menerima persembahannya. Sang raja dan para resi mempersiapkan Upacara Yajna untuk memohon putra. Manakala upacara berakhir, keluar sebuah bentuk api yang memakai perhiasan serba keemasan dan membawa periuk emas menuju sang raja. Raja menerima “payasa”, sejenis makanan dari beras bercampur susu. Payasa tersebut kemudian diberikan kepada Sunita sang permaisuri untuk dimakannya. Setelah beberapa waktu seorang putra lahir dan dinamakan Wena. Sejak kecil Wena ternyata mempunyai sifat adharma. Ia suka sekali membunuh binatang, walaupun binatang yang tidak berbahaya dan tidak mengganggu manusia. Ia ringan tangan dan sangat kejam sehingga semua orang menghindarinya. Bila ada orang yang tidak disenanginya, maka dia tak segan untuk membunuhnya. Sang raja telah berupaya mendidiknya dan mendatangkan para resi untuk menunjukkan jalan yang benar. Akan tetapi semuanya kewalahan, karena Wena mempunyai sifat kepala batu dan selalu merasa paling benar sendiri.

Kamis, 29 November 2012

Kisah Prithu: Kemurahan Hati Prthwi Sang Ibu Bumi


Kala Prithu dilahirkan musik surgawi terdengar dan semua dewa menyambut kelahiran Prithu. Brahma berkata bahwa Prithu membawa tanda lahir cakra pada telapak tangannya dan tanda bunga teratai pada kakinya. Prithu adalah penjelmaan Narayana untuk melindungi dunia. Setelah Prithu dewasa dia dinobatkan sebagai raja dan seluruh alam semesta membawa hadiah untuk sang raja. Akan tetapi Prithu tak mau dipuji karena dia belum punya pengalaman untuk memerintah kerajaan. Prithu berkata bahwa dia mau dipuji saat dia nanti berhasil sebagai raja dunia. Prithu mengakui bahwa dia menjadi raja dalam kondisi yang sangat sulit. Ia mengetahui bahwa rakyatnya sangat lemah dan dalam kondisi kelaparan yang parah. Rakyatnya berkata, “Wahai raja pelindung dunia kami menderita kelaparan, berilah kami makanan. Kami dimakan oleh rasa lapar seperti pohon yang dimakan oleh api yang tersembunyi dalam batangnya. Kami telah diberitahu oleh para resi bahwa kau dilahirkan untuk melindungi kami. Lindungilah kami wahai raja!”

Prithu berpikir keras dan akhirnya menemukan penyebab dari kelaparan rakyatnya. Ibu Bumi telah menelan semua tanaman yang mengandung makanan, dan semua benihnya dan tidak dibiarkan tumbuh. Prithu sampai pada keputusan untuk menghukum Ibu Bumi. Ia memungut busur dewatanya dan mengarahkan anak panahnya ke arah Ibu Bumi. Ibu Bumi mewujud sebagai sapi yang melarikan diri menjauhi Prithu. Ibu Bumi tahu bahwa anak panah tersebut dapat menghabisi nyawanya. Ibu Bumi begitu panik sehingga permukaan bumi terasa menggigil, terjadi gempa di mana-mana. Prithu mengejarnya kemana saja Ibu Bumi melarikan diri. Ibu Bumi tak dapat menemukan tempat berlindung, sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui Prithu dan bersujud di hadapannya. “Wahai raja dunia, aku berlindung padamu. Engkau adalah raja yang adil dan mestinya Engkau tidak mengganggu seorang perempuan sepertiku. Sekalipun bersalah seorang perempuan tidak harus dibunuh. Mengapa Engkau berusaha membunuhku, padahal aku tidak berbuat kejahatan terhadapmu? Dan jika Engkau membunuhku dimana Engkau akan meletakkan kerajaan-Mu?

