Selasa, 03 September 2019

Pengorbanan Karna

Dialog imajiner yang terjadi antara Basudewa Krisna dan Prabu Karna sebelum berlangsung perang Baratayudha :

Krisna ; Saya minta dinda kembali ke Pandawa, berkumpul kembali dengan saudara saudara Pandawa lainnya,

Karna ; Tidak kanda ! ini sudah pilihanku, .. toh tidak akan ada bedanya, jika kelak aku mati di perang Baratayudha, Pandawa tetap lima, begitu juga jika Harjuna yang mati, Pandawa tetap lima.

Krisna ; Kenapa harus saling membunuh, padahal kamu tahu Pandawa itu adalah saudara saudaramu sendiri ? Kamu, Putadewa, Bima, dan Harjuna adalah putra-putra Kunti !,

Karna ; Ini bukan persoalan bunuh-membunuh, ini persoalan tugas suci yang harus diemban oleh setiap Ksatria untuk membuktikan bahwa pilihannya adalah benar,

Krisna ; Bagaimana engkau bisa mengatakan pilihanmu adalah benar, sementara engkau membela angkara murka?

Karna ;  Jangan cuma melihat kulit, kakanda ..

Krisna ;  Maksudmu ?

Karna ; Kanda tahu ? bahwa setiap orang memiliki cara untuk menyampaikan kebenaran, Pandhita menyampaikan kebenaran melalui nasihat nasihatnya, sedang Ksatria seperti saya yaa lewat perang, aaah, kakanda Krisna pasti sudah tahu maksudku,

Krisna terdiam, sebagai titisan Dewa Wisnu, Kresna memang diberi kelebihan mengetahui sesuatu yang akan terjadi .....

Karna ; Begini, kakanda, berkali-kali para Pandhita menasihati Raja Hastina, Duryudana, untuk berbuat baik, tapi tetap saja ia masih bersifat angkara murka, maka satu-satunya jalan bagiku adalah mendorong dirinya dan Kurawa untuk berani beperang melawan Pandawa dalam Baratayudha.

Krisna ; Kenapa harus melalui peperangan !??

Karna ; Karena hanya melalui peperanganlah angkara murka Prabu Duryudana akan punah sampai ke akar-akarnya !,

Betapa Karna siap untuk menjadi tumbal bagi kejayaan saudara saudaranya keluarga Pandawa, di satu sisi ia ingin membasmi sifat angkara murka Kurawa, disisi lainnya ia siap mati oleh panah adiknya sendiri Harjuna, padahal jika ia mau, tidak ada jenis pusaka apapun yang sanggup menghalau dan menandingi kesaktian senjata Kunta Wijaya Danu milik Sang Prabu Karna !,

Sumber: Ra Hyang
https://facebook.com/story.php?story_fbid=2360030924240231&id=100007000398328

Sabtu, 22 November 2014

Tekor Bubuh

Hari ini adalah hari Saniscara Kliwon Wariga, atau yang masyarakat Bali kenal dengan nama Tumpek Bubuh/Tumpek Wariga. Ada satu budaya dalam masyarakat Hindu Bali, bahwa pada hari ini biasanya masyarakat Hindu di Bali melakukan upacara yg ditujukan pada tumbuh-tumbuhan sebagai rasa syukur atas apa yang telah diberikan oleh tumbuh-tumbuhan itu pada manusia. Dalam hal ini pemujaan ditujukan pada Dewa Sangkara selaku penguasa tumbuh-tumbuhan. Adapun salah satu sarana upacara yg digunakan adalah menggunakan sarana bubur/bubuh sumsum, jaja kukus serta jajan bali lainnya seperti giling-giling dan sebagainya. Setelah melakukan prosesi upacara biasanya masyarakat Hindu di Bali menyantap 'lungsuran' atau sisa 'bubuh sumsum' tersebut. Bagi masyarakat modern ada yang menggunakan piring untuk menyantapnya, tetapi bagi masyarakat tradisional biasanya menggunakan daun pisang yang diolah sedemikian rupa menjadi sesuatu yg lazim disebut 'tekor'. Sejenak bila perhatikan cara pembuatan tekor bubuh itu mengisyarakat suatu makna filosofi dalam hidup ini.

