Rabu, 02 Februari 2011

Siwa Purana


Wacana Suta dalam Siwa Purana

            Dalam seratus ribu sloka yang berisikan dua belas samhita (bagian atau bab) Dewa Siwa Sendiri memberikan Siwa Purana pada Brahma dengan penuh berkah. Dewa Brahma, sang pencipta, memberikannya pada putra kesayangannya Narada. Narada kemudian meneruskannya pada Sanata Kumara, yang kemudian menceritakan kisah ini kembali pada Wedavyasa (para rsi penemu weda).
            Kemudian Rsi Wedavyasa yang terberkahi ini mengintisarikan seratus ribu sloka ini menjadi dua puluh empat ribu sloka, dalam tujuh samhita: Vidyeswara, Rudra, Shatarudra, Kotirudra, Uma, Kailasa dan Vayuviya samhita. Maharshi Suta bersama dengan Shuka Munindra diberkahi oleh Wedavyasa. Dan kemudian, Suta Muni menceritakan purana, cerita epos yang besar ini pada Rsi Shaunaka dan rsi lainnya.


Keagungan Siwa Purana

            Di sungai suci Prayaga (pertemuan antara sungai Gangga, Yamuna dan sungai Saraswati yang legendaris), diminta oleh para rsi dan orang suci lainnya yang dipimpin oleh Shaunaka, Maharshi Suta menjelaskan kepada mereka keagungan Parama Siwa yang sangat luar biasa.
            Dewa Siwa sendiri diberkahi oleh Brahma dengan cerita yang terbagi menjadi dua belas bagian yang disebut sebagai samhita. Brahma diberkahi oleh Narada menceritakan tentang purana dan Narada kemudian menceritakannya pada Sanata Kumara. Ia menceritakan cerita yang agung ini pada rsi Wedavyasa.
            Rsi Wedavyasa diberkahi dengan pengetahuan tentang Siwa, Siwajnana. Karena kasihnya pada semua makhluk, dengan keinginan mencerahi semua dengan yang mana ia telah terberkahi, Wedawyasa mengintisarikan Mahapurana, epos yang besar ini menjadi dua puluh empat ribu sloka yang dibagi menjadi tujuh. Tujuh samhita yang diceritakan oleh Maharsi Suta pada Saunaka dan rsi lainnya adalah: i) Vidyeshwara samhita, ii) Rudra samhita, iii) Shatarudra samhita, iv) Kotirudra samhita, v) Uma Samhita, vi) Kailasa samhita dan vii) Vaayuviya samhita.
            Karena kehendak suci Paramasiwa, Suta kemudian menceritakan purana pada para rsi dan orang suci lainnya di Triveni Sangam, pada Shaunaka dan rsi lainnya.
            Suta adalah putra Romaharshana. Ia dipanggil Roma Harshana. Ia adalah murid kesayangan Rsi Vedavyasa yang membagi nyanyian weda menjadi empat weda, demikian juga dengan delapan belas purana.
Ia juga memberikan dunia cerita epos besar Maha Bharata yang disebut sebagai Weda kelima.
            Rsi Suta berkata:
            Wahai! Para rsi! Kalian akan mendapatkan inspirasi tentang kegagungan Parama Siwa. Dengarkanlah! Tidak ada yang lebih berharga dan lebih suci serta yang akan memberikan pahala kebaikan (punia) selain mendengarkan dan membaca Siwa Purana. Bahkan mereka yang hanya mendengarkan satu cerita saja, atau sebagian kecil saja, satu episode saja atau bahkan setengahnya saja, akan diberkahi dan akan mencapai mukti, pembebasan dari ikatan duniawi.
            Siapapun yang mendengarkan ini pada saat berpuasa pada hari keempat belas bulan chaturdasi maka ia akan mencapai pahala kebaikan dan akan menumui kebaikan selalu.
            Ketahuilah, bahwa Rudra dan Kailasa Purana adalah samhita yang teragung untuk mendapatkan berkah.
            Ia yang menceritakan Rudra Samhita tiga selama empat hari dihadapan Dewa Bhairava maka keinginan yang ia miliki semuanya akan terpenuhi.
            Yang lebih agung dari samhita ini adalah Kailasa Samhita. Hanya Parama Siwa sendiri yang mengetahui cerita ini. Bahkan guruku hanya mengetahui setengahnya. Sedangkan aku hanya mengetahui cerita ini seperempat saja. Semua ini adalah kehendaknya, kehendak Parama Siwa.
            Siwa Panchakshari (nyanyian lima sloka Dewa Siwa), kekuatannya, keampuhannya, bagaimana cara mengucapkannya, cara mencapai Tri warga; dharma, artha dan kama serta bagaimana cara mencapai pelepasan diri (moksha) semuanya telah dimasukkan dan dijelaskan dalam Siwa Purana. Walaupun tidak mungkin nampaknya menceritakannya dengan semua kata, Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menceritakan apa yang aku tahu dengan berkah Tuhan.
            Setelah berkata demikian Muni Suta mulai menceritakan tentang Dewaraja.

KISAH DEWARAJA

            Pada jaman dahulu kala, di Kirata Nagara hiduplah seorang brahmana yang bernama Dewaraja. Ia menjalani kehidupan yang tidak teratur dan hidup yang amat buruk. Ia tidak pernah mandi dan berdoa. Satu-satunya tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk menghasilkan banyak uang dan kemudian menghamburkannya sesuka hatinya. Ia menipu orang lain dan juga bertikai dengan teman atau sanak-saudaranya. Suatu hari ia pergi ke sebuah kolam pemandian yang amat segar dan disana ia bertemu dengan seorang wanita jahat yang bernama Shobawati. Ia terperangkap oleh kejahatan wanita itu. Ia menghaburkan uangnya untuk wanita itu. Orang-tuanya dan istrinya berusaha untuk memberinya nasehat namun ia tidak perduli. Setelah semua uangnya habis, wanita itupun mencampakkannya.
            Brahmana itu tiba disebuah tempat yang bernama Pratishthana Pura. Disana ia jatuh sakit. Ia merasa bahwa ajalnya akan tiba. Ia berlindung di sebuah kuil Dewa Siwa. Ia berbaring dan tak mampu bergerak. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendengarkan Purana dan juga wacana keagamaan di tempat itu. Wacana dan pravachana ini berakhir pada saat nafas terakhirnya terhembus.
            Utusan Dewa Kematian (Yama) datang menjemput arwah (prana) brahmana itu menuju ke tempat mereka. Namun dihalangi oleh utusan Siwa, Siwaduta. Utusan Yama membebaskan brahmana yang berdosa, Dewaraja. Tetapi kemudian utusan Dewa Siwa mengatakan apapun yang ia lakukan dalam hidup dan bagaimana caranya ia hidup terdahulu, pada hari –hari terakhirnya hidup ia telah mendengarkan Siwa Purana yang menghapus semua dosanya hingga bersih. Setelah berkata seperti itu, mereka membawa arwah brahmana itu ke Kailasa, kediaman Dewa Siwa.
            Dharma (nama lain Yama) ketika ditanyai oleh pelayannya mengenai kejadian itu menjelaskan, begitulah keagungan Dewa Siwa dan berkah seperti itulah yang diberikan pada orang yang telah mendengarkan Siwa Purana.
            Muni Suta menceritakan sebuah cerita lain – cerita tentang Chencula.

CERITA CHENCULA

            Di sebuah tempat yang bernama Baskhala hiduplah seorang Brahmana yang bernama Binduga dengan istrinya Chencula. Binduga terperangkap oleh seorang wanita yang buruk tabiatnya. Ia tidak pernah pulang atau menemui istrinya. Itulah yang membuat Chencula sakit hati dan menderita, Chencula kemudian juga ikut mencari teman laki-laki yang juga bertabiat buruk untuk membalas perbuatan suaminya.
            Mengetahui hal ini, Binduga pulang suatu hari dan memukulinya. Chencula menuduh suaminya tidak setia dan menyalahkan suaminya atas semua yang terjadi.
            Setelah bertengkar cukup lama, keduanya sepakat. Chencula yang akan bekerja dan kemudian memberikan uangnya pada suaminya. Tidak ada yang akan ada pria yang mau membayarnya. Mereka setuju untuk berpura-pura selayaknya suami dan istri yang sebenarnya.
            Seiring waktu yang telah berjalan, Chencula kemudian menjadi janda. Ia berkelana tanpa tujuan. Ia kemudian tiba di Gokarna Kshetra (kshetra adalah tempat perziarahan). Di kuil Mahabeleshwar ia mendengarkan wacana tentang Siwa Purana. Ia kemudian paham, bahwa pendosa akan pergi ke neraka, tempat dimana Yama Dharmaraja akan memberikan hukuman pada pendosa. Iapun pergi. Sehari setelah wacana itu, ia pergi ke Pauranik (pencerita purana) dan mengakui dosanya. Pauranik itupun menyarankan agar ia tetap mendengarkan wacana itu dan mengingat Tuhan selalu. Ia melakukannya.
            Sebagai hasilnya, setelah ia meninggal ia dibawa ke Kailasa, dimana ia menjadi sahabat Ibu Tertinggi, Gauri.

CHENCULA MENYELAMATKAN SUAMINYA


            Suatu hari Chencula memohon dan bertanya pada Ibu Tertinggi dimanakan suaminya Binduga. Iapun  mendapatkan jawaban. Ia berada di Neraka mendapatkan buah atas perbuatannya. Ibu Tertinggi memberitahunya bahwa ia telah menjadi arwah yang jahat dan mengganggu (Pishacha) berkelana di gunung Vindhya. Chencula berdoa untuk pengampunannya. Ibu Mulia yang amat pengasih tersenyum dan mengirim Tumbura, seorang Gandharwa (makhluk surgawi) bersama dengan Chencula ke Gunung Vindhya. Ia memberitahu Tumbura untuk menceritakan Siwa Purana pada pendosa Binduga, yang akan menghancurkan dosanya. Tumbura kemudian diberikan dua pelayan Siwa sebagai pendampingnya.
            Di gunung itu, Tumbura menemukan dimana arwah jahat itu berada. Tetapi arwah itu tidak mau mendengarkan Siwa Purana. Oleh karena itu pelayan Siwa mengikatnya. Tumbura memainkan alat musik dan menyanyikan keagungan Maha Siwa. Gunung ini dipenuhi dengan melodi yang sangat indah. Para bidadari turun dari surga untuk mendengarkan melodi tentang keagungan Siwa dan perbuatannya.
            Sedangkan Binduga telah lepas dari kejahatannya dan ia telah pulih. Kejahatannya sirna. Ia telah berubah menjadi makhluk yang bersinar. Chencula bersama dengan suaminya mencapai Kailasha dan mereka hidup bahagia selamanya.
            Begitulah kekuatan berkah Siwa.
            Muni Suta kemudian menghubungkan kekuatan Purana yang memberikan kebahagiaan dan penghancur dosa suami Ambika, yang memaksa para rsi da orang suci untuk mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian. Kemudian ia memulai wacananya tentang Siwa Purana.

SHRI VIDYESHWARA SAMHITA
            Kata Muni Suta

Setelah beberapa yuga, yang sekarang disebut dengan Swetavaraha Kalpa (kalpa bisa diartikan sebagai beberapa yuga). Swetawahara berarti potongan putih. Pada awal kalpa ini enam rsi agung dari garis keturunan tertentu (dari Gotra yang terkemuka) duduk di sungai Triveni Sangam dan membahas tentang siapa Para Brahma itu. Diskusi mereka tidak mendapatkan jawaban. Mereka menemui Brahma, Sang pencipta dan berdoa dihadapannya.

Percakapan antara para rsi dan Dewa Brahma

Berikut inilah percakapannya:
Para rsi               : Wahai, Dewa Brahma! Siapakah Parama yang disebut sebagai Para (Yang maha mutlak – yang tidak diketahui)?
Brahma               : Ia adalah Rudra. Ia adalah Sadasiwa.
Para Rsi              : Bagaimana tatwa (alam, filsafatnya dan keberadaannya) bisa diketahui?
Brahma               : Hanya melalui berkahnya, Siwa kataksha (berkah dan keberkenanannya). Hanya melalui berkahnya hingga pengabdian  melalui berkahnya yang maha agung akan mengembangkan seseorang secara perlahan. Hanya melalui berkahnya yang bisa tercapai dicapai. Berkahnyalah yang mengarahkan kita pada Jnana. Hanya melalui Jnana, tatwa Siwa, sifatnya bisa dipahami.
Para rsi               : Diantara semua yang bisa dicapai (sadhya) yang manakah yang terpenting? Apakah arti berlatih – Sadhana? Siapakah yang bisa disebut sebagai Sadhaka?
Brahma               : Diantara semua yang bisa dicapai yang paling penting adalah mencapai kaki Dewa Siwa. Ia yang mampu mengendalikan diri dan tidak mengenal lelah ialah seorang pencari atau sadhaka. Ialah yang menaati aturan suci (Dharma) seperti yang disebutkan dalam Weda, karena kelahirannyalah, kebiasaannya dan tradisinya yang sesuai dengan ashrama dharma, mempersembahkan semua hasil perbuatannya pada Siwa- itulah sadhaka, tidak diragukan lagi, ialah yang mencapai Kailasha, kediaman Siwa. Untuk mencapai aki sucinya, untuk pergi ke Kailasa, shravan, chintan, manan dan kirtan sangatlah penting. Shrawana artinya mendengarkan ceritanya, perbuatannya dan berkahnya, Manan artinya perenungan, Chintan artinya mengingat dan Kirtan artinya menyanyikan pujaan pada Siwa.
Para Rsi              : Jelaskanlah pada kami ketiganya dengan lengkap.
Brahma               : Dengarkanlah! Dengarkanlah tentang perbuatannya, kekuatannya dan kejayaannya yang adalah Shravana. Kita melihat dunia dengan mata kita. Tetapi kita merasa lebih senang mendengarkan Parameshwara, Ia yang tidak terlihat lewat mata kita, yang tidak terucap dengan bibir kita dan juga lidah kita (vaak) atau bahkan dengan manas (hati- pikiran). Dengan keinginan untuk mengetahui dan rasa haus akan kebijaksanaan, seseorang itu harus mendengarkan cerita tentang-Nya.
                           Untuk hal ini, seorang guru diperlukan.

            Seperti seorang pemuda yang mengalihkan pandangannya pada seorang bidadari yang cantik, demikian pula seseorang itu akan berpaling dan mendengarkan kejayaannya. Ini adalah Shrawana.
            Kemudian Kirtan- menyanyikan Kejayaan-Nya, perbuatan baiknya untuk menyelamatkan dan melindungi kebaikan dan menghukum kejahatan. Menyanyikan Kirtan harus dilakukan siang dan malam.
            Kemudian, Manan (perenungan) adalah untuk melihat pikiran Penyelamat, pelindung, Pemberi berkah dan pemberi ampun. Ia bisa membebaskan dan memberikan mukti (kebebasan) pada siapapun.
            Sumber dari ketiganya adalah sangatya- satsatng- menemani mereka yang bijaksana, berbakti, maha-mengetahui dan murni. Dengan menemani mereka yang seperti itu maka akan memungkinkan mendengarkan hal yang baik. Shrawana ini akan membimbing kita mendapatkan pencerahan saat itu juga. Mereka yang melakukan ketiga ini makan akan menjadi berpunya dan semakin dekat dengan-Nya. Tetapi terkecuali mendapatkan berkahnya, tidaklah mungkin membuat bahkan awalnya sekalipun, mengambil langkah pertama dalam berbuat yang benar dan ke arah yang diinginkan .

Sanata Kumara mengajarkan Shaivisme pada Vyasa

Suta, pencerita Purana (Pauranik) melanjutkan ceritanya:
Guru Maharshi Vyasa tenggelam dalam meditasinya dan merenung  dalam tapasyanya. Suatu hari Sanata Kumara datang. Vedavyasa menghaturkan sebuah penyambutan selamat datang dan menghaturkan upachaara (sebuah ritual) sesuai dengan adat yang ada. Sanata Kumara sangat berkenan dan mengajarkan Maharshi Vyasa cerita tentang Shaivisme.

            Wahai Putra Satyawati!
            Kebenaran yang mutlak dan satu-satunya adalah obyek dari perenungan atau tapasya. Kemudian tidak ada kebenaran yang tertinggi selain Siwa. Inilah yang sebenarnya, seseorang sepertimu harus mampu melihat-Nya. Ia meminta sang Rsi untuk melakukan apa yang ia minta.
            Rsi Wedavyasa menjawab:
            Aku mencatat berbagai jalan dimana manusia bisa mencapai keempat tujuan yang disebut dengan Purushaartha – Dharma, Artha, Kama dan Moksha. (Berpegang teguh pada hukum suci, menghasilkan uang, memenuhi keinginan dan akhirnya mencapai kebebasan- mukti.). Bahkan setelah melakukan hal ini semua, aku masih tidak mampu mendapatkan jnana itu yang adalah alah untuk mencapai kebebasan. Dengan pikiran seperti itulah aku bertapa.
            Sanata Kumara tersenyum dan berkata:
            Mengapa mengkhawatirkan hal itu? Dulu akupun menderita kebimbangan yang sama dan melakukan tapasya. Dengan berkah Siwa, aku berlari ke Nandikeshwara yang meyakinkanku. Ia memberkahiku hanya dengan Shrawana, Chintana, Manana dan Kirtana seseorang bisa mencapai-Nya.
            Wahai putra Parasara! Kaupun harus melakukan ketiga hal ini. Lupakan keinginanmu yang lain. Tenanglah dan berpegang-teguhlah.
Kejarlah cita-citamu dengan ketetapan hati.
            Setelah mengatakan hal ini, Sanata Kumara pergi dengan sahabat-sahabatnya ke Brahmaloka.
            Karena itulah, kata Rsi Suta bahwa Shravana, chintana, manana dan kirtana akan menjadi jalan untuk menyadari-Nya.
            Kata Rsi Shaunaka dan yang lainnya:
            Apa yang kau katakan memang benar. Tetapi ketiga hal ini yang disebut dengan sadhana trikam sangat lama dicapai. Bahkan tidak mungkin pada jaman Krita dan juga Treta yuga. Dengan sedikit usaha akan bisa dicapai pada masa Dwapara. Tetapi pada jaman Kaliyuga manusia memiliki umur yang pendek. Dalam hidup yang pendek, adakah cara yang lebih mudah?
            Maharshi Suta kemudian menjawab:
            Tidak hanya dalam Kaliyuga. Pada jaman apapun adalah mudah untuk mencapai kebebasan. Yaitu dengan memuja (berdoa) Siwa dengan menggunakan lingga. Seseorang itu bisa memiliki lingga pada telapak tangannya, atau pada tempat pemujaan, pada ruang yang khusus atau kuil. Bisa juga pada tempat suci peziarahan. Ia yang memuja Siwa pasti akan mencapai pembebasan. Perenungan/meditasi (dhyana), memanggil dewa, menghaturkan tempat duduk, lampu, buah dan air, menghidupkan wewangian adalah proses pemujaan yang disebutkan dalam shastra dan menghaturkan semua keenam belas upachara—ritual – dengan ketulusan akan menghasilkan hasil yang baik. Ia yang tidak bisa melakukan vidhi atau tugasnya menghaturkan pemujaab, bisa memuja lingga dengan memakai sebuah patung. Hanya Siwa dengan kesempurnaannya dan keagungannya dipuja sebagai ‘personalitas’. Dewa yang lain memiliki personalitas (murtimanta) tetapi tidak mencapai keadaan nirakarata – ketidakberwujudan dengan menjadi Paratatwa. Ini adalah alasan menyebut Siwa dengan Sarveswara.
            Setelah mendengarkan Rishi ini iapun bertanya lagi:
            Ini benar-benar indah. Dengan menjadi Parabhrahma bagaimana bisa Siwa memiliki semua wujud dan bentuk dan pada saat yang sama tidak memiliki bentuk, wujud atau sifat?
Mari kita pelajari lagi.
            Kata Muni Suta:
            Aku akan memberitahumu. Pada jaman dulu ketika Markandeya bertanya pada-Nya, Ia menjawab. Aku akan memberikanmu jawaban:

CERITA TENTANG MUNCULNYA LINGGA

            Kata Nandikeshwara:
            Suatu kali, ketika penciptaan dimulai Brahma, ia yang memiliki lima wajah duduk diatas lotus, hingga datanglah Wisnu. Wisnu yang sangat tampan tidur diatas lingkaran ular besar – Adisesha menyambutnya dengan berbagai upachara.
            Penciptaan terjadi begitu saja tanpa ada yang membuat Brahma bangga. Ketika harga-diri memenuhinya muncullah Siwa Maya, penggoda Siwa. Itulah yang terjadi pada Brahma. Ia marah pada Wisnu karena tidak menunjukkan rasa hormat dan karena ia tertidur. Ia berpikir, Ialah pencipta, ayah dari semuanya. Ia mendekati Wisnu dan membangunkannya dan mengatakan bahwa ia akan mendapat balasan atas kelalaiannya itu.
            Wisnu sangat marah karena ia berpikir bahwa Brahma yang lahir dari pusarnya harus menghormatinya. Apalagi, kemudian ia berpikir, bahwa ia adalah penjaga semuanya, pemelihara semuanya. Dengan bibir tersenyum, tanpa menunjukkan amarahnya, Wisnu berkata pada Brahma bahwa ialah yang akan mendapatkan balasannya. Setelah berkata seperti itu iapun memuji dirinya.
            Keduanya bertikai. Ini menjadi semakin sengit dan menjadi perang. Brahma dan Wisnu kemudian keduanya terbelenggu oleh Siwa Maya. Masing-masing pendukungnya mendukung junjungannya. Masing-masing mengaku ada dimana mana dan sangat kuat.
            Sebagai akhirnya, Wisnu menggunakan senjata Maheswaranya. Brahma menggunakan senjata Pashupatanya. Kedua rsi dan para bidadari tercengang. Mereka semua pergi ke Kailsasha mencari perlindungan pada Siwa untuk mendapatkan kedamaian.
            Siwa menghilang setelah memberikan mereka perlindungan dan berdiri sebagai pillar api yang besar dan bercahaya. Dengan cahaya sucinya senjata Brahma dan Wisnu terserap. Dalam cahaya yang gemerlap itu baik Brahma atau Wisnu sangat terpukau. Semua yang hadir disana terkesima. Cahaya ini tak tertahankan olehnya. Pilar cahaya ini juga adalah pilar api. Tidak berawal dan tidak berakhir. Untuk menemukan pangkalnya Wisnu menjadi Sweta Varaha, babi hutan putih, dan pergi menyelami awal semuanya. Brahma dalam pencarian yang sama juga mencari ujung pillar itu. Keduanya gagal menjalankan misinya. Ketika itu pula Brahma melihat bunga Ketaki yang jatuh, ia meminta bunga untuk menjadi saksi bahwa ia melihat ujung pilar itu. Bunga Ketaki dan Brahma menuju medan perang. Wisnu disana dengan muka yang malu. Brahma telah mendapatkan kemenangan dengan bunga Ketaki sebagai saksinya. Wisnu menerimanya dan menerima kesuperioran Brahma. Kemudian Wisnu memberikan hormat serta menghaturkan upacara pada Brahma.

Siwa bermanifestasi untuk memberkahi Wisnu
            Saat ahamkara, keegoisan dan kesuperioran Wisnu hilang, demikian juga dengan penggoda Siwa, yang juga menghilang. Wisnu mengulangi nama Siwa dengan ketetapan hati (Chitta). Dengan pemujaan yang dilakukan Wisnu, Siwa menjadi berkenan dan mengampuni. Dari pilar api itu Ia bermanifestasi dengan satu mata pada dahinya selain mata yang ada pada wajahnya, dengan tenggorokan yang berwarna biru dan sebuah bulan sabit pada rambutnya yang bergelung. Ia memandangi Wisnu dengan mata yang lembut. Dengan pikiran dan hati yang dipenuhi kebahagiaan Wisnu menyanyikan lagu suci Siwa.

Siwa yang memiliki tubuh bagaikan kristal menjanjikan Sri Hari dengan tubuh berkilai bagai safir.
Wahai Narayana! Seandainya engkau berbohong seperti Brahma, engkau akan menang. Tetapi kau tidak mau melakukan kebohongan itu. Dengan kebenaran engkau membuatku sangat berkenan. Kebenaran itu abadi. Ia yang memagang teguh Kebenaran akan abadi. Mulai saat ini engkau akan dipuja di ketiga dunia, di surga, di bumi dan di alam bawah, seperti Aku. Banyak tempat suci dipersembahkan padamu seperti aku sebagai kshetra. Pemujaan juga akan banyak diadakan untukmu. Siwa memberkahi Wisnu dan menghukum Brahma untuk dipenggal.
Bhava, yang juga disebut sebagai Sambasiwa, menciptakan Bhairawa untuk memberikan pelajaran pada Brahma. Ia memerintahkan:
Bhairawa! Hukum Brahma dengan memenggal kepalanya!
Bhairawa kemudian menajamkan pedangnya dan memegang kepala Brahma. Ia memotong kepala pertamanya. Ketika kepalanya yang lain juga akan menemui nasib yang sama, Brahma memohon ampun pada Siwa.
Kesedihan pencipta Brahma sangat menyentuh hati karena ia juga lahir dari pusar Wisnu. Brahma memohon hidup pada Siwa. Wisnu juga memohon pada Siwa. Siwa mengabulkan permohonan itu.
Siwa mengijinkan Brahma menjalankan kewajibannya sebagai pencipta tetapi mengutuknya bahwa ia tidak akan dipuja lagi. Pada akhirnya Brahma juga mendapatkan pengampunan lain. Pada semua upacara api Brahma dihormati sebagai pencipta. Ritual yang tidak memberikan penghormatan pada Brahma tidak akan mendatangkan hasil.

Siwa menghukum Ketaki
            Ketaki berdiri dihadapan Siwa dengan tubuh gemetar. Siwa mengutuknya bahwa ia tidak akan digunakan lagi pada pemujaan manapun. Para bidadari dan dewa yang menggunakan ketaki pada rambut mereka, membuangnya. Kemudian bunga itupun memohon ampun pada Siwa. Tersentuh hatinya, Dewa Siwa mengatakan bahwa Ketaki bisa digunakan sebagai payung oleh pemujanya saat memuja Siwa.

Keagungan Siwaratri
            Setelah Siwa melakukan itu semua, Iapun menjadi dewa yang dipuja bahkan oleh Sang Pencipta, Brahma dan juga dewa pemelihara, Wisnu. Mereka semua menghaturkan sembah padanya.
            Siwa sangat berkenan. Ia mengumumkan bahwa hari hari tertentu akan di ingat selamanya sebagai Siwaratri. Malam itu akan diingat sebagai Siwaratri (Malam Siwa). Pada hari itu, siapun yang memuja –Nya dan juga berpuasa serta begadang (melakukan jagarana) akan mendapatkan pahala yang setara dengan pemujaan biasa yang dilakukan dalam setahun. Hari itu adalah hari suci bagi pratishtha (pengukuhan) Lingga Siwa dan merayakan Siwa Kalyana, utuk membangun kuil. Hari keempat belas, bulan Margashira dibawah naungan bintang Arudra akan sangat baik untuk memuja Siwa. Tempat dimana Siwa berubah wujud menjadi sebuah linggam api dan cahaya akan dikenal dengan nama Linggastana—tempat lingga. Tempat api itu menyala juga akan menjadi Lingga Siwa. Tempat darimana api itu keluar atau berkobar akan disebut dengan Arunacala- yang berarti gunung merah. Ini akan menjadi peziarahan terkemuka diantara Kshetra Siwa (peziarahan suci Siwa). Bagi mereka yang memuja Siwa tentu akan mendapatkan tempat si Siwaloka misalnya di Sallokya, Samipya dan Sayujya (tempat pada loka yang sama, kedekatan dan penyatuan. Pada saat akhir pemujaan pada hari Siwaratri, Siwa memberitahu Brahma dan Wisnu bahwa ia bemanifestasi menjadi pilar api yang besar hanya untuk memperlihatkan pada mereka Parama Tatwa- sifat Kenyataan Mutlak. Ia juga bisa bermanifestasi dengan sifat atau bahkan tanpa wujud, tidak bisa dibandingkan dengan apapun dan dalam wujud yang tidak terbatas. Dualitas kualitas dengan apa yang disebut dengan Nirakara Nirguna dan Sakara Nirguna. Yang pertama adalah Niskala dan yang kedua adalah Sekala. Dewa Siwa adalah keduanya. Ia kemudian lebih jauh lagi mengatakan pada mereka bahwa tidak ada bedanya antara Ia dan lingga. Ia menyarankan kepada mereka berdua untuk melanjutkan tugasnya tanpa saling bertikai lagi. Ia berkata bahwa Ia akan tinggal disebuah tempat. Ia menyerap dalam segala hal.
            Mereka yang memasang lingga Siwa akan tinggal di Kailasa seperti Siwa sendiri. Itulah Sayujya. Hal yang paling banyak mendatangkan pahala adalah memasang Lingga Siwa. Ini disebut dengan Pratisthana. Jika tidak memiliki lingga, maka patungnyapun bisa dipasang, dan tempat dimana patung itu dipasang akan menjadi Siwa Kshetra.

Panchakritya

            Baik Wisnu dan Brahma, mendengarkan dengan penuh perhatian semua yang telah dijelaskan oleh Dewa Siwa mengenai lima perbuatan atau Kriya.

Dewa Siwapun menjelaskan pada Brahma dan Wisnu hal berikut ini:

            Penciptaan berarti bertumbuh dengan ikatan dan aturan. Menjaga semuanya teratur dan melindungi semua ciptaan dari ketidakteraturan adalah bisa dilakukan dengan menjaganya. Membagi dunia makro dan menjadikannya dalam bentuk mikro adalah samhara- penghancuran. Dan kemudian menjaganya hingga penciptaan yang berikutnya adalah thirodhana, atau terkadang disebut dengan thirodhana sankalpa (mengalami kemunduran, atau kembali). Keempat kriya ini saling berhubungan. Yang paling akhir dan paling utama adalah ‘Anugraha’ berkah suci yang membebaskan persembahan mukti (pembebasan). Hanya Siwa yang mampu memberikan anugraha- berkah. Semuanya terlahir dari bumi, hanya dengan air semuanya bisa tumbuh. Hanya melalui cahaya dan kehangatan mereka akan pergi. Dengan udara dan kedalam udara mereka akan menghilang. Hanya akashalah yang nyata- yang berarti ia dengan wujud Dewa Siwa.
            Untuk menjalankan kelima fungsi ini, Ia memiliki lima wajah. Dengan berkahnya, sementara Dewa Brahma dan Wisnu menciptakan dan menjaga, penghancuran dan penarikan kembali penciptaan dilakukan oleh Dewa Rudra atau Maheswara. Dewa Siwa sendiri mampu melakukan rangkaian kriya yang kelima- Anugraha. Karena Rudra dan Maheswara melampaui ‘Ahamkara’ dan mentransendenkan egoisme- mereka tidak memiliki bentuk atau wujud selain Siwa. Mereka memiliki kendaraan (wahana) yang sama, tempat duduk yang sama (asana) dan juga wujud eksternal yang sama (vesha).
            Dengan bertikai, Dewa Brahma dan Wisnu telah merendahkan diri mereka sendiri. Siwa menyarankan agar Dewa Brahma dan Wisnu memberikan Shivapanchakshari mantra Om Namahsiwaya dan Pranawa, Om yang berada dalam diri Siwa dan Shakti. Dari keduanya muncullah pengucapan mantra. Dengan mengucapkan dan melakukan pengulangan mantra, manfaat tertentu akan diperoleh. Semua mantra memberikan kebahagiaan dan juga kesenangan. Tetapi Panchaksari mantra akan memberikan semua kesenangan dan kenyamanan dan bahkan mukti (pelepasan diri).
            Dengan menyuruh Dewa Brahma dan Wisnu menghadap ke utara, Dewa Siwa memberikan mantra kepada mereka. Kemudian Ia juga memberkahi mereka dengan yantra dan juga tantra. Yantra mengacu pada cara pemujaan dengan rancangan geometris dan juga aturan tertentu yang sesuai dengan tantranya.
            Kemudian keduanya Brahma dan Wisnu menyimpan Vrushakapi (perlambangan Siwa) di tempat guru (guru sthana). Sebagai persembahan pada guru, mereka melakukannya dengan sepenuh jiwa.
            Kata Muni Suta:

            Wahai Para rsi dan orang suci sekalian!
            Mengucapkan mantra Panchakshari pada hari keempat belas bulan Marghashirsa dibawah naungan Arudra akan memberikan manfaat yang tak terhitung. Tidak ada yang lebih bermanfaat selain memuja Siwa dengan memasang Lingga Siwa baik dilakukan sendiri atau dilakukan oleh brahmana dan memujanya dengan enam belas upachara, akan memastikan orang yang melakukannya mencapai kediaman Dewa Siwa.