Prithu berkata, “Engkau telah melakukan kesalahan, itulah sebabnya aku harus menghukummu. Di dalam upacara persembahan yang dilakukan manusia, engku mendapatkan bagianmu. Akan tetapi engkau tidak memberi manusia makanan. Dalam wujud sapi engkau makan rumput akan tetapi engkau tidak memberikan susu kepada manusia. Engkau sudah mengabaikan peraturan yang dibuat olehku. Maka aku perlu menghukummu. Hukum harus ditegakkan di atas dunia. Engkau juga telah menyembunyikan tanaman obat pemberian Brahma. Rakyatku menjadi menderita karenanya. Seseorang yang tidak berpikir tentang kebaikan terhadap orang lain harus dibunuh oleh seorang raja. Perbuatan tersebut bukan perbuatan adharma. Dagingmu akan kubagikan kepada manusia dan aku tidak cemas tentang tempat kerajaanku yang musnah, dengan yogaku aku mampu mendirikan kerajaanku.”

Kisah Puranjana: 7 Jalan Pemujaan


Prithu adalah salah seorang raja dunia yang berhasil mengadakan upacara seratus aswamedha menyamai upacara yang dilakukan oleh Dewa Indra. Dalam upacara seratus aswamedha Prithu tersebut Indra mencoba menggagalkan upacara dengan mencuri sebuah kuda dengan berpura-pura menjadi sebagai seorang sadhu. Peristiwa ini dianggap sebagai mulainya tindakan munafik di dunia, yaitu seseorang yang berniat jahat yang berpura-pura berpenampilan sebagai orang baik. Tindakan Indra ini digagalkan oleh Resi Atri yang menyuruh putra Prithu untuk mengejar pencuri kuda dan diminta tidak perlu ragu melihat wujud pencuri sebagai seorang sadhu. Putra Prithu berhasil mengembalikan kuda ke seratus dari aswamedha ini sehingga dikenal sebagai Wijitashwa.

Setelah ribuan tahun memerintah sebagai raja, Prithu merasa usianya sudah tua dan sudah merasa waktunya untuk meninggalkan tubuh fisiknya. Prithu mengangkat Wijitashwa sebagai pengganti, kemudian dia melakukan yoga pelepasan dirinya yang diikuti oleh Archis, istri setianya. Putra Wijitashwa bernama Hawirdhana tidak ingin menjadi raja, maka sebagai raja pengganti Wijitashwa ditunjuk Barhishat, putra sulung dari Hawirdhana. Raja Barhishat terkenal dengan sebutan Prachinabarhis, prachina berarti arah ke timur dan barhis berarti rumput Kusa untuk persembahan. Raja Prachinabarhis terobsesi oleh upacara ritual yajna. Begitu selesai suatu upacara dia melanjutkan lagi dengan upacara ritual berikutnya. Demikian ritual demi ritual dilakukannya sepanjang waktu. Resi Narada paham bahwa niat dari raja Prachinabarhis adalah baik, maka sang dewaresi mendatangi sang raja dan bertanya mengapa dia mempunyai obsesi untuk melakukan ritual tanpa henti. Sang raja menjawab bahwa kebanyakan manusia terperangkap dalam jaring perasaan sehingga terikat dengan istri, anak-anak, rumah, kekayaan dan kerajaan. Kebanyakan manusia tidak mengetahui bagaimana mencapai dunia yang lain, oleh karena itu sang raja melakukan ritual terus-menerus agar tidak sempat berpikir terhadap jaring perasaan tersebut.

Kedatangan Narada membuat sang raja sadar bahwa mungkin sekali tindakannya tersebut tidak tepat maka segera dia memohon sang dewaresi untuk memberi petunjuk. Resi Narada berkata, “Wahai raja, engkau mempunyai niat untuk melepaskan diri dari keterikatan, dan niat itu benar. Engkau berupaya melepaskan diri dari keterikatan terhadap istri, anak, kekayaan dan kekuasaan. Akan tetapi engkau justru terikat dengan upacara ritual, sebuah keterikatan yang lain.” Dengan kekuatan yoganya, kemudian Resi Narada menunjukkan ribuan sapi yang telah dibunuh untuk keperluan ritual. “Wahai raja, ribuan sapi sedang menantikan kematianmu untuk membalas dendam kepadamu.” Sang raja kaget dan menjadi sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan. Kemudian Resi Narada menyampaikan kisah Raja Puranjana kepada sang raja.