'Tekor' terbuat dari lembaran daun pisang, lembaran yang menyiratkan kita selalu memulai dengan lembaran baru. Daun pisang, daun yang sangat murah dan dapat diperoleh, seperti niat baik kita yang harus dengan murah dan mudah diproduksi dalam hati kita. Lembaran daun pisang itu kemudian dibentuk, ini seperti mengingatkan bahwa niat baik kita juga harus dengan mudah dibentuk dan disesuaikan dengan situasi. Proses ketiga yaitu lembaran yang sudah dibentuk itu ditusuk dan dikunci dengan ‘semat’ atau lidi yang tajam, ini menggambarkan bahwa niat baik kita harus dimantapkan dengan usaha keras, pemikiran yang tajam, seksama, hati-hati dan tegas. Kemudian 'tekor' itu dituangkan bubur sumsum yang panas dengan gulanya yang panas pula. Namun 'tekor' itu tahan panas, ini mengingatkan bahwa kita juga harus tahan terhadap segala ganjalan, halangan, dan kesulitan yang kita hadapi. Untuk menikmati bubur itu kita memerlukan sendok, untuk itulah kita menyobek daun 'tekor' itu dan dilipatkan untuk menyendok makanan tersebut, ini mengingatkan bahwa niat, usaha, masih belum cukup untuk mewujudkan semuanya, butuh pengorbanan dari diri kita untuk mewujudkannya. Posisi telapak tangan dalam memegang 'tekor' telapak tangan kita harus melindungi 'tekor' agar tidak tumpah, seperti sikap kita dalam menghadapi permasalahan dengan ikhlas. Bentuk 'tekor' yang terbuka pada satu sisinya dan tertutup pada sisi lainnya mengingatkan kita untuk selalu terbuka untuk segala ilmu dan ditutup untuk segala pengaruh buruk. 'Tekor' juga langsung dibuang oleh pemakannya ketika sudah selesai, dan ini memberikan pelajaran bagi kita siapkah kita untuk dilupakan ketika semuanya telah selesai.

Seperti itulah 'tekor bubuh' memberikan pelajaran pada pagi yang cerah ini. Selamat menikmati bubur sumsum. (˘ڡ˘)

Jumat, 19 Juli 2013

Menjaga Ketajaman Diri


Mengasah Kapak

Di suatu waktu, adalah seorang pemotong kayu yang sangat kuat. Dia melamar sebuah pekerjaan ke seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat bagus. Karenanya sang pemotong kayu memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin. Sang majikan memberinya sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang pemotong kayu berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Selamat, kerjakanlah seperti itu ”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan harinya sang pemotong kayu bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon.

Senin, 18 Maret 2013

Layang-Layang dan Harapan


Selalu Saja Ada Harapan

Layangan ( layang layang ) dimainkan dengan kepala tegak dan bukan dengan menunduk. Layang layang diterbangkan bukan dengan wajah ke arah bawah, tapi dengan menatapnya ke angkasa. Begitupun kita dalam hidup. Layang layang adalah tanda agar kita selalu percaya bahwa optimisme dimulai dengan membangun harapan, bukan dengan bersedih. Layang layang adalah pengingat buat kita bahwa semangat baru akan hadir bagi mereka yang berpikir positif.

Rabu, 06 Maret 2013

Dua Pilihan


Pada sebuah jamuan makan malam amal penggalian dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

"Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Arjun. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?"

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Arjun, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:

Arjun dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Arjun bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Arjun ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Arjun mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Arjun dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "Kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti"

Arjun berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Rabu, 27 Februari 2013

Air dan Ikan Kecil

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.
Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, Dimanakah air?
Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati."
Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.

Selasa, 26 Februari 2013

Kisah Seorang Mahatma Gandhi

Pasukan Inggris sebagai salah satu tentara terkuat dan disegani dunia, kala itu harus ditarik mundur dari India hanya karena kekuatan cinta seorang manusia kurus kering, berbaju sangat sederhana, dan memakan apa yang dimakan sebagian besar rakyatnya. Beliau adalah Mohandas Karamchand Gandhi, atau biasa dikenal dengan Mahatma Gandhi (Jiwa yang agung).

Sebagai seorang pengacara kenamaan, Gandhi seharusnya bisa menikmati kehidupan yang sangat nyaman di Afrika Selatan. Namun perlakuan yang dialaminya sebagai warga kelas dua disana, membuat ia selalu terbayang akan nasib bangsanya, yang masih hidup di bawah penjajahan Inggris.

Ia pun meninggalkan semua kehidupan mewahnya di Afrika Selatan dan pulang kembali ke negerinya. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung untuk berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat : "”Terima kasih atas penyambutan Anda semua,”" kata Gandhi sambil memberikan salam khas bangsa India. Dengan rendah hati ia mengaku, bertahun-tahun meninggalkan negerinya, ia merasa tak tahu akan keadaan bangsanya, jadi tidak mungkin ia bisa berbicara banyak.

Senin, 25 Februari 2013

Sebuah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.” Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Jumat, 22 Februari 2013

Setitik Noda Pada Mutiara


Ada seorang tua yang sangat beruntung. Dia menemukan sebutir mutiara yang besar & sangat indah, namun kebahagiaannya segera berganti menjadi kekecewaan begitu dia mengetahui ada sebuah titik noda hitam kecil di atas mutiara tersebut.

