Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,
Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,
Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita,
Tak peduli seberapa tak sukanya kita,
Dan tak ada yang suka rasa sakit,
Rasa sakit itu penting,
Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.
Bagaimana lagi kita bisa tahu,
Untuk menarik tangan kita dari api?
Jari kita dari belati?
Kaki kita dari duri?
Jadi rasa sakit itu penting,
Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.
Namun,
Ada sejenis rasa sakit yang tak ada gunanya,
Itulah rasa sakit kronis,
Itulah pasukan elite rasa sakit yang bukan untuk pertahanan,
Itu adalah kekuatan yang menyerang.
Penyerang dari dalam,
Penghancur kebahagiaan pribadi,
Penyerang ganas bagi kemampuan pribadi,
Penyerbu tak kenal lelah bagi kedamaian pribadi,
Dan pelecehan berkelanjutan bagi hidup!
Rasa sakit kronis adalah aral rintang terberat bagi pikiran,
Kadang rasa sakit itu nyaris mustahil untul dilampaui,
Namun, kita harus tetap mencoba,
Dan mencoba,
Dan mencoba,
Sebab jika tidak, ia akan menghancurkan kita.
Dan
Dari pertempuran itu akan muncul hal-hal yang baik,
Kepuasan penaklukan rasa sakit,
Pencapaian kebahagiaan dan kedamaian,
Pada kehidupan sekalipun darinya,
Ini sungguhlah suatu pencapaian,
Pencapaian yang sangat istimewa, sangat pribadi,
Rasa akan kekuatan,
Kekuatan batiniah,
Yang harus dialami untuk bisa dipahami.
Jadi, kita semua harus menerima rasa sakit,
Sekalipun rasa sakit yang merusak,
Karena itu bagian dari segala sesuatu,
Dan pikiran dapat mengatasinya,
Dan pikiran akan menjadi lebih kuat dalam mengalaminya.
~ Jonathan Wilson-Fuller ~
Jumat, 30 Maret 2012
Rasa Sakit
Sabtu, 24 Maret 2012
Kesempatan
Kehidupan di dunia ini memang sangat sulit untuk dijalani, tetapi mendalami ajaran agama dengan sempurna ternyata jauh lebih sukar. Ketika kita telah mendapatkan anugrah berupa tubuh yang sempurna dan juga cahaya ajaran agama yang kita anut untuk dipelajari, kita seharusnya menunjukkan rasa syukur dengan cara memanfaatkan kedua karunia itu secara maksimal. Namun banyak orang (termasuk saya) yang sudah merasa puas atas apa yang telah ia capai, padahal belum ada seperempat bagian dari ajaran agama yang berhasil dijalani.
Kegigihan hanyalah salah satu faktor penentu keberhasilan. Kecerdasan dalam membidik kesempatan adalah faktor lainnya yang tidak kalah penting. Dalam kehidupan manusia, kesempatan besar tidaklah banyak, karena itu pada saat kesempatan itu muncul, kita harus segera meraihnya tanpa ragu-ragu. Semua orang tentunya sudah sering mendengar hal itu dan paham dengan nasihat orang tua yang seperti itu, tetapi nyatanya sebagian besar dari mereka (termasuk saya) gagal merebut kesempatan yang datang.
Ada 2 faktor yang menyebabkan kegagalan. Yang pertama adalah persiapan mental yang kurang. Pada kondisi seperti ini, seseorang sama sekali tidak pernah menduga jika sebuah kesempatan besar akan muncul menghampirinya sehingga secara mental ia tidak siap sama sekali untuk menggenggam kesempatan tersebut. Tidaklah mengherankan jika antusiasme orang dengan kondisi mental seperti ini terhadap sebuah kesempatan, sebesar apapun itu, sangatlah rendah.
faktor yang kedua adalah kemampuan yang kurang. Pada saat kondisi ini seseorang sangat menginginkan datangnya kesempatan, tetapi ia sendiri tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk meraihnya.
Sebagai catatan akhir adalah, nyawa kita hanya bisa dimiliki sekali dalam kehidupan saat ini. Sementara kehadiran kita di dunia ini pasti memiliki makna. Karena itu, kita harus memperhatikan setiap kesempatan yang datang menghampiri dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan, artinya kita mensyukuri kehidupan yang kita miliki.
Astungkara..
Sebuah Arloji
Ada sebuah cerita yang sangat bagus diceritakan oleh seorang pertapa tentang sebuah arloji.
Ada seorang pria di India yang diberikan sebuah arloji yang mahal. Karena ia tidak tahu apa itu arloji dan fungsinya. Baginya arloji itu hanyalah sebuah gelang yang indah. Ia tidak tahu bahwa itu adalah sebuah alat untuk menunjukkan waktu. Akibatnya ia selalu terlambat masuk kerja dan akhirnya ia dipecat serta kehilangan tempat tinggalnya.
Ketika ia membuat janji untuk wawancara, ia datang terlambat, begitu pula dengan janji-janji dan pekerjaan lainnya yang membutuhkan ketepatan waktu, ia selalu datang terlambat.
Akhirnya, karena frustasi, ia bertanya kepada seseorang di jalan, "Jam berapakah sekarang ini?".
Orang itu memandangnya dengan penuh keheranan, "Anda memakai sebuah arloji di tangan. Itu akan menunjukkan waktu untuk anda", jawabnya.
"Sebuah arloji. Apa itu?", balasnya.
"Kamu bercanda bukan?", jawab orang asing tersebut sambil menunjuk ke alat yang dipakai pria tersebut di lengannya.
"Tidak", jawab pria itu, "Ini adalah sebuah perhiasan yang indah, sebuah hadiah dari seorang teman. Apa hubungannya dengan menunjukkan waktu?".
Maka dengan penuh kesabaran, orang asing tersebut mengajarkannya bagaimana melihat jam di arloji, memahami jarum petunjuk jam, menit dan detik.
"Saya tidak percaya ini", teriak si pria India, "Jadi, maksudnya selama ini saya memiliki sesuatu yang bisa menunjukkan waktu dan bahkan saya tidak tahu?"
"Jangan salahkan saya", kata si orang asing itu, "Siapapun yang telah memberikan arloji itu untuk anda, seharusnya menjelaskan fungsinya".
Setelah hening sejenak, pria itu menjawab dengan suara yang lembut dan malu-malu, "Mungkin, ia juga tidak tahu benda apa ini".
"Mungkin juga ia memberikan sebuah hadiah yang ia sendiri tidak tahu bagaimana menggunakannya. Sekarang, paling tidak, anda tahu bagaimana menggunakannya". Setelah berkata itu, si orang asing kemudian pergi menghilang diantara para pejalan kaki dan kesibukan kota India.
Siapa yang tahu kalau-kalau sahabat ini adalah seorang utusan Tuhan atau hanya orang asing yang ditemui secara kebetulan, yang bisa membedakan antara arloji dan gelang biasa. Setelah kejadian itu pria India tersebut mampu mempergunakan arlojinya sehingga ia bisa datang untuk wawancara sebuah pekerjaan dan kemudian mendapatkan pekerjaan yang baik untuk memperbaiki kehidupannya.
Pelajaran yang dapat kita petik dari cerita di atas adalah bahwa kita diberkahi dengan kemampuan yang sering kali tidak kita sadari, sampai seseorang menunjukkannya kepada kita