Sehari sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering disebut prawaning tilem kapitu, umat hindu memperingati Hari Siwaratri. Jika di urut dari asal katanya, “siwa” itu dapat diartikan sebagai terang dan “ratri” itu dapat diartikan gelap. Jadi Siwaratri dapat diartikan bahwa yang terang telah menjadi gelap dan yang gelap menjadi terang kembali. Dalam diri manusia bersemayam Tuhan beserta sifat - sifat ketuhanan, namun seiring perjalanan hidup, kegelapan dan ilusi duniawi membuat manusia semakin lupa akan asal dan jati diri.
Sabtu, 21 Januari 2012
Sabtu, 02 Juli 2011
GALUNGAN
Hari raya suci keagamaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan suatu ajaran agama. Dengan peringatan atau perayaan suatu hari suci keagamaan maka diharapkan pemeluk agama dapat lebih memantapkan kualitas rohaninya, baik itu secara internal, dalam hal ini adalah bagi diri pribadi dan sesama pemeluk agama. Maupun secara eksternal, dalam hal ini adalah antar pemeluk agama dan lingkungan sosial masyarakat yang bersifat heterogen.
Senin, 27 Juni 2011
ARWAWASU DAN PARAWASU
Raja Brihadyumna, murid Rsi Ribhya, ingin melaksanakan upacara besar. Ia meminta gurunya untuk mengizinkan kedua putranya, Parawasu dan Arwawasu untuk memimpin upacara itu. Seizin ayah mereka, mereka berdua pergi ke kota raja dengan suka hati.
Suatu hari, ketika persiapan upacara sedang dikerjakan Parawasu pulang untuk menemui istrinya. Ia berjalan sepanjang malam dan tiba di pertapaan sebelum fajar. Di dekat pertapaan, di kegelapan malam ia melihat sesosok yang membungkuk seperti sedang mengintai mangsa. Ia segera menyambar lembing dan melemparkannya ke arah sosok itu. Ia berhasil mengenainya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati bahwa yang ia bunuh adalah ayahnya sendiri yang mengenakan pakaian dari kulit binatang. Ia mengira sosok di kegelapan malam itu adalah binatang hutan. Ia sadar bahwa kesalahan fatal ini disebabkan oleh kutukan Rsi Bharadwaja. Sementara mempersiapkan upacara penguburan untuk ayahnya, ia pergi kepada Arwawasu dan menceritakan kejadian yang menyedihkan itu. Katanya: “Sebaiknya kecelakaan ini tidak mengganggu persiapan upacara persembahyangan. Lakukanlah upacara pembakaran jenazah atas namaku, sebagai penebus dosa yang telah kulakukan secara tidak sengaja. Dosa yang dilakukan secara tidak sengaja bisa beroleh pengampunan. Jika engkau bisa menggantikan aku dan memohon ampunan atas dosaku, aku akan memimpin upacara persembahyangan raja. Aku bisa melakukannya sendiri. Engkau tidak bisa memimpin upacara tanpa bantuanku.”
ASTAWAKRA
Rsi Uddalaka. Seorang rsi besar dan mahaguru kitab Wedanta, memiliki seorang murid yang bernama Kagola. Kagola adalah murid yang berbudi luhur dan berbakti, tapi kurang pandai. Ia sering menjadi bahan tertawaan murid-murid yang lain. Namun demikian, Rsi Uddalaka tertarik pada keluhuran budi, sikap berbakti, dan sikapnya yang baik. Ia ingin menikahkan Kagola dengan putrinya, Sujata.
Sujata dan Kagola dianugerahi seorang putra. Biasanya seorang putra mewarisi sifat-sifat kedua orang tuanya. Tetapi putra Sujata dan Kagola ini justru mewarisi kepandaian kakeknya, Rsi Uddalaka. Sejak dalam kandungan anak ini telah menguasai kitab-kitab Weda. Ketika Kagola salah mendaraskan kitab Weda, anaknya yang masih dalam kandungan ibunya akan meronta-ronta kesakitan. Akibatnya, ketika lahir anak itu bungkuk dan memiliki delapan benjolan. Kemudian, anak itu diberi nama Astawakra yang berarti “delapan benjolan”.
Langganan:
Postingan (Atom)