Hatinya terus bergumam, kalo lah tidak ada titik noda hitam, Mutiara ini akan menjadi yang tercantik & paling sempurna di dunia!!

Semakin dia pikirkan semakin kecewa hatinya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menghilangkan titik noda dengan menguliti lapisan permukaan mutiara.

Tetapi setelah dia menguliti lapisan pertama, noda tersebut masih ada.

Dia pun segera menguliti lapisan kedua dengan keyakinan titik noda itu akan hilang.
Tapi kenyataannya noda tersebut masih tetap ada. Lalu dengan tidak sabar, dia mengkuliti selapis demi selapis, sampai lapisan terakhir. Benar juga noda telah hilang, tapi mutiara tersebut ikut hilang!!

Begitulah dengan kehidupan nyata, kita selalu suka mempermasalahkan hal yang kecil, yang tidak penting sehingga akhirnya merusak nilai yang besar...

Persahabatan yang indah puluhan tahun berubah menjadi permusuhan yang hebat hanya karena sepatah kata pedas yang tidak disengaja .....


Keluarga yang rukun dan harmonispun jadi hancur hanya karena perdebatan-perdebatan kecil yang tak penting ...

Yang remeh kerap dipermasalahkan..
Yang lebih penting dan berharga lupa dan terabaikan...
Seribu kebaikan sering tak berarti...
Tapi setitik kekurangan diingat seumur hidup......

Mari belajar menerima kekurangan apapun yang ada dalam kehidupan kita...
Bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini ...?

Kamis, 21 Februari 2013

Kekayaan, Kesuksesan Atau Cinta?


Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata, "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut."

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"

Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar."

"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali," kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa?" tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "Dan sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."

2 Orang Negro di Dalam Lift


Baru-baru ini di Atlantic City - AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.

Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, "Dua orang ini akan merampokku." Tapi pikirnya lagi, "Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah."

Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!

Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.

Rabu, 20 Februari 2013

Satu Senar Tetap Indah


Satu Senar

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh.

Tiba tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak, “Hebat, hebat.”

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.

Selasa, 19 Februari 2013

Sebuah Kerang Mutiara


Mutiara

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”

Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Sebuah Pilihan


Hidup Adalah pilihan

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.
Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku
dalam dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas tunasku di atas kerasnya tanah ini.
Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi.
Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk pucuk daunku.”

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana.
Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan
tunas tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,
dan siput siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk
mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang
kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani.
Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan kebimbangan yang kita ciptakan sendiri.
Kita kerap terbuai dengan alasan alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.

Kamis, 14 Februari 2013

Berbahagia Dengan Memberi


Kebahagiaan Diperoleh dari Memberi

Kisah ini bercerita tentang seorang wanita cantik kaya raya yang mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.

Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya,” Saya akan menyuruh Sukreni di sini untuk menceritakan kepada anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin anda mendengarnya.”

Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya:”OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa siapa. aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.

Rabu, 13 Februari 2013

Kesabaran Orang Tua


Ayah, Anak dan Burung Gagak

Satu kisah yang menarik untuk dijadikan teladan. Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?” “Burung gagak”, jawab si anak. Si ayah mengangguk angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, “Itu burung gagak ayah ”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK ” Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah…….”.

Perahu Harapan


Berlayar Menuju Pantai Harapan

Anda adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban,
terbuat dari kayu terbaik, Dengan layar gagah menentang angin.
Kesejatian anda adalah berlayar mengarungi samudera,
menembus badai dan dan menemukan pantai harapan.

Sehebat apapun perahu diciptakan, tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga.
Dermaga adalah masa lalu anda .
Tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan anda.
Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugerahkan pada anda.
Jangan biarkan masa lalu menambat anda di situ.
Lepaskan diri anda dari ketakutan dan penyesalan.
Berlayarlah Bekerjalah

Selasa, 12 Februari 2013

Sebuah Keagungan Suku Kata “Om” dalam Siwa Purana


Om Namah Shivaya......