Kisah Bharata: Keterikatan Menjelang Kematian


Bharata adalah putra Rsaba. Ia memerintah kerajaan dengan benar dan baik dan dicintai oleh rakyatnya. Bahkan kerajaannya dikenal sebagai Bharatawarsa. Bharatawarsa mengalami zaman keemasan dibawah kepemimpinan Raja Bharata. Bharata adalah seorang bhakta Narayana. Di dalam hatinya hanya ada Narayana dan tak ada yang lain selain Narayana. Setelah beberapa lama memerintah, dia menobatkan putranya sebagai raja penggantinya dan dia pergi ke Haridwara ke pertapaan Pulaha. Bharata hidup sendiri di sana dalam kedamaian dan tidak punya rasa keterikatan terhadap duniawi. Hari-hari dilewati hanya berpikir tentang Narayana.

Pada suatu hari, manakala Bharata sedang duduk akan melakukan meditasi pagi di tepi sungai Mahanadi, dia melihat seekor rusa betina yang tengah hamil sedang membungkukkan kepalanya untuk minum air sungai. Tiba-tiba terdengar raungan seekor singa yang sangat keras yang mengagetkannya. Karena ketakutan yang amat sangat sang rusa melompat dengan sekuat tenaga menuju seberang. Akhirnya sampai juga sang rusa betina di seberang. Dalam keadaan lunglai bercampur cemas, anaknya lahir prematur dan kemudian sang rusa betina meninggal. Bharata segera menghampiri anak rusa yang kemudian digendongnya ke pertapaan dan diberinya susu dengan penuh kasih seperti halnya seorang ibu yang mengasihi putranya. Hari-hari lewat dan Bharata menjadi semakin tua, akan tetapi rasa kasihnya terhadap anak rusa semakin bertambah. Ia menjadi sangat terikat dengan sang anak rusa. Ia berpikir, “Anakku tanpa ayah dan tanpa ibu, kecuali diriku. Aku adalah satu-satunya tempat perlindungannya.” Kasih sayang terhadap rusa tersebut membuat Bharata lupa terhadap terhadap kegiatan rutinnya untuk selalu berdoa, meditasi dan melakukan persembahan kepada Narayana.  Hari demi hari berlalu dan akhirnya Bharata mengalami kematian. Sebelum meninggal pikirannya terpusat kepada sang rusa. Akhirnya Bharata dilahirkan sebagai rusa.

Kisah Ajamila: Berkah pengucapan nama suci Tuhan


Setelah mendengar kisah Raja Bharata dan sebelumnya kisah Puranjana, Parikesit bertanya kepada Resi Shuka putra Abhiyasa, mengapa fokus dan obsesi seseorang sesaat sebelum meninggal mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan berikutnya. Resi Shuka menjawab bahwa selama masih ada pikiran yang terkondisi, maka pikiran tersebut tersebut masih ingin menyelesaikan obsesi-obsesi yang belum diraihnya. Biasanya sebelum meninggal, seseorang terobsesi ataupun memikirkan  penyesalan terhadap tindakan dalam kehidupannya, dalam keluarganya, atau dalam pekerjaannya dan lain sebagainya yang belum diselesaikan atau dikerjakannya dengan benar. Oleh karena itu orang tersebut dilahirkan lagi untuk menyelesaikan obsesi dan hutang piutangnya. Para suci mengajari manusia dalam keadaan kritis untuk berpikir tentang Gusti, tentang Tuhan, tentang Narayana agar dia mencapai Tuhan. Kemudian Resi Shuka putra Abhiyasa menyampaikan kisah tentang cara termudah untuk melepaskan diri dari jerat duniawi yang membuat manusia terikat dalam maya yang menyebabkan penderitaan dan kesenangan tak ada habisnya. Resi Shuka berkata, “Mengucap nama Tuhan dengan tulus akan menyelamatkan manusia dari semua marabahaya.”

Resi Shuka melanjutkan dengan menceritakan kisah tentang kematian Ajamila. Adalah seorang Brahmana bernama Ajamila di negeri Kanyakubja. Dilahirkan di keluarga brahmana dan menjalankan hidup sebagai brahmana yang taat di waktu muda, pada suatu saat Ajamila telah kehilangan semua kebaikannya. Dia hidup bersama dengan seorang wanita nakal. Karena menuruti pasangannya, Ajamila menjadi tamak, kejam, suka menipu sehingga dibenci oleh semua orang. Waktu berlalu dan Ajamila menjadi tua, dia telah mempunyai sepuluh putra dari wanita pasangannya tersebut dan yang termuda diberi nama Narayana. Narayana adalah anak yang dikasihi oleh ayah dan ibunya. Narayana selalu berada dalam pikiran Ajamila. Selagi makan ia akan memanggil Narayana terlebih dahulu, apakah sang putra sudah makan atau belum. Manakala Ajamila minum, ia akan menawari sang putra terlebih dahulu. Dengan kecintaannya terhadap putra bungsunya, Ajamila tidak menyadari bahwa kematian sangat dekat dengannya. Kala kematian sudah di depan mata, dia teringat putranya dan dipanggilnyalah sang putra dengan penuh kasih, “Narayana kemarilah! Narayana!” dan kemudian Ajamila tak ingat apa-apa lagi.

Rabu, 28 November 2012

Kisah Dadhichi: Sebuah Pengorbanan dan Keangkuhan Dewa Indra


Dikisahkan, beberapa waktu setelah menjadi raja para dewa, Indra berubah menjadi angkuh. Saat itu Indra duduk dengan Saci, sang istri di sampingnya dan sedang mendengarkan nyanyian para gandharwa dan menikmati tarian para apsara. Seluruh dewa dari empat penjuru menghormatinya. Brihaspati Agung, guru para dewata datang ke istana dan Indra tidak bangun untuk menghormati gurunya. Brihaspati kemudian merasa tidak berhasil mendidik muridnya dan segera meninggalkan  istana. Sesaat kemudian Indra sadar dan segera mencari gurunya, akan tetapi tidak berhasil menemukannya. Brihaspati bahkan tidak berada di pertapaannya.

Kabar menyebar begitu cepat, dan mengambil keuntungan dari keadaan Indra yang ditinggalkan gurunya, para Asura murid dari Sukracharya segera menyerang istana para dewa. Dan, Indra beserta para dewa dikalahkan. Para dewa kemudian berlindung kepada Brahma yang menyarankan agar Indra minta Asura Wiswarupa, putra Twasta untuk membantu mereka. Indra dan para dewa kemudian mendatangi Wiswarupa yang lebih muda dibanding dengan Indra untuk membantu mereka. Wiswarupa mengatakan bahwa peran guru tidak baik bagi Asura seperti dirinya, karena akan meningkatkan egonya. Akan tetapi memenuhi permintaan orang yang membutuhkan pertolongan adalah sebuah dharma, maka akhirnya dia menyanggupi Indra untuk membantu para dewa. Wiswarupa memberikan Indra  baju pelindung besi yang kuat bernama “Narayana Kawacha”. Para dewa juga diajari membaca mantram suci kawacha, “Om Namo Narayanaya”. Setiap bagian tubuh, diliputi pikiran dan perasaan yang terfokus terhadap Narayana, sehingga jiwanya dilindungi oleh Narayana. Dengan baju pelindung besi tersebut, maka Indra dapat mengusir para Asura dari istana para dewa.

Kisah Pertarungan Dewa Indra dengan Asura Writra


Pertempuran antara Indra dengan para dewa melawan Writra dengan para asura berlangsung sangat seru. Para dewa tidak mempan dilukai oleh senjata asura, mereka seperti manusia baik yang tahan dan tidak terluka oleh kata-kata para manusia picik. Para dewa unggul dalam pertempuran dan para asura melarikan diri dari pertempuran. Melihat penurunan moril anak buahnya Writra berteriak dengan keras, “Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sekali kamu dilahirkan, maka kamu pasti mati. Kematian datang dengan berbagai bentuk, dan tidak dapat dihindari. Manakala masalahnya seperti itu, kematian karena membawa kebenaran dan nama baik membawa akibat yang baik di kehidupan kemudian. Keinginan banyak orang adalah mati dalam keadaan yoga, akan tetapi pada waktu kalian melarikan diri dari perang, kematian bisa mendatangi kalian selagi berada dalam keadaan memalukan dan fokus terakhir sebelam kematian adalah melarikan diri, sehingga kalian akan lahir lagi sebagai seorang pengecut. Pilihan mati dalam yoga atau mati dalam keadaan berperang tidak mungkin didapat oleh semua orang. Kalian tidak perlu takut terhadap kematian!”  Writra tidak takut mati.

Melihat para asura yang tidak memperhatikan kata-katanya, Writra kemudian maju menyerang dan berkata, “Para dewa jangan melawan para asura yang ketakutan, lawanlah aku!” dan Writra mengeluarkan raungan perkasa yang menggetarkan nyali para dewa. Indra melemparkan tongkat kebesarannya yang dapat ditangkap Writra yang kemudian digunakan untuk melukai gajah Airawata yang digunakan Indra, sehingga gajah tersebut terluka dan mundur. Melihat Indra tidak memakai senjata, maka tongkatnya pun dilepaskan. Writra berkata, “Kamu telah membunuh saudaraku, Brahmana Wiswarupa dan aku ingin membalaskan kematiannya. Wahai Indra, mengapa kamu tidak memakai senjata wajra mu. Wajra dibuat dari tulang Resi Dadhichi dan menurut instruksi dari Narayana sendiri. Aku tahu dimana saja Tuhan ada akan ada kemenangan. Apakah kau ragu dengan wajramu? Wajramu telah diberkati Tuhan, maka kau pasti akan berhasil membunuhku. Selama ini aku berpikir tentang Tuhan dan tidak ada yang lain. Jika aku dibunuh aku hanya menyerahkan tubuh penuh dosa ini. Aku tidak berduka!”

Kisah Chitraketu: Karma baik kehidupan sebelumnya Asura Writra


Parikesit bertanya kepada Resi Shuka mengapa Writra, seorang asura bisa mencapai kaki Narayana dengan jalan bhakti. Padahal dewa yang mempunyai genetika satwik dan para resi yang mempunyai pikiran jernih, bhaktinya tidak sebesar Writra. Di dunia ini banyak makhluk dan sedikit di antaranya adalah manusia. Dan di antara seluruh manusia hanya sedikit yang berada di jalan dharma. Dan di antara mereka yang berada di jalan dharma sangat sedikit yang berpikir moksha sebagai tujuan hidupnya. Dan di antara 1.000 orang yang mengharapkan moksha hanya 1 orang yang akan mencapai kaki Tuhan. Oleh karena itu Parikesit bertanya kepada Resi Shuka mengapa Writra yang asura dan memerangi dewa dapat mencapai Narayana. Resi Shuka tersenyum dan kemudian mencaritakan latar belakang kehidupan Writra.

Adalah seorang raja dari negeri Surasena bernama Chitraketu. Chitraketu mempunyai segalanya, istri-istri cantik, istana megah dan negeri sejahtera, hanya satu yang tidak dipunyainya, yaitu seorang putra. Pada suatu hari Resi Angirasa putra Brahma datang berkunjung mengajarkan brahmawidya kepadanya. Dan, setelah mendengar masalah sang raja, dia membantu sang raja dengan memberikan ramuan ilahi buatan Twasta, ayah dari Wiswarupa. Ramuan tersebut diberikan kepada istri tertuanya dan dalam beberapa bulan kemudian, sang istri hamil. Sang Raja dan istrinya sangat berbahagia dengan kelahiran putranya. Istri-istri raja yang lain menjadi iri dan pada saat ibunya lengah mereka meracuni sang putra sehingga sang putra meninggal dunia. Raja Chitrakethu dan istrinya menjadi sedih sekali sehingga hidup mereka berantakan karena kesedihan akibat matinya sang putra. Negeri tersebut menjadi suram, karena rakyatnya bingung dengan raja yang sedang menderita kesedihan yang sangat dalam.

Kamis, 22 November 2012

Kisah Gajendra: Kesadaran dan Doa


Bukit Trikuta terkenal karena keindahannya. Dari segala jenis tanaman, binatang-binatang kecil sampai binatang besar, para Siddha-orang suci setengah dewa, para Carana-penyanyi surgawi, para Gandharwa-pemusik surgawi sering ke sana. Di tengah-tengah bukit terdapat sebuah danau yang luas dengan tanaman berbagai jenis teratai yang mengapung di atas permukaan airnya. Di dalam bukit tersebut tinggallah sekelompok gajah yang sangat berbahagia dengan keindahan dan kesuburan bukit tersebut. Pada suatu hari setelah melakukan perjalanan jauh di musim panas, mereka bermain air di danau  tersebut. Sang pemimpin gajah menyedot air dari danau dan memandikan gajah-gajah kecil. Mereka sangat bergembira, layaknya manusia di tengah kesenangan samsara, melupakan fakta bahwa setiap hari batas usianya semakin bertambah pendek. Mereka juga melupakan akan adanya hal yang tak terduga yang bisa langsung mengancam kehidupan mereka. Semuanya telah mengabaikan bahaya yang tersembunyi dari dalam air.

Tiba-tiba seekor buaya besar menarik kaki pemimpin gajah dengan kuatnya. Kejadian tak terduga tersebut membuat sang gajah terkejut dan mencoba untuk melepaskan diri dari sang buaya. Para teman-temannya berusaha membantunya tetapi gigitan sang buaya begitu kuatnya sehingga mereka tidak berhasil melepaskan kaki sang pemimpin. Pergumulan berlangsung sengit sampai beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun. Bahkan para dewa hadir untuk melihat pertarungan antara sang raja gajah dan sang raja buaya. Pelan-pelan tetapi pasti kekuatan sang gajah mulai surut dan kekuatan sang buaya semakin perkasa. Sang gajah akhirnya menyadari bahwa pada suatu saat dia akan kalah dan hidupnya akan tamat, persoalannya hanya masalah waktu saja. “Aku berada dalam ancaman yang yang nyata, dan kemampuan diriku tak akan dapat melepaskan diri dari ancaman yang telah mencengkeram diriku. Aku menyadari tak ada seorang pun yang dapat menolongku. Tetapi aku mempunyai suatu harapan. Aku dapat menyerahkan diri pada Tuhan yang adalah tempat perlindungan semua makhluk, termasuk bagi Dewa Brahma, sang pencipta. Ia pasti melindungi aku dari Yama yang berusaha untuk menakutiku. Jika Tuhan bersamaku, kematian sendiri akan melarikan diri. Aku akan berdoa kepada Tuhan.” “Engkau adalah Purusa, jiwa alam semesta. Dan Prakrti, alam semesta ini berasal dari Purusa.  Engkau adalah cahaya yang menerangi kecerdasan manusia. Seluruh alam semesta ini diciptakan oleh-Mu, dipelihara oleh-Mu dan tidak pernah terlepas oleh-Mu. Engkau adalah penyebab di balik alam semesta. Engkau ada ada di luar jangkauan indra, pikiran, emosi dan intelegensia. Meski engkau ada ada di luar pemahaman, ada beberapa orang yang sudah menyatu dengan-Mu.”

Samudramanthana: Kisah Pamuteran Mandaragiri


Bhagawan Abhyasa mengatakan bahwa peperangan antara dewa dan asura, antara kebaikan dan kejahatan selalu terjadi sejak awal kehidupan. Demikian pula yang terjadi dengan peperangan antara kebaikan dan kejahatan di dalam diri. Menjaga kesadaran dan membuang pola lama harus terus dilakukan agar kesadaran tetap terjaga. Bahwa ada asura yang baik dan berkesadaran tinggi seperti Prahlada, membuktikan bahwa benih potensi kebaikan pun ada dalam diri tiap asura. Bali putra Wirochana, cucu Prahlada, memiliki potensi kebaikan, akan tetapi pada saat itu potensi kebaikan tersebut masih tertutup belenggu pola lama dari genetik asura. Dan terjadilah beberapa kali pertempuran antara para dewa dipimpin Indra dan para asura dipimpin Bali.

Dalam beberapa peperangan terakhir para dewa di bawah pimpinan Indra terdesak oleh para asura di bawah pimpinan Bali, sehingga para dewa menghadap Wisnu yang berkuasa sebagai pemelihara alam. Mereka mohon petunjuk bagaimana caranya agar mereka dapat terus hidup dalam melawan ketidakbenaran. Wisnu memberi petunjuk kepada para dewa, agar mereka mengadakan  gencatan senjata dahulu dengan para asura.  Mereka perlu mendapatkan Amerta, obat yang melindungi diri dari kematian. Untuk itu samudera  harus diaduk. Gunung Mandaragiri dapat di jadikan alat pengaduk dan ular raksasa Wasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para dewa harus bekerja sama dengan para asura, tidak dapat bekerja sendiri. Para Dewa harus mendapatkan Amerta yang akan keluar dari samudera. Pertama kali akan keluar racun Kalakuta, setelah itu keluar beberapa hal lainnya. Diharapkan para dewa tidak ngotot, dan apabila ada benda yang diminta para asura agar diberikan saja. Para dewa diminta fokus pada Amerta.

Para asura setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerjasama demi mendapatkan Amerta. Hanya sebetulnya yang berada di benak para Dewa dan para Asura lain. Para Dewa ingin mendapatkan Amerta bagi keabadian dalam menegakkan dharma, sedangkan para Asura ingin mendapatkan keabadian dalam kenikmatan indera dan pikiran. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok, mereka telah menyiapkan rencana alternatif  untuk merebut Amerta dari tangan saingannya.

Rabu, 21 November 2012

Kisah Sukanya: Kesetiaan seorang wanita


Pada akhir Pralaya yang ada hanya Narayana, tidak ada yang lain. Dari pusar Narayana nampak bunga teratai dan dari bunga teratai muncul Brahma. Marici keluar dari pikiran Brahma dan akhirnya kawin dengan Kala dan mempunyai putra Resi Kasyapa. Kasyapa kawin dengan Aditi menurunkan para dewa diantaranya adalah Dewa Surya. Putra Surya adalah Shraddadewa yang merupakan kelahiran kembali dari Satyawrata yang selamat dari kalpa sebelumnya dan menjadi Manu dalam Waiwaswata Manwantara. Ikswaku adalah keturunan Shraddhadewa yang terkenal sebagai raja agung dari Dinasti Surya. Salah satu putra Manu adalah Saryati yang terkenal sangat adil yang mempunyai putri bernama Sukanya. Suatu ketika Raja bepergian ke hutan beserta rombongan pasukan dan Sukanya, sang putri turut serta.  Bagi sang raja putrinya yang telah menjadi gadis tersebut dianggapnya masih sebagai anak-anak layaknya. Semua keluarga dan seluruh masyarakat mencintai sang putri yang sederhana dan selalu bertindak ramah terhadap siapa saja.

Adalah seorang Resi bernama Cyawana yang bertapa dengan keras dan seluruh tubuhnya sudah tertutup lumpur dan dedaunan selama bertahun-tahun. Dari jauh hanya nampak seperti gumpalan tanah dengan dua lubang di matanya. Matanya memancarkan api yang membuat gumpalan tanah tersebut mempunyai dua buah lubang. Sang putri bermain-main di sekeliling rombongan raja dan tertarik dengan gumpalan tanah dengan dua buah lubang tersebut. Diambilnya ranting dan ditusukkanlah ke dalam dua lubang tersebut. Sang resi yang tengah bermeditasi merasa terganggu dan segera seluruh rombongan sang raja menjadi lumpuh. Sang resi kemudian bertanya siapa yang telah mengganggu samadinya. Sukanya lari kepada sang raja dan menceritakan kejadiannya.

Sang raja mohon maaf atas kesalahan sang putri dan paham bahwa meditasi yang telah dilakukan sang resi selama bertahun-tahun menjadi terganggu. Dan itu adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar. Untuk itu sang raja menawarkan sang putri untuk dinikahkan dengan sang resi. Akhirnya Sukanya dinikahkan dengan Resi Cyawana dan tinggal di hutan. Sukanya yang merasa bersalah patuh terhadap keputusan ayahandanya. Sukanya menjadi istri yang baik yang setia terhadap suaminya dan melayaninya dengan sebaik-baiknya. Baginya suaminya adalah wujud Narayana untuk membimbing dirinya, dan dalam waktu yang singkat kesadaran Sukanya meningkat. Sukanya melayani suaminya seperti Dewahuti melayani Kardama.