Berbagai Jenis pemujaan Lingga
            Pada waktu yang suci (muhurta) waktu yang sangat nyaman bagi semua pemuja, ditepi sungai suci, lingga harus dipasang (pratishthana). Lingga ini bisa dibuat dari tanah liat atau bisa berupa tejo lingga. Jika bisa dibawa kemana-mana, haruslah kecil. Apapun bentuknya, sebuah lingga harus memiliki sebuah dasar- panapatta. Bisa berbentuk segi empat atau segi tiga. Harus terbuat dari bahan yang sama dengan lingga. Untuk lingga yang bisa dibawa kema-mana, lingga dan panapattanya harus menyatu. Bagi mereka yang melepaskan diri dari ketetarikan duniawi, ia yang mencari pembebasan, sebuah lingga dengan tinggi satu inci akan mencukupi. Mereka yang membuat sebuah pratishtana haruslah membuat kanopi juga. Pahatan dewa-dewi, dewatagana, harus mengelilingi tembok seperti yang disebutkan dalam shastra. Pintu masuk tempat ini harus dihias dengan batu permata. Di bawah dasar lingga, pada sebuah lubang, batu berharga juga harus diletakkan disana. Harus terdapat sebuah ‘havana’ dan pemujaan dengan ucapan mantra yang telah disebutkan. Orang yang melakukan ritual ini harus dihormati. Setelah pemujaan, orang miskin harus diberi sedekah berupa makanan dan juga baju baru. Bahkan ‘utsawa murti’ yang dibawa pada saat prosesi bisa diletakkan pada sebuah tempat.

Penjelasan mengenai Lingga yang berbeda
            Lingga ada dua jenis: yang tidak bisa berpindah, tetap ada disuatu tempat dan lingga yang bisa dibawa kemana-mana, dinamis. Lingga yang dinamis bisa terbuat dari tanah-liat atau jaggeri (gud), mentega atau tepung dan diletakkan pada ibu jari tangan kiri dan bisa dipuja dengan mengucapkan mantra seperti yang disebutkan dalam buki suci.
            Mereka yang tidak bisa melakukan upacara secara lengkap da menyeluruh bisa memberikan dana—sedekah , yang juga adalah sebuah lingga.
            Pranawa harus diucapkan berulang-ulang paling sedikit 1000 kali. Ini bisa dilakukan oleh pemuja sendiri atau dengan bantuan pandit (Brahmana). Ini dianggap sebagai sebuah diksha (komitmen suci) dari pemuja yang telah mengetahui dan juga telah mengetahui hal ini. Mereka yang ingin mendapatkan berkah Siwa harus tinggal di Siwa Kshetra.
           

Dengan mengulangi Panchakshari lima crore kali maka manusia akan menjadi sama dengan Dewa Siwa.
Dengan empat crore maka manusia akan sama dengan seorang Brahmana; jika seseorang mengulangi mantra Gayatri seribu kali Siwa akan berkenan, dan akan menghadiahkan tempad di kediamannya Kailasha.
Haruslah diingat bahwa pemujaan Siwa pada malam hari akan menghasilkan buah pahala yang amat baik.
Setelah mendengar semua ini semua suta, pencerita purana (pauranik), para rsi dan juga para orang suci ingin mendengar dan mengetahui lebih jauh lagi tentang Siwa Kshetra, kediaman Dewa Siwa.

Sungai Dan Kshetra

            Setelah mendengarkan perintah Dewa Siwa, Bumi telah menyangga berat ribuan gunung dan juga sungai-sungai yang sangat banyak. Untuk memberkahi mereka yang hidup di bumi, Siwa membuat Kshetranya, tempatnya, di suatu tempat. Dari kshetra-kshetra itu ada yang muncul sendiri atau yang didirikan oleh para pemuja (para bidadari dan dewa) dan juga oleh orang suci atau para rsi. Terdapat banyak pantai di lautan dan tepian sungai.
            Kashi, misalnya, berada di tepian Sungai Gangga. Bagi mereka yang mandi di Narmada dan melakukan puasa, maka ia akan menjadi pemimpin yang baik.
            Sungai yang lain, yang juga dipuja adalah Govadari. Hanya dengan mengucapkan namanya saja, Govadari akan menghancurkan dosa-dosa mereka. Varanasi telah menjadi tempat yang terkenal karena menjadi Siwa Kshetra. Mandi di sungai Gangga akan menghasilkan pahala ratusan Sandhya wandana (pemujaan pada saat matahari terbenam dan matahari terbit). Mandi ratusan kali akan menjadi langkah pertama untuk belajar yoga. Tidak ada yang mampu menggambarkan pahala kebajikan yang bisa diperoleh dengan mandi setiap hari di sungai Govadari. Sungai Govadari memiliki kekuatan untuk membebaskan seseorang dari semua dosa-dosanya dan memberkahinya dengan tinggal di Kailasha.
            Pada semua kshetra, kediaman mulia, sangatlah penting untuk selalu berbakti dan tulus. Dosa apapun yang dilakukan di tempat ini akan membuat seseorang menderita di neraka.
            Baik punia (pahala yang baik) atau neraka (dosa) memiliki tiga aspek:
1.      Aspek benih (bija)- ini bisa dihancurkan dengan jnana (pengetahuan dan kebijaksanaan).
2.      Aspek pertumbuhan (vriddhi) – ketertarikan untuk berbuat dosa dengan hal ini bisa dikendalikan dengan melakukan perbuatan yang mendatangkan pahala.
3.      Aspek pengalaman (anubawa) – dengan Jnananamsa dan vriddhayamsa walaupun dosa sudah sudah dihapus, beberapa pahala baik dan juga dosa harus dinikmati – harus dilalui oleh orang yang melakukannya. Itulah anubawa.

Untuk menghindari buah dosa, empat cara yang disarankan adalah:
1.      Memuja Siwa
2.      Memberikan sedekah bagi mereka yang pantas mendapatkannya.
3.      Melakukan meditasi dan juga perenungan ( juga dsebut dengan tapasya).
4.      Mengingat  bahwa akan mendapatkan penderitaan yangb luar biasa dengan melakukan perbuatan yang salah.
Karena yang keempat bukan cara untuk menghindari dosa, maka seseorang itu harus melakukan banyak kebaikan untuk menghalangi papa (dosa). Mendengarkan Muni Suta yang menjelaskan hal ini para rsi menanyakan cara menerapkan (sadachara) semua itu dengan baik.

Melakukan kebaikan dan juga penerapan yang sesuai

Kata Rsi Suta:

Seseorang harus bangun pagi. Ia harus bermeditasi pada dewa pilihannya. Ia harus menjaga diri dan penghasilannya serta semua yang ia keluarkan. Ia harus menggunakan waktunya dengan baik untuk menghasilkan uang dan melakukan perbuatan yang baik. Seseorang itu harus memikirkan kesehatannya, kekuatannya, kemampuaanya, penghasilannya dan juga pengeluarannya.
Ia kemudian harus mandi sebelum melakukan doa hariannya dan melakukan anusthan seperti Gayatri atau yang lainnya, mengucapkan mantra yang tepat. Ini bisa dilakukan di rumah atau kuil. Sampai berumur tujuh puluh tahun, seseorang harus mengurusi rumah-tangganya (jika berumah-tangga) dan setelah itu ia harus menjalani hidup suci (sanyasin). Seorang Sanyasin harus mengulangi pranawa mantra paling tidak dua belas kali sehari.
Hanya dengan mengikuti dharma (hukum suci) uang bisa diperoleh. Dharma harus membentuk dasar semua tindakan. Uang bisa dicari dan dihabiskan sesuai dengan dharma. Bahkan kesenanganpun harus dinikmati berdasarkan pada dharma.
Dharma ada dua jenis: yang pertama dharma yang dilakukan dengan bantuan uang- seperti ritual, kratu, yajna dan yaga, dan dharma yang kedua adalah dengan tubuh—secara fisik, misalnya pergi ke peziarahan, mandi di sungai suci atau laut, mengucapkan Gayatri Mantra dan yang lainnya. Yang melibatkan pengetahuan, kebijaksanaan dan juga kecerdasan harus melibatkan kedua jenis dharma ini. Dengan melakukan dharma, apapun yang bersifat duniawi atau yang lainnya harus dimiliki.
Apakah itu dharma? Semua kekerasan adalah adharma. Membuat orang lain bahagia adalah dharma. Adharma membuat kita sengsara dan dharma memberikan kita kedamaian dan kesenangan.

Jenis-jenis Yadnya

            Menghaturkan samagri (benda atau materi) pada api dalam havana disebut dengan yadnya. Havana yang dilakukan untuk menghormati dewa tertentu misalnya Indra disebut dengan dewa yagna. Brahma yadnya adalah ilmu yang mempelajari weda. Selain dari Agni (api) ada dewa lain juga yang dipuja pada saat yadnya.
            Tujuh hari yang ada memiliki dewa tersendiri. Memuja mereka akan mendatangkan pahala seperti berumur panjang, kesehatan, kekayaan dan juga ilmu pengetahuan. Mantra, japa, havana adalah ketiga hal yang berkaitan dengan ritual api. Dana (sedekah) dan memberikan makanan pada pemuja dan orang yang tak punya juga adalah yadnya. Ada tiga jenis yadnya yang berbeda untuk mencapai hasil tertentu. Semua ini dilakukan sesuai dengan prosedur dalam kitab suci, akan meningkatkan kesehatan seseorang. Bahkan dengan mendengarkan pada cerita tetang yadnya ini akan menghasilkan pahala saat melakukan dewa yadnya.

Waktu dan tempat untuk melaksanakan Dewayadnya
            Para rsi dan para orang suci meminta Suta untuk memberitahu mereka tempat yang mana- desa, waktu- kaala, jaman yang tepat melakukan dewayadnya. Sebuah rumah yang bersih, tepian sungai, pohon Bilva (bel), tumbuhan basil dan Aswatha (pipal) adalah tempat yang tepat. Tepi laut sepuluh kali lebih baik daripada sebuah sungai dan puncak gunung sepuluh kali lebih baik daripada tepi laut. Pada masa Kaliyuga, buah yadnya datang lebih cepat dibandingkan dengan jaman Kritayuga. Sebuah hari yang suci yang sesuai dengan almanak (panchanga) adalah hari yang baik. Prosedur pemujaan mungkin berbeda antara satu rumah dengan rumah yang lain, karena tiap rumah atau keluarga memiliki cara yang sedikit berbeda untuk pemujaan. Memuja Parthiwa lingga, atau lingga yang terbuat dari tanah liat, akan melindungi kepala rumah tangga dan juga keluarganya dari kematian atau bahaya.

Memuja Parthiwa Lingga
            Lingga harus terbuat dari tanah liat yang diambil dari dasar sungai dan mencampurnnya dengan bubuk cendana dan susu. Karena percikan air akan membuat lingga ini rusak (meleleh), maka hanya bunga yang digunakan pada saat puja (pemujaan). Di rumah pemujaan seharusnya diikuti dengan annadaana (memberikan makanan pada orang yang tidak punya selain juga teman dan sanak keluraga. Dhupa, deepa dan naivedya serta japa harus dilakukan. Untuk menghasilkan tujuan puja tertentu, terdapat hari tertentu dalam seminggu dan tithis pada malam tertentu yang bersifat khusus.

Bindu—Nada Lingga
            Bindu adalah titik, atau tetes – adalah shakti. Nada adalah suara – yang adalah Siwa- dan seluruh jagat raya menyerap ke dalam nada. Nada adalah dasar dari penciptaan dan lingga adalah kesatuan dari keduanya—Shiva dan Shakti. Maka tidak ada bedanya antara Siwa dan Shakti. Lingga Siwa bermanifestasi dalam enam cara dan masing-masing memiliki dua aspek.
            Suara ‘A” adalah lingga achara dan Lingga Guru; suara ‘u’ adalah guru lingga dan chara lingga. Suara ‘m’ adalah suara dari Lingga Siwa dan Lingga Yantra. Bindu adalah Lingga Chara dan Lingga Bindu. Nada adalah prasada mantra lingga dan lingga pranawa. Terdapat empat cara kunci untuk mendapatkan berkah: memakai rudraksha, menggunakan abu suci, mengulangi panchakshari Siwa dan memuja Siwa ( di kuil, di rumah atau di Khsetra). Pemuja yang sebenarnya memuja dengan tulus. Orang yang seperti itu akan mencapai mukti dan mendapatkan Sayujya Siwa.

Akibat Pengucapan pranawa dan Panchaksari

            Para rsi dan orang suci bertanya pada Maharsi Suta untuk memberikan mereka pencerahan tentang Siwa Panchakshari.
            Kata Suta Pauranik:
            Hanya Siwa yang bisa menjelaskan tentang Panchaksari secara lengkap tetapi aku akan berusaha sebaik mungkin.
            Siwa sendiri adalah yang bisa membantu kita untuk melewati lautan kehidupan duniawi. Nava adalah perahu; Pranawa itu ada dua jenis: yang makro (sthula) dan mikro (suksma). Suksma memiliki satu huruf dan sthula memiliki lima huruf. Terdapat tiga tahap, tingkatan yaitu: kriya yoga, tapa yoga dan japa yoga. Satu tapoyogi lebih agung dari sepuluh kriya yogi dan sebuah japa yogi lebih agung daripada sepuluh tapoyogi. Bagi mereka yang adalah pemuja Siwa, walaupun ada grihasta (tahap hidup berumahtangga), Panchakshari sendiri adalah sthula pranawa, wujud makro pranawa seseorang.

Bandha Moksha (Ikatan dan pembebasan)
            Suta menjelaskan lebih jauh lagi apa yang dimaksud dengan Bandha dan Moksha.
            Prakirthi (alam), buddhi (intelek) dan ahamkara (kebodohan) dan panchabutha (lima unsur) – inilah ikatan. Ia yang terikat dengan semua ini adalah yang terikat. Pada saat seseorang hidup maka seseorang itu secara literal terikat oleh delapan ikatan ini.
            Ia yang mengerti hal ini adalah orang yang terbebaskan – Ia yang mencapai pembebasan atau moksha.
            Jiwa adalah ikatan dan tubuh akan mengalami siklus seperti sebuah roda. Hanya Siwa yang melampaui prakirti. Untuk bebas dari ikatan ini seseorang harus mencari perlindungan terhadap Siwa sendiri. Dengan cara seperti itu, maka berkahnya akan diperoleh. Bahkan, untuk-Nya yang sempurna dan tanpa kesadaran (Siwa adalah yang tidak memiliki spruha- kesadaran; Ia adalah nispruha. Sebenarnya puja tidak perlu dilakukan untuknya. Tetapi puja dilakukan untuk menghormatinya karena Ia adalah niraakaara dan nirguna. Ia akan menjadi saguna dan sakara untuk memberkahi pemujanya. Dengan berkahnya segalanya akan terkendali. Tubuh dan tindakan ketika dikendalikan, maka keberadaan akan menjadi semakin berevolusi dan berkembang. Masing-masing perkembangan itu atau jiwa itu akan mendapatkan salokya – berada di loka yang sama dengan Siwa. Kemudian Ahamkara tersingkap dan buddhi berkembang. Ketika chitta (hati- pikiran – intelek) terkendali, maka manusia menjadi seorang yogi. Orang yang seperti itu akan memiliki wujud yang sama bahkan dengan Siwa sendiri (Sarupya).
            Terkecuali Shivapujan, tidak ada cara lain untuk mendapat pembebasan dari ikatan. Diantara chara lingga, Rasa lingga adalah yang terbaik untuk Brahmana. Sedangkan untuk kshatriya adalah banalingga, bagi Wesya adalah swaran lingga dan Siwa lingga untuk sudra. Bagi Suhagana (wanita suci yang menikah) lingga dari tanah liat dan bagi yang sudah menjadi janda, lingga dari kristal adalah yang terbaik. Bagi mereka yang menghindari perbuatan buruk, selalu ada di jalan Dharma, bisa memuja Siwa pada tangan kirinya sebelum makan. Setelah menghaturkan makanan pada lingga (naivedya) mereka boleh makan. Lingga bisa digantung di leher kita sebagai kalung. Inilah yang diajarkan padaku oleh Rsi Wedavyasa dan aku meneruskan apa yang ia telah ajarkan padaku kepada kalia semua. Semoga kalian semua mendapatkan berkah Dewa Siwa.
            Itulah yang dikatakan Suta.


Pahala memuja Parthivalingga
           
            Wahai para Rsi dan Orang suci!

            Dari semuanya lingga yang terbuat dari tanah liat adalah yang terbaik. Hanya melalui pemujaan Parthivalingga, Brahma, Wisnu dan Indra bisa memperoleh berkah. Pada jaman Kritayuga, lingga dari permatalah yang digunakan, dan pada jaman Tretayuga lingga yang terbuat dari emaslah yang dipuja. Pada jaman Dwapara yuga, Rasalinggalah yang dipakai dan pada jaman Kaliyuga, Parthivalinggalah yang dikatakan sebagai yang terbaik. Dalam pembuatan Parthivalingga tidak ada pantangan tertentu dari panca sutra. Tanah liat ini dipakai untuk membuat lingga, secara keseluruhan. Tetapi mereka yang memasangkannya (meletakkannya) pada suatu tempat haruslah dua orang. Bagi mereka yang mengetahui lingga mahawidya, linggam sendiri adalah Mahadewa.
            Sebuah prosedur telah ditetapkan dalam kitab suci dan sastra dalam melaksanakan atau menghaturkan ritual dengan enam belas upachara.

Keinginan dan jumlah lingga yang harus dipuja untuk pemenuhannya

            Mereka yang menginginkan kemajuan dalam bidang pendidikan harus memuja ribuan parthivalingga. Mereka yang menginginkan kekayaan harus memuja lima ratus lingga, mereka yang menginginkan keturunan laki-laki harus memuja seribu lima ratus lingga, mereka yang menginginkan pembebasan harus memuja ribuan lingga dan bagi mereka yang menginginkan tanah (properti), lima ratus buah dan yang seterusnya. Hanya dengan menghaturkan sembah pada lingga, seseorang akan bebas dari kesedihan dan juga keraguan.
            Tidak ada cara yang lebih baik ataupun lebih mudah selain menyeberangi gelombang kehidupan yang amat besar sengan memuja Siwa. Dikatakan hanya dengan melakukan pemujaan yang bisa membuka mata mereka yang buta atas kebodohan dan kesenangan duniawi. Tiga material penting dalam memuja Siwa adalah i) Abu Suci ii) Rudraksha dan iii) daun bilwa (bilwa patra).
            Daun Bel (bilwa) adalah perwujudan Dewa Siwa. Dipercaya bahwa pada akar pohon ini, semua tempat suci atau peziarahan berada. Jika seseorang melakukan pemujaan di bawah pohon ini, akan merangsang pertumbuhan Vamsha (keturunan). Mereka yang menyalakan lampu pada pohon ini akan mendapatkan Jnana Siwa. Jika seorang Brahmana diberikan makanan di bawah pohon ini maka akan memberikan pahala sama seperti memberikan makanan pada seribu orang lebih. Mereka yang memberkan nasi (nasi yang dimasak dengan susu – paramaanna dan ghee, tidak akan pernah menderita kemiskinan.

Pahala bagi yang menggunakan abu suci
            Bashma – abu suci, terdapat dua jenis: swalpa bhasma dan mahabhasma. Dari kedua shrauta, smarta dan laukila vibhuti terlahir. Brahmana, kshatriya dan Vysyas mengoleskan abu ini dengan mantra yang mengagungkan Dewa Siwa.
            Semua dosa dan perbuatan buruk akan dibersihkan dengan mengoleskan abu suci ini membentuk tiga garis pada dahi (tripundra).
            Untuk Siwapuja paling tidak dua hal penting yang harus diperhatikan yaitu abu suci dan rudraksha – benih pohon Cedar.
            Mengunjungi mereka yang memiliki keduanya (bhasma dan rudraksha) akan membuat si pengunjung membersihkan dosanya. Mereka yang tidak mengoleskan abu suci, tidak memakai Rudraksha dan tidak mengucapkan nama Dewa Siwa dengan penuh pengabdian, adalah orang yang paling buruk – begitulah yang dikatakan orang bijaksana dan mulia.

Keampuhan Rudraksha – cara memakainya
            Setelah menjelaskan keagungan dan keampuhan (mahima) rudraksha, Maharsi Suta ditanyai lebih jauh lagi mengenai benih suci ini.
            Suatu kali Rudra melakukan tapasya, pernungan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika ia mencapai kesadaran akan sekelilingnya dan membuka matanya beberapa titik air mata jatuh. Satu butir air mata itu jatuh di daerah Gowda dan yang lainnya sampai ke Mathura, Ayodya, Lankapatna, Gunung Malaya, Sathyagiri dan Kashi. Air-mata yang jauh ini seketika itu juga menjadi rudraksha. Karena berasal dari mata Siwa, maka disebutlah sebagai Rudraksha. Rudraksha sangat ampuh menghapus kesedihan semua maklhuk.
            Siwa, yang Maha pengasih, memberikan Rudraksha ini pada pemuja dari semua kasta. Rudraksha dengan ukuran sebuah biji regu (Zizyphus jujuba) akan memberikan ketenangan dan kekayaan. Yang memiliki ukuran sebuah biji Gooeseberri (amla) akan mengurangi keburukan. Yang memiliki ukuran seperti sebuah guru-vinja (sebuah biji kecil, yang berwarna merah pada ujungnya dan berwarna hitam pada bagian bawah, akan memenuhi semua keinginan hati pemakainya. Rudraksha lebih ampuh ketika ukurannya kecil. Bisa dipakai seperti seutas tali untuk japa (mengulangi nama dewa).
            Ini bukan berarti bahwa semua rudraksha itu bisa digunakan semuanya. Yang memiliki biji yang bulat, kuat dan kokoh adalah yang baik. Yang bijinya cacat, patah dan tidak bulat tidak bisa dipakai. Tidak baik dipakai memuja.
            Yang tidak memiliki lubang, tidak baik dipakai. Mereka yang memakai seribu seratus rudraksha akan menjadi rudra swarupa.
            Muni Suta kemudian memberitahu semua rsi dan orang-orang suci berapa banyak rudraksha yang harus dipakai, dimana memakainya, kapan dan bagaimana caranya. Mereka yang menggunakannya harus memathui beberapa prinsip utama. Mereka harus mengucapkan mantra juga ketika memakainya.
            Terdapat empat belas jenis rudraksha bergantung dari jumlah wajah yang dimilikinya. Yang memiliki empat belas adalah perwujudan Parameshwara sendiri.
            Setelah menjelaskan semua, Maharsi Suta mengatakan pada semua rsi dan orang suci bahwa ia telah menjelaskan tentang keampuhan, kekuatan dan kejayaan bilwa, bhasma dan rudraksha dan memperlihatkan pada mereka prosedur yang harus dilalui ketika memakainya. Ini adalah akhir dari Vidyeshwara Samhita.

Akhir dari bagian pertama Vidyeshwara Samhita dalam
Siwa Purana yang terdiri dari tujuh samhita.



RUDRA SAMHITA

Muni Suta kemudian lebih jauh lagi menceritakan Samhita baru yang bernama Rudra Samhita.

Tapasya Narada dan Keangkuhannya
            Suatu kali Narada melakukan tapasya yang kusyuk sehingga surgawi berguncang. Indra mengirimkan Manmadha dan memerintahkannya untuk mengganggu dan membuat konsentrasi Narada buyar saat ia melakukan tapasya.
            Narada duduk di tempat dimana sebelumnya di tempat itu, Ia telah dibakar oleh mata ketiga Dewa Siwa. Pada saat itu, Dewa Siwa mengatakan bahwa tempat ini akan membuat mantra Manmadha  tidak ampuh dan bekerja. Narada tidak tahu akan hal ini.
            Setelah beberapa saat Narada membuka matanya dan mengetahui apa yang telah terjadi. Terpengaruhi oleh maya, ia berpikir bahwa kekuatannyalah yang bisa mengalahkan Manmadha. Ia mengira bahwa tapasyanya telah membuahkan hasil. Ia menghentikan diksha-nya dan pergi ke Kailasha. Ia menghadap Siwa dan mengatakan bahwa ia telah mengalahkan Manmadha.
            Siwa merasa kasihan dan menenangkan Narada yang berapi-api. Sankara yang memiliki tiga mata menyarankan Narada untuk tidak terlalu bangga, sombong dan memuji dirinya sendiri. Ia kemudian memberikan penghormatan pada Siwa dan pergi ke Satyaloka, untuk mengunjungi ayahnya Brahma. Ia mengulangi apa yang telah ia ceritakan pada Siwa dengan kesombongan yang sama. Brahma juga mengingatkan Narada tetapi Narada pergi ke Wisnuloka. Narayana sendiri datang untuk memberikan penghormatan pada Narayana.
            Wisnu mendengarkannya sesaat dan menyadari bahwa Narada telah melihat maaya – Siwa. Ia juga memuji Narada, yang membuatnya semakin sombong. Ini membuat Narada semakin membual tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Kemudian ia meminta ijin pada Wisnu untuk pergi dan kemudian berkelana ketiga Loka.

Maaya Wisnu dan kesombongan Narada yang runtuh
            Saat Narada pergi, Dewa Wisnu menciptakan dengan kekuatannya sebuah ilusi, sebuah kota, seorang raja dan seorang putri. Narada sampai ke kota itu.
            Raja kota itu bernama Silanidhi menyuruh putrinya, Srimati untuk menyambut Maharsi. Raja meminta maharsi untuk memberikan berkah pada putrinya dengan nasib yang baik pada malam Swayambaranya (memilih suami sendiri). Narada sendiri sangat tertarik dengan gadis ini. Kekuatan Manmadha pada dirinya tak tertahankan. Ia sangat ingin memilikinya sebagai istri. Ia juga memutuskan untuk menjadi suami dengan mengawininya.
            Narada menemui wisnu untuk meminta tolong. Ia memohon Wisnu untuk memberikan ketampanannya. Narayana sendiri terseyum dan berubah menjadi seorang pria yang sangat tampan. Tetapi wajahnya berbeda. Karena Narada tidak melihat wajahnya, ia tidak tahu bagaimana sebenarnya wajahnya itu. Wisnu juga disebut dengan Hari; Hari berarti selain arti yang lain, juga berarti kera. Narada menjadi sangat gagah namun ia berwajah kera.
            Narada pergi ke Swayambara itu itu. Dua pendeta duduk di samping Narada, juga yang adalah maaya. Pada saat yang sama Wisnu sendiri datang ke Swayambara itu. Srimati tidak melirik siapapun, kecuali Dewa Wisnu dan menjatuhkan kalungan bunganya pada leher Dewa Wisnu dan menjadikan Dewa Wisnu pasangannya.
            Narada, telah ingin memiliki Srimati, pertama kali melihatnya. Pendeta yang berada di sampingnya meminta Narada melihat wajahnya di cermin. Narada melihat wajah seekor kera. Dalam amarah yang besar, Ia ingin membalas perbuatan Dewa Wisnu, bahkan ia ingin mengutuknya. Ia juga mengutuk dua brahmana yang menyamar untuk terlahir sebagai raksasha. Karena masih marah iapun pergi ke Vaikunta untuk mengutuk Wisnu.

Kutukan Narada pada Wisny

            Begitu Narada sampai di Vaikuntha, ia menuduh Dewa Wisnu menipunya. Begitu ia melihatnya, ia langsung mengutuknya. “ Seperti engkau menipuku gara-gara seorang wanita, dengan menyamar menjadi raja, engkau juga akan menderita karena berpisah dengan seorang wanita, kau juga akan menderita sebagai manusia, yang terpisah dari pasangan hidupmu. Dan dengan wajah kera seperti yang kau berikan untukku maka engkau akan dibantu untuk menyatu dengannya lagi”.
            Dewa Wisnu menenangkan Narada. Kemudian ia memuja Dewa Siwa. Saat itu juga Siwa membebaskan Narada dari pengaruh ilusi. Narada tenang kembali. Kemudian ia sadar dengan apa yang terjadi. Iapun memohon ampun pada Dewa Wisnu. Kemudian Dewa Wisnu mengatakan bahwa itu semua adalah lila Dewa Siwa. Ia memberitahunya, seorang jnani harus selalu memuja Siwa, Ia yang menaklukkan kematian mrutyunjaya. Atas nasehat Wisnu, Narada memohon pada Brahma untuk mengajarinya cara memuja dan memperoleh berkah Dewa Siwa.

Brahma memberikan Siwajnana pada Narada
            Kata Brahma:
            Narada! Anakku Aku dan Narayana, tidak memiliki pengetahuan yang penuh tentang Siwa Jnana. Siwa adalah keajaiban dari semua keajaiban.
            Pada saat pralaya segalanya akan dihancungkan. Tidak akan ada siang ataupun malam. Tidak akan ada unsur apapun (panchabhoota) atau panchatanmatra. Kamudian Ia yang tanpa awal, tanpa akhir, tanpa bentuk, wujud dan evolusi, Ia yang bersinar, tanpa akhir dan abadi. Ilah Siwa, Ialah Siwa.
            Parama ini (yang mutlak, pasti dan abadi) akan menciptakan sebuah murti- untuk memulai sekali lagi dan memberinya nama Sadasiwa. Bersama dengannya akan ada Shakti – dua kekuatan yang adalah satu.
            Shakti ini atau Sakaleshwari memiliki satu wajah dan Sadasiwa memiliki lima wajah. Siwa dalam wujud cahaya dan terang. Siwa tinggal bersama dengan Sakaleshwari. Itulah Shivaloka, Kashi dan Anandavana. Di tempat itu, mereka mengaduk lautan chitta (pikiran-hati-intelek) dan disebelah kirinya ada aliran air kehidupan. Kemudian makhluk yang sangat tampan, damai, memegang teguh kebenaran, Ia yang menggunakan busana yang sangat indah dan memiliki lengan yang amat kuat. Ia berdoa pada Siwa untuk memberinya nama dan Ia diberi nama Wisnu – yang menyerap ke dalam semuanya. Dewa Siwa kemudian meminta Wisnu untuk melakukan meditasi (tapasya). Ia melakukan tapa selama dua belas ribu tahun surgawi. Bahkan pada saat itupun ia belum mendapatkan berkah Siwa. Suara langit (akashvani) memintanya terus melanjutkan tapasya-nya. Setelah sekian lama, maya Siwa menciptakan aliran sungai dan aliran itu mengalir melalui Wisnu. Ketika ia berbaring, air itu terlihat begitu menggoda. Karena lelah karena tapasya yang ia lakukan dan juga kekaguman akan beningnya air itu, Wisnu tertidur. Karena ia tidur saat melihat air sebagai ayana maka iapun diberi gelar Narayana – ‘Nara’ artinya air.
            Sebelum Narayana sadar akan tiga guna (satwik, rajasik dan tamasik) ahamkara, kelima unsur (panchabhuta) dan lima tanmatra dan jnana dan karmendriya- dalam ke dua puluh empat tattwa ia menjadi manusia. Ia sendiri adalah Chaitanya. Yang berbeda darinya adalah bahwa ia adalah air, air dan air.

Pertikaian antara Brahma dan Wisnu- bermanifestasilah Siwa

            Dari atas pusar Narayana, sebuah lotus muncul sedangkan ia tidur terus menerus untuk waktu yang lama tanpa akhir. Sejak saat itu ia diberi gelar sebagai Kamalanabha.
            Saat ini terjadi, batang dibawah lotus terus berkembang dan membentuk hingga ke daerah selatan. Siwa menciptakan Brahma dan meletakkannya pada lotus yang tumbuh pada pusar Wisnu. Oleh karena itu Brahma kemudian diciptakan dengan lima wajah, ia kemudian dikenal dengan Brahma yang memiliki empat wajah (Chaturmukha Brahma). Karena ia memiliki emas pada perutnya oleh karena itu ia disebut dengan Hiranyagarbha. Karena tinggal di dalam bunga lotus itu, Brahma tidak mengetahui apa- apa selain lotus itu. Ini semua adalah maya Siwa. Karena ingin mengetahui dimana ujung tangkai bunga lotus, iapun memanjat selama ratusan tahun, dan tidak tahu dimana tangkai itu berawal. Tangkai itu terus tumbuh. Ia kemudian melakukan perjalanan selama ratusan tahun juga tetapi tetap saja belum menemukan bunga. Kemudian ia mendengar suara suci dan memutuskan untuk melakukan tapasya. Ia kemudian bisa melihat Wisnu, dan Ia sangat kagum dengan keagungan Wisnu. Pada saat itu Brahma menangkap Dewa Wisnu saat ia tidur. Wisnu mencoba untuk menjelaskan pada Siwa tetapi Brahma mengatakan bahwa Ialah pencipta. Ia terlahir sendiri, dan bukan melalui Wisnu. Pertikaian ini terus berlanjut dan Wisnu kemudian semakin ingin menjelaskan. Pertikaian ini terjadi dalam waktu yang cukup lama. Siwa kemudian berubah menjadi pilar api. Ia muncul sebagai lingga. Kemudian Brahma dan Wisnu tidak berada dalam pengaruh maya Siwa lagi. Kemudian mereka berdua memuja Siwa. Siwa sangat terkenan. Bagian selatan lingga seperti huruf pertama ‘a’. Di bagian utara seperti ‘u’; ‘m’ seperti chandramandala – lapangan yang menyerupai bulan. Diatasnya terdapat ananda- kesenangan- yang dipenuhi dengan Kenyataan yang Mutlak. Inilah yang memperlihatkan Siwa-tatwa. Kemudian muncullah seorang rsi. Ia kemudian menjelaskan pada Brahma dan Wisnu bahwa Mahadewa adalah manifestasi dari Shabda – suara dan Paramatma diatas, baik manas ataupun vaak. Ia adalah semua alasan dari semua yang ada. Ia disebut dengan ‘om’ (Ia adalah laki-laki, perempuan dan juga benda). Dari ‘a’ ‘u’ ‘m’, Brahma Wisnu dan Maheswara muncul dengan membawa tiga fungsi penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran. ‘M’ adalah prinsip kewanitaan dan ‘a’ adalah laki-laki dan ‘u’ adalah kshetra- medan. Nada – suara- adalah penghubungnya. Kemudian muncullah Brahmanda dan terendam dalam hujan surgawi, Brahmanda dibagi menjadi dua: bagian atas seperti dunia atas dan bagian bawah seperti dunia manusia dan lain sebagainya. Pada saat sang rsi menceritakan hal ini, pendengar mendengarkan dengan penuh seksama. Dan kemudian dengan berbagai perhiasan, kulit yang berwarna keabu-abuan, memiliki lima wajah dan sepuluh tangan, seorang pria pemberani muncul dengan tersenyum: ‘a’ adalah mahkota, ‘aa’ adalah dahi dan lain sebagainya. Semua aksara suci ini ada pada makhluk surgawi ini. Makhluk ini memiliki semua nyanyian surgawi dan juga mantra yang lainnya. Wisnu kemudian membentuk semua. Beberapa membentuk Isana, tataparusha, aghora, vamadewa, sadyojata dan bentuk dari semu mantra muncul sebagai Parabrahma omni-huruf. Brahma dan Wisnu kemudian menyebut shabda parabrahma sebagai lokeshwara, Makhluk yang tertinggi.

Siwa mengajari Brahma dan Wisnu
            Paramasiwa yang menyerap dalam semua, melalui pengetahuannya memberikan Brahma dan Wisnu semua Weda. Kemudian Dewa Brahma dan Wisnu mengajarkan mereka cara memuja-Nya dan cara mencapai kediamannya.
            Kata Siwa pada mereka:
            Meditasi dan perenungan padaku dan keagunganku akan menjadi sangat suci dan memberikan anugerah. Pujalah lingga yang berada dihadapanmu. Aku akan memenuhi keinginan semua pemuja dalam wujudku ini. Pemujaan dengan menggunakan Lingga adalah yang termudah dan terbaik.
            Brahma! Menciptalah. Aku akan muncul dari dahimu sebagai Rudra. Uma berada dalam diriku adalah prakruti. Bentuk kedua prakruti, Saraswati akan di bawa oleh Wisnu,bentuk yang ketiga adalah Lakshmi, akan dibawa oleh Wisnu. Bentuk lain adalah Kaali, bentuk yang diambil oleh Wisnu. Bentuk yang lain adalah Kali, wujudku yang akan tertarik pada Rudra pada medan internal dan eksternal yang dipenuhi dengan Rajoguna. Keempat Warna dan keempat ashrama diciptakan olehnya berada di dalam tamoguna dan diluar wujud Rudra adalah Satwa tetapi muncul sebagai tamoguna. Rudra akan mengambil fungsi yang ketiga, penghancuran. Wisnu dan Brahma akan memuja-Ku dan kalian berdua akan memuja Rudra. Bahkan, tidak ada perbedaan diantara ketiganya. Karena lila-Ku Trimurti akan menjadi satu dan sama. Pemuja Siwa manapun yang menyalahkan salah satu dari Trimurti maka akan kehilangan punia (pahala baik). Dengan melindungi kebaikan dan memberikan pemuja kenyamanan dan kemewahan, kalian berdua jalankanlah tugas ini.
            Narayana! Tanpa menyakiti ciptaan Brahma, membunuh, mengambil berbagai wujud, menarik pemuja yang sangat banyak lakukalah kewajibanmu. Jika ada yang bisa aku lakukan maka akan aku lakukan. Kemudian merekapun menentukan ayush-kala.

Waktu yang ditentukan oleh Siwa
            Bagi Brahma, empat ribu tahun yuga adalah sehari dan empat ribu tahun yang lain adalah satu malam. Tiga puluh hari – dua lakh empat puluh ribu tahun adalah sebulan. Dua belas bulannya adalah setahun. Umur Brahma adalah ratusan tahun seperti ini. Dua puluh lakh delapan puluh ribu adalah satu hari bagi Wisnu dan umur Wisnu adalah ratusan tahun. Jika satu tahun Wisnu- melewati sehari- untuk ratusan tahun dengan hari seperti ini, Rudra menjadi Nara (manusia) dan tenggelam dalam diriku.
            Kemudian aku akan ada. Dari tarikan nafasku, Shakti yang agung akan muncul. Dari hembusan nafasku Brahma, Wisnu dan Maheswara dan raja lain seperti Garuda, Uraga dan Gandharwa akan muncul (terlahir).
            Enam penarikan nafas adalah satu kshana (saat). Enam puluh kshana adalah satu jam. Dua puluh jam seperti ini adalah satu hari. Bahkan aku tidak bernafas. Aku tidak menarik atau menghembuskan nafas. Aku melampaui semua hal, semua pengukuran, Aku tidak berakhir, abadi.
            Setelah mengatakan semua itu ia memberikan semua yang bisa ia ajarkan. Sejak saat itu pemujaan lingga dilakukan. Mereka yang membaca cerita ini di hadapan lingga selama enam bulan akan mencapai Siwarupa.

Prosedur untuk Pemujaan Siwa
            Seperti yang disebutkan dalam kitab suci, terdapat prosedur pembersihan- dimulai dengan menggosok gigi, mandi dll. Kemudian pada saat menghaturkan upacara- ritual, yang jumlahnya enam belas- mantra tertentu harus diucapkan. Upacara ini adalah: dhyana, avahana, arghya, paadya, snana, vastram, yajnopavitram, dhoop, deep, naivedya dll dalam urutan tertentu.
            Beberapa dewa menghaturkan pemujaan pada Lingga dalam beberapa hari bergantung dari lingga yang dibuat. Lingga bisa dibuat dari permata (batu berharga), emas, perak atau bahkan tanah-liat.
            Dari semuanya, yang paling berharga dan sangat ampuh adalah Bhavalingga, yang terdapat pada Bhaa – pada pikiran. Tetapi ini hanya memungkinkan bagi seorang yogi dari jajaran tertinggi. Manusia biasa hanya bisa memuja sthula Lingga (lingga biasa).
            Untuk memenuhi keinginan, bunga dalam jumlah tertentu dihaturkan. Tidak hanya bunga saja, tetapi juga biji-bijian yang digunakan dalam Shivarchana – pemujaan Siwa untuk mencapai tujuan tertentu dan memenuhi keinginan pemuja.
            Abhiseka – adalah memandikan patung dewa dengan air, susu, madu dan gula serta sari buah dll dan juga air dari sungai Gangga – ini akan menghasilkan pahala yang baik dan juga berkah dari surgawi.

Awal Penciptaan
            Suta Muni melanjutkan:
            Para Rsi dan orang suci!
            Setelah memanifestasikan lingga dan mengajarkan pelajaran pada Brahma dan Wisnu, Siwa menghilang. Kemudian Brahma memulai penciptaan dengan bantuan Wisnu. Wisnu menuju Brahmanda dan tinggal disana.
            Kemudian Brahma menciptakan telur yang sangat besar dengan dua puluh empat tattwa. Itulah viratrupa – wujud makro. Tidak tahu dengan apa yang harus dilakukan, Brahma meminta nasehat Wisnu. Wisnu bermanifestasi dihadapan Brahma.
            Wisnu, menjadi tak berwujud, ia masuk ke dalam telur. Ketika ribuan tangan, kaki dan kepala memasukinya telur ini mengalami kesadaran.
            Brahma memulai penciptaan kembali. Kemudian lahirlah awidya (kebodohan), tamas (kegelapan) dan semuanya. Kemudian muncullah pepohonan, gunung dan semua benda diam (sthaavara). Burung-burung dan binatang liar mengikuti. Kemudian muncullah manusia. Dengan semua ini Brahma sangat bahagia.
            ‘Sargam’ adalah tatwa penciptaan yang agung. Suksma Panchabhuta dan Panchakrita bhuta adalah jenis pembentukan. Ketiganya, lima unsur dan lima mahattwam semuanya menjadi delapan penciptaan awal. Yang kesembilan adalah kaumara. Dalam keadaan ini Sanaka, Sananda dan orang suci lainnya terlahir. Brahma meminta mereka ikut dalam penciptaan. Tetapi mereka tidak mau dan pergi. Brahma merasa kecewa karena ciptaannya tidak mau mematuhinya. Ia sangat sedih dan atas saran Wisnu, Iapun memuja Siwa.

Munculnya Rudra
            Dari mata Brahma muncullah Maheswara sebagai ardhareehwara (setengah laki-laki dan permpuan). Bersamanya ia menciptakan rudra gana – kelompok pelindung. Inilah cerita tentang munculnya Rudra, Ia yang menghancurkan semua dosa.
            Brahma memuja-Nya dan berdoa bagi penciptaan yang adalah subyek kelahiran, umur tua dan penyakit. Tetapi Rudra mengatakan bahwa yang ia lebih sukai adalah membebaskan manusia dari kesedihan dan mengangkat mereka. Ia memberitahu Brahma untuk menciptakan manusia seperti yang ia sarankan dan memberikan ia anugerah. Setelah itu Rudra pergi.
           
Susunan Srishti (Penciptaan)
            Penciptaan Brahma dimulai lagi. Lima mikro yaitu shabda, sparsha, rupa, rasa dan gandha (suara, sentuhan, rasa dan bau) bersatu dengan lima unsur makro. Kemudian muncullah sifat statis dan dinamis. Dari matanya muncullah Marichi, Bhrugu muncul dari jantungnya, Angirasa muncul dari kepalanya dan lain sebagainya.
            Kemudian, diinspirasi oleh Siwa, ia mengubah setengah dari dirinya untuk menjadi permpuan, sedangkan setengah dari dirinya sebagai pria. Dari keduanya kemudian lahirlah Swayambhu Manu adan bersama dengannya seorang yogini yang bernama Shatarupa. Kemudian keduanya disatukan oleh Brahma. Mereka memiliki putra Priyavrata dan Uttanapada, dua putra dan tiga putri; Akuti, Devahuti dan Prasuti. Akuti menikah dengan Ruchi, Devahuti menikah dengan Kardama dan Prasuti menikah dengan Daksha.
            Dari Akuti dan Ruchi, lahirlah Yajna dan Dakshina. Mereka dinikahkan dan memiliki dua belas putra.  Devahuti dan Kardama memiliki dua belas putri. Prasuti dan Daksha memiliki dua puluh empat putri. Ketiga belasnya menikah dengan Dharma. Mereka adalah; Shraddha, Lakshmi, Dhriti, Tushthi, Pushthi, Medha, Kriya, Buddhi, Lajja, Vasuvu, Santhi, Siddhi, dan Kirti. Sebelas yang tersisa; Khyati dengan Bhrigu, Niti dengan Dharma, Sambhuti dengan Marichi, Smriti dengan Angirasa, Priti dengan Paulasthya, Kshama dengan Pulaha, Sannuti dengan Kratu, Anurupa dengan Atri dan Vurja dengan Vasistha, Swaaha dengan Agni dan Suddha dengan Daksha.
            Juga dipercaya bawa Daksha memiliki enam puluh putri. Tetapi pada masing-masing kalpa, kejadian yang muncul berbeda. Tetapi cerita dasarnya tetap sama. Dari keenam puluh putrinya, Daksha memberikan sepuluh diantaranya pada Dharma, dua puluh tujuh pada Chandra, tiga belas diantaranya pada Kashyapa, empat diantaranya pada Garutman, dan satu pada masing-masing orang yaitu pada Bhrigu, Angirasa dan Krishaasva.
            Yang lebih penting lagi, Kashyapa dengan anaknya yang terlahir dari tiga belas istrinya memenuhi dunia. Ia memenuhi semua dengan sthavara dan jangama, statis dan dinamis. Dewata, rsi, raksasa, pohon-pohonan, burung dan pegunungan serta ular adalag keturunan Kashyapa. Itulah mengapa semua ciptaan disebut denan Kashyapi dan bumi juga disebut dengan Kashyapi.
            Siwa menerima putra Daksha Sati. Haruslah dicatat bahwa Wisnu terlahir dari bagian kiri Sarveshwara, Dhata dari kanan dan Rudra dari jantungnya. Haruslah dicatat ketiganya adalah sama. Adishakti sendiri menciptakan Lakshmi, Saraswati dan Dakshayani pasangan ketiga dewa ini. Lakshmi adalah Tamas, Saraswatu adalah Rajas dan Sati adalah Satwa.
            Kaalika, Chamunda, Jaya, Vijaya, Jayanthi, Bhadrakaali, Durga, Bhagwathi, Kameswari, Kamada, Amba, Mridani, Ambika, Sarvamangala- semuanya adalah nama dari Sati Dewi yang agung. Nama yang berbeda berasal dari ‘lila’nya.
            Di Siwaloka, Siwa bersama dengan Adishakti dalam penyatuan. Parameshwara berada dalam manifestasi – Purwa awatara. Ia tinggal di Kailasha. Segalanya mungkin akan sirna namun Kailasha akan ada selamanya dan abadi.
            Sehingga Narada diajari oleh Brahma dan kemudian diteruskan oleh Muni Suta pada Saunaka dan rsi serta orang- suci lainnya.
            Suta juga memberikan para rsi dan orang suci lainnya seratus delapan nama Siwa dalam pemujaanya. Ia juga menjelaskan arti dari seratus delapan nama itu.

Cerita Gunanidhi
            Narada bertanya pada Brahma kapan Siwa akan pergi ke Kailasha, bagaimana caranya dan mengapa ia bersahabat dengan Kubera dan lila apa yang ia mainkan ketika berinkarnasi Maheswara. Kata Brahma pada Narada dan juga Muni Suta serta pada Saunaka.
            Pada jaman dahuludi kota Kampilya hiduplah seorang Brahmana yang bernama Yajnaduta. Ia diberkahi  dengan memiliki seorang putra yang ia berinama Gunanidhi – harta karun yang berharga. Setelah melalui sebuah upacara upanayana kemudian ia kemudian dikirim pada seorang guru. Anak ini tumbuh menjadi dewasa dan iapun berteman dengan orang yang jahat. Ia memiliki banyak sekali kebiasaan buruk. Ayahnya, yang selalu sibuk tidak pernah memiliki waktu untuk anaknya. Ibunya terlalu mencintai anaknya dan memanjakannya.
            Kemudian Gunanidhi menjadi seorang penjudi dan juga orang yang jahat. Ia menghabiskan semua uangnya. Kemudian ia mencuri barang-barang dan menjualnya. Ia menghabiskan semua uangnya dalam perjudian. Suatu kali ketika akan mandi, ayah Gunanidhi memberikan pada istrinya cincin berlian. Dan Ia lupa dimana meletakkannya, hingga Gunanidhipun mencurinya dan menjualnya. Semua uangnya ia habiskan dalam perjudian. Gunanidhi tanpa sengaja melihat cincinnya pada jari tangan orang lain dan menanyai orang itu. Yajnadutta tahu bahwa anaknya telah menjadi seorang berandal dan seorang penjudi. Takut ayahnya menghukumnya, Gunanidhi pergi dari rumahnya.
            Dalam beberapa hari Gunanidhi bahkan tidak memiliki uang yang bisa ia pakai untuk makan. Pada saat ia duduk di bawah pohon, marah dan sangat lapar, hidungnya bisa menciumnbau makanan yang amat lezat, makanan yang akan di bawa ke Mandir Siwa. Ia mengikuti pemujanya ke kuil. Ia menunggu saat yang tepat untuk mencuri makanan itu. Ia melihat pemujaan itu dari kejauhan. Setelah semua orang tidur ia menyelinap mencuri makanan. Lentera nyaris padam. Ia kemudian menyobek pakaian dalamnya. Mencelupkannya pada minyak dan membuat lentera kecil itu menyala lagi. Ia memasukkan makanan ke dalam bungkusan yang ia bawa dan kemudian ia menginjak seseorang hingga orang itupun menangis dan berteriak. Ia tertangkap dan dipukul dengan sebatang tongkat. Kepalanya pecah dan iapun mati seketika.
            Ketika utusan Dewa Kematian, Yama datang untuk menjemput suksma prana-nya, utusan Siwa mencegahnya. Arwah Gunanidhi yang telah mati tertahan di kuil itu, melakukan puasa dan menyaksikan pemujaan Siwa, iapun menghidupkan cahaya lentera di kuil itu. Semua dosanya terhapus. Kemudian ia dibawa ke Siwaloka, bukan ke neraka. Utusan Siwa diperintahkan untuk tidak menyentuh siapapun yang memuja Siwa – siapapun itu.
            Kemudian Gunanidhi terlahir sebagai putra seorang raja di kerajaan Uthal. Ia bernama Damana. Dalam kehidupannya sebagai Damana, ia adalah pengikut dharma, yang berbakti dan melakukan kebenaran. Kemudian ketika ia meninggal iapun menjadi cucu Brahma Wiswavasu. Karena kebaikan yang ia lakukan dalam kelahirannya terdahulu, ia mampu melihat kelahirannya di masa lalu. Ia menjalani kehidupan sebagai seorang pemuja Siwa yang taat. Ia memasang Lingga Siwa di tepi sungai Bhagirathi dan kemudian melakukan tapasya. Dewa Siwa amat berkenan dengan pemujaan yang ia lakukan, Iapun bermanifestasi dengan pasangannya, Shakti. Pasangan Siwa dan Shakti ini memberkahinya dengan wujud yang menakjubkan dan menamainya Kubera. Kemudian Kubera diberikan kekuasaan untuk memerintah Alakapuri. Ketika Kubera meminta anugerah, Dewa Siwa akan tinggal di dekat Alakapuri agar ia bisa dekat dengan pemujanya.
            Setelah mencapai tempat tinggalnya, Dewa Siwa memainkan dhamaruka. Nada (suara yang berasal dari dhamaruka) memenuhi jagat-raya. Semua malaikat dan dewa datang kesana untuk mendapatkan Darsana Siwa. Banyak sekali para rsi, orang suci dan pemuja lain serta siwa gana dengan para pemimpinnya datang dengan tangan tercakup dan membungkuk memberikan penghormatan. Bangunan yang sangat besar dibuat agar dapat memuat semua orang oleh Vishwakarma. Dewa Siwa menempati kediamannya. Setelah itu semuanya kembali ke rumah mereka. Sehingga Siwapun memberikan Kubera sahavasa-Nya (menemaninya).
            Para rsi dan orang suci meminta Suta bagaimana shaktinya adalah putri Daksha dan juga putri Himavan. Kemudian Suta menjelaskan cerita tentang kisah surgawi, untuk mendengarkan cerita yang suci dan memberikan keberuntungan.

Cerita Tentang Kshupa dan Dadichi
            Dadhichi adalah seorang pemuja Siwa yang taat. Ia memiliki seorang teman baik seorang Raja Kshatriya, Kshupa yang adalah pemuja Wisnu. Tetapi karena hari yang buruk keduanyapun bertengkar. Masing-masing merasa bahwa mereka yang paling baik. Sang Raja adalah seorang kshatriya dan Dadhichi adalah seorang Brahmana.
            Dalam amarah, Dadichi memukul sang raja dengan knuckles nya. Karena jugamarah sang Raja pun memukulnya dengan permata. Pada saat jatuh, Dadichi ingat kepada Sukracharya, guru para raksasa. Sukra memberinya Mrutyunjaya mantra. Siwalah yang dipuja apabila mengucapkan mantra itu. Ketika Ia Muncul, ia memujanya dan memohon agar tulangnya kuat seperti batu permata. Ia juga memohon dua hal lagi; tidak akan bisa dibunuh oleh siapapun dan tidak akan pernah terhina.
            Kemudian Dadhichi melanjutkan pertarungan itu dan menendang Kshupa di dadanya. Raja kemudian memukul Brahmana itu dengan permatanya, tetapi Brahmana ini tidak terluka. Mengetahui ini adalah sebuah anugerah dari Tuhan, Kshupa melarikan diri dan bertapa di hutan. Wisnu kemudian muncul dan memberitahu bahwa pemuja Siwa adalah bagaikan Siwa sendiri. Keduanya menuju pertapaan Dadhichi. Ia meminta Dadhichi untuk menyerah, tetapi ia menolak. Kemudian Wisnu bermanifestasi dengan virata-rupa-nya. Dadichi memberitahu Wisnu bahwa dengan berkah Siwa pula ia bisa menunjukkan Viraat rupa-nya.
            Kshupa sangat terkesima. Brahma datang menemui Dadichi dan ia mengutuk Wisnu. Kemudian Kshupa memberitahu Brahma, bahwa ialah yang salah.
            Walaupun orang-orang meninggal pada saat yajna Daksha, dengan satu mantra dari Dadhichi maka mereka akan terlahir kembali. Itulah berkah Dadhichi. Ia mengatakan bahwa semua yang terbunuh di dekat tempat yajna maka atas lila Siwa akan hidup lagi.
            Cerita ini semakin jauh sehingga setelah yajna Daksha posisi kepemimpinan para gana jatuh ke tangan Virabadhra.

Siwa berkenan, menghidupkan kembali Daksha
            Setelah Virabhadra kembali ke Kailasha, mereka yang bersembunyi dan melarikan diri keluar. Mereka bersedih atas mereka yang terbunuh. Brahma dan Wisnu datang dan mengajak mereka ke Kailasha untuk berdoa pada Siwa. Siwa muncul dan melihat tempat dimana yajna dilakukan. Hatinya tersentuh. Ia memanggil Virabhadra dan memerintahkannya untuk membunuh bahkan orang suci sekalipun. Semua yang mati kemudian dihidupkan kembali. Siwa kemudian memotong kepala kambing dan meletakkanya di tubuh Daksha yang tanpa kepala. Kemudian Daksha hidup kembali mengagungkan nama Siwa.
            Siwa juga sangat berduka atas hilangnya pasangannya, Sati. Tetapi ia tahu bahwa Sati adalah bagian yang tidak berbeda dari dirinya.
            Kemudian Muni Suta menceritakan bagaimana Uma terlahir sebagai putri Daksha untuk membuat Daksha senang. Kemudian ia menjadi Uma – Parwati- putri Himavan. Sebenarnya Ia tidak pernah pergi dari Siwa.

Cerita tentang Menaka Dhanya – Kalawati
            Kemudian para rsi dan orang suci meminta Maharsi Suta untuk menceritakan pada mereka bagaimana Mahamaya menjadi Hymavathi.
            Adalah hal yang sangat agung menjadikan Ibu Mulia sebagai putri seseorang. Karena Himavan juga pemuja yang taat seperti Daksha, ia juga bisa memiliki Parwati sebagai putrinya.
            Swadha, salah-satu dari putra Daksha, menikah dengan Pitara. Mereka memiliki tiga putri, Menaka, Dhanya dan Kalavati. Ketiganya diselamatkan dari kutukan Sanata Kumara – Menaka terlahir dari istri Himavan dan akan menjadikan Shakti sebagai putrinya dan Siwa sebagai menantunya. Kalavati lahir kemudian sebagai Radha dari Goloka da Dhanya sebagai istri Rsi Janaka.

Cerita tentang Vajraangga

Kemudian Suta melanjutkan bercerita lagi tentang Vajrangga.
            Diti adalah istri Prajapati Kashyapa. Ia memiliki Vajrangga yang membuat Indra terpenjara. Tetapi Brahma dan yang lainnya meminta agar Indra dilepaskan. Vajrangga sebenarnya adalah orang yang satwika. Ia diajarkan jnaana sama seperti Brahma. Vajraanga menikah dengan Varaangi. Suatu hari Varaangi melayani suaminya dengan sangat baik dan suaminyapun memintanya untuk meminta anugerah. Ia meminta seorang putra yang akan membuat Dewa Wisnu (Hari) bersedih dan mampu menguasai ketiga dunia. Kemudian Vajraanga melakukan tapasya. Varaangi melahirkan seorang putra. Kashyapa memberinya nama Taraka. Ia diajarkan menjadi seorang raksasa yang tangguh baik oleh ibu maupun neneknya. Ia mewarisi kesaktian dari para leluhurnya dan iapun kemudian melakukan tapasya. Karena pengabdian dan juga tapasyanya, ketiga dunia mulai berguncang. Brahma muncul. Taraka meminta sebuah anugerah bahwa ia tidak akan bisa dibunuh oleh Dewa Siwa maupun Dewa Wisnu. Hanya ia yang terlahir dengan kesucian yang amat tinggi yang akan bisa membunuhnya. Tidak mampu mengatakan atau melakukan apapun, Brahma mengabulkan permohonan Taraka itu.
            Taraka mengalahkan Kubera, mengalahkan Chandra, menakuti Yama dan mengusir Indra dari Sabhanya. Semua dewa memohon perlindungan dari Brahma. Brahma menyuruh mereka menemui Wisnu. Mereka setuju dan kemudian mencari cara untuk membujuk Siwa untuk memiliki putra. Hanya Menaka, yang adalah istri Himavan yang bisa membantu. Mahamaya telah bersumpah bahwa jika Daksha bersikap kasar padanya atau pada Dewa Siwa ia akan terlahir menjadi putri Himavant. Semua meminta pertolongan Himavan.
            Himavan sangat berbakti pada Tuhan dan sangat disiplin. Ia mengambil Menaka sebagai istri dan mereka hidup berbahagia dan harmonis. Para dewa memuja dampatya (bersuami-istri dengan bahagia) mereka dan meminta mereka untuk melahirkan seorang putri. Pasangan ini melakukan tapasya setelah melalui sebuah inisiasi. Adishaktilah yang dipuja. Ia bermanifestasi dan memberikan anugerah bahwa mereka akan memberi mereka putra terlebih dahulu dan kemudian Ia akan berinkarnasi sebagai putrinya.
           
            Kelahiran Parwati
            Segera setelah Menaka diberkahi dengan seorang putra, Ia diberinama Mynak. Kemudian Menaka hamil kembali. Walaupun hamil, ia nampak bercahaya. Segalanya dijaga agar ia bahagia dan merasa nyaman. Ketika putri mereka lahir mereka sangat bahagia. Langit amat cerah dan para dewa memainkan musik yang indah. Para Gandharwa menyanyi. Apsara menari. Para dewi-dewi menyanyikan lagu tentang keagungan Ibu Mulia.
            Ibu Mulia terlahir sebagai seorang putri. Ia diberi nama Kali karena kulitnya yang gelap namun bercahaya. Ia adalah putra Parvata (gunung). Ia kemudian diberinama Parwati. Ia bermain dengan anak seusianya dan kemudian iapun mendapatkan pelajaran dari seorang guru.
            Suatu kali Narada mendatangi Himavant yang menerimanya dengan penuh penghormatan. Ayah yang sedang berbahagia ini meminta Narada untuk memberitahu mereka tentang masa depan putrinya. Narada sangat bahagia mendapatkan kesempatan menyentuh telapak tangan bayi mungil itu, untuk melihat masa depannya. Narada memberitahu orang-tua bayi itu bahwa putri mereka kelak akan berjodoh dengan Paramashiwa dan kemudian ia akan dikenal dengan nama Ibu Mulia. Tetapi Himavant khawatir. Bagaimana seorang Yogi dan juga seorang bujang menikah? Bagaimana Dewa Siwa bisa tertarik dengan seorang wanita, menikah dan menjalani hidup biasa?
            Kemudian ada juga keraguan lain. Anggap saja ia bisa melakukan semuanya, menikah dan yang lainnya, tetapi bagaimana ia bisa melupakan Dakshayani?
            Narada mengetahui keraguan Himavant, iapun tertawa. Sang rsi meyakinkan bahwa apapun yang terjadi di masa lalu mengarah akan perkawinan Dewa Siwa dan Parwati di masa depan.
            Setelah Narada pergi pasangan suami sitri ini mengajak putri mereka untuk memuja Dewa Siwa. Pada saat yang tepat, mereka membawa Dewi Parwati menemui Pashupati.

Kelahiran Kuja
            Karena merasakan kesedihan yang mendalam berpisah dengan Dakshayani, Dewa Siwa melakukan tapasya. Dari tetes keringat dari dahinya, seorang bayi terlahir dengan empat tangan, mengeluarkan cahaya merah yang menarik perhatian. Karena Dewa Siwa masih bersedih maka Ibu Bumi yang memberinya susu. Melihat hal ini, Dewa Siwa tersenyum dan meminta agar ialah yang membesarkan bayi itu.
            Bayi ini kemudian menjadi dewasa dan bernama Bhauma yang kemudian pergi ke Kashi dan memuja Siwa. Siwa memberkahinya dan memintanya untuk pergi ke Sukra Loka dan menjadi satu dengan sembilan planet. Kemudian muncullah Bhauma yang juga dikenal sebagai Angaraka, Mangala dan Kuja.
            Ketika Dewa Siwa kembali ke Himalaya, Himavant memujanya. Ia meminta ijin darinya untuk meninggalkan putrinya, Parwati. Ia ingin memuja Siwa. Siwa tidak setuju dan memberitahu hal ini pada Parwati. Tapi Parwati tidak buru-buru menjawab. Ia mmberitahu Siwa bahwa ia tidak berada diatas Prakurti. Prakurti bukanlah ilusi. Jika memang seperti itu, semua perenungan, semua tapasya harus dihentikan. Purusha tidak bisa berdiri sendiri tanpa Prakurthi.
            Kemudian Siwa mengatakan bahwa Ia hanya menggodanya. Ia bahagia mendengar penjelasan Parwati. Ia kemudian mengijinkannya menyiapkan kebutuhan tapasyanya.
            Walaupun Parwati telah menjaga Siwa dan semua kebutuhannya, tidak ada keinginan atau benih hasrat apapun diantara mereka. Parwati sedikit kecewa karena ini melukai egoismenya (ahamnya) tetapi ia tetap melakukan tugasnya dan melupakan keegoisannya.
            Waktu semakin lama berlalu, para dewa tidak sabar lagi. Mereka ingin pasangan ini melahirkan putra sehingga Taraka akan mati dan semuanya kembali baik.
            Indra mengirimkan Manmadha dan membujuknya untuk menemui Dewa Siwa dan membangkitkan hasratnya dengan panah bunganya. Madan (Manmadha) juga mengajak Vasanta dan juga istinya Rati dengan sebuah kereta yang ditarik oleh burung kakaktua.
            Dewa Siwa sedang melakukan tapasya di Oshadha prasta (tempat dimana tumbuh-tumbuhan obat tumbuh). Vasanta diminta untuk mengatur suasana agar indah untuk membangkitkan hasrat Dewa Siwa. Parwati datang ke tempat itu bersama dengan para pelayannya. Semua kecantikan alam sekitar bahkan tidak sebanding dengan sedikit kecantikan Parwati. Madan sendiri sangat terpesona dengan kecantikan Parwati.
            Kemudian Madan menembakkan panahnya. Dewa sangat terkejut karena ada yang mengganggu tapasyanya. Dalam waktu singkat, ia bisa melihat alasan kenapa Madan menembakkan panahnya – Kaama baan.
            Sangat bahagia karena panahnya mengenai sasaran, Madan menembakkan panah bertubi-tubi. Dewa Siwa sadar dari tapasyanya, maka panah bunga itu tidak bisa mempengaruhinya. Madan bisa melihat akhir hidupnya telah datang. Ia berdoa pada siapa saja yang bisa membantunya. Tetapi lirikan dari mata ketiga Dewa Siwa adalah tanda yang cukup bagi Madan. Dalam sekejap, Madan telah terbakar menjadi tumpukan abu. Rati menangis dengan pilu. Para dewa semua datang ke tempat itu. Rati disarankan agar menyimpan abu Madan pada ujung sarinya oleh para dewa sehingga jika Dewa Siwa berkenan, Ia bisa menghidupkan Madan kembali. Ia menyimpan abu itu pada sarinya.
            Para dewa membawa Rati menghadap Dewa Siwa dan berdoa serta memohon padanya. Kemudian Dewa Siwa berkenan dengan doa Rati dan iapun berkata bahwa Madan akan terlahir sebagai Pradyumna sebagai putra Rukmini dan Sri Krishna ketika Wisnu berinkarnasi sebagai awatara. Sampai saat itu Madan tidak akan memiliki tubuh. Setelah Pradyumna lahir ia akan mengalami kecelakaan. Rati juga harus berada di kota Sambashiva. Setelah mengatasi kecelakaan yang menimpa dirinya, Pradyumna akan membunuh Sambhava dan kemudian pasangan ini akan hidup bahagia selamanya.
            Setelah membakar Manmadha, api dari dahi Siwa tidak padam. Brahma mendekat. Ia mengarahkan api itu menuju lautan dimana api ini akan menjadi api bawah laut. Berada ditengah dalamnya laut maka api ini tidak akan membahayakan dunia.
            Parwati melihat Madan rubuh dan menjadi setumpukan abu yang sampai kerumahnya. Parwati sangat bingung. Ia menemui kedua orang-tuanya dan semua orang dan tanpa henti ia mengucapkan nama Siwa, Siwa, Siwa.
            Indra, yang mengirimkan Madan untuk memanah Siwa juga mengirimkan Narada untuk menemui Parwati. Ia kemudian menyarankan pada Parwati agar ia melakukan tapasya, hanya dengan cara seperti itulah Dewa Siwa bisa didekati.
Tidak ada kecantikan apapun yang bisa menarik perhatiannya. Ia hanya tertarik dengan kecantikan spiritual. Atas permintaan parwati Narada memberikannya mantra Panchaksari Siwa dan iapun menghilang.
            Parwati memulai tapasyanya yang kusyuk untuk memuja Siwa. Ia mengatur  tubuhnya agar bisa melalui berbagai yoga. Ia tidak makan. Perlahan semua makhluk disekelilingnya berhenti memakan daging. Mereka semua menjadi Satwik. Tetapi Siwa tidak berkenan. Himavant dan Menaka datang menemui putrinya. Mereka meminta putrinya untuk pulang, tetapi Parwati tidak mau mendengarkan. Himavant sangat terkejut dengan keteguhan niat putrinya. Setelah mmeberinya berkah, mereka berdua pergi. Ketiga dunia bergetar. Dengan dipimpin oleh Indra, para dewa pergi ke Kailasha. Mereka memohon pada Kailashpati Siwa untuk memberi mereka putra yang akan menghancurkan raksasa Taraka yang jahat. Sampai saat itu terjadi maka mereka tidak akan pernah meresakan kedamaian.
            Dewa Siwa berkata bahwa ia tidak akan pernah mengecewakan pemuja-Nya. Tujuh rsi dikirim untuk menemui Parwati. Mereka kembali pada Siwa dan menceritakan pada Siwa bahwa ia sedang menjalani tapasya selama enam ribu tahun. Parwati dan Siwa adalah dewa-dewi yang adalah tapaswis dengan tingkatan yang tertinggi, mereka harusnya saling memiliki. Tujuh rsi mengatakan, hanya penyatuan fisik keduanya yang bisa menyelamatkan dunia dan kebenaran dari raksasa jahat Taraka. Dewa Siwa sendiri ingin menguji Parwati.
            Parwati mulai putus-asa dan menyiapkan api untuk membakar dirinya. Kemudian Dewa Siwa muncul dengan menyamar menjadi seorang Brahmana. Parwati melayani Brahmana ini dengan baik. Ia kemudian bertanya siapakah dirinya. Ia kemudian menjawab bahwa ia hanyalah seorang tapaswi yang mengembara untuk membantu orang yang membutuhkan. Dewa Siwa memintanya menceritakan dirinya. Parwati menceritakan semuanya dan kemudian ia mengatakan bahwa ia ingin membakar dirinya. Ia menceburkan diri ke dalam api tetapi api itu sama sekali tidak membakar dirinya tanpa melukainya sedikitpun. Parwati terkejut, Brahmana itupun memintanya melupakan Siwa. Ia adalah dewa penghancur, penghuni kuburan dan dewa pengembara tanpa tempat tinggal yang jelas.
            Parwati memandang sang brahmana dengan rasa marah. Ia menyalahkannya brahmana karena berkata yang tidak baik tentang Dewa Siwa. Siwa Ninda (menyalahkan dan menghina Dewa Siwa) adalah dosa. Karena ia adalah seorang Brahmana Parwati masih menghormatinya. Kemudian Brahmana ini memperlihatkan dirinya sebagai Dewa Siwa. Karena malu, Parwati memujanya, menyembahnya. Dewa Siwa mengatakan bahwa ia sangat berkenan dengan yang Parwati lakukan. Dewa Siwa memberitahunya bahwa ia akan menerimanya sebagai pasangannya. Parwati meminta Dewa Siwa untuk meminangnya kepada kedua orang-tuanya.
            Dewa Siwa menuju kota dimana Himavanta tinggal dengan menyamar sebagai seorang penari. Dalam penyamarannya itu Siwa adalah seorang aktor yang hebat dan ia sangat terpukau oleh Siwa. Menaka sangat terkesan dengan penari itu dan ia memberinya secawan permata langka. Siwa berkata bahwa ia tidak menginginkan permata atau perhiasan terkecuali permata perawan. Menaka menjadi agak gusar. Pada saat itu, Siwa muncul dan menunjukkan Bhawanya. Kemampuannya dalam bidang menari, sebagai aktor membuat orang-tua Parwati setuju dengan pernikahan itu. Setelah itu Dewa Siwa pergi.
            Setelah ia pergi, pasangan ini merasa bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Himavant merasa sangat gelisah. Tetapi ia setuju dan mengijinkan putrinya menikah dengan Siwa. Ia akan mendapatkan moksha. Bersamanya pengikutnya dan seluruh Himalaya akan menuju ke Kailasha, yang akan menyebabkan terjadinya bencana. Hingga penciptaan berikutnya, semuanya tidak akan kembali.
            Para dewa menemui Brihaspati. Mereka meminta agar Brihaspati mempengaruhi Himavan dengan menjelek-jelekkan Siwa. Ketika Brihaspati menolak, mereka menemui Brahma. Ia berkata ini adalah hal yang tidak bisa ia lakukan. Kemudian Ia menyarankan agar mereka menemui Siwa, dan menyalahkannya atas apa yang telah terjadi. Para dewa mencapai Kailasha bersama dengan Brahma. Siwa mendengar hal ini, iapun tersenyum dan meminta mereka pergi.

Siwa bertemu dengan Himavant dengan
menyamar menjadi seorang vaishnawa

            Pada saat para dewa meninggalkan Siwa mereka menemui Himavant. Ia mengenakan baju berbahan sutra yang sangat indah berwarna kuning. Ia mengenakan batu salagram di  lehernya dan terus-menerus mengucapkan nama Wisnu.
            Ia mengatakan pada Himavant bahwa tidaklah adil membiarkan putrinya menikah dengan dewa yang tidak memiliki rumah atau tanah. Ia tinggal di kuburam tanpa ditemani siapapun. Dan lagi Dewa Siwa hanyalah seorang pengembara.
            Himavan kemudian berpikir. Menaka amatlah khawatir. Ia ingin pergi dan membawa putrinya pergi mengembara kemana saja daripada membiarkan Siwa menjadi menantunya. Kemudian iapun menangis menuju peraduannya.

                                    Tujuh rsi memberikan nasehat pada Himavant
            Siwa kembali ke Kailasha dan memikirkan tentang tujuh rsi (Sapta Rsi) yang seharusnya mendatanginya. Mereka kemudian datang kesana dan menyinggung tentang perkawinan putri Himavan. Himavant kemudian mengatakan bahwa perkawinan itu hanyalah akan diputuskan oleh para wanita. Kemudian Himavan merasa dipojokkan. Himavant mulai memberikan alasan kenapa ia tidak mengijinkan ia menikah dengan Dewa Siwa.
            Ketujuh rsi mengatakan adalah hal yang wajar apabila seorang ayah mempelai wanita khawatir. Mereka merasa sangat sedih dan tidak memiliki jalan keluar. Wasista kemudian menceritakan tentang cerita Aranya.
                                   
                                                Cerita tentang Aranya

            Karena Himavant adalah penguasa gunung. Aaranya adalah penguasa hutan. Ia adalah putra dari seorang raja yang bernama Mandaranya yang adalah keturunan Indrasavarni. Ia memerintah tujug pulau. Dengan maharshi Bhrugu sebagai gurunya, ia melakukan seratus yajna. Semua dewa dan para bidadari datang dan memintanya mengganti Dewa Indra tetapi ia tidak mau. Ia memiliki lima istri dan sepuluh putra, namun hanya memiliki satu putri saja. Ia bernama Padma. Ia adalah gadis yang paling cantik. Adalah seorang maharshi yang agung yang bernama Pippalada. Sang rsi sangat kagum melihat dewa yang saling berpasangan sehingga timbul niatnya untuk menjalani kehidupan berumah-tangga (grihasta). Ia melihat Padma, dan ia sangat terpesona iapun kemudian menemui Aranyaka untuk memohon agar ia bisa menikahi putrinya.
            Bagi seorang raja, perintah seorang Brahmana adalah sangat kuat dan sama dengan perintah Dewa Siwa sendri (Shivaajna). Ketika sang raja terdiam, brahmana ini mengancam akan menghancurkan seluruh kerajaannya. Kelima ratu khawatir bagaimana pertapa yang tua ini akan menjadi pasangan yang tepat bagi putri mereka yang masih sangat muda dan sangat bersemangat dalam hidupnya.
            Aranya menghadap gurunya, penasehatnya yang bijaksana dan juga para tetua kerajaan. Para ratu juga memohon nasehat dari mereka. Mereka menyarankan daripada melihat ketujuh pulau kerajaan hancur karena kemarahan sang rsi akan lebih baik bagi sang raja apabila ia memenuhi keinginan sang rsi. Nasehat yang bijak ini diterima sang raja dan pernikahan itupun dirayakan dengan meriah.
            Setelah mendengarkan cerita dari Rsi Wasista, Himavan memohon pada sang rsi untuk menceritakan apa yang akan terjadi pada Padma setelah pernikahan itu.
            Rsi Wasista menceritakan bahwa Padma baik-baik saja bahkan ia amat termasyur karena pengabdian dan ketulusannya pada suaminya (paativratya).
            Wanita yang menikah dengan rsi dan juga orang suci adalah wanita yang mendapatkan berkah. Padma adalah seorang istri yang cantik, pengasih dan juga sangat setia.
            Suatu hari ia pergi ke air terjun untuk mandi. Dharmadevta muncul dengan menyamar menjadi seorang raja dan sangat kagum melihat kecantikan Padma. Ia memintanya menjadi pasangan hidupnya dan menjanjikan semua yang ia miliki untuk sang raja. Tetapi Padma adalah orang yang menjunjung kebenaran. Ia menolak permintaan itu. Ketika ia bersikukuh dan memaksa iapun mengutuknya agar ia tenggelam.
            Dharma sangat terkejut. Ia kemudian memperlihatkan wujudnya yang sebenarnya. Ia memuji kesetiaan Padma pada suaminya. Padma meminta ampun karena ia telah mengutuk tanpa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Sang Dharma khawatir bahwa penciptaan yang terjadi di dunia ini tanpa dilandasi oleh Dharma yang kuat. Walaupun ia tidak bisa menarik kembali kutukan yang ada, ia bisa mengubahnya sedikit. Pada jaman Krita Yuga, Dharma dikatakan akan memiliki empat kaki, pada jaman Treta yuga maka Dharma akan memiliki tiga kaki, dan pada jaman Dwapara akan memilki dua kaki. Dan pada jaman Kaliyuga Dharma akan memiliki hanya satu kaki saja. Tetapi pada siklus berikutnya ketika Kritayuga datang, dharma akan kembali normal dengan keempat kakinya.
            Sebagai balasannya Dharma devta memberkahi suami Padma dengan kekuatan, awet muda dan juga keberanian. Ia akan abadi dan akan lebih kaya dari Kubera, lebih berani daripada Indra, ia akan lebih berbakti pada Dewa Siwa daripada Dewa Wisnu dan ia akan lebih banyak memiliki prestasi daripada Kapila, lebih bijaksana daripada Brihaspati, guru para bidadari.
            Karena anugerah ini, maka Padma memiliki umur yang panjang, ia bahagia dan sangat berbakti dengan semua keinginannya terpenuhi.
            Setelah mendengar cerita ini dari Wasista, Himavant dan Menaka menyetujui pernikahan Dewa Siwa dengan Parwati. Para rsi mengabarkan berita bahagia ini pada Shambu dan kemudian mereka minta diri untuk kembali pulang.
            Kemudian Suta Muni menceritakan pada para orang suci dan para rsi kejadian yang berhubungan dengan perkawinan Dewa Siwa dan Parwati, bagaimana Dewa Siwa mengubah dirinya menjadi seorang mempelai laki-laki yang sangat berwibawa, persiapan yang sangat baik dan juga ritual tradisional diadakan dengan sangat baik.
            Ketika Dewa Siwa sangat berbahagi, Ratipun, istri Manmadha datang menghadap dan memohon agar suaminya dihidupkan kembali. Siwa sangat tersentuh dan iapun melirik tumpukan abu yang dibawa oleh Rati. Saat berikutnya Madan telah muncul dan hidup kembali dalam keadaan yang sangat baik.
            Pada cerita itu Suta Muni menceritakan banyak sekali tentang perilaku bersuami istri yang baik.

Kamesh di Kailasha
            Kembali ke Kailasha dengan istrinya Parwati, Dewa Siwa merasa sangat bahagia.
            Para dewa dan juga bidadari merasa khawatir. Mereka menginginkan agar Dewa Siwa dan Parwati segera berputra, yang akan membunuh raksasa Taraka. Tetapi Dewa Wisnu menghibur mereka. Ia juga memberitahu mereka bahwa mereka mungkin harus menunggu selama beribu-ribu tahun.
            Dewa Wisnu memasuki peraduan Dewa Siwa. Para dewa semua mengikutinya. Dewa Siwa keluar dan mengatakan pada mereka bahwa mereka harus menunggu sebentar lagi. Atas desakan para bidadari Agni menyamar sebagai seekor burung merpati dan menelan ejakulasi Dewa Siwa.
            Setelah Parwati sadar dengan apa yang terjadi, iapun mengutuk semua bidadari bahwa mereka tidak akan pernah memiliki keturunan. Ia juga mengutuk Agni (api) yang telah menelan benih Dewa Siwa bahwa ia akan menjadi melalap segalanya (membakar) dan juga akan mengalami penderitaan. Akhirnya Dewa Siwa dan Parwati keluar dari peraduan mereka.
            Karena semua dewa telah berbagi buah-buahan dari ritual untuk Dewa api maka semuanya mengalami rasa sakit dan muntah-muntah. Ketika mereka memohon petunjuk dari Dewa Siwa, Ia meminta nasehat Narada. Narada kemudian menyarankan agar muntahan yang akan dikeluarkan bisa dimuntahkan pada para wanita yang mandi dengan air dingin pada saat musim dingin. Ketika para istri ingin mandi, Arundhati mencoba untuk menghalangi mereka. Tetapi keenam istri rsi ini mandi dengan air yang dingin dan benih Agni memasuki mereka melalui pori-pori kulit mereka. Mereka seketika itu juga hamil, padahal suami mereka tidak ada di rumah. Tidak mampu menahan sinar matahari yang tajam mereka meminta bantuan Dewa Vayu (angin). Dewa Vayu meniup benih-benih itu ke sungai Gangga. Dengan terkirimnya hawa panas menuju sungai,sungaipun menjadi panas. Benih-benih ini tercerai berai dan hingga mencapai semak-semak. Benih-benih itu menjadi seorang anak (pada hari keenam) bulan Marghashirsa.
            Saat bayi itu tergeletak disemak-semak Wiswamitra kebetulan lewat disana. Bayi ini memintanya untuk melakukan karma weda yang berhubungan dengan kelahiran. Tetapi Rsi Wiswamitra menolak melakukan yadnya ini karena ayahnya adalah seorang Kshatriya yang bernama Gaadhi dan ia bukan seorang brahmana. Tetapi kemudian ia akan menjadi purohitanya tetapi ia harus merahasiakannya. Dengan berkah Kumaraswami, Wiswamitra  memiliki pengetahuan tentang Ketuhanan dan juga kebijakan.
            Setelah ritual itu usai, iapun diberinama dan dibanyakan peruntungannya. Agni datang dan mencium bayi itu. Ia memberkahi bayi itu dan memberinya senjata, shakti. Anak bayi yang mengambil senjata itu menuju ke sebuah bukit, ia memotong ujung bukit itu hingga jatuh ke tanah.
            Taraka tahu bahwa Kumaraswami telah mengirimkan pasukan yang amat besar untuk membunuhnya. Tetapi puncak bukit yang telah dipukul oleh Kumara telah jatuh dan menghancurkan pasukan ini. Suara puncak bukit yang jatuh telah menciptakan suara yang menggelegar di tiga dunia. Dewa Indra datang dan melihat Kumara yang telah menjatuhkan puncak bukit. Ia memukul Kumara pada bagian kanan. Darisana muncullah Shaaka terlahir. Kemudian Indra menghantamnya di bagian kiri darisanalah muncul Vishakha. Pasukan para dewa sangat ketakutan.
            Indra, bingung ia memukul Kumara pada bagian dada. Sosok yang amat shakti muncul. Semuanya menyerang Indra. Brahma datang dan menenangkan Kumara.
            Kemudian istri keenam rsi- masing-masing meminta putra. Kumara amat mengerti akan hal ini, dan iapun mengubah dirinya hingga memiliki enam muka. Keenam ibu ini memanggil Kritika agar mengambil Kumara.
            Saat itu Parwati sedang bersama Dewa Siwa dan menanyakan apa yang terjadi dengan benihnya. Dewa Siwa menanyai semua dewa dan Karmasaksi (matahari) untuk menghadap dan menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian ia mengirimkan Nandishwara untuk mengundang Kumaraswami ke Kailasha.
            Nandiswara pergi ke tempat itu dan menemukan Kumara telah bertumbuh menjadi Kaartikeya. Setelah melihat hal ini, Nandishwara menyampaikan undangan pada Kumaraswami. Kartikeya setuju untuk pergi tetapi Kritika sangat berat menginjinkan putranya tercinta pergi.Kemudian Kartikeya, yang juga bernama Vadivel, memberikan jnananya. Dengan menaiki kereta dengan seribu roda yang dikirimkan Parwati, Kumara segera menuju ke Kailasha. Ia menemui orang-tuanya dan memberikan salam hormat dengan kusyuk. Dewa Siwa memeluknya. Parwati sangat bahagia bersatu dengan putranya. Dihadapan pada dewa melakukan upacara penobatan Kumara. Ia memberinya sebuah trisula, sebuah busur, sebuah kapak, Shakti dan kemudian Shambavi Vidya. Saat itu, Dewa Wisnu memberikan Kumara sebuah mahkota bertahtakan permata dan sebuah kalung yang bernama Vijayanti. Brahma memberinya Yajnopavita (benang suci) dan sebuah kamandala (tempat air). Masing-masing dewa penguasa lima unsur memberikan Kumara hadiah. Kakek dari pihak ibunya memberikannya perhiasan berharga dan juga pakaian yang sangat indah. Setelah menerima hadiah itu Kumara meminta semua dewa yang ada disana untuk memberikan sesuatu padanya. Semuanya setuju meminta Dewa Siwa agar mengirimkan Kumara untuk membunuh Taraka. Kumara yang juga bernama Shanmukha, berangkat untuk mengalahkan raksasa Taraka.
           
                                                Terbunuhnya Taraka  

            Pertama Vibhadra ingin membunuh Taraka. Tetapi kemudian Brahma memberitahunya bahwa Taraka telah mendapatkan berkah bahwa ia tidak akan dibunuh oleh siapapun kecuali oleh putra seorang rsi yang sangat suci. Sementara itu Wisnu datang dan membunuh Taraka. Dewa Wisnu kemudian tak sadarkan diri, setelah itu Taraka yang tidak sadarkan diri. Vibadhra ingin memukul Taraka. Tetapi Kartikeya memintanya untuk berhenti dan menyerang raksasa. Ia merubuhkan Kartikeya dengan satu pukulan velayuntha. Sinar dari tubuh Kartikeya memenuhi seluruh dunia. Shamukha yang memperoleh kemeangan pergi ke Kailasha dan membuat orang-tuanya sangat bangga.
            Kabar kepahlawanan Kumaraswami sampai ke telinga Krauncha, raja gunung. Ia telah diganggu oleh raksasa yang bernama Banasura. Krauncha meminta pertolongan Kumara. Kumara mengirimkan senjata Shaktinya yang kemudian membunuh Banasura dan kembali pada Shanmukha, pemiliknya. Untuk menandai saat itu Kumaraswami menanam tiga lingga Siwa dan  dan membuat tugu peringatan di tempat itu. Selain itu, ia juga menanamkan sebuah lingga yang bernama Sthambheshwara. Dewa Wisnu dan dewa yang lainnya datang kesana dan juga menanam lingga disana.
            Setelah itu Kumaraswami membunuh raksasa lain yang bernama Pralamba atas permohonan Kumuda, putra Adishesha. Setelah membunuh raksasa itu, Subrahmanyeshwara (nama lain Shanmukha dan Kartikeya) menebarkan Dharma dan memberikan beberapa anugerah pada para bidadari yang memujinya. Setelah itu ia mengunjungi Sambashiwa di Kailasha.

                                                Munculnya Ganapati

            Suatu hari saat Dewi Parwati sedang mandi, Dewa Siwa tiba-tiba masuk. Dewi Parwati merasa malu, ia berhenti mandi dan segera menuju ke peraduannya. Pengawal pribadinya Jaya dan Wijaya mengatakan bahwa mereka tidak bisa menghentikan Dewa Siwa karena mereka hanyalah pelayan. Akan lebih baik menurut mereka jika Dewi Parwati memiliki penjaga sendiri layaknya Siwagana. Jika ia memiliki pengawal pribadi, ia bisa menghentikan Dewa Siwa. Jika Dewa Siwa adalah raja, maka Dewi Parwati adalah ratu. Mendengar hal ini, Dewi Parwati menggosok kotoran dari tubuhnya dan dalam sekejap ia membuat figur maskulin dan menghidupkannya. Saat itu juga seorang anak laki-laki yang gemuk dan lucu muncul. Ia memberkatinya dan menyuruhnya menjaga pintu. Anak itu menjaga pintu.
            Ketika Dewa Siwa datang dan hampir akan masuk, anak ini menghentikannya dan mengatakan bahwa tanpa ijin Dewi Parwati tidak ada yang boleh masuk. Pertarungan terjadi. Pengikut Dewa Siwa tidak bisa mengalahkan anak ini. Tiga kali mereka berusaha masuk tetapi tiga kali pula mereka gagal.
            Dewi Parwati mengetahui hal ini, merasa senang. Iapun memberitahu anak ini untuk tetap melakukan tugasnya.
            Dewa Siwa tidak ingin berkompromi. Brahma datang dan meminta anak ini jangan sampai terpengaruh. Mungkin anak ini berpikir bahwa ia juga adalah bagian dari para gana dan iapun menarik kumis dan jenggot Brahma. Dewa Brahma, mengatakan bahwa ia adalah seorang brahmana dan tidak akan melawannnya, iapun kembali kekediamannya.
            Tidak ada yang bisa mengalahkannya kecuali Kartikeya. Dewa Wisnu merasa bahwa tulangnya telah patah karena pukulan Ganapati. Doa pada dewa Siwapun diucapkan. Dewa mengangkat trisulanya dan mengarahkannya pada leher anak itu. Kepala anak itu terpenggal dan dibawa kehadapan Dewa Siwa.
            Dewi Parwati sangatlah marah. Dari kemarahannya itu muncullah kekuatan yang amat dahsyat. Karati, Kubjuka, Kanza, Lambhashirsha dan yang lainnya. Bahkan Dewa Siwa sendiri sangatlah terkejut. Ia hanya melihat saja tapa melakukan apapun. Para bidadari dan juga para dewa memohon pada Dewi Parwati. Para rsi dan orang suci yang dipimpin oleh Narada menghadapnya. Rajajeshwari tetap bersikeras bahwa putranya harus dihidupkan kembali. Ia mengatakan pada Siwa bahwa ia tidak akan menarik Shakteya gananya.
            Dewa Siwa menyerah. Ia mengirimkan gananya untuk pergi ke utara dan mengambil kepala binatang apapun yang bisa mereka peroleh. Sementara itu tubuh anak tanpa kepala itu telah dimandikan dan dihias dengan perhiasan dan juga diwangikan dengan parfum. Dengan cepat para gana kembali dengan kepala gajah dan mereka memasngkannya pada tubuh anak itu. Para bidadari dan para dewa berdoa agar sinar dewa menyatukan kepala gajah dan tubuh anak itu. Dewa Siwa menjawab doa itu. Ganapati hidup dengan kepala gajah. Anak ini bercahaya kemerahan. Ibu Mulia sangat bahagia. Ia bahagia karena putranya telah hidup kembali walaupun hanya dengan kepala seekor gajah. Ia telah puas dan dunia kembali aman.

                                    Penobatan Vinayaka sebagai Ganadhipati (pemimpin para gana)

            Semua dewa dan bidadari melangsungkan penobatan Ganapati. Karena kulitnya seperti sindhur maka ia dipuja dengan sindhur. Diantara para dewa Ganapati akan menerima pemujaan pertama. Ia akan menjadi pemimpin Siwa Gana. Ia adalah dewa para vighna- halangan atau rintangan. Dewa Siwa mengumumkannya sebagai putranya. Ia diberkahi menjadi dewa yang akan selalu dipuja pertama pada awal semua pemujaan untuk mencapai keberhasilan.
            Eshwar juga memberkahinya. Ulang tahunnya (hari keempat bulan Bhadrapada) akan dirayakan sebagai Ganesha Chaturthi. Bagi mereka yang memuja Ganesha pada hari itu, tidak akan pernah mengalami kegagalan yang disebabkan oleh halangan atau rintangan.
            Suta Muni kemudian menceritakan cerita tentang Vighna Nayaka pada para rsi dan juga orang-orang suci. Para pendengar meminta agar pencerita lebih jauh lagi menceritakan tentang pertentangan yang terjadi antara Kumaraswami dan Ganapati mengenai perkawinan.
            Suta memulai cerita itu sebagai berikut:
            Dari waktu ke waktu, kedua putra Dewa Siwa semakin mendekati waktu untuk menikah. Keduanya menghadap orang-tua mereka dan meminta mereka untuk menyelenggarakan perkawinan. Masalah muncul ketika masing-masing ingin agar perkawinan merekalah yang dilaksanakan terlebih dahulu. Kemudian orang-tua mereka memutuskan siapapun yang berhasil kembali lebih dahulu setelah mengelilingi jagat-raya maka itulah yang akan menikah lebih dahulu. Kumaraswami segera menaiki burung meraknya. Tetapi Ganapati hanya duduk saja. Kendaraannya adalah seekor tikus. Ia menggunakan buddhinya dan setelah mandi di sungai suci iapun mengelilingi orang-tuanya tiga kali dan menyatakan dirinya sebagai pemenangnya.
            Ketika orang-tuanya bertanya padanya bagaimana bisa ia menang, ia memberitahu mereka dengan hormat dan menunduk bahwa menurut Sashtra siapapun yang mengelilingi orang-tuanya tiga kali dengan penuh ketulusan dan rasa bakti sama dengan mengelilingi jagat-raya ini tiga kali. Prajapati Wiswarupa membenarkan hal ini. Prajapati kemudian memberikan dua putrinya Siddhi dan Buddhi untuk dinikahkan dengan Ganesha.
            Saravana setelah kembali dari mengelilingi jagat-raya diberitahu oleh Narada bahwa Ganapati telah menang. Kumaraswami sangat marah. Setelah memohon pamit pada orang-tuanya ia pergi ke Gunung Krauncha. Itulah alasan kenapa orang yang memuja Kartikeya pada bulan Kartik pada saat purnama di bawah pengaruh bintang Kritikka akan terbasuh dari dosa-dosanya.
           
                                    Munculnya Shri Shaila
            Parwati sangat sedih karena putranya tercinta telah pergi darinya. Ia berdoa pada Dewa Siwa dan mereka berdua mengunjungi putranya di gunung. Disana Dewa Siwa menjadi Mallikarjuna, sebagai Jyotirlingga. Dewi Parwati kemudian mengubah dirinya menjadi Bhramarambika.
            Kumaraswami tidak menyukai hal ini. Ia ingin meninggalkan Krauncha sehingga iapun mendapat gelar Shri Shaila. Tetapi karena ia tidak merasa hal ini baik maka iapun hanya pindah sekitar tiga yogana dan tinggal disana. Itulah mengapa ia mendapat sebuat Shri Shailam.
            Kemudian atas permintaan orang suci dan para rsi, Maharshi Suta menceritakan cerita tentang terbunuhnya raksasa Tripara.
            Taraka yang telah dibunuh oleh Kumaraswami memiliki tig  a anak yaitu: Tarakasha, Vidyunmali dan Kamalaksha. Ketiga anak raksasa ini melakukan tapa brata untuk mendapatkan kesaktian. Ketika Brahma menampakkan dirinya masing-masing meminta satu kota. Satu raksasa meminta ‘ kota emas’ yang kedua meminta ‘kota perak’ dan yang ketiga meminta ‘kota besi’. Setelah seribu tahun dewa, pada malam hari ketika bulan dalam posisi Pushyami, ketika dua awan yang bernama Pushkala dan avarta turun hujan dengan lebat, maka ketiga kota ini akan hancur. Hanya raja para dewa dengan kendaraan kereta yang tidak diketahui akan membunuh mereka semua dengan satu panah saja.
            Brahma khawatir. Ia memikirkan Dewa Siwa sesaat dan meyakinkan mereka bahwa anugerah yang mereka minta akan dikabulkan. Maya ( Vishwakarma) membangun ketiga kota ini. Para pemimpin raksasa ini kemudian melatih pasukan raksasa lainnya disana.
            Dengan pasukan raksasa yang telah berkumpul, para raksasa menyerang para dewa. Para dewa ketakutan. Mereka menghadap Dewa Siwa untuk memohon bantuan, Dewa Siwa mengatakan selama para raksasa masih menjalankan Dharma maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk membuat mereka menyeleweng dari Dharma, Dewa Wisnu menciptakan Arihan.
            Keturunan Arihan adalah seperti brahmana. Ia membawa buku di tangan. Ia meminta sedekah. Dewa Wisnu mengatakan bahwa mereka akan dipuja dimana Dewa Wisnu dipuja. Kemudian Dewa Wisnu meminta mereka membuatkan mantra yang salah sehingga para raksasa akan menyeleweng dari jalan dharma dan bisa dihancurkan. Dan mantra ini akan menyebar pada jaman Kaliyuga. Arihan melakukan apa yang diperintahkan. Narada berpura-pura menjadi penganut Arihan ia pergi kekota Tripura dan meyakinkan mereka bahwa apa yang dilakukan oleh Arihan adalah benar. Dengan mantra dari Dewa Siwa, seluruh tempat dipenuhi dengan wanita. Kekuatan tapasya raksasa kehilangan sinarnya. Melihat hal ini Dewi Kemiskinan (daridra devta) tiba di tempat ini.
            Para raksasa menyeleweng dari Dharma. Dewa Wisnu menemui Dewa Siwa dan Dewa Siwa memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap. Wiswakarma membuat sebuah kereta yang amat kuat dan indah dan iapun langsung menjadi kusirnya. Dewa Hari (Wisnu) mengubah dirinya menjadi panah. Dengan tujuh rsi yang membimbing kereta mereka menjadikan kelima weda sebagai kuda-kudanya, kereta ini sangat indah dan mengagumkan.
            Dewa Siwa menembakkan panah pada saat yang tepat setelah ia menunggu selama seratus tahun. Pada saat tengah hari bulan dala posisi Pushyami dan ketiga kota akan menjadi satu garis. Ketiga raksasa ini tebakar binasa.
            Kemudian Brahma dan yang lainnya meminta Arihan dan muridnya dan meminta mereka untuk tinggal di puncak gunung hingga Kaliyuga tiba. Pada jaman Kaliyuga, ia akan dipuja tetapi mereka yang tahu akan tetap berada pada jalan Dharma dan Kebenaran sehingga mendapatkan surga dalam kehidupan mereka.

Cerita tentang Jalandhara
           
            Atas permintaan para rsi dan juga orang suci Suta Muni menceritakan pada mereka cerita tentang Jalandhara.
            Suatu kali Purandara dan Brihaspati pergi bersama ke Kailasha. Hanya untuk menguji mereka Dewa Siwa menyamar menjadi Betala. Indra yang tidak mampu mengenalinya menanyakan pada Betala itu, siapa dia. Ia menanyakan tentang Dewa Siwa. Indra ingin membelah betala itu menjadi dua dengan senjatanya yang terbuat dari permata. Dewa Siwa menjentikkan jarinya dengan sebuah mantra dan senjata itupun menjadi tidak berguna. Dari ketiga matanya muncullah sebuah api yang sangat besar. Kemudian Dewa Indra menyadari kesalahannya dan memohon ampunan Dewa Siwa. Brihaspati meminta Dewa Wisnu memohon pada Dewa Siwa. Siwa menjadi berkenan dan mengarahkan api amarahnya ke lautan garam (lavan samudra) dan api itu hilang.
            Api itu kemudian diubah menjadi seorang anak, Jalandhara. Dengan berkah Brahma ia menjadi sangat kuat. Ia menikah dengan putri raja raksasa Brinda dan kemudian ia sendiri menjadi raja dan hidup berbahagia.
            Jalandhara meminta Guru Shukracharya menanyakan kenapa Rahu tidak memiliki kepala. Shukra menceritakan padanya tentang cerita pengadukan lautan (sagara manthana). Kemudian Jalandhara sangat marah pada para bidadari dan mengumumkan perang pada mereka. Para bidadari mengungsi di gua-gua Meru. Jalandhara menguasai Surga  dan pergi mencari para bidadari dan maklhuk surgawi yang meminta perlindungan Dewa Wisnu. Ketika Dewa Wisnu akan membunuh Jalandhara, Lakshmi, shaktinya memohon agar ia tidak membunuhnya, karena Jalandhara juga terlahir di lautan, sehingga ia adalah saudaranya juga. Peperangan terjadi cukup lama.
            Dewa Wisnu akhirnya meminta Jalandhara untuk meminta anugerah darinya. Jalandhara meminta Dewa Wisnu bersama Dewi Lakshmi untuk tinggal di Vaikuntha bersamanya. Para dewa dan makhluk surgawi lainnya sangat marah pada Jalandhara karena ia mengajak raksasa untuk tinggal di surga. Karena Dewa Wisnu tinggal bersamanya tidak ada kekacauan, semuanya hidup damai dan berkecukupan.
           
Narada Mempengaruhi Jalandhara – misi Rahu sebagai utusan

            Walaupun rakyatnya bahagia, bagi pada bidadari dan makhluk surgawi lainnya pemerintahan Jalandhara sangatlah menyiksa. Mereka berdoa pada Dewa Siwa. Diberikan petujunjuk oleh Dewa Siwa, Narada datang pada Jalandhara dan menyarankan ia agar meminta Dewi Parwati pada Dewa Siwa. Jalandhara berbicara terus terang pada Dewa Siwa. Ia mengirimkan Rahu sebagai utusan pada raja raksasa.
            Rahu menemui Dewa Siwa dan menyampaikan pesan dari Jalandhara. Dewa Siwa sangat marah hingga ia ingin menghukum Rahu. Rahu kemudian mengatakan bahwa ia hanyalah seorang utusan bukan seorang musuh. Dewa Siwa mereda amarahnya dan mengirim Rahu ke negara Barbara dan sejak saat itulah Rahu disebut sebagai Barbar. Barbar kembali pada Jalandhara mengatakan apa yang telah terjadi dan kemudian ia bersiap-siap untuk berperang dengan Ganggadhar. Pada saat diperjalanan mereka bertemu dengan beberapa raksasa jahat. Para dewa memakai kesempatan ini untuk memohon bantuan pada Dewa Siwa. Karena ia telah mengarahkan api amarahnya ke lautan, iapun akhirnya berjanji akan membunuh Jalandhara dengan tangannya sendiri.
            Terjadi perseteruan yang amat besar antara para dewa dan raksasa. Shukra menggunakan Mrita Sanjivani Vidya, sebuah seni atau ilmu yang bisa menghidupkan raksasa yang telah mati. Dewa Siwa sangat marah dan dari mulutnya ia menciptakan Kritya. Kritya memenjarakan Shukra di suatu tempat dan iapun terbang ke angkasa. Lebih banyak lagi raksasa yang maju menyerang tetapi Nandiswara, Vighneswara dan Kumaraswami mengalahkan mereka semua.
            Jalandhara mendapat kabar tentang perang itu dan iapun marah. Ia sangat marah. Dewa Siwa dengan senjatanya pinaka menyerangnya. Tetapi Jalandhara menembakkan tujuh puluh panah pada saat bersamaan pada Dewa Siwa. Dewa Siwa mematahkan seluruh panah itu dan menjadikannya setumpukan kayu. Dan kemudian Dewa Siwa melemparnya ke tempat yang jauh. Jalandhara merasa ia bisa menang melawan Dewa Siwa jika ia melakukan tipu daya. Ia memenuhi medan perang dengan nyanyian dan bidadari yang menari. Mengubah dirinya menjadi Dewa Siwa, Jalandhara mendekati Dewi Parwati. Hanya dengan memandang Dewi Parwati saja Jalandhara telah mabuk kepayang. Mengetahui niat jahat raksasa ini, Dewi Parwati meminta Dewa Wisnu untuk mengganggu Brinda, istri Jalandhara. Dewi Parwati menjamin bahwa karena itu hanyalah perintah, tidak ada dosa yang akan dapat menyentuh Dewa Wisnu karenanya.
           
                                                Dewa Wisnu menodai Brinda

            Istri Jalandhara mendapat mimpi buruk. Ia khawatir akan keselamatan suaminya. Ia bermimpi bahwa dalam mimpinya dari mata seorang pertapa muncullah dua ekor kera yang mengoyak kaki dan tangan Jalandhara dan kemudian membawa pergi satu persatu. Brinda berdoa demi keselamatan suaminya dengan doa ia mengembalikan kembali potongan tubuh suaminya dalam mimpi menjadi hidup lagi. Dan pertapa yang ada dalam mimpi itupun hilang. Ia kemudian bercinta dengan seorang pria yang ia kira suaminya. Mengetahui bahwa ia adalah Dewa Wisnu, Iapun mengutuk Dewa Wisnu suatu hari sitrinya akan diculik oleh raksasa dan ia akan mengembara mencarinya dengan ditemani oleh Nagasesha. Kemudian iapun mendekati api suci dan membakar dirinya. Dewa Wisnu sangat sedih dan iapun menangisi Brinda yang telah menjadi abu.</div>
            Ketika Dewi Parwati muncul setelah mengutuknya, Jalandhara kembali ke medan perang. Ia menciptakan Dewi Parwati yang lain dengan mantra dan mengikatnya pada kereta Shumbha dan Nishumbha dan menuruh orang untuk memukulnya. Dewa Siwa sangat terkejut dan iapun menembakkan panahnya. Ia sangat berduka atas Parwati. Ia mengambil busurnya lagi. Melihat Dewi parwati dianiaya, Dewa Siwapun mengutuk mereka, bahwa dua raksasa kembar ini akan dibunuh oleh Dewi Parwati.
            Jalandhara kemudian memukul Dewa Siwa dengan Gada. Ketika kendaraan Dewa Siwa pergi, Dewa Siwa mengusap ibu jari kakinya di air dan muncullah roda yang sangat besar. Ia mengarahkannya pada Jalandhara. Dengan tubuh yang dijepit oleh roda itu Jalandhara dibuang ke dalam api oleh Dewa Siwa. Dunia tenang dan damai kembali.

                                    Cerita tentang Shankachuda

            Cucu laki-laki Kashyapa, Dambha adalah pemuja Dewa Wisnu yang taat. Di Pushkar Kshetra ia melakukan tapasya selama ratusan tahun. Ketika Dewa Wisnu menampakkan diri padanya ia bertanya pada Dhamba apa yang ia inginkan. Dhambha meminta putra yang pemberani, berbakti, kuat dan cukup sakti untuk mengalahkan dewa. Doanya terkabul.
            Kemudian seorang gembala yang bernama Sudama dikutuk oleh Radha dari Gauloka iapun terlahir menjadi putra Dhamba. Ia diberi nama Shankachuda. Anak ini melakukan tapasya yang sangat mendalam hingga Brahma memanifestasikan dirinya dan memberinya Krishna Kavacha. Ia diminta oleh Dewa Wisnu untuk menikah dengan Tulasi, putri Dharmadhwaja.
            Shankachuda pergi ke Badarikaasharama menikahi Tulsi dengan tradiri Gandharwa. Kemudian setelah mendapat pengaruh dari Shukra, ia menjadi benci pada para dewa yang melakukan kecurangan pada saat pengadukan lautan susu. Mengetahui kelahirannya sebelumnya, walaupun ia terlahir sebagai raksasa ia tidaklah jahat. Tetapi ia tidak suka dengan para dewa.
            Para dewa yang dipimpin oleh Brahma dan Dewa Wisnu, menemui Dewa Siwa untuk melaporkan tentang Shankachuda. Dewa Siwa menyatakan perang dengannya. Melihat Dewa Siwa mendekat, Shankachuda turun dari keretanya dan memberikan hormat pada Dewa Siwa, dan kemudian ia mulai bertarung lagi.
            Dalam sekejap perang ini menjadi sangat sengit. Bahkan Dewa Siwa terlihat mulai lelah. Kemudian langit berkata selama Shankachuda memiliki Krishna Kavaca tidak ada yang bisa mengalahkannya. Sesaat kemudian Dewa Wisnu datang dan menyamar menjadi seorang brahmana dan meminta kavacha (perlindungan) yang ia miliki. Setelah diberikan oleh Shankachuda iapun menemui Tulsi dan tidur dengannya. Dewa Siwa tahu bahwa pengabdian yang dimiliki wanita ini pada suaminya tidak akan ada artinya. Kemudian Dewa Siwa melempar Trisulanya Vijaya pada Shankachuda yang membakarnya hingga mati.
            Para dewa merasa sangat lega. Dewa Siwa kembali ke Kailasha.
            Ditanyai oleh para rsi dan orang suci tentang apa yang terjadi pada Tulsi, Suta Muni melanjutkan ceritanya kembali.
            Tulsi menyadari bahwa orang yang tidur dengannya bukanlah suaminya. Dewa Wisnu memperlihatkan dirinya. Iapun mengatakan bahwa Dewa Wisnu sangat kejam dan mengutuknya bahwa ia akan menjadi batu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Dewa Wisnu meminta pertolongan dewa Siwa. Dewa Siwa datang, menenangkan mereka berdua dan meminta Tulsi untuk pergi ke Vaikuntha dan hidup bahagia disana. Tubuh manusianya akan dibuang ke sungai Gandaki, sungai suci dan disanalah Dewa Wisnu menjadi batu. Dari tempat dimana ia meninggalkan badan kasarnya, sebuah tanaman muncul dan ini menjadi pohon tulsi. Basil adalah tanaman suci bagi semua. Sungai Gandaki adalah sungai yang sangat suci dan banyak memiliki batu salagrama.
            Kemudian Suta Muni menceritakan cerita tentang Andhakasura.
           
                                                Cerita tentang Andakasura

            Suatu hari Dewa Siwa dan Dewi Parwati menuju ke Mandaragiri. Ketika Dewa Siwa sedang melihat ke arah timur, shaktinya menutup matanya dari belakang. Terjadi kegelapan di seluruh jagat-raya. Dari tangan Ibu mulia keluarlah keringat. Dari keringat inilah muncul seorang anak yang buta. Ia bernama Andhaka. Parwati kemudian membesarkan anak ini.
            Saat itu, raksasa bersaudara Hiranyaksh dan Hiranyakashipu, melakukan tapasya agar Dewa Siwa menampakkan dirinya. Ketika raksasa ini meminta putra, Andhaka diberikan pada mereka. Ayah yang berbahagia ini kembali ke rumah dengan bahagia. Sejak saat itu ia terus memenangkan peperangan dan memiliki beberapa kerajaan. Para dewa dan orang suci khawatir. Kemudian Dewa Wisnu muncul sebagai seekor babi suci. Ia membunuh Hiranyaksh dan menyelamatkan bumi. Kemudian Andhaka melanjutkan ayahnya menjadi raja. Ia kemudian dikenal dengan nama Andhakasura.
            Indra dan yang lainnya berpikir karena Andhaka buta maka ia tidaklah berbahaya. Walaupun Andhaka sangat baik, Prahlada dan yang lainnya mengatakan bahwa ia tidak pantas menjadi raja karena ia bukan putra Hiranyaksh secara langsung. Ia adalah anak buangan dan tahta ini hanyalah kebetulan diberikan padanya. Andhaka yang buta ini pergi ke hutan. Kemudian ia melakukan tapsya hingga Dewa Brahma berkenan muncul. Ia memberkahinya dengan penglihatan, keberanian dan kekuatan. Pada saat itu Brahma memberikan anugerah bahwa ia tidak akan pernah takut hingga ia meminta sebuah anugerah yang tidak pantas untuk diminta.
            Andhaka kembali ke kerajaan dan menjalankan haknya menjadi raja. Ia memenangkan pertarungan melawan para dewa. Selama ribuan tahun, ia melakukan tapasya dan hidup dengan banyak wanita yang bisa ia sentuh.
            Ketika ia pergi ke Gunung Mandara dan melanjutkan kehidupan yang sama ketika ia ada dikerajaan, yaitu hidup dengan banyak wanita cantik, menterinya melaporkan bahwa ada seorang pertapa yang hidup dengan seorang wanita yang sangat cantik.
            Saat itu juga Andhaka meminta pada pertapa itu untuk menyerahkan istrinya. Pertapa ini tidak mau mendengarkan permintaan raksasa.
            Andhaka sangatlah marah dan iapun mabuk. Mendengar hal ini Prahlada dan yang lainnnya membuat keributan disana. Tapasya Dewa Siwa terganggu. Ia langsung bertarung melawan musuh-musuhnya.
            Pertarungan semakin sengit. Shukra menghidupkan raksasa yang telah mati. Kemudian Dewa Siwa menelan Shukra. Raksasa yang mati tidak bisa dihidupkan kembali. Dengan trisulanya yang telah tertanam di badannya, Dewa Siwa mengangkatnya ke udara.
            Entah hidup atau mati Andhaka tidak bisa seperti itu selamanya. Ia memohon pada Dewa Siwa. Dewa Siwa memberinya berkah bahwa ia akan menjadi pemimpin para gana.
            Suta mulai bercerita lagi.
            Shukra, juga dikenal dengan nama Bhargawa, berada di perut Dewa Siwa dengan sangat tak berdaya. Iapun berdoa pada Dewa Siwa dan terus menerus melakukan japa atas nama Dewa Siwa. Akhirnya, Dewa Siwa memberkahinya dan meminta ia keluar dari bagian repoduksinya sebagai sperma. Sejak itulah ia disebut dengan Shukra. Dewa Siwa memberkahinya dengan mengatakan bahwa ia akan menjadi putranya.
            Kemudian Suta Muni menceritakan tentang cerita Banasura

                                                Cerita tentang Banasura

            Banasura adalah keturunan Bali, raja yang telah memberikan semua kerajaannya dan membuat Dewa Siwa sangat berkenan. Meminta anugerah padanya, Bana meminta-Nya untuk tinggal bersamanya di Shonitapura. Saat tinggal disana Dewa Siwa merasa sangat nyaman dan ia merindukan shaktinya. Dan iapun mengirimkan pesan pada Nandishwara. Ia segera menghadapnya.
            Sementara itu putri Banasura, Usha menyamar menjadi Dewi Parwati dan menemuinya. Tetapi pada saat yang sama Dewi Parwati datang. Ia memahami niat wanita muda ini. Ia memberkahi Usha. Ia memberitahunya untuk melakukan puasa selama sehari dan berlaku suci. Pada hari kedua belas pada bulan Kartika, seorang pria akan datang padanya dan lelaki itu akan menjadi suaminya. Setelah mengatakan itu Dewi Parwati pergi.
            Setelah semua kejadian itu, suatu hari Banasura mendekati Dewa Siwa dan mengatakan bahwa Dewa Siwa tidak memberinya seorang musuh untuk dia lawan dengan tangan yang telah ia berikan.
            Dewa Siwa amat marah. Ia berkata pada raksasa itu bahwa ia telah menjadi sombong dan mengutuknya bahwa suatu kali keretanya akan jatuh begitu saja tanpa sebab apapun. Kemudian pertarungan yang sengit akan terjadi dan pemuja Dewa Siwa akan memenggal kepala raksasa ini. Bana diminta untuk menunggu hari itu tiba.
            Banasura pergi dan mengatakan bahwa itu semua adalah anugerah. Seperti yang dikatakan Dewa Siwa, suatu hari kereta Banasura jatuh begitu saja. Bana bahagia karena ia bisa menggunakan kekuatannya.
           
                                                Usha- Aniruddha

            Usha, seorang pengikut Dewa Siwa dari sejak ia kecil, berpuasa pada hari keduabelas bulan Kartika. Suatu kali ia tertidur, dan Aniruddha, cucu Krishna menyelinap ke tempat tidurnya dan tidur dengannya. Ia bahagia tetapi ia sadar bahwa ini terjadi sebelum upacara pernikahan. Ia mengakui apa yang telah ia lakukan pada Chitralekha. Chitralekha dengan kekuatan yoganya menculik Aniruddha dan menyembunyikannya di kamar Usha. Penjaga mengetahui hal ini dan Bana sangat gusar atas yang terjadi. Banasura ingin membunuh Aniruddha dengan Nagapashanya. Tetapi ketika ia akan membunuhnya sebuah suara keluar dari langit mencegahnya, kemudian Aniruddha dipenjara.
            Tidak mampu menahan jeratan dan juga gigitan ular, Anirudhha mulai berdoa pada Ibu Mulia. Pada hari keempat belas bulan kedua Jyesta, Ia bermanifestasi, melepaskan ikatannya dan membebaskannya. Setelah itu pasangan itu hidup bahagia menyatu.
            Dengan hilangnya Aniruddha, orang-orang di Dwaraka sangat sedih. Narada datang dan menceritakan apa yang telah terjadi. Shri Krishna dengan pasukan sejumlah akshaunhini melakukan pengepungan ke Shonitapura.
            Raksasa Bana sangat siap untuk bertarung. Dewa Siwa siap untuk melindungi Bana karena ia tinggal di istana Bana. Dewa Siwa dan Krishna bertatap muka. Krishna memberitahu Dewa Siwa bahwa ia datang kesana sesuai dengan kutukan Dewa Siwa pada Bana.
            Dewa Siwa tertawa dan mengatakan bahwa ia tidak ingin kutukannya tidak terjadi. Ia meminta Krishna untuk menggunakan astra (senjata panah) yang bernama jrumbhan tidak dipakai. Kemudian Krishna bisa melakukan apapun untuk membunuh Bana.
            Krishna melakukan serangan pada raksasa itu. Pertempuran ini berlangsung lama. Pada akhirnya Krishna menggunakan senjatanya dan memotong 996 tangan Bana. Kemudian ia mengarahkan senjata itu pada kepala raksasa itu. Dewa Siwa mengingatkan Krishna bahwa ia mengijinkan ia memotong tangan Bana tetapi tidak kepalanya.
            Sudharshana cakra, senjata Dewa Wisnu telah ditarik. Bana dan Krishna telah berbaikan. Usha dan Aniruddha menyatu dalam perkawinan suci. Sri Krishna dan cucunya bersama dengan pengantin wanita meninggalkan Dwaraka. Kemudian Bana diajarkan kebijaksanaan oleh Nandikkeshwara dan dengan berkah Dewa Siwa ia tinggal di Kailasha sebagai Mahakala.
           
                                    Cerita tentang Gajasura

            Diminta oleh para rsi dan juga orang suci Suta Muni melanjutkan ceritanya tentang Gajasura.
            Gajasura adalah putra dari Mahisasura. Ia melakukan tapa yang sangat kusyuk pada Brahma dan kemudian ia diberikan berkah agar ia tidak pernah dibunuh oleh manusia, wanita, dewa atau bidadari. Ia ingin menikmati semua yang ada dan juga kemewahan. Ia telah menguasai ketiga dunia. Ia mengusir mereka yang mengikuti kebenaran dan Dharma. Ia pergi ke Kashi untuk mengganggu para rsi yang ada disana- Dewa Siwa tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kemudian ia bertarung dengannya dan memberinya pelajaran. Tubuh raksasa ini sekitar sembilan ribu yard. Dewa Siwa mengangkatnya ke udara dengan senjatanya. Raksasa ini nampak seperti sebuah payung yang sangat besar. Ia kemudian menyarankan Dewa Siwa untuk menggunakan tubuhnya untuk melindungi kulitnya, karena Dewa Siwa tidak memakai busana. Dewa Siwa kemudian memberikannya anugerah bahwa ia akan menjadi linggasiwa yang disebut dengan Krittivasheswara. Dewa Siwa kemudian dikenal dengan nama Krittivasheshwara sejak ia memakai busana dari gajah.
            Suta Muni menceritakan cerita tentang Vyaghreshwara. Hiranyaksha dan Hiranyakashipu memiliki ipar yang bernama Dundubhi Nishada, disebuah hutan yang bernama Jyeshthana. Pada hari Siwaratri seorang pemuja saat memuja Dewa Siwa sedang diganggu oleh raksasa yang menyamar menjadi seekor singa. Untuk menyelamatkan pemuja ini, Bharga bermanifestasi dan menghancurkan harimau ini dengan tangannya. Pemuja datang ketika mendengar raungan raksasa ini dan melihat Dewa Siwa secara langsung. Mereka memujanya dan ditempat itu sebuah lingga dipasang. Disana Dewa Siwa dipuja sebagai Vyaghreshwara.
            Kemudian Suta Muni menceritakan tentang Vidalotpala pada para rsi dan orang suci.
            Terdapat dua raksasa yang bernama Vidala dan Utpala. Mereka mendapatkan anugerah bahwa mereka tidak akan bisa dibunuh oleh manusia atau dewa. Narada, atas saran Dewa Siwa, menemui mereka dan memuji kecantikan Ibu Mulia. Mereka menuju angkasa mencari-Nya. Mereka menemukannya sedang bersama Dewa Siwa. Dewi Parwati begitu cantik. Melihat hal ini Dewa Siwa semakin kagum dan bercahaya dengan cinta.
            Saat ini terjadi kedua raksasa ini melihat mereka. Mereka menyamar sebagai pengikut Dewa Siwa dan mendekati Dewi Parwati. Dewi Parwati melihat hal ini dengan ujung matanya.
            Pasangan dewa ini sedang menikmati waktu mereka. Tiba-tiba Ibu Mulia melempar bola yang terbuat dari bunga pada dua raksasa itu dan kedua raksasa itu jatuh dari angkasa dan hingga mencapai Kashi. Bola yang menjatuhkan mereka, menggelinding hingga ke bumi dan berdiri di dekat Jyeshteswara lingga dalam wujud lingga yang lain. Lingga ini juga disebut sebagai Kandukeshwara lingga. Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan dewa yang lain juga datang kesana dan memuja lingga yang ada disana.
            Sehingga berbagai nama yang diperuntukkan bagi Siwa tiada akhirnya dibuat sehingga menghasilkan karya sastra seperti Siwatatwa.
            Sehingga kitapun telah menyelesaikan Samhita yang kedua yang bernama Rudra Samhita. Mengatakan hal ini Suta Muni kembali melakukan pertapaan.



Akhir dari bagian kedua Rudra Samhita dalam Siwa Purana
yang terdiri atas Tujuh Samhita



           
Shata Rudra Samhita

Samhita yang ketiga

Lima Inkarnasi Brahma

            Kata Suta Muni
            Inkarnasi Dewa Siwa yang pertama muncul pada Swetalohita yang kesembilan belas. Swetalohita adalah waktu ketika Dewa Brahma melakukan meditasi, muncullah seorang putra yang bercahaya merah, putih dan hitam. Karena ia lahir ketika Brahma bermeditasi pada Dewa Siwa, anak ini kemudian dianggap sebagai inkarnasi Brahma yang terlahir. Darinya muncullah Nanda, Upananda, Sunanda dan Vishwananda sebagai murid dengan kulit yang amat putih. Sadyojata (terlahir sendiri) memberkahi Brahma dengan kemampuan untuk mencipta dan menghilang untuk menyebarkan Jnana Dewa Siwa.
            Pada Vartaka yang keduapuluh ketika Brahma yang mengeluarkan warna merah sedang berdoa pada Dewa Siwa- inkarnasi Vamadewa muncul dan bersamanya muncullah Viraja, Vivaha, Vishoda dan Vishwa Bhavana sebagai empat murid. Vamadewa dinberkahi oleh Brahma dengan kekuatan menciptakan dunia dan menghilang.
            Pada putaran yang kedua puluh satu yang disebut sebagai Petavasa, Dewa Siwa mengambil inkarnasi sebagai Tatpurusha Brahma yang memakai busana dari sutra. Dalam inkarnasi  ini,  Ia memberkahi Brahma dengan kemampuan dan juga keterampilan mencipta dan menghilang. Kemudian putra berbusana sutra terlahir darinya. Semuanya adalah guru yoga Marga, jalan yang diberkahi. Pada putaran berikutnya, ia terlahir sebagai Agha Brahma dengan busana hitam, kalungan bunga berwarna hitam, benang suci berwarna hitam (jahnu) dan juga mahkota hitam. Shivudu, Krishnasya, Krishnashikha, Krishna Kanthadhara adalah empat murid Brahma.
Mereka menghilang setelah menyempurnakan kemampuan Brahma.
            Inkarnasi yang kelima adalah Ishana. Dalam putaran waktu yang disebut dengan Wisnurupa, saat Brahma dalam meditasi yang mendalam untuk mendapatkan penyebab Purusha, sebuah nada yang besar muncul. Nada adalah sebuah suara yang suci dan harmonis. Dari suara itu muncul seseorang yang bersinar bagai kristal putih- dan berhiaskan perhiasan yang indah. Empat murid Ishana adalah Jati, Mundi, Shikandhi dan Arthamundi.
            Kelima inkarnasi itu adalah inkarnasi Brahma. Dari semuanya, Ishanalah yang paling penting- yang terletak diatas jiva. Ia juga adalah tatpurusha juga. Ia juga terdapat pada guna-satwa, rajas dan tamas. Aghora berada pada kualitas intelek. Vamadewa berada pada ahamkara dan Sadyojata ada pada manas. Yang kemudian penting untuk dibahas adalah delapan manifestasi Siwa.
            Delapan patung Dewa Siwa

            Dewa Siwa digambarkan dengan delapan murti (penampakan). Kesemuanya juga bermanifestasi. Sarva adalah yang pertama. Ia berada di bumi- yang artinya bahwa bumi adalah bentuk Dewa Siwa. Secara literal, Sarva artinya ia yang memiliki personalitas dan wujud seperti bumi. Dengan cara yang sama ia adalah juga dewa air- memiliki personalitas dan perwujudan air. Kemudian ia adalah udara, dan api, ‘Ugra’ dan ‘Rudra’. Ia adalah langit. ‘Bhima’- ia yang berada pada jiwatma sebagai ia yang mengetahui medan ‘Kshetrajajna’. Manifestasi keenamnya adalah Pashupati- ia yang menyerap pada matahari dan memberikan cahaya. Yang ketujuh adalah Ishana. Mahadewa, yang menguasai bulan adalah yang kedelapan, yang bisa dilihat. Berada dalam semua, menyerap ke dalam segalanya dan ada dimana-mana sebagai sat-chit-ananda, Dewa Siwa yang adalah cahaya ada disana dalam posisinya.
            Kemudian muncullah manifestasinya yang setengah laki-laki dan setengah perempuan yang melampaui lima Brahma dan delapan murti, ini adalah manifestasi yang keempat belas. Walaupun Brahma menciptakan manusia, tetapi tidak terdapat pertumbuhan dalam diri mereka. Tidak terjadi prokreasi. Suara angkasa (akashvani) memerintahkan seharusnya ada sepasang manusia – seorang laki-laki dan wanita. Brahma tidak paham. Ia berdoa pada Dewa Siwa. Dewa Siwa memberinya berkah dengan menampakkan diri sebagai setengah pria dan wanita. Ia mengeluarkan Shakti dari dalam dirinya dan Brahma berdoa padanya, “ Ibu, berkahilah aku dengan kekuatan untuk mencipta wanita!”. Kemudian dari tempat itu muncullah alis, seorang dewi yang amat cantik muncul. Melihat Shakti, Dewa Siwa memintanya untuk memberkahi Brahma yang memerlukan berkahnya. Setelah mengatakan hal itu iapun menghilang.
           
                                    Sembilan Awatara (inkarnasi)

            Dewa Siwa memanifestasikan diri sebagai Swetacharya mengenakan sebuah benang suci bersama dengan muridnya- Sweta, Swetasikha dan Swetalohita di Varaha pada manvantara yang ke tujuh yang bernama Vaishwata. Pada akhir jaman Dwapara. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan kebijaksanaan yang disebarkan oleh Rsi Wedavyasa.
            Kemudian setelah jaman Dwapara yang kedua Dewa Siwa muncul kembali untuk membantu Wedavyasa sebagai yogi yang bernama Sutara dengan empat muridnya yang bernama Dundhubha, Shatarupa, Hrishika dan Ketumantakhya.
            Pada Dwapara yang ketiga Ia muncul sebagai Damana yang diikuti oleh empat muridnya Vishaka, Visesha, Vipaga dan Papanashana.
            Pada Dwapara yang keempat Ia datang sebagai seorang yogi Suhotra yang agung. Tujuannya adalah untuk menunjang Sanatana Dharma seperti yang disebarkan oleh Wedavyasa. Pada tahap ini muridnya adalah Sumukha, Devmukha, Durdhara dan Duratirama.
            Pada Dwapara yang kelima Ia melanjutkan karyanya sebagai seorang yogi – Kanka – dengan muridnya Sanaka, Sanandana, Sanatana dan Sanata Kumara.
            Pada Dwapara yang keenam, dibantu oleh Vijaya, Viraja, Sudama dan Sanjaya sebagai muridnya, sebagai Yogi Lokakshi, Dewa Siwa akan mengisi dunia dengan ajaran-Nya. Pada Dwapara yang ketujuh ia lahir sebagai Jaigishavya dan menyebarkan Dharma bersama dengan muridnya Saraswata, Yogisha, Meghavaha dan Suvahaka. Pada Dwapara yang kedelapan ia menjadi yogi yang bernama Vaahana dengan Ashuri, Panchikha, Kapila dan Shalwala sebagai muridnya dan pada Dwapara yang kesembilan ia sebagai Rishabha yogi dengan Garga, Bhargava, Ghrisha dan Parasara sebagai muridnya. Ia akan lahir untuk menerangi dunia.
            Sehingga Dewa Siwa terlahir kedalam dua puluh delapan Dwapara. Pada Dwapara yang kesebelas sebagai Tapa, pada yang keduabelas sebagai Atri dan pada yang ketigabelas dan empatbelas sebagai Bali dan Gauthama dan pada yang kelima belas, enam belas dan tujuh belas sebagai Vedashiwa, Gokarna dan Guhavasa dan pada yang kedelapan belas, sembilan belas, dua puluh dan dua puluh satu sebagai Shikhandi, Mali, Attahasa, Daruka. Pada Dwaraka yang keduapuluh dua hingga dua puluh delapan, ia menjadi Swetayogi, Shuli, Dindi, Sahishnu, Somasharma, Lakulisa dan selalu menjaga dan menjungjung Dharma dan menjalani hidup Shaivite.
            Setelah mengatakan ini Suta Muni melanjutkan cerita tentang munculnya Nandishwara.

                        Inkarnasi Nandishwara

            Suatu hari hiduplah seorang pertapa yang bernama Shilada. Ia tidak memiliki keturunan. Atas saran Indra ia memuja Dewa Siwa. Setelah beberapa lama Ishwara muncul dan menanyakan berkah apa yang ia minta.
            Shilada meminta Dewa Siwa menganugerahkannya putra, tidak lahir dari seorang wanita dan ia agar sehebat Dewa Siwa. Ia akan abadi. Ini ia katakan dengan sangat bersungguh-sungguh.
            Dewa Siwa mengatakan Ia akan memberkahinya dengan anugerah yang ia minta. Permohonan ini sama dengan permohonan Dewa Brahma agar Dewa Siwa lahir sebagai manusia.
            Ketika Shilada melakukan upacara api, dari api itu muncullah seorang anak yang ia berinama Nandi. Ia melakukan upacara untuk menyambut kelahiran putranya.
            Suatu hari, diinspirasi oleh Dewa Siwa, Maitravaruna datang ke pertapaan Shilada. Mereka memanggil Nandi dan ia mengatakan padanya bahwa Nandi hanya akan hidup setahun lagi. Shilada amat sedih. Nandi menghiburnya dan mengatakan bahwa ia akan bertapa memuja Dewa Siwa dengan mengikuti sebuah tantra yang bernama Siwaradhana yang akan memberinya umur yang panjang. Setelah mengatakan hal ini ia pergi bertapa.
            Dewa Siwa sangat bahagia dengan ketulusan Nandi dan iapun menampakkan diri padanya.
            Dewa Siwa mengatakan pada sadhaka muda ini bahwa ia akan abadi. Ia akan hidup abadi- tidak hanya sendiri tetapi bersama ayahnya dan juga keluarganya. Ia akan tinggal di Kailasha dan menemani-Nya. Ia akan selalu menjadi Ganadhipati, pemimpin para gana. Dari air muncullah sebuah mahkota dan iapun menjadi pemimpin para gana.
            Saat memberkahinya, Dewa Siwa mengeluarkan kalungan bunga teratai dan memberinya pada Nandi. Ketika kalungan itu berada di leher Nandi saat itu juga ia menjadi seperti Dewa Siwa memiliki tiga mata dan sepuluh tangan seperti Dewa Siwa. Dari air dimana Dewa Siwa memandikan Nandi muncullah aliran air- Sutoya, Jatodaka, Trisrota, Vrishadhwani dan Jambuvu. Sungai-sungai ini dikenal dengan nama Panchanada- lima sungai.
            Setelah itu, Dewa Siwa memikirkan pemimpin Gana dan devta yang lain yang kemudian mereka muncul. Mereka memberikan selamat pada Nandi. Pada saat yang sama, tujuh Marut (angin) datang dan menawarkan putri mereka Suyasha untuk menikah dengan Nandi. Nandi dan Suyasha menjadi suami dan istri. Dewa Siwa memerintahkan pasangan ini untuk pergi bersama mereka ke Kailasha.
           
                                                Inkarnasi Bhairava

            Suatu kali rsi yang agung yang bernama Devarshi mendekati Brahma untuk memberikan pencerahan. Mereka meminta Brahma menjelaskan tentang Paramatma dan Parabrahma. Brahma salah mengucap sehingga Ia menyebut dirinya sebagai Paramatma. Dewa Wisnu juga ada disana. Ia ikut berbicara, “Ketika aku disini, ayahmu, bagaimana bisa kau mengatakan dirimu sebagai Paramatma, Aku adalah Yajnanarayana?” Ketika keduanya saling beradu muncullah cahaya yang amat terang, cahaya itu seperti api. Dalam cahaya itu, Rudra yang bersinar kebiruan dengan trisulanya muncul. Brahma tertawa dengan keras dan mengatakan pada Brahma:

            “ Oh! Ternyata dirimu. Bukankah kau lahir dari antara alisku? Saat kau mengangis aku memberimu nama Rudra. Bagaimana kau ingin bersaing denganku? Bijaksanalah dan berdoa. Aku akan melindungimu.”
            Rudra sangat terkejut dengan kata-kata yang diucapkan oleh Brahma. Saat itu juga ia menciptakan seseorang yang shakti dalam wujud Bhairawa. Kata Rudra padanya:
            “Kalabha! Raja waktu, hukumlah pertama Brahma. Karena engkau mengalahkan kejatahan maka engkau akan mendapat nama Amardaka. Engkau akan menelan dosa-dosa pemujamu dan dikenal dengan nama Papa Bhakshaka.
            Pada saat ia mendengar perintah ini, Bhairawa melakukan tugasnya. Atas perintah Dewa Siwa ia menghukum Brahma dengan memotong kepalanya yang kelima.
            Kremudian Brahma sadar. Ahamkaranya telah hilang. Bersama dengan Dewa Wisnu, Brahma berdoa pada Pashupati. Rudralah yang kemudian menjadi paling lembut dan juga sabar, Ia kemudian memberkahi mereka berdua. Ia memerintahkan Bhairava untuk menghormati mereka dan Brahma. Bhairawa kemudian diperintahkan membawa kepala kelima Brahma dan berkeliling dunia untuk mengajarkan Kapalavrata, sebuah tapa yang akan menghancurkan Brahmahatya Pataka, dosa yang disebabkan karena membunuh seorang Brahmana. Ia menciptakan seorang bidadari cantik yang bernama Brahmahatya dan memintanya untuk mengikuti Bhairawa hingga sampai di Kashi.
           
Mahima (Kekuatan dan Kejayaan) dari Kala Bhairawa

            Dengan kepala kelima Brahma, Kala Bhairawa mengelilingi ke tiga dunia dengan bidadari Brahmahatya mengikutinya. Pertama, ia pergi ke Vaikuntha. Dewa Wisnu menerimanya dengan senang hati dan memerintahkan pelayannya untuk segera menjamunya. Lakshmi menghaturkan ‘Manoradha Pati’ pada kepala Brahma. Dimulai dari Vaikuntha, Bhairawa meminta Dewa Wisnu untuk meminta anugerah. Dewa Wisnu meminta agar ia diberkahi dengan memberikan salam pada Bhairava. Bhairawa sangat berkenan dan memberkahi Dewa Wisnu dan mulai saat itu ia akan menjadi ‘pemberi’ bukan hanya pada manusia tetapi pada semua makhluk ataupun dewa.
            Kala Bhairawa sampai di Kashi. Saat ia menginjakkan kakinya disana, Brahmahatya pergi ke dunia bawah, Patala, iapun berteriak. Kepala Brahma yang kelima terjatuh. Tempat dimana ini terjadi disebut sebagai Brahmakalpa. Bhairawa menjadikan Kashi sebagai tempat tinggalnya dan ia pergi memenuhi keinginan dan doa pemujanya.
            Kala Bhairawa terlahir pada hari kedelapan pada saat bulan Margashirsha. Bagi mereka yang memujanya pada hari itu dan tetap terjaga pada malam harinya, akan dibebaskan dari segala dosa. Mereka yang tinggal di Kashi juga harus memujanya pada hari kedelapan dan hari keempatbelas dan juga pada hari Rabu. Bagi mereka yang tidak melakukan ini, dosanya akan berkumpul pada siang harinya. Bagi mereka yang membaca cerita ini dengan penuh pengabdian dan ketulusan, akan bebas dari semua ikatan.

                                                Ugra Narasimha

            Setelah mendengarkan cerita tentang Kala Bhairawa, para orang suci dan juga para rsi meminta Suta Muni untuk menceritakan pada mereka tentang cerita Sharabha.
            Suta menceritakan:
            Karena kutukan yang diberikan Sanaka, Sanandana dan yang lainnya, penjaga pintu surga, Jaya dan Vijaya, terlahir pada Diti dan Kashyapa sebagai Hiranyaksha dan Hiranyakashipu.
            Hiranyaksha menghancurkan dunia dan membuangnya ke dalam air. Srihari merubah wujudnya menjadi seekor babi dan membawa dunia kembali kebentuk semula. Hiranyakashipu bersumpah akan membelas dendam pada Dewa Wisnu dan ini membuat khawatir semua orang. Tetapi Prahlada, pemuja Dewa Wisnu, sejak ia berada dikandungan adalah putra kandungnya. Ayahnya tidak bisa menerima hal ini. Pengandian dan ketulusan Prahlada pada Dewa Wisnu tidak pernah berubah, walaupun ayahnya mencoba banyak sekali usaha yang kejam untuk membunuhnya, setelah semua usahanya untuk mendidiknya tidak membuahkan hasil.
            Tidak ada satupun yang dilakukan sang ayah yang bisa membuat Prahlada terbunuh. Suatu hari, karena keputusasaannya, raja raksasa ini memanggil putranya bertanya padanya apakah ia pernah melihat Dewa Wisnu. Putranya menjawab dimanapun ada dirinya, maka Dewa Wisnu akan selalu bersamanya. Raja raksasa bertanya apakah Dewa Wisnu ada di pilar bangunan istana? Maka putranya menjawab Dewa Wisnu ada disana. Kemudian dengan secepat kilat raja raksasa menendang pilar bangunan kerajaan dan dari pillar itu muncullah Narasimha dan membinasakan raja raksasa.
            Kejadian ini disaksikan oleh semua dewa. Semua memuji dan menyanyikan pujian pada Narasimha.

                                                Kemarahan Narasimha

            Walaupun semua dewa memujinya, kemarahan Narasimha tak terkendali. Ia mengalungkan tubuh raja raksasa itu. Ia mengolesi tubuhnya dengan darah. Tidak mampu menahan amarahnya iapun membawa mayat raja raksasa itu dengan mulut menganga yang seakan-akan siap untuk menelan dunia.
            Awan di langit retak hingga menjadi beberapa bagian. Burung yang terbang mati. Bintang-bintang bergemeretak. Planet tidak berada pada orbitnya. Lautan dipenuhi dengan gelombang besar. Matahari tak bersinar. Para dewa berlindung. Pegunungan runtuh. Dunia berguncang. Pertapaan orang suci dan para rsi terganggu. Semuanya bangun dari tapa mereka. Mereka semua mengucapkan mantra namun Ugra Narasimha- yang amarahnya tak terkendali- tidak bisa ditenangkan.
            Tuhan tidak bisa meminta bantuan siapapun. Narada atau bahkan Dewi Lakshmipun tidak bisa menenangkannya. Dewa Brahma tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka semua menghadap pada Dewa Siwa. Dewa Siwa berjanji akan membantu mereka dan mengirimkan Virabadhra pada Narasimha. Virabhadra mendekati Narasimha tetapi Narasimha tidak mau tenang. Ia menyuruhnya pergi. Ia memberitahu Virabhadra bahwa saat ini ia adalah Brahma. Ia ingin menelan jagat-raya. Kemudian Virabhadra berubah menjadi Sharabha.

                                    Inkarnasi Sharabha
            Dalam wujud itu, Virabhadra menyelimuti langit luas. Ia sangat terang seperti cahaya emas. Semua cahaya bersinar padanya. Dengan ribuan tangan dan telapan tangan yang besar, dengan bulan sabit pada rambutnya dan dua sayap yang amat lebar, paruh serta taring yang kuat. Ia juga memiliki kuku yang bisa mencakar apapun, dengan cahaya biru, empat kaki dan tiga mata ia ingin menghancurkan Narasimha.
            Virabhadra sebagai Sharabha memegang tangan Narasimha. Ia mengikatnya dengan ekornya. Pemuja Dewa Siwa meneriakkan ‘Assharabha, Sharabha!’  yang memenuhi langit. Ia mengangkat dan membawa Narasimha ke Kailasha dan memotong kepala dari badannya. Suksmarupanya menyatu dengan Dewa Siwa. Wujud badab kasarnya, ia kalungkan. Kepalanya, ia pakai sebagai kalungan pada kalungan tengkorak miliknya.
            Begitulah cerita itu.

                                    Gruhapati, seorang Vishwanara, mendapatkan posisi Agni

            Pada jaman dahulu, adalah sebuah kota yang bernama Dharmapuri di tepi sungai Narmada. Seorang brahmana yang bernama Vishwanara dari Shandilya gotra tinggal disana dengan istrinya Shuchismati. Ia sangat ortodok dan tidak mengenal hukum. Ia ingin memiliki putra dan iapun pergi ke Kashi dengan istrinya untuk memuja Dewa Siwa. Ia memuja Virashearalingga selama setahun penuh. Suatu hari seorang anak muncul dari tengah lingga. Brahmana memuja anak itu bagaikan Dewa Siwa sendiri. Nyanyian pujian brahmana itu terdengar oleh Dewa Siwa. Nyanyian itu adalah Abhilashashtaka (delapan sloka untuk pemenuhan keinginan). Dewa Siwa muncul sebagai seorang anak laki-laki, memberkahi brahmana itu dan mengatakan padanya bahwa ia akan terlahir sebagai anak laki-laki pada Shuchishmati.
            Dewa Brahma sendiri datang dan memberinama anak itu sebagai Grihapati. Vishwanara melakukan upacara untuk anaknya saat ia berusia lima bulan. Ia menyuruh putranya belajar Weda pada umur lima tahun. Ketika anak itu berusia sembilan tahun, Narada datang dan memberitahunya bahwa anak ini memiliki sifat yang sangat baik dan juga hal baik lainnya tetapi ia memiliki ‘ganda’ (bahaya kematian) pada saat ia berumur dua belas tahun.
            Grihatpati menghibur orang-tuanya dan mengatakan pada mereka ia akan dilindungi oleh Dewa Siwa, sehingga ia bebas dari bahaya kematian dan hidup abadi. Ia melakukan tapasya dan hidup dengan memakan akar-akaran selama enam bulan. Kemudian ia hanya meminum air saja dan kemudian ia hanya meminum setetes air dalam sehari.
            Grihapati berusia dua belas tahu. Pada hari kedua belas, Indra menemuinya dan memintanya untuk meminta anugerah. Anak ini tidak mau mengatakan apapun terkecuali Dewa Siwa sendiri yang datang. Dewa Indra mengeluarkan senajata permatanya. Mengingat ramalan Narada, anak ini segera meloncat, kemudian muncullah Dewa Siwa. Anak ini hanya bisa memandangnya dengan terpana. Dewa Siwa mengatakan bahwa ia bisa mengetahui apa yang ia pikirkan dan kemudian ia memberikan posisi Agni untuknya. Ia akan selalu ada dalam diri makhluk hidup sebagai api rasa lapar Jatharagni, api rasa lapar. Lingga yang ia tanam akan dikenal dengan nama Agniswara lingga. Siapapun yang memuja lingga itu tidak akan pernah takut api atau permata. Dewa Siwa memberinya dikapti dari timur laut dan menghilang ke dalam Agnishwara lingga. Itulah mengapa Agni dikenal dengan sebutan Vishwanara.
            Jadi telah disebutkan empat puluh tujuh awatara dalam seluruh cerita ini.
            Suta Muni kemudian memberitahu para rsi dan orang suci untuk menyebutkan inkarnasi Dewa Siwa sebelumnya. Mereka adalah : 1. Mahakala, pasangannya Mahakali; 2. Tara, pasangannya Tara Shakti; 3. Bala Bhuwaneshwara, pasangannya Bala Bhuwaneshwari; 4. Shodasha Shri Vidyeshwara, pasangannya Shodasha Shri Vidyeshwari, 5. Bhairawa, pasangannya Bhairawi; 6. Chinna Mastakeshwara, pasangannya Chinna Mastakeshwari; 8. Bagala Mukheshwara, pasangannya Bagala Mukhi; 9. Matangeshwara, pasangannya Matangi; dan 10. Komaleswara, pasangannya Komala Dewi.

                                                Yakshavatara

            Inkarnasi yang pantas untuk diceritakan berikutnya adalah Yakshavatara.
            Suatu kali pada saat perang antara dewa dan raksasa, para dewa menang. Melupakan bahwa kemenangan itu adalah berkat Dewa Siwa, mereka menyombongkan diri. Kemudian muncullah yaksha dihadapan mereka yang adalah jelmaan Dewa Siwa sendiri.
            Ia bertanya mengapa mereka tertawa dengan sangat keras. Mereka berkata bahwa mereka memenangkan peperangan atas para raksasa. Kemudian Dewa Siwa berkata bahwa tanpa berkahnya tidak akan ada yang bisa terwujud. Setelah mengatakan itu Dewa Siwa mengeluarkan sebuah rumput ilalang. Agni tidak bisa membakarnya; Dewa Bayu tidak bisa menggerakkannya, tidak ada yang berhasil melakukan apapun pada rumput itu. Bahkan senjata permata Indra tidak bisa juga.
            Kemudian para dewa berdoa pada Dewa Siwa dengan sepenuh hati. Dewa Siwa berkenan menampakkan diri dan memberkahi mereka.

                        Namo Rudrebhayah – Cerita lengkap tentang sebelas Rudra

            Sekarang dengarkan ceritaku, kata Suta Muni pada para rsi dan orang suci dan menggambarkan inkarnasi sebelas Rudra.
            Para dewa berdoa pada Kashyapa, ayah mereka, untuk menyelamatkan mereka dari raksasa. Kashyapa pergi ke Kashi, menanam sebuah lingga dan memulai tapasyanya. Dewa Siwa bermanifestasi dan mendengarkan ceritanya tentang perbuatan buruk para raksasa. Kashyapa memiliki sebelas putra melalui perkawinannya dengan Surabhi. Mereka adalah: 1. Kapali 2.Pingala 3. Bhima 4. Virupaksha 5. Vilohita 6. Shastha 7. Ajapaata 8. Ahirbhudnudu 9. Shambhu 10. Chanda dan 11. Bhava. Dalam kesemua wujud ini Dewa Siwa melawan para raksasa dan menang. Muncullnya tujuh Rudra telah mendapatkan pujian. Mereka tinggal di Timur Laut dan menjaga para pemuja. Mereka bertanggung-jawab atas mantra “Namo Rudrebhayah”

                                     Cerita tentang inkarnasi Durwasa

            Suatu kali Atri melakukan tapasya di sebuah gunung yang bernama Pratyakshakula. “ Wahai Paramatma! Yang ada diatas segalanya, berkahilah aku dengan seorang putra!” ia berdoa.
            Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Maheshwara bermanifestasi dan memberikan ia anugerah bahwa ia akan mendapatkan seorang putra dengan amsha yaitu memiliki kekuatan dan kemuliaan dari ketiga dewa trimurti. Seketika itu juga Anasuya, istri atri melahirkan ketiga putra: Chandra denan Brahmaamsha (aspek Brahma), Dutta atau Duttaatraya dengan amsha dari Dewa Wisnu dan Durwasa dengan Rudramsha. Dari ketiganya, Durwasa banyak sekali melakukan pembuktian keyakinan dan juga memberikan berkah pada pemuja. Methode yang dipakai oleh Durwasa sangat aneh. Inilah ceritanya.
            Setelah mengatakan itu Suta Muni menceritakan sebuah cerita tentang Durwasa dan Ambarisha.
            Suatu kali ada seorang raja yang bernama Ambarisha dari keturunan Surya. Ia biasa berpuasa selama sebelas hari dan pada hari berikutnya memberikan makanan pada banyak Brahmana. Mengetahui hal ini, Durwasa mengunjunginya bersama dengan muridnya ketika raja sedang melaksanakan upacara Dwadashi (upacara pada hari ke dua belas). Ambarisha menyambut sang rsi dan muridnya.
            Durwasa menuju ke sungai untuk mandi. Untuk menguji sang raja, ia menunda-nunda makan. Dwadasi tithi akan segera berakhir dan sang raja khawatir. Sang raja kemudian sang raja meminum setets air dan sambil terus menunggu. Durwasa tahu bahwa sang raja telah melanggar peraturan dengan meminun setetes air sebelum memberinya makan. Ia memperingatkan sang raja akan akibat yang akan ia terima.
            Teriakan sang rsi yang amat keras membangunkan chakra Sudarshana Dewa Wisnu. Chakra ini hampir saja menyerang Durwasa. Kemudian aakashvani (suara langit) memperingatkan Ambarisha bahwa chakra itu hampir melukai sang rsi yang bukanlah rsi biasa. Chakra itupun menyadari bahwa Durwasa adalah Dewa Sankara sendiri yang sedang menyamar. Ambarisha berdoa pada Durwasa. Durwasa memberikan berkah pada sang raja.
            Kemudian Suta Muni menceritakan tentang sebuah cerita tentang Krishna dan  Durwasa.
            Suatu hari Krishna melakukan sebuah upacara memberikan makanan pada Brahmana. Durwasa pergi kesana untuk menguji Krishna. Ia meminta pada Krishna agar keretanya ditarik bukan oleh kuda akan tetapi oleh dirinya dan pasangannya. Keduanya menurutinya. Sangat terkesan dengan hal ini Durwasa memberkahi Krishna dengan permata- tubuh yang kuat dan kekuatan yang tiada taranya.
            Suatu kali Durwasa sedang mandi di Akash Gangga, pakaian dalamnya terhanyutkan oleh air. Draupadi yang kebetulan kesana merasakan ketidaknyamanan sang rsi, ia kemudian merobek sarinya dan memberikannya padanya. Merasa sangat berkenan Durwasa memberkahinya dengan pakaian yang tidak akan ada habisnya pada saat pertemuan para Kuru di kerajaan.
           

                                    Dewa Siwa muncul sebagai Hanuman

            Dewa Siwa memiliki inkarnasi yang tak terhitung jumlahnya. Suatu kali ketika Dewa Wisnu menjadi Mohini, seorang bidadari yang sangat cantik, Dewa Siwa sangat tergoda. Tujuh angin membawa benihnya dan meletakkannya di telinga Dewi Anjana, putri Rsi Gauthama. Sebagai akibatnya, ia melahirkan putra. Putra yang terlahir ini merasa sangat lapar sehingga iapun menelan matahari, yang ia kira sebuah buah-buahan. Para dewa tahu bahwa bayi ini lahir dengan Shiwamsha. Mereka menemuinya dan memintanya untuk memuntahkan matahari. Para dewa dan para rsi memberinya banyak anugerah. Kemudian Balanjaneya ( putra Anjaneya atau Hanuman) mengembara sesuai dengan perintah ibunya dengan kereta Dewa Siwa. Ia belajar semua seni dan dengan ijin Garuda, ia menjadi teman Sugriwa, dari dinasti matahari. Kemudian ia memainkan peranan yang sangat besar dalam Ramayana. Jadi Hanuman juga adalah inkarnasi Dewa Siwa.
           
                                    Inkarnasi Bhairawa sebagai Bhetala (vetala)

            Dewi Parwati dan Parameshwara, menjadikan Bhairawa sebagai penjaga pintu. Kemudian Dewi Parwati dan Dewa Siwa sedang bercanda. Dewi Parwati pura-pura menjadi seorang wanita yang mendatangi pintu. Bhairawa mengira bahwa ia adalah wanita biasa dan iapun menghentikannya. Ia marah dan kemudian ia mengutuk agar Bhairawa terlahir sebagai manusia ke bumi.
            Dengan penuh kasih untuk Bhairawa, Dewa Siwa dan Parwati ikut mengalami inkarnasi ke bumi sebagai Mahesha dan Sharada.
            Tidak hanya itu. Ketika para dewa dan para raksasa mengaduk lautan Dewa wisnu mengusir para raksasa, dan ia  menuju ke dunia bawah, Paatala. Disana ia bertemu dengan banyak wanita dan memiliki banyak anak. Karena anak-anak itu adalah putra Dewa Wisnu maka merekapun sangat kuat. Mereka menimbulkan banyak masalah dibumi maupun di langit. Para dewa meminta bantuan dari Dewa Siwa. Kemudian Dewa Siwa mengambil bentuk seekor lembu jantan dan turun ke bumi serta menghancurkan putra-putra Dewa Wisnu yang jahat. Ia mengeluarkan suara lembu jantan yang amat menakutkan. Dewa Wisnu keluar dan menemukan keturunannnya telah hancur. Kemudian ia menyerang lembu jantan dengan kuat. Lembu jantan itu menelan semua serangan itu. Kemudian Dewa Wisnu sadar bahwa lembu jantan itu adalah Dewa Siwa sendiri. Dewa Siwa mengajarkan kebaikan padanya dan memintanya untuk ikut ke Vaikunta. Tetapi Dewa Wisnu ingin mengambil chakranya yang tertinggal. Tetapi Dewa Siwa mengatakan bahwa ia akan memberikannya chakra yang baru. Mengambil chakra yang kedua, senjata yang menghancurkan moha, ia berdoa pada Dewa Siwa dan Dewa Wisnu kembali ke Vaikuntha.
           
                                    Pinaki menjadi Pippalada
            Dalam peperangan dengan Vrittasura, para dewa dikalahkan. Mereka bertanya pada Dewa Brahma bagaimana cara membunuh para raksasa itu. Kemudian Dewa Brahma memberitahunya tentang Rsi Dadichi yang mendapatkan anugerah tulang yang kuat dari Dewa Siwa. Jika mereka bisa mendapatkan tulang Dadhichi dan membuat sejata yang terbuat dari permata mungkin saja Vrittasura bisa dibunuh.
            Para dewa mengirimkan doa pada Dadhichi. Ia meminta mereka untuk melakukan puasa hingga mati (Prayopavesha) dan menyatu dengan Dewa Siwa. Para dewa sangat kagum bahwa seorang manusia bisa memberikannya tulangnya hanya karena para dewa memintanya. Para dewa menggali tulangnya dari Kamadhenu. Wiswakarma diminta untuk membuatkan sebuah senjata. Ia membuat Vajrayudha dengan tulang belakangnya.
            Istri Dadhichi Suvarcha, mendengar bahwa Dadhichi telah tewas, ia menceburkab diri dalam api pengorbanan. Tetapi suara langit mengingatkannya bahwa ia sedang mengandung benih dari Dadhichi dan oleh karena itu ia tidak boleh bunuh diri. Tetapi ia tidak bisa menunggu lagi. Kemudian ia menabrakkan diri ke sebuah batu dan keluarlah seorang bayi.
Setelah meletakkan bayi itu di bawah pohon Pipal, ia kemudian menghempaskan diri ke dalam api.
            Para dewa melakukan upacara kelahiran dan menamai anak itu Pippalada. Di tempat itu dimana ibunya meletakkan bayi itu, Pippalada melakukan sebuah tapasya yang agung.

                                    Pippalada mengutuk Shani
            Pipalada menyelamatkan para anak laki-laki dan anak perempuan hingga berumur enam belas tahun, terhindar menjadi mangsa Shani dan meninggal. Shani kemudian diancam. Jika ia mengganggu orang yang muda, Pippalada mengutuk bahwa ia akan dikutuk. Bahkan hari ini, untuk mengurangi pengaruh Shani, mereka yang tahu akan abhiseka untuk Shani. Shani tidak bisa mengganggu pemuja Dewa Siwa.
           
                                    Inkarnasi Vissyanadha
            Pada suatu hari, ada seorang prostitusi di desa Nandi yang bernama Mahananda. Semua orang jatuh hati padanya dan menginginkannya. Hanya dengan melihat sekilas saja ia akan membangkitkan Madan (Manmadha) hidup kembali. Tetapi ia adalah pemuja Dewa Siwa. Setelah ia bekerja, ia akan mandi dan ia akan memuja Dewa Siwa dengan penuh bakti. Ia sering sekali sangat kusyuk dan hingga tak sadar menari sendiri.
            Dewa Siwa ingin mengujinya. Ia kemudian menyamar menjadi seorang pedagang yang bernama Vysya dan mendekatiya. Ia mengenakan perhiasan dari permata. Mahananda pada saat melayaninya melihat kalung itu dan memintanya.
            Dewa Siwa akan memberikannya tetapi ia bertanya bagaimana ia akan membayarnya. Kemudian iapun menjawab bahwa sebagai prostitusi ia akan menjadi seorang istri yang setia selama tiga hari sesuai dengan harga kalung itu. Dewa Siwa meminta ia bersumpah. Kemudian ia memberikan lingga permatanya dan meminta agar ia menjaganya. Ia menyembunyikannya disebuah aula tempat menari dan melayani Vysya hingga malam.
            Pada malam hari, Vysya menghidupakan api di aula tari itu. Mahananda tidak bisa menyelamatkan lingga permata itu. Ketika ia sedang berusaha menyelamatkannya, sebuah pillar jatuh diatas lingga dan menjadikannya dua.
            Vysya sangat sedih. Ia berkata bahwa hidupnya tak berharga tanpa lingga itu. Ia memintanya menyiapkan api agar ia bisa membakar diri. Kemudian Mahananda akan membakar diri juga karena ia adalah seorang istri yang baik. Tetapi ia Cuma mengatakan bahwa ia akan menjadi istrinya hanya tiga hari saja. Tetapi sayang sekali seorang istri yang setia harus melakukan Sati Sahagamana, ia juga akan mengikuti suaminya.
            Kemudian bermanifestasilah Dewa Siwa dan memintanya untuk meminta sebuah anugerah. Ia berdoa agar Dewa Siwa mau memberinya salokya (tempat di lokanya). Dewa Siwa memberkahinya dan memberikannya sebuah anugerah yang ia minta.
            Suta Muni kemudian ia menceritakan pada para rsi dan juga orang suci sebuah cerita tentang inkarnasi tentang Dwijeshwara.
           
                                    Inkarnasi sebagai Dwijeshwara

            Ketika Dewa Siwa berinkarnasi sebagai Rishabhyogi, ia memberkahi seorang bidadari, putra Bhadrayuvu. Dengan berkah Dewa Siwa, Bhadrayuvu mengalahkan putranya dan menjadi seorang raja. Suatu hari ia bercinta dengan istrinya di taman.
            Dan kemudian untuk mengujinya Dewi Parwati dan Parameshwara mendekatinya sebagai pasangan brahmana dan meminta perlindungan dari seekor harimau yang ingin menyerang mereka. Sebelum ia mengambil panah dan busurnya, harimau itu menyeret istri brahmana. Brahmana tua itu  menyalahkan sang raja. Kemudian raja meminta seorang brahmana untuk mencari apa yang ia inginkan. Brahmana mengatakan bahwa ia menginginkan istrinya dan ia meminta sang raja memberinya istrinya (istri sang raja).
            Bhadravuyu menyiapkan api pembakaran. Ia memberikan iastrinya pada sang brahmana dengan sebuah upacara dan ia hampir saja melompat menuju api pembakaran.
            Kemudian Dewa Siwa memperlihatkan dirinya dan ia menyuruh sang raja untuk meminta anugerah. Sang raja ingin melakukan pelayanan di Kailasha untuk orang-tuanya, karena itulah Vysya disebut sebagai Padmakara dan putranya Sunayana. Sang ratu meminta hal yang sama pada orang-tuanya. Awatara yang memberikan semua ini pada pemujanya disebut dengan Dwijeswaraavatar.

                                    Inkarnasi Yatinadha dan Hamsa

            Hiduplah pasangan Bhilla, suku hutan di gunung yang berada di daerah Adbhuta. Mereka sangat berbakti. Suatu kali Dewa Siwa ingin menguji mereka. Dengan menyamar menjadi Yatinadha (yati adalah orang suci dengan tingkatan yang paling tinggi), Ia datang ke pondok Ahuka dan melayaninya dengan ramah. Ia meminta agar diijinkan untuk menginap satu malam. Pondok itu amat kecil hingga tidak bisa memuat tiga orang. Dengan mengatakan bahwa ia akan berjaga diluar, Ahuka mempersilahkan yati untuk tidur di dalam bersama istrinya. Tetapi malam itu Ahuka tewas oleh binatang buas, Ahuki, istrinya mempersiapkan sebuah api dan akan meloncat. Kemudian Dewa Siwa bermanifestasi dan memberitahu mereka ia hanya ingin mengujinya saja. Ia berjanji bahwa ia akan menyatukan mereka lagi dalam inkarnasinya berikutnya sebagai seekor Angsa. Kemudian disanalah ia menjadi lingga yang disebut dengan Achaleshwara lingga.
            Pada kelahiran berikutnya, Ahuka terlahir sebagai putra Nala seorang pemimpin Nishada yang bernama Virasena. Ahuki (istri Ahuka) terlahir sebagai Damayanti, putri seorang raja Vidharba yang bernama Bhimaraja. Dewa Siwa bermanifestasi sebagai seekor angsa dan menyatukan mereka berdua. Ia tidak hanya menyatukan pemujanya tetapi juga para kekasih diberkahi oleh Dewa Siwa.
           
                                    Dewa Siwa menjadi Krishna Darshana

            Nabhagha adalah putra kesembilan Shradha Dewa. Dalam hal pembagian tanah ia telah ditipu. Ia menemui ayahnya yang menyarankannya untuk pergi dimana Angirasa melakukan sebuah yajna dan menceritakan tentang Vishwadewa sukta. Nabhagha melakukan yang disarankan dan kemudian Angirasa membagi ritual itu bersamanya. Ketika ia mengambilnya, Dewa Siwa muncul sebagai Yajnadarshana dan mengatakan bahwa bagian itu harus menjadi miliknya. Nabhaga bertanya bertanya mengapa ia melakukan itu. Kemudian Krishnadarshana bertanya pada Nabhaga untuk menemui ayahnya untuk memecahkan permasalahan ini. Sharadha Dewa memberitahu putranya bahwa yang ia temui itu adalah Dewa Siwa sendiri. Dan mengatakan bahwa segalanya adalah miliknya. Kemudian pemuda itupun meminta ampun pada Dewa Siwa. Dewa Siwa yang pengampun mengampuninya. Awatara yang berikutnya adalah Avadhuteshwara inkarnasi dimana dari api mata ketiga Dewa Siwa muncullah Jalandhara. Ceritanya telah diceritakan sebelumnya.
            Awatara berikutnya adalah Varyaavatara

                                    Bhiksu Varyavatara

            Radha, raja Vidarbha, dibunuh oleh musuh. Istriya pergi beserta putranya yang masih dalam kandungan ke hutan agar selamat. Di tepi kolam, ia melahirkan bayi laki-laki. Ketika ia ingin meminum air dari kolam itu ia dimangsa buaya. Kshatriya kecil itu menangis sendiri.
            Dewa Siwa melihat hal ini, ia mengutus seorang brahmana wanita kesana. Ia menyusuinya bagaikan anaknya sendiri. Walaupun ia sangat penyayang, tetapi ia tidak berani mengangkat anak itu menjadi anaknya karena asalnya yang tidak jelas. Tetapi Dewa Siwa datang ketempat itu dan menyuruh wanita itu untuk memelihara bayi itu agar selamat. Ia menjelaskan bahwa ayah bayi itu tidak melakukan pemujaan karena ia takut dengan musuhnya. Sebagai akibatnya kemudian pada kehidupan berikutnya ia dibunuh oleh musuhnya. Ibu bayi itu dimangsa oleh buaya karena dosanya telah membunuh istri suaminya yang lain. Dewa Siwa memperlihatkan ‘rupa’ nya yang sebenarnya. Brahmana wanita itu mengambil bayi itu dan merawatnya serta memberinya nama Dharmagupta. Ia kemudian menikah dengan seorang gandharwa yang amat cantik dan atas bantuan temannya mendapatkan kembali kerajaannya, dimana ia hidup bahagia.
            Kemudian Dewa Siwa muncul sebagai Sureshwara untuk menyelamatkan Upamanyu. Ia juga mengubah diri menjadi Vaishnawa untuk mempengaruhi Menaka dan Himavant. Selain inkarnasi ini, Ashwathhama juga dianggap sebagai inkarnasi Dewa Siwa.
           
                                    Inkarnasi sebagai Ashwatthama
                       
            Cerita tentang Dewa Siwa yang berinkarnasi sebagai Ashwatthama adalah inkarnasi yang penting. Dronacharya berpihak pada Kaurawa. Sebagai janjinya untuk melindungi dan melayani mereka, ia melakukan tapasya memuja Dewa Siwa. Ketika Dewa Siwa bermanifestasi dan meminta anugerah, Drona meminta seorang putra, pemberani, kuat, ‘atiradha’ yang terlahir sebagai amshanya. Kemudian Dewa Siwa memberkahinya dengan seorang putra yang Drona berinama sebagai Ashwatthama. Perannya dalam Mahabharata sangatlah dikenal. Ia abadi.
           
                                    Kritaarjuneyam

            Awatara yang membuat Arjuna (Partha) menjadi manusia yang sangat penting adalah Kiratavatara.
            Rsi Wedavyasa meminta Arjuna untuk melakukan tapasya untuk memperoleh senjata yang suci (astra) yang penting untuk perang Mahabharata.
            Dalam waktu yang singkat, tapasya kekasih Uluchi membuat terkesan Dewa Siwa yang bermata tiga. Tetapi, ia ingin mengujinya. Ia memanggil Mukasura dan memerintahkannya untuk mengganggu tapasya Arjuna. Muka dalam wujud seekor babi mengamuk dimana Arjuna melakukan tapa. Karena Arjuna sangat kesal iapun bangun dan mengambil busur dan panahnya dan iapun mengejar babi itu.
            Dewa Siwa menyamar menjadi seorang kirata (seorang pemburu dengan kasta rendah) dengan pramadagana (pengikutnya) yang mengikuti serta Dewi Parwati yang juga menemaninya sebagai Chenchita (bidadari hutan). Menyembunyikan mata ketiganya, ia memakai Sindhur, Dewa Siwa memasuki area itu.
            Baik Arjuna dan Kirata memburu babi itu. Kedua panah mereka mengenai babi yang kuat dan besar itu. Panah yang ditembakkan Arjuna mengenai kepala babi itu dan babi itupun mengeluarkan suara yang menyakitkan. Panah Dewa Siwa mengenai gigi babi itu dan tembus hingga kepala babi itu. Babi itu terbunuh.
            Kedua pahlawan ini mendekati babi itu untuk menarik panah mereka. Mereka saling bertengkar dengan sengit. Arjuna sangat terkejut melihat keberanian pria hutan ini.
            Arjuna menarik panahnya dari tempatnya. Ia mengangkat Gandhivanya untuk mengalahkan Dewa Siwa. Dengan mantra yang diucapkan oleh Dewa Siwa, busur ini menghilang. Mereka saling bertarung tangan kosong. Putra Kunti walaupun sedang bertempur tetap memuja Dewa Siwa. Dewa Siwa sangat berkenan dan segera ia memanifestasikan dirinya dan memberi Arjuta senjata yang sangat sakti, Pasupata.

                        Dua belas Lingga jyotir

            Selain inkarnasi yang ada, Dewa Siwa memanifestasikan dirinya menjadi dua belas lingga sebagai cahaya lampu (jyoti). Yang pertama adalah Somanath jyotirlingga di Somanath di Saurashtra; 2. Mallikharjuna jyotirlinga di Shrisailam; 3. Mahakaleshwara lingga di Ujjain; 4. Omkareshwara lingga di Mandhatopura; 5. Kedareshwara lingga di Kedarnath; 6. Namarupeshwara lingga di dekat Pune; 7. Vishweshwara lingga di Kashi; 8. Trayambakeshwara lingga di Trayambakeshwara; 9. Vaidyanatha lingga di Purli; 10. nageshwara lingga di Dwaraka; 11. Rameshwara lingga di Rameshwaram; dan 12. Gushmeshwara lingga di Gushmeshwara.
            Sangatlah beruntung mereka yang mengetahui tentang cerita dua belas lingga. Orang yang mengingat ini setiap hari adalah orang yang beruntung.
            Dengan dua belas yang telah ditambahkan, seratus inkarnasi Dewa Siwa telah selesai dalam Samhita yang bernama Satarudra Samhita.

Akhir bagian ketiga Shata Rudra Samhita dalam Shiva Purana
yang terdiri dari tujuh Samhita


                                                            Kotirudra Samhita
                                                           
Samhita keempat
           
            Kata Suta Muni:

            Dimana ada pemuja yang melakukan pemujaan, Janganmayya (Parameswara) muncul sebagai sebuah lingga. Dua belas jyotirlingga perlu dipuja. Mereka yang menerima sloka menggambarkan tentang dua belas lingga dan mengulanginya berkali-kali akan bebas dari dosa. Mereka yang melakukannya dengan pengabdian dan tanpa keinginan, akan mendapatkan kebebasan dan tidak mengalami kelahiran kembali.
            Selain mengingat, mereka yang mengunjungi tempat-tempat lingga dengan penuh pengabdian untuk sebuah darshan dari lingga akan diberkahi dengan kedamaian dan mendapat tempat di Siwaloka.
            Terdapat dua belas upalingga (lingga yang lebih kecil). Di Somanatha, pada pertemuan sungai Mahi dan lautan, terdapat upalingga di Antahkesha. Di Sri Shaila Mallikarjuna terdapat Rudreshwara lingga di Bhrugukaksha. Sedangkan di Mahakaleshwara terdapat Dughdeshwara lingga sebagai upalingga pada tepi sungai Narmada. Untuk Omkara lingga terdapat Bhuteshwara lingga di tepi sungai Yamuna. Untuk Bhimeshwara lingga terdapat Bhumeswarlinggam di Gunung Sahya. Untuk Nageshwaralingga terdapat Bhuteshwaralingga di pertemuan sungai Mallika dan Saraswati. Bagi Rameshwara, upalingganya adalah Gupteshwara. Bagi mereka yang mengunjungi upalingga ini akan dibebaskan dari semua upakarma.
            Lingga yang terdapat di Utara dan Barat – praka dan udichi lingga.
            Kasi adalah sebuah kshetra yang disebut dengan Mahalingga. Kemudian, di Varanasi terdapat banyak lingga seperti Avimukta, Krittivasa, Vruddhabala, Tila Bhanda, Dasahwamedha siwa lingga. Di tepi sungai Kaushiki dan Gandaki terdapat Ardhanariswara dan Vatukeshwara lingga. Di tepi sungai Phalguna, lingga yang terkenal adalah Purneshwara dan Siddhinatheswara. Di Uttaranagara (Kota Utara) yang lebih terkenal adalah Dureshwara, Sringeshwara dan Vidyanatha.
            Di sebuah daerah yang kemungkinan disebut sebagai Dadhici terdapat lingga yang dipuja. Lingga itu adalah Japeshwara, Gopeshwara, Rankeshwara, Vameshwara, Shukeshwara, Bhandeshwara, Hunkareshwara, Sulochaneshwara, Bhukteshwara dan Sangameshwara. Kemudian di tepi sungai Taptaka terdapat Shiddeshwara, Sneshwara, Kumbesha, Nandisha, Punjesha lingga. Purkeshwara lingga di dekat sungai Purna dan di Prayaga lingga yang ditanam oleh Brahma di Kashi Dasashwa medh ghat adalah Brahmeshwara, Bharadevajeshwara, Shaneshwara, Shulatankeshwara, Madhavesha lingga adalah lingga yang penting dan amat berharga. Di Saketnagara, Nagesh, di Purushotama Nagara, Bhuvanesha, Lokesha, Kamesha, Ganggesha, Sukresha, Sukra Siddhesa, Vakeswara linggalah yang terkenal. Inilah beberapa lingga yang terdapat pada tepi sungai Sindhu. Linga-lingga itu adalah Kapalesha, Vaktresha, Dhartapateshwara, Parmeshwara, Bilneshwara, Suryeshwara, Kautakeshwara lingga. Pada pertemuan sungai Purna dan laut terdapat lingga Dhautukeshwara, Chandreshwara, Bilweshwara, Andhakeshwara, Saraneshwara, Kardhamesha. Terdapat Kotesha di dekat Arbudachalam. Terdapat Nagesha di Kaushika kshetram dan Yogeshwara, Vidyanadheswara, Koteshwara, Sapteshwara, Bhadreshwara, Chandreshwara, Sangameshwara lingga yang bisa memberkahi pemuja dengan kesejahteraan dan juga pembebasan. Terdapat lingga di daerah Utara dan Timur.
           
                                                Lingga di Selatan
            Brahma menanam Brahmapuri lingga di dekat Gunung Chitrakuta., Matta Gajendreshwara lingga. Di sebelah timur terdapat Koteshalingga. Di sebelah barat terdapat Govadari, dimana terdapat lingga Pashupati Nayaka. Di selatan juga terdapat sebuah lingga yang membuat Sadhwi Anasuya sangat berkenan.
           
                                                Cerita tentang Atri – Anasuya

            Atri adalah seorang manasaputra (anak yang spiritual) Brahma. Dewi Anasuya adalah istrinya. Pada saat pasangan ini melakukan tapasya (perenungan spiritual) terjadilah bahaya kelaparan. Semuanya sangat kering. Bahkan, jika seseorang menangis tetesan air mata tidak mampu keluar hanya rasa panas pada mata. Walaupun demikian pasangan ini tetap melakukan tapasya. Semua murid meninggalkan pertapaan. Tetapi Anasuya tidak bergeming sama sekali. Ia terus menghaturkan pemujaan pada Parthivalingga secara mental. Api dari tapasyanya membumbung dan menyebar keseluruh tempat.
            Gangga, yang juga dikenal sebagai Maharasana sangat berkenan dengan tapasya Anasuya. Jadi iapun ingin menolong Anasuya. Suami Gangga, Dewa Siwa masuk ke dalam parthivalingga yang dibuat Anasuya dan ia tetap disana. Pada saat itu terjadi kemarau yang amat panjang selama lima puluh empat tahun. Tiba-tiba Atri bangun dari tapanya dan meminta air. Istrinya yang sangat berbakti dan setia mengambil air dengan kamandalu dan pergi ke suatu tempat. Kemudian ia bertemu dengan Dewi Gangga. Ia memberikan hormat dan mengambil air. Gangga menyuruhnya untuk menggali sebuah lubang ditanah dan mengisinya dengan air. Ia berdoa agar air itu tetap ada disana hingga ia kembali, mengisinya dengan air dan membawanya pada suaminya. Keduanya kembali dan mandi bersama di kubangan air itu.
            Kemudian Dewa Siwa bermanifestasi disana dengan lima wajah dan sepuluh tangan. Pasangan ini memuja-Nya dan memohon agar Dewa Siwa tetap disana. Pada saat itu Gangga berkata bahwa ialah yang akan tinggal disana seperti permintaan Anasuya jika ia merelakan satu tahun hasil tapa dengan melayani suaminya dan juga setahun hasil tapa memuja Dewa Siwa. Anasuya setuju dan Gangga tinggal disana. Dewa Siwa memanifestasikan dirinya atas nama Muni Atri sebagai Atrishwara.
                                    Nandishwara dan lingga lainnya
           
            Lingga yang paling penting adalah Nandishwara. Di bukit yang bernama Kalanjar. Nilakantha sendiri adalah sebuah lingga Siwa dan tempat itu diberi nama sesuai dengan lingga itu. Banyak sekali lingga yang terdapat di sekitar sungai Narmada. Di tepi sungai itu terdapat sebuah lingga yang ditanam oleh Anjaneya sebagai Maha Kapileshwara lingga. Selain itu terdapat juga Artheswara, Parameshwara, Simheswara, Sharmeshwara, Kumareshwara, Pundarikeshwara, Mandapeshwara, Tikshaneshwara, Manggaleshwara lingga.
            Suatu kali terdapat seorang brahmana yang bernama Suwada yang berangkat dari desanya untuk membawa abu ibunya ke sungai Gangga dan ia bermalam di Desa Vimshati. Pada saat malam tiba, terjadilah sebuah keajaiban.
            Pada saat itu, di rumah itu, sapi belum sempat diperah. Ternak yang laparpun mencoba membangunkan pemilik rumah. Brahmana yang marah ini memukuli ternak dengan tongkat dan menjauhkan ternak dari sapi. Setelah semua tertidur lelap, ternak itupun merasa sedih. Sapi menghibur ternak itu. Ia mengatakan ia akan melihat penderitaan yang ia alami juga akan terjadi pada brahmana itu. Ia juga mengatakan bahwa dosa membunuh brahmana yang ditujukan padanya akan hilang begitu saja.
            Suwada yang mendengar hal ini tinggal disana untuk melihat apa yang akan terjadi.
            Pada pagi harinya brahmana menyuruh agar anak laki-lakinya yang memerah sapi. Ketika Brahmana itu mendekatinya, sapi itu menendangnya dengan keras. Anak itupun tewas. Semua orang yang ada disana sangat panik. Tubuh sapi itu menjadi hitam- karena dosa membunuh brahmana atau karena hal lain. Sapi ini dibebaskan dan dibawa keluar. Suwada mengikuti sapi itu. Ia sampai di tepi sungai Narmada. Ia mengitari Nandishwara lingga sebanyak tiga kali. Hitam pada tubuhnya menghilang. Ia kemudian menjadi seperti biasa.
            Karena terkejut, Suwada memuja Narmada dan pergi ke Kashi. Di sungai Gangga, seorang dewi muncul dan meminta pemuda itu untuk menenggelamkan abu ibunya di tempat itu. Jika ia melakukannya, ibunya akan menjadi dewi dan pergi ke Kailasha. Pada hari itu, pada hari ketujuh bulan Vaisakha, Gangga akan tinggal di Narmada.
            Ketika abu itu ditenggelamkan oleh putranya, ibunya muncul sebagai orang suci dan memberkahinya bahwa ia akan hidup damai dan sejahtera untuk selamanya karena telah membebaskannya dari ikatan.

                                    Dewa Siwa memperlihatkan berkahnya di Rushika

            Para rsi dan orang suci bertanya pada Suta Muni kenapa Dewi Gangga pergi ke Narmada pada hari itu.
            Suta menjawab pertanyaan mereka
            Rushika adalah seorang brahmana wanita. Ia menjadi janda pada umurnya yang sangat muda. Karena kebingungannya, ia memuja Ishwara, ia memuja Parthivalingga untuk waktu yang lama di tepi sungai Narmada. Seorang raksasa yang bernama Mudha memintanya untuk bersamanya. Ia tidak mau mendengarkan. Ia mulai menggangunya. Rishika meminta perlindungan Dewa Siwa. Dewa Siwa bermanifestasi dengan cepat dan memenggal kepala raksasa itu. Rushika berdoa pada Dewa Siwa agar ia tinggal di Narmada selamanya. Sebagai gantinya, Ganggalah yang tinggal disana. Ia berjanji bahwa ia akan ada disana pada hari suaminya datang kesana. Dewa Siwa memasuki Parthivalingga yang dibuat oleh Rushika. Dewa Brahma dan yang lainnya juga datang kesana dan menyebut lingga itu sebagai Nandishwara lingga.
            Sejak saat itu, Gangga ada di Narmada, terutama pada hari ketujuh pada bulan Vaishaka.


                                    Shivalingga di Barat

            Kaleshwara dan Rameshwara lingga di daerah Barat adalah lingga yang paling suci dan dihormati. Di tepi pantai Barat Mahasidheswaralingga akan menganugerahkan pemujanya keempat tujuan hidup manusia; Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Juga terdapat Gokarna Kshetra yang akan menghancurkan dosa besar seperti brahmahatya dosha – dosa karena membunuh brahmana. Lingga utama adalah Mahabaleshwara. Di jaman Krita lingga ini berwarna hitam, pada jaman Treta yuga akan berwarna merah, dan pada jaman Dwapara yuga akan berwarna kuning. Dan pada jaman Kaliyuga akan berwarna hitam lagi. Lingga akan dipuja dan akan menghancurkan semua dosa dan akan mengarahkan pemuja pada pembebasan dan juga akan mengalami Siwa Sayujya, yaitu hadirnya diri kita di Siwaloka bersama-Nya.

                                    Munculnya Mahabaleshwara lingga

            Pada jaman dahulu, suatu ketika ketika Dewa Siwa memberikan Rawanasura sebuah lingga dan memintanya untuk tidak menanamnya hingga ia sampai di Lanka. Dengan membawa lingga ini pada tangannya, Rawana mengelilingi Lanka.
            Para dewa mulai khawatir kejadian buruk apa yang akan terjadi jika seorang raja raksasa menanam sebuah lingga di istananya. Mereka meminta Vinayaka untuk melindungi mereka.
            Ganapati mengambil wujud seorang penggembala laki-laki menghadang langkah Rawana. Rawana pada saat itu ingin membuang air kecil dan menyerahkan lingga ini pada penggembala. Gembala ini menaruh lingga itu ke dalam telinga sapi dan pergi begitu saja.
            Rawana kembali dan ia sangat marah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian raksasa dengan sepuluh kepala ini mencoba untuk menarik lingga dari telinga sapi tetapi ia tidak bisa. Dewa Siwa sendiri adalah Mahabaleshwara dan sebagai sebuah lingga ia berdiri di tanah dan tinggal disana. Untuk membuat Dewa Siwa berkenan, para aditya, para rsi dan orang suci bersama dengan Dewa Brahma dan dewa yang lainnya bersama dengan amsha (aspek) mereka tinggal disana di arah Timur. Di dekat gerbang utara Yama, dewa kematian, para dewa dan dua belas rudra tinggal. Di bagian barat tinggallah Varuna, Dewa hujan, Gangga dan yang lainnya. Di sebelah utara tinggalah Bayu, Dewa angin, Kubera, Bhadra Kali dan yang lainnya memuja Dewa Siwa.
            Bahkan pendosa besar sekalipun akan hilang dosanya apabila ia memuja Dewa Siwa pada Mahasiwaratri, hari keempat belas pada bulan Magha. Bagi mereka yang memuja Dewa Siwa pada hari itu akan berada di dekat Dewa Siwa. Gokarna kshetra ini dikenal dengan nama Bhukailasha, Kailasha yang ada di bumi.
Bhukailasha memberikan pembebasan
pada wanita yang tak tersentuh

            Saudamini adalah seorang wanita yang buta. Ia telah kehilangan kedua orang-tuanya ketika ia masih kecil. Ketika ia dewasa ia menjadi pengemis. Tanpa merasakan kebahagiaan ia telah menjadi tua. Suatu hari pada saat hari Siwaratri ia pergi bersama beberapa pemuja ke Gokarna. Ia meminta-minta disepanjang jalan. Seorang pemberi yang cerdik memberinya satu helai daun bilwa. Saudamini mengira bahwa ini adalah sesuatu yang bisa dimakan. Karena ternyata daun itu tidak bisa dimakan ia membuangnya yang kebetulan jatuh diatas lingga Dewa Siwa. Karena lapar, Saudamini malam itu tidak tidur. Pada saat menuju perjalanan kembali dari Gokarna ia jatuh dan meninggal karena kelelahan dan kelaparan. Pengikut Dewa Siwa membawanya ke Kailasha.
           
                                    Cerita tentang Mitrasaha
           
            Pada jaman dahulu kala, ada seorang raja yang bernama Mitrasaha dari dinasti matahari. Karena ia telah menjadi seorang raksasa karena kutukan, ketika ia sangat lapar iapun membunuh dan memakan seorang brahmana. Walaupun ia menjadi raja kembali dan dibebaskan dari kutukan, ia masih membawa dosa karena membunuh brahmana. Ia meminta pertolongan pada Rsi Gautama. Gautama berpikir sejenak dan mengatakan padanya tentang Mahabaleshwara di Gokarna dan memintanya untuk memuja dan juga memuja Dewa Siwa. Sang raja juga pergi kesana dan memuja Dewa Siwa. Dosanya karena membunuh seorang Brahmana telah dihapuskan karena hal ini.
            Di hutan yang lebat disekitar Gokarna, Rawana menanam sebuah lingga yang disebut sebagai Phaleshwaralinggam. Dadhici, rsi yang agung menanamkan sebuah lingga yang bernama Dadhichiswara lingga. Pemuja memuja patung Dadhichi di tempat ini juga. Terdapat sebuah lingga Raishwara yang ditanam oleh para rsi di hutan Naimisha. Terdapat Laliteshwaralingga di Deva Prayaga. Di Nayapala (Nepal) terdapat Pashupathiswara lingga. Sangat dekat dengan tempat itu, terdapat Muktinatheshwaralingga juga. Sangatlah tidak mungkin untuk menghitung semua lingga, kata Muni Suta.
            Rsi Saunaka meminta Suta Muni memberitahu mereka (para rsi dan para orang suci yang berkumpul disana) dan memberikan mereka tentang wujud Pinda dan Panapatta- komponen dari lingga Siwa.
            Suta Muni menjelaskan:
           
            Di hutan Badari (daruvana), Dewa Siwa suatu kali menguji para rsi dengan terlihat telanjang dengan abu yang membalur tubuhnya. Saat itu para rsi sedang ke hutan mencari akar-akaran suci dan dedaunan. Semua wanita yang melihat Dewa Siwa telanjang segera memeluk dan menciumnya. Mereka berebut untuk memeluk dan menciumnya. Para rsi yang melihat hal ini melihat lelaki ini sedang dinikmati oleh para istrinya dan iapun mengutuk lelaki ini agar organ vitalnya jatuh. Lingga jatuh dan Dewa Siwa menghilang. Bumi tidak bisa menahan berat lingga itu yang memenuhi ketiga dunia. Panasnya mengganggu semua makhluk hidup.
            Para rsi dan orang suci putus asa. Mereka berdoa pada Dewa Brahma. Ia menunjukkan welas asihnya. Ia meminta mereka untuk memuja Dewa Siwa bersama dengan pasangannya Dewi Parwati. Dewi Parwati menjadi Panapattam dan mengenakan lingga. Agnilingga, menjadi jyotilingga dan ditanam di hutan Badari. Karena adalah kutukan para rsi dan orang suci disebut sebagai Hatakeshwara lingga. Pinda dan Panapatta adalah Dewa Siwa dan Shakti. Lingga ini adalah lingga yang paling terkenal.
           
                                           Munculnya Vatuka

            Dadhichi memiliki seorang putra yang bernama Sudharshana. Istrinya Dukula menginginkan kebersamaan dengannya. Suatu kali Dadhichi mempercayakan pemujaan lingga pada putranya pada saat ia pergi ke desa lain. Siwaratri tiba. Sudharshana melakukan puasa dan semua kewajibannya. Tetapi pada malam hari mendapatkan keinginannya untuk bercinta dengannya. Sementara itu adalah saat untuk memuja Dewa Siwa. Seperti itulah, tanpa mandi atau mengganti pakaian ia memuja Dewa Siwa. Rudra marah dan mengutuknya agar ia terlahir sebagai jada (seorang idiot).
            Kembali ke rumah, Dadhichi meminta putranya memuja Chandi. Chandi bermanifestasi dan membawa Sudarshana ke Kailasha dan meyakinkan Dewa Siwa. Dewi Parwati mengatakan bahwa Sudarshana sudah ia anggap sebagai putranya, sehingga Sudharsana juga akan menjadi putranya juga.
            Sudharshana diberkahi oleh Dewa Siwa lagipula Chandi menaruhnya dipangkuannya. Dewa Siwa meminta Sudarshana untuk mandi setiap hari dan memakai bubuk kunyit pada dahinya, melakukan Siwa Sandhya dan Siwa Gayatri. Oleh karena itu Dewa Siwa akan mendapatkan penghormatan darinya pada urutan pertama. Ia menempatkan keempat putra Sudharshana dan menerima berkahnya.
            Mahima (keagungan dan kesaktian) dari keempat Vatus tidak terbayangkan. Terjadilah sebuah cerita yang akan menggambarkan kekuatan itu.
            Ada seorang raja yang bernama Bhadra. Dewa Siwa memberkahinya dan memberinya sebuah bendera. Bendera ini akan berkibar pada siang hari dan jatuh pada malam hari. Jika sang brahmana tidak makan maka bendera ini akan berkibar siang dan malam. Tetapi suatu ketika ketika brahmana itu tidak makan, maka bendera itu jatuh. Sang raja mengirimkan ahli astrologinya dan meminta ia untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun para brahmana tidak makan, para vatu, putra Chandi telah memakan makanan itu. Karena itulah bendera itu jatuh. Mereka meyakinkan sang raja bahwa Dewi Parwati dan Parameshwara sangat berkenan. Makanan Vatu sangat kuat dan penting. Dalam pemujaan ini hanya Brahmachari (yang tidak menikah dan pria yang suci) memiliki hak untuk makan terlebih dahulu. Ini adalah perintah Dewa Siwa dan pemujaan terhadap Dewa Siwa akan dekat dengan para Vatu yang menikmati makanan mereka.
            Suta Muni menceritakan tentang jyoti lingga di Somanatha


                                    Cerita tentang Jyoti Lingga di Somanatha

            Daksha menikahkah dua puluh tujuh putrinya yang memiliki nama seperti bintang-bintang pada Chandra (Dewa bulan). Namun Dewa bulan hanya mencintai Rohini saja. Keduapuluh enam putri yang lain merasa terabaikan dan mereka mengadu pada ayah mereka. Daksha mencoba memberitahu Chandra, namun ia tetap saja tidak memperdulikan keduapuluh enam putri yang lain. Daksha mengutuk Chandra agar chandra terserang penyakit parah. Chandra sedikit demi sedikit kehilangan cahaya kilaunya. Ia meminta bantuan pada Brahma. Brahma memintanya untuk memuja Parthivalingga di Prabha Kshetra dan mengajarkan Mrutyunjaya mantra.
            Membutuhkan waktu enam bulan untuk mengucapkan mantra itu sebanyak seratus juta kali. Dewa Siwa bermanifestasi dan menenangkannya bahwa kekuatannya akan hanya meredup pada malam hari saja namun akan meningkat ketika pagi tiba. Kemudian atas permintaan para dewa seperti Brahma, Dewa Siwa tetap menjadi Somanatha Jyoti lingga. Bagi mereka yang mandi di Chandrakunda, semua penyakit akan menghilang. Mengunjungi tempat ziarah ini akan mendatangkan pahala. Bagi mereka yang memuja Somanatha akan dibebaskan dari penyakit lepra.


                                    Cerita Jyoti lingga Mahakaleshwara

            Suatu hari hiduplah di Avantinagara seorang brahmana yang bernama Vedavipra. Dengan memuja Parthivalingga setiap hari ia mendapatkan berkah dewa Siwa. Ia memiliki empat putra yang bernama Devapriya, Priya Medha, Sukruta dan Dharmavahi. Seorang raksasa yang jahat telah datang ke kota dan mengganggu keamanan. Orang-orang meminta perlindungan pada keempat putra Vedavipra. Walaupun mereka sedang melakukan pemujaan, mereka bisa mendengar keluhan orang-orang yang datang pada mereka. Mereka meminta orang-orang untuk memuja Dewa Siwa bersama mereka karena Dewa Siwalah yang bisa menjadi penyelamat mereka. Saat itu datanglah raksasa itu untuk membunuh keempat putra Vedavipra. Tiba-tiba dari sebuah lubang pada Parthiva lingga, Dewa Siwa memanifestasikan diri sebagai Mahakala. Dengan api yang besar, ia membakar raksasa itu dan juga pengikutnya.
            Orang-orang yang ada disana meminta Dewa Siwa untuk tetap tinggal disana dan Dewa Siwa sendiri mengabulkan permintaan mereka dengan tetap berada disana sebagai Jyoti lingga yang akan disebut sebagai Mahakaleshwara.
                                   
                       
                                    Cerita tentang munculnya Shri Kedareshwara

            Seperti ditakdirkan, Dewa Wisnu harus terlahir kedunia sebagai Nara dan Narayana pada Dharma. Keduanya melakukan tapasya di Badarikavan. Setiap hari mereka biasa memuja Parthivalingga. Karena mereka terlahir dengan amsha Dewa Wisnu, Dewa Siwa biasa memperlihatkan diri pada mereka setiap hari. Suatu hari Ia meminta mereka meminta sebuah anugerah. Mereka berdoa padanya agar Ia berada disana selamanya. Jadi Dewa Siwa berada di Kedar sebagai Kedareshwar.
            Ketika Pandawa sedang melakukan perjalanan, Dewa Siwa ingin menguji mereka dan memperlihatkan diri sebagai seekor kerbau. Pandawa menyadari bahwa kerbau ini adalah jelmaan Dewa Siwa sehingga merekapun mencoba menghalau kerbau itu. Kerbau itu kemudian ditarik. Dan kerbau itu meminta agar ia dibagi tiga saja. Bagian kepala jatuh di Nepa dan mengambil wujud sebuah lingga. Bagian kaki jatuh dan menjadi Tunganadheshwara lingga. Bagian punggung menjadi Kedareshwara jyoti lingga.
            Mereka yang memuja Kedareshwara harus meninggalkan gelang disana. Sebelum itu, dari pintu dalam seseorang harus melihat Dewa Siwa sendiri secara langsung. Kedareshwara lingga dipercaya memenuhi semua keinginan pemujanya.


                                                Masa lalu Bhimasura

            Kartaki adalah istri Viradha. Karena suaminya dibunuh oleh Shri Rama, Kartaki dilihat oleh Kumbhakarna yang kemudian memperkosanya. Ia menjadi hamil dan melahirkan putra yang ia berinama Bhimasura. Mengetahui kepedihan yang telah ibunya lalui, Bhimasura melakukan tapasya pada Brahma dan dengan berkahnya ia menjadi sangat kuat. Setelah itu ia melakukan banyak sekali kekacauan di bumi. Ia pergi ke Patala, alam bawah dan mengalahkan Kamarupeshwara dan memenjarakan istrinya Sudhakshina.
           

                                                Munculnya Bhimeshwara jyoti lingga

            Sudhakshina dan Kamarupeshwara adalah pemuja Dewa Siwa yang berbakti. Pada saat mereka dipenjara mereka masih memuja Dewa Siwa. Suatu kali ada yang melihat pada saat mereka sedang melakukan pemujaan. Orang itu kemudian melaporkan bahwa pasangan ini sedang melakukan ilmu hitam. Ia kemudian bertanya dan diberitahu bahwa mereka sedang memuja Dewa Siwa.
            Bhimasura menertawakan mereka telah memuja Dewa yang menjadi penjaga pintu gerbangnya. Ia terus menerus menghina Dewa Siwa dan mengatakan bahwa ia adalah pengemis dan yang lainnya. Dalam amarah yang amat besar ia mencoba mengusik Parthiva lingga. Dari sana muncullah lingga yang memanifestasikan Iswara dan membakar Bhimasura hingga mati menjadi abu. Api menyebar membunuh para raksasa dan membuat binatang dan pegunungan terbakar. Para pemuja berdoa padanya agar ia tetap berada disana dan Dewa Siwa muncul sebagai Bhimeshwara jyoti lingga disana.
           
                                                Shri Vishesveshwara lingga – sebuah sejarah

            Luas Brahmanda menurut para rsi adalah 500 juta yogana. Kashi adalah tempat dimana ia menciptakan Paramashiwa yang melindungi jutaan jiwa yang telah diciptakan oleh Brahma dalam Brahmandanya. Ketika Dewa Siwa menganggukkan telinganya ia terkejut melihat tempat itu, anting-anting permatanya jatuh. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Mani Karnika Ghatta. Dewa Siwa meletakkan lingga lain yang akan tetap ada disana. Itulah mengapa tempat itu disebut dengan nama Mukteshwara dan Kashi menjadi Avimukta. Prakruti dan Purasha tidak menemukan orang-tuanya Maya dan Maheshwara untuk waktu yang lama. Kemudian Siwani meminta mereka untuk melakukan tapasya pada dewa Siwa. Ketika mereka mencari tempat untuk melakukan pemujaan sebuah kota yang indah dengan lebar lima kosa dan juga luas lima kosa dibangun. Srihari, Purusha juga melakukan tapasya disana. Lingga itu menghiasi Kashi. Karena akan menghancurkan dosa semua orang, maka tempat ini disebut dengan Kashi.

                                    Tapasya Gautama – membantu yang lain

            Ketika Gautama dan istrinya Ahalnya melakukan tapasya di Brahmagiri bagian selatan, terjadilah bahaya kelaparan selama ratusan tahun. Orang-orang kelaparan dan kekurangan makanan. Gautama sangat tersentuh. Ia melakukan tapasya untuk memuja Varuna, dewa hujan. Varuna meminta agar ia meminta yang lain, bukan hujan, karena kemarau ini adalah kehendak Dewa Siwa. Tetapi kemudian Varuna hanya memohon setitik air saja. Ia diminta untuk menggali sebuah lubang dan mengisinya dengan air suci. Ia memberitahu Gautama bahwa tempat ini akan menjadi terkenal dengan nama Akshaya Tirtha. Pemberian sumbangan dilakukan dan meminum air di tempat ini akan memberikan manfaat yang baik.
           

                                    Terimakasih pada Gautama

            Sejak saat itu orang-orang mengambil air dari tempat ini yang bernama Akshaya Tirtha (air yang tak pernah habis). Suatu hari ketika murid Gautama sedang mengambil air, istri para rsi mengatakan bahwa merekalah yang berhak terlebih dahulu mengambil air dari tempat ini. Murid Gautama ini menemui Ahalya yang datang kesana, ia menenangkan para istri rsi itu dan mengambil air di tempat ini.
            Para istri rsi tidak suka dengan Ahalnya. Mereka membuat cerita yang buruk tentang Ahalya dan Gautama dan mereka menyuruh para suaminya untuk menerapkan aturan “Naticharami” (Aku tidak akan melewati batas). Para rsi memuja Ganapati dan mereka memintanya untuk mengusir Gautama dari pertapaan ini. Jadi Vinayaka muncul dihadapan Rsi Gautama dengan menjelma menjadi seekor sapi tua.
            Sawah Gautama menguning dengan padi yang siap dipanen. Vinayaka, dengan menyamar menjadi sapi tua merusak tanaman itu. Gautama mencoba menyelamatkan tanamannya, ia melemparkan ilalang pada sapi itu. Sapi ini mati terkena ilalang itu. Para muni (orang suci) mengatakan bahwa Gautama telah membunuh sapi. Setelah pergi, Gautama ingin meminta maaf pada para rsi atas perbuatannya. Namun rupanya para rsi itu ingin membuat Gautama lebih terhina, mereka menyuruhnya untuk mengelilingi Brahmagiri sebanyak sebelas kali. Kemudian ia harus membawa Gangga kesana. Setelah mandi, ia harus memuja ribuan Parthiva lingga. Kemudian ia harus mandi di sungai Gangga dengan ratusan pot air melakukan Rudrabhisheka untuk membersihkan dosanya.

                                   

Kelahiran Govadari dan lingga Triumbhakeshwara

            Gautama seperti yang disarankan oleh para rsi, mengelilingi Brahmagiri sebelas kali. Ia mandi disebuah kubangan kecil yang diberikan oleh Dewa Varuna, iapun memuja parthiva lingga ribuan kali. Kemudian muncullah Dewa Siwa. Ahalya dan Gautama berdoa pada keduanya dan memohon agar mereka diberkahi dengan air Gangga.
            Dewa Siwa mengabulkan doanya. Air sungai Gangga yang tidak pernah berhenti mengalir muncul sebagai seorang bidadari dan disebut dengan nama Gautami. Dewa Siwa memerintahkannya untuk tetap tinggal di bumi hingga Kaliyuga yang kedua puluh delapan pada Vywaswat manwatar yang akan datang. Kemudian Gautami meminta Dewa Siwa untuk tinggal ditepiannya memberikan mereka semangat dalam wujud beliau yang sangat indah. Dewi Gangga meminta para dewa untuk memberikan mereka sesuatu yang sangat indah. Mereka memberitahunya bahwa pada setiap dua belas tahun akan ada sebuah perayaan, Pushkara, ketika semua planet Guru berada dalam posisi Simha Raasih (konstelasi bintang). Kemudian darisana Gangga akan mengalir dari cabang sebuah medi (pohon beringin) pohon yang mengucikan Gautama.
Kemudian tempat itu dikenal sebagai pintu menuju Gangga. Para rsi yang mencelakai Gautama diberikan pelajaran. Ketika mereka ingin mendekati sungai itu, maka Ganggapun menghilang. Gangga memberitahu  mereka bahwa Gautama akan memaafkan mereka jika mereka mengelilingi Brahmagiri sekitar seratus satu kali dan memberikan penghormatan pada mereka. Kemudian pada kaki bukit ketika Gautama membalikkan batang pohon maka air mengalir. Gautama dan Ahalya mandi disana terlebih dahulu dan kolam (gunda) itu disebut dengan nama Kushawant. Sehingga Dewa Siwa tinggal disana sebagai Trayambhakeshwara lingga. Govadari telah diberinama sebagai ibu yang sangat pemurah dan welas asih.
            Setelah munculnya Govadari dan Trayambakeshwara lingga, Gautama mengutuk semua orang yang telah membuatnya menderita agar mereka semua jauh dari Shiva jnana dan mereka akan memiliki tanda hitam pada dahi mereka. Dan kutukan itu juga mengatakan bahwa siapapun yang mencapai Kanchi dan bahkan keturunan merekapun agar menjauh dari pemujaan dan juga komitmen pada Dewa Siwa.
            Mengetahui tentang cerita munculnya Govadari dan Trayambakeshwara lingga dan membaca ini semua akan memberikan pahala yang baik dan keberhasilan dalam segala usaha yang dilakukan pemuja.

                                    Munculnya Vidyanadeshwara lingga

            Pemuja Dewa Siwa yang peling terkemuka adalah Rawanasura. Suatu hari ia pergi ke gunung Kailasha, ia memilih satu tempat suci dan tempat ini berada di bawah sebuah pohon yang berada didekat api suci. Didekatnya, ia mendirikan sebuah lingga. Ia mulai sebuah ‘havana’ (pemujaan dengan persembahan pada api suci) untuk memuja Dewa Siwa dengan Siwa Panchakshari. Raja raksasa begitu yakin bahwa Dewa Siwa tidak akan memberkahinya. Ia mulai menghaturkan genitri yang terbuat dari kepalanya sendiri dan membuangnya ke dalam api suci satu persatu. Ketika ia akan memenggal kepalanya yang kesepuluh, Dewa Siwa bermanifestasi. Ia memberkahi raja raksasa dan kesembilan kepalanya lagi. Ia memberkahinya dengan kekuatan yang tak terkalahkan. Masih tidak puas, raja raksasa meminta Lanka dimana ia akan menghaturkan pemujaan setiap hari.
            Rawana sangatlah senang. Tetapi di tengah jalan, ia ingin sekali buang air kecil. Ia menemukan penggembala sapi dan memberikan anak kecil itu lingga yang ia bawa. Ternyata Rawana tak kunjung kembali. Penggembala kecil itu karena tidak mampu membawa lingga itu untuk wantu yang lama, menaruhnya di bawah. Lingga itu tertanam, tidak bergerak. Rawana, ketika kembali tidak bisa menggeser lingga itu bahkan dengan kedua puluh tangannya. Lingga Siwa yang agung yang ditanam oleh penggembala itu tetap berada disana sebagai Vidyanadhishwara.

                                    Munculnya Lingga Sri Nageshwara jyoti

            Pada jaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Daruka dan Daruk. Sang istri Daruka adalah pemuja yang sangat berbakti dan rajin melakukan tapasya. Ibu Mulia memberinya sebuah hutan dengan luas enam belas yogana di tepi Pantai Barat dengan kekuatan yang sangat besar. Sejak saat itu pasangan raksasa ini tidak terkendali. Mereka biasa mencabuti pohon hutan yang besar-besar dan membuangnya begitu saja di desa. Orang-orang yang tinggal disana biasanya tergencet oleh pepohonan itu.
            Tidak bisa menahan hal ini lagi, orang-orang desa menemui Aurva-bumi. Muni itu mengutuk agar semua raksasa yang mengganggu bumi agar mati. Ini menyebabkan banyaknya raksasa yang tewas. Kedua raksasa inipun menjadi lemah. Pada akhirnya, para dewa turun ke bumi untuk melawan para raksasa itu. Kemudian Daruka dengan kekuatannya dengan seluruh kekuatannya membawa seluruh hutan ke dalam lautan. Tempat ini menjadi tempat berlindung bagi mereka.
            Tak mampu kembali ke darat, para raksasa mulai mengganggu penghuni laut. Biasanya mereka membunuh atau memenjarakan manusia yang pergi ke laut. Diantara yang terpenjara itu terdapatlah Supriya, pemuja Dewa Siwa. Ia sangat berbakti. Bahkan walau di penjarapun ia tetap melakukan pemujaan. Ia juga menyarankan agar orang-orang memuja Dewa Siwa. Berkenan, Dewa Siwa mulai menerima pemujaan yang dilakukan oleh Supriya. Tetapi Supriya tidak tahu akan hal ini.
            Para raksasa tidak suka pemujaan ini. Mereka mulai mengganggu orang-orang yang dipenjara. Para pemuja Dewa Siwa memohon pertolongan Dewa Siwa. Kemudian sebuah lingga jyoti muncul disana dan membebaskan semua pemuja. Ia kemudian memberikan anugerah bahwa Daruka vana akan menjadi tempat untuk Varna ashram dharma – tatanan dharma.
            Mengetahui hal ini, Daruka memuja Dewi Parwati, karena ia berjanji akan melindungi para raksasa. Ini membuat sedikit pertengkaran antara Ibu Dewi dengan Dewa Siwa. Mereka kemudian akhirnya sepakat. Seperti perintah Dewi, selama satu yuga, Daruka vana akan dikuasai oleh raksasa dan akan mengganggu manusia. Bagi mereka yang datang ke tempat itu akan selamat karena dilindungi oleh sebuah lingga yang disebut dengan nama Nageshwara lingga. Pada akhir sebuah yiga seorang raja yang bernama Virasena akan datang kesana dan memuja Nageshwara Lingga. Ia mempelajari cara menggunakan Pashupata dan menghancurkan keturunan Daruka. Putra Virasena adalah Maharaja Nala.


                        Cerita tentang Lingga jyoti Sri Rameshwara

            Rama datang sebagai inkarnasi untuk membunuh raksasa Rawana. Ia menikah dengan Dewi Sita dan ketika menjalani masa pembuangan, Rawana menculiknya. Rama harus menyeberangi lautan hingga mencapai Lanka dan memuja Dewa Siwa. Dewa Siwa dipuja sebagai parthivalingga. Setelah dipuja, Dewa Siwa diminta untuk bersemayam disana. Dewa Siwa bersemayam disana sebagai Lingga jyoti Rameshwara.
            Mereka yang membawa air dari Prayaga dan melakukan Abhisheka ke Lingga jyoti Rameshwara mendapatkan berkah dan juga pahala. Mereka akan diselamatkan dari siklus kelahiran dan kematian. Sedangkan bagi pemuja, kebahagiaan dan kenyamanan hidup yang tidak bisa didapatkan oleh para bidadari sekalipun bisa didapatkan dengan berkah Dewa Siwa.

                        Munculnya Lingga Ghusmeshwara

            Devagiri adalah sebuah gunung di sebelah barat negeri Bharata. Di dekat gunung itu ada sebuah desa yang kaya. Terdapatlah seorang brahmana yang bernama Sudharma. Sudeha adalah istrinya. Karena ia tidak memiliki keturunan, ia meminta suaminya menikah dengan adiknya, Ghushma. Gushma biasanya memuja parthiva lingga sebanyak seratus satu kali. Ia kemudian melahirkan seorang putra. Sudeha sangatlah bahagia. Tetapi sementara semua orang memuji Gushma, mereka juga menghina Sudeha sebagai perempuan yang mandul dan semua orang menjelek-jelekkannya. Hal ini menimbulkan kecemburuan pada diri Sudeha.
            Ketika anak ini beranjak dewasa, pernikahannya diadakan. Besannya menghormati Ghusma tetapi merendahkan Sudeha. Tetapi pengantin sangat menghormati Sudeha. Tetapi Sudeha karena kecemburuan dan sakit hatinya membunuh putra tirinya tanpa diketahui oleh suaminya. Ia memotong-motongnya dan membuat kantung yang berisi mayat ini ke dalam sebuah saluran dimana Gushma biasanya membuang sisa-sisa pemujaan.
            Sang fajar mulai bersinar. Sudharma dan Ghusma melakukan aktifitas mereka sehari-hari. Ghusma terus memuja parthiva lingga. Pengantin peremouan bangun dari tidurnya melihat tetesan darah dan potongan tubuh manusia. Dalam ketakutan dan kebingungan ia menemui mertuanya. Ibu mertuanya tidak mengacuhkannya karena ini akan mengganggu pemujaan yang ia lakukan.
            Pada akhirnya setelah sore tiba pemujaan telah selesai, dan sisa pemujaan itupun ia buang ke dalam sebuah saluran. Ketika selesai, iapun menuju ke rumah untuk menemui putranya. Dewa Siwa muncul dan memintanya memohon sebuah anugerah. Ia meminta Dewa Siwa tinggal disana atas namanya. Dewa Siwapun bermanifestasi sebagai sebuah jyoti lingga yang bernama Ghusmeshwara. Saluran yang berisikan sisa pemujaan dikenal dengan nama Siwalaya.
            Inilah cerita tentang sebelas lingga jyoti.


                                    Shrihari mendapatkan Cakra Sudharsana dari Dewa Siwa

            Para rsi dan para orang suci menyarankan agar Suta Muni memberitahu mereka bagaimana Srihari diberkahi oleh Dewa Siwa dengan memberikannya senjata sakti yang bernama Sudharsana chakra, cakranya yang amat sakti.
            Suta Muni memberitahu mereka:

            Suatu kali para raksasa menjadi sangat kuat dan mulai mengganggu penghuni bumi. Para dewa semua menghadap Dewa Wisnu dan memintanya untuk menghancurkan para raksasa. Dewa Wisnu merenung dan berkata ini semua adalah kehendak dewata. Jadi yang harus dilakukan adalah memuja Kanthikala dan menemukan cara untuk memecahkan masalah ini. Dewa Wisnu kemudian membuat sebuah lubang di dekat Kailasha, membuat api dan melanjutkan melakukan sebuah havana (upacara api). Setiap hari ia memuja parthivalingga. Ia akan membawa bunga dari Manasa Sarovara dan memuja parthivalingga dengan ratusan bunga. Suatu kali Dewa Wisnu pergi ke Manasa Sarovara dan mempersiapkan bunga lotus. Ia terus menghaturkan bunga setelah mengucapkan Shivasahasra nama (ribuan nama/pujian pada Dewa Siwa). Saat itu ia hanya kekurangan satu bunga saja. Ia hampir mengambil matanya untuk ia persembahkan, itulah mengapa ia disebut bermata lotus dan meminta Dewa Wisnu untuk memohon sebuah anugerah.
            Kemudian Dewa Wisnu menceritakan tentang kejahatan para raksasa. Ia mengatakan bahwa semua senjata yang ia miliki tidak mempan untuk mengalahkan para raksasa itu. Mendengar cerita ini, Dewa Siwa memberikan sebuah senjata, yaitu chakra yang ia sempurnakan sendiri. Sejak saat itu Dewa Wisnu memperoleh gelar Chakradhari, Chakrapani, Chakri dan lain-lain. Dewa Wisnu juga dikenal dengan nama Padmadhara, dewa yang membawa setangkai lotus, karena ia hampir mempersembahkan matanya sebagai pengganti bunga lotus yang tidak ada. Dewa Siwa memberkahi Dewa Wisnu dengan sebuah astra dan Shastra.
            Para rsi dan orang suci meminta Suta Muni memberikan mereka saran atau memberi mereka ‘tantra’ (sebuah cara) untuk memberikan mereka pembebasan.


                                    Kumpulan pemujaan (Sukshma puja)

            Suta mulai memberitahu mereka tentang sukshma pujan. Pemujaan yang paling tinggi adalah Siwaratri vrata (pemujaan pada hari Siwaratri dengan berpuasa dan memuja).
            Seorang yang bijaksana akan bangun pada pagi hari setelah mandi pagi dan melakukan darshana lingga dengan merenung pada Dewa Siwa. Pada bagian awal pemujaan pada malam itu mempersiapkan semua upacara, mengumpulkan perhiasan dewa atau alat-alat pemujaan untuk melakukan pemujaan dihadapan atau dibelakang lingga, mandi lagi, menggunakan pakaian yang bersih dan rudraksha dan melanjutkan ritual pemujaan dengan semua upacara. Bagi mereka yang tidak tahu prosedur upacara ini bisa mengucapkan mantra, Mantra Siwa yang didapatkan dari seorang guru.
            Setelah mendengarkan delapan nama, dan prosedur pemujaan lain, para rsi dan orang suci meminta Suta Muni untuk memberitahu mereka yang tidak mengetahui atau mereka yang telah kehilangan harapan.
           
                                    Keagungan Shivaratri dan cerita Guha

            Suta Muni memberitahu para rsi dan orang suci:

            Suatu hari hiduplah seorang pemburu yang bernama Guha. Ketika ia tidak mampu berburu binatang lagi. Perayaan Siwaratri datang. Guha sama sekali tidak tahu apapun tentang perayaan ini.
            Seperti biasa, pada hari itu ia ia berangkat dengan panah dan busur. Hingga malam, ia tidak bisa menangkap satu buruanpun. Malam telah tiba. Berkeliling hutan, ia sampai ke sebuah kolam berharap ia akan menemukan binatang. Ia naik kesebuah pohon dan duduk menunggu. Ia ingin menembak seekor rusa yang kebetulan melintas disana, tetapi tempat air yang ia bawa bergoyang-goyang. Ia ternyata menaiki pohon bilwa. Pohon ini bergoyang hingga beberapa daunnya jatuh. Daun ini jatuh diatas lingga di bawah pohon. Sang pemburu mendapatkan pahala (punia) dengan memuja Dewa Siwa dengan abhisheka pada perempat pertama malam itu.
            Sementara itu rusa yang datang ke tempat itu melihat pemburu. Ia memberitahu pemburu itu bahwa ia bisa menembakkanya setelah ia menitipkan anak-anaknya pada suami dan istri suaminya yang lain. Pemburu ini duduk menunggu rusa itu. Kemudian bergulirlah sang malam. Kemudian datanglah rusa pertama dengan istri suaminya yang lain. Melihat rusa betina itu pemburu segera meraih busur dan panahnya. Sekali lagi air tumpah dan daunpun berguguran dan jatuh diatas lingga di bawah pohon. Pahala memuja Dewa Siwa pada malam itu adalah karma yang baik bagi pemuja.
            Kemudian datanglah lagi rusa yang masih mengatakan bahwa ia akan menitipkan anak-anaknya pada suaminya. Pemburu kembali menunggu sehingga tak terasa ia telah melewati malam yang semakin larut.
            Kemudian malam terus berjalan. Pemburu berpikir bahwa binatang itu telah membohongi dirinya. Kemudian rusa jantan mencari betinanya. Ketika pemburu mencoba untuk memanahnya, air rumpah dan daun-daun berguguran dari pohon jatuh ke lingga. Sehingga kembali ia mendapatkan pahala baik karena memuja Dewa Siwa. Rusa betina melihat Guha, ia memohon padanya agar ia tidak dibunuh. Ia berjanji akan kembali setelah menitipkan anak-anaknya pada ibunya. Menunggu rusa betina itu datang, pemburu tetap menunggu sehingga iapun tetap terjaga sepanjang malam.
            Ketika rusa betina dan rusa jantang akan memenuhi janji mereka pada pemburu, anak rusa yang paling bungsu mengikuti mereka.
            Ketika telah begitu lama Guha menunggu akhirnya keluarga rusa muncul dan iapun merasa bahagia. Dan lagi ia mengambil busur dan iapun tidak sadar bahwa ia telah memuja Dewa Siwa.
            Sebagai pahala atas pemujaan yang ia lakukan, Guha menjadi orang yang bijaksana. Ia menyesali dosa yang telah ia lakukan. Ia kemudian melepaskan rusa-rusa itu.
            Dewa Siwa memperlihatkan diri dihadapan Guha dan memberinya nama Guha, nama yang kita pakai menyebutnya dalam cerita ini. Ia meminta Guha untuk memerintah kerajaan Nishada dan menjadikan Shringaberipuram sebagai ibu kotanya. Ia memberinya anugerah bahwa ia akan bertemu dengan Shri Rama dan memberkahi keluarga rusa dengan memberikan mereka tempat di Siwaloka. Pada bukit yang disebut dengan Adbhutachala, Dewa Siwa tinggal disana sebagai Vyadheshwara.
            Karena siwaratri memiliki kekuatan yang amat besar seperti dalam cerita, semua orang harus melakukan pemujaan pada hari Siwaratri.
            Dengan berakhirnya cerita ini, maka Kotirudra Samhita juga telah selesai. Suta Muni kemudian melakukan semadi lagi.






                                                Umana Samhita

                                                Samhita kelima

           
            Kata para pemuja:

            Ibu Mulia! Tidak ada pendosa yang lebih buruk dari diriku. Tidak ada yang lebih agung dari dirimu dalam hal menyelamatkan pendosa. Berikanlah aku pentuk.
            Dan kemudian:

            Aku mencari Siwatatwa (sifat menjadi mulia seperti Dewa Siwa). Ia yang memiliki Rajoguna, dalma menciptakan segalanya, ia yang terus menjaga segalanya dalam kebaikan, yang menghancurkan segalanya yang memiliki Tamo Guna, yang memiliki Tirodhana dan Anugraha, ia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kemurnian, ia yang dipenuhi dengan sifat-sifat Satwika, Ia yang menciptakan maya (ilusi, keterikatan) namun tidak berada dalam kendalinya, Ia yang bukan maya yang lengkap sempurna dalam kemuliaan- Siwatatwa itulah yang aku puja.
           
            Krishna bertemu dengan Upamanyu

            Kata Suta Muni:

            Pada jaman dahulu, Sri Krishna menginginkan seorang putra, ia pergi ke Kailasha dengan niat ingin melakukan tapasya. Ia memuja seorang rsi yang bernama Upamanyu. Ia mencari penerangan tentang keagungan (mahima) Dewa Siwa.
            Upamanyu mulai memberikan ia pelajaran. Begitu agung penampakan Dewa Siwa, yang memberikan berkah dan kebahagiaan, berdiri pada satu kaki dengan wajah yang memiliki taring dan penuh api, memiliki banyak tangan dan kaki, banyak mata dan cahaya terang. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan dirinya. Trisulanya diberinama Wijaya dan ia adalah pemiliki kapak yang agung.
            Mendengar ini semua Krishna ingin mendapatkan Darshan dari Dewa Siwa. Upamanyu memberinya mantra panchakshari dan memintanya untuk membacanya dan mengulanginya dalam hati. Dengan melakukan semua ini, setelah bulan yang keenam belas kata rsi, keinginan Krishna akan terwujud.


Dewa Siwa bermanifestasi dan memberikan anugerah pada Shri
Krishna

            Dewa Siwa bermanifestasi bersama dengan pasangannya Dewi Uma. Mereka sangat berkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Shri Krishna. Ibu Mulia memohon pada Shri Krishna untuk meminta beberapa anugerah.
            Shri Krishna meminta beberapa anugerah yang disebutkan dibawah ini.

i)                    Semoga pikiranku tidak pernah berpaling darimu.
ii)                  Semoga aku mendapatkan berkah dengan kemunculanmu setiap saat padaku
iii)                Semoga nama baikku tidak pernah mendapat penghinaan.
iv)                Semoga sepuluh putra terlahir dariku dengan sifat yang pemberani, bijaksana, panjang-umur, sehat, sejahtera dan bertingkah-laku yang baik dengan sifat-sifat yang mulia.
v)                  Semoga tidak ada yang mengalahkanku—semoga aku bisa mengalahkan semua musuhku.
vi)                Semoga penghinaan dan cacian tidak pernah mendekatiku
vii)              Semoga aku selalu dipuja oleh orang yang mengasihi, memuja dan setia padamu.

Berkahilah aku dengan semua yang telah disebutkan.

Semua doanya dikabulkan dan diberitahu bahwa ia akan diberkahi dengan seorang putra yang bernama Shambhu, ia yang sangat kuat. Semuanya yang ia mohonkan akan dikabulkan.
Tidak cukup puas dengan semua ini, Ibu Mulia meminta Krishna untuk meminta anugerah lagi.
Kemudian Shri Krishna menjawab

Ibu Mulia- Semoga aku selalu berjalan diatas jalan Dharma, selalu melakukan tapasya dan menghormati Brahmana.
Semoga aku menjadi kesayangan bagi semua Brahmana.
Semoga kekuatanku selalu berguna.
Semoga segala sesuatu menjadi menyenangkan dimanapun aku berada.
Semoga semua sejak saat ini aku terlahir pada keluarga yang mulia.
Semoga Aku selalu bisa melakukan upacara api.
Semoga banyak orang yang datang dan makan di rumahku

            Semoga aku memberikan kebahagiaan pada banyak istriku

            Setelah mengabulkan permohonan Shri Krishna, Dewa Siwa dan Dewi Parwati menghilang. Krishna menyampaikan kabar baik ini pada Upamanyu dan meminta ijin padanya untuk pergi.
            Banyak sekali pemuja yang telah diberkahi seperti ini oleh Ibu Mulia dan Dewa Siwa. Rsi Yajnyavalkya adalah pemuja Siwa yang paling terkemuka. Demikian juga Rsi Vyasa. Hanya karena berkahnyalah Anasuya melakukan tapasya diatas lesung kayu yang tinggi dan mendapatkan tiga putra: Chandra, Datta dan Durwasa. Seorang wanita prostitusi yang bernama Pingala dan seorang brahmana diberikan anugerah oleh Dewa Siwa pada saat ia berinkarnasi sebagai Rishabha. Pengabdian dan pemujaan pada Dewa Siwa membuat Brahma, Sang pencipta dan juga Chirajivi makhluk yang abadi. Parashurama menjadi pemenang didunia dan Devala yang dikutuk oleh Devendra, mendapatkan pembebasan. Pemujaan pada Dewa Siwa dan berkah-Nya bisa menyelamatkan Gritsamana (putra Chakshusa manu) dari kutukan Wasistha. Berkah Dewa Siwalah yang memberkahi Gargyamuni untuk mendapatkan pengetahuan dama tiga waktu: sekarang, dimasa lalu dan masa depan (Trikala), Parashara menjadi rsi yang agung dan menjadi termasyur hanya karena berkah (anugerah) Dewa Siwa. Dewa Siwalah yang menyelamatkan seorang rsi yang bernama Mandavya yang terkena sebuah tongkat sebagai hukuman.
            Setelah mengatakan itu Suta Muni menyarankan agar para orang suci dan rsi untuk selalu menjaga pikiran, hati dan inteleknya untuk selalu tertuju pada Dewa Siwa yang akan menghasilkan semua pahala yang diinginkan.

Dosa dan tingkatan Dosa

            Sanaka dan Rsi lainnya bertanya pada Suta Muni tentang berbagai dosa dan tingkatan dosa.

            Suta Muni menjawab:

            Seseorang yang menginginkan suami orang, harta benda orang lain, uang orang lain dan mereka yang ingin mencelakai orang—adalah pendosa psikologi atau mental. Membicarakan orang lain dan menggosip adalah dosa karena lidah. Memakan makanan yang tidak baik (tidak suci, hal yang terlarang), yang membuat orang lain sakit, melakukan perbuatan tidak baik, mencuri adalah dosa tubuh. Ini adalah dosa yang tertinggu (maha papa). Benci kepada Tuhan adalah dosa yang terdalam. Memberikan sedekah pada mereka yang tidak berhak mendapatkannya, yang tidak baik, membaca buku yang dilarang—tinggal dirumah yang tidak disucikan oleh ‘vaastu’ (cara membangun yang benar) dan pemujaan yang tepat – tidak pernah berderma adalah dosa. Membunuh Brahmana, meminum minuman keras, mencuri emas, menggoda istri guru- berteman dengan orang jahat, membuat orang menjadi pendosa besar (maha papi). Menghina orang yang baik, mencuri uang para dewa (patung di kuil), menghasilkan uang dengan cara yang tidak benar, tidak melakukan upacara, membunuh orang yang tidak berbahaya, binatang yang tidak buas, juga adalah dosa. Demikian juga melukai atau menganiaya Brahmana, memenuhi keinginan  indra, perzinahan, pelecehan seksual pada wanita adalah dosa yang lainnya.
            Seorang kakak yang membiarkan adiknya menikah terlebih dahulu akan disebut sebagai parivitti. Sebuah yajna dengan adanya kakak yang seperti itu adalah dosa. Menikahkan perawan pada orang yang seperti itu adalah dosa. Meninggalkan dharma, kewajiban, mengikuti dharma orang lain, mencoba untuk belajar obat-obatan tanpa pengetahuan yang cukup, melakukan ilmu hitam, menghancurkan sebuah taman, menghina tamu, kikir, menganiaya orang yang lebih lemah semuanya adalah dosa. Membantu, menolong dan melakukan kebaikan adalah punia atau pahala. Diantara dosa itu, yang paling berat adalah dosa perzinahan (perselingkuhan). Bagi mereka yang diketahui melakukannya akan dihukum oleh raja, tetapi bagi mereka yang tidak ketahuan maka akan dihukum oleh Dewa Yama sendiri.

                                   
                                    Pahala terhadap sepuluh jenis kebaikan

            Semua perbuatan akan mengarah pada Punia (pahala) dan Papa (dosa) dan adalah sesuatu hal yang mutlak bagi manusia untuk menuai apa yang ia tanam. Bagi mereka yang ingin jauh dari Neraka (tempat penderitaan bagi mereka yang berdosa) harus melakukan perbuatan yang baik dan menjauh dari semua jenis kejahatan. Punia yang dihasilkan dari pujan (pemujaan), vrata (segala jenis puasa), japa (