Rsi Suta berkata:
Suku kata Om merupakan sebuah perahu istimewa yang akan menyeberangkan kita dari samudra keduniawian. (Pranava berasal dari kata Pra = Prakriti atau keduniawian, dan Nava yang berarti perahu). Atau Pranava juga berarti ‘tidak ada dunia untukmu’ atau juga berarti itu yang menuntunmu menuju pembebasan’. Pranava juga berarti ‘itu yang menuntun pada pengetahuan yang baru’ Setelah menghancurkan semua kegiatan perbuatan, maka orang yang mengucapkan Pranava dan melakukan puja  akan mendapatkan, pengetahuan yang baru tentang jiwanya. Pranava ini terdiri dari dua wujud yaitu wujud yang halus dan wujud yang kasar. 
Wujud yang halus terdiri dari satu suku kata dimana persatuan lima suku kata pembentuknya tidak terbedakan lagi. Sedangkan wujud yang kasar terdiri dari lima suku kata dimana semua suku kata yang ada termanifestasikan di dalamnya. Wujud yang halus diperuntukkan bagi para Jivanmukta (mereka yang telah mengalami pembebasan). Perlunya perenungan terhadap suku kata ini adalah untuk menghancurkan kesan badaniah atau keduniawian. Jika kesan ini telah musnah, maka tidak diragukan lagi, roh itu akan bersatu dengan Shiva. Meskipun hanya dengan pengucapan mantra ini, maka ia akan mencapai persatuan dengan Shiva (samadhi). 
Orang yang mengucapkan mantra Pranava sebanyak 36 crore tidak diragukan lagi akan mencapai samadhi. Wujud halus Pranava ini juga terbagi menjadi dua yaitu yang panjang dan yang pendek. Wujud yang panjang hanya ada di dalam hati seorang yogi dalam wujud terpisah, huruf A, U, M Bindu dan Nada. Wujud ini dipenuhi dengan kekuatan suara sang waktu. Shiva, Shakti dan persatuan keduanya ditandai dengan huruf ‘M’ yang lebur dalam tiga huruf lainnya. Inilah yang disebut sebagai Pranava yang halus dalam bentuk singkat atau pendek. 
Pranava ini harus diucapkan oleh mereka yang ingin menghapuskan dosa-dosanya. Lima unsur yang terdapat di alam ini yaitu ether, udara, api dan tanah dan lima unsur halusnya yaitu suara, sentuhan, wujud, rasa dan bau, semua ini akan bersatu dalam rangka pencapaian suatu keinginan yang disebut Pravritta. Pranava yang berwujud halus dalam bentuk singkat ditujukan pada mereka yang menginginkan keberlanjutan kesadaran duniawi dan mereka yang tidak menginginkan keduniawian. Pranava hendaknya dipergunakan ada permulaan Vyahrti, mantra permulaan Veda, dan dalam pelaksanaan doa pagi dan sore bersamaan dengan Bindu dan Nada. Jika ia mengucapkan mantra ini sembilan crore maka ia pasti akan menjadi sebuah jiwa yang murni.
      (Siwa Purana Widyeshwara Samhita XVII 4-18)

Sabtu, 09 Februari 2013

Kekuatan Sang Kala (Waktu)


Kekuatan Sang Kala (Waktu)

Manusia sering kali tidak sabaran akan suatu hal, apalagi jika hal tersebut tidak menyenangkan bagi dirinya. Bahkan jika dihiperbolakan kondisi ketika manusia itu dilanda kesusahan adalah rasanya dunia ini runtuh. Tetapi jika kita lihat dan cermati lagi itu semua adalah sebuah proses menuju pada kedewasaan diri, menuju pada sebuah pencarian diri dari sang jiwa ini. Ada sebuah nasihat orang tua yang musti kita ingat yaitu: “suka, duka, lara, pati ento sing dadi kelidin....”. Coba kita amati sepenggal kalimat tersebut, disana ada 3 hal yang kadang kita sebut dengan kesedihan, yaitu: duka, lara dan pati, hanya ada satu kebahagiaan, yaitu suka. Karena memang sejatinya seperti itulah hidup di dunia ini, lebih banyak kesedihan, tetapi dari kesedihan dan kesusahan itulah kita belajar tentang arti hidup.

Suka-duka, kesedihan dan kegembiraan semua silih berganti. Tidaklah tepat bila seseorang berlarut-larut dalam kesedihan ataupun berleha-leha ketika ia berbahagia, orang bijak tidak terikat oleh keduanya. Akan hal ini ada sebuah nasihat dari kisah di dalam Santi Parwa Mahabharata:

Jumat, 08 Februari 2013

Rendah Hati Bukanlah Rendah Diri


Belajar Dari Padi Dan Laut

Orang yang angkuh dengan kata katanya hanya menunjukkan kesempitan pengetahuan dan wawasannya. Dia hanya sedikit mengenal dunia, sehingga bicara seolah olah menguasainya. Sedang orang yang cerdas dan berwawasan luas pastilah rendah hati, karena dia mengerti betapa kecilnya ia, betapa sedikit ilmunya dibanding luasnya samudra ilmu dan cakrawala dunia

Ia adalah orang yang belajar dari ilmu padi, makin berisi makin merunduk..
Ia adalah orang yang belajar dari ilmu laut,..
bahwa ....
“..alasan mengapa laut selalu dipuji oleh ratusan aliran air dari pegunungan adalah karena ia selalu merendah di bawah mereka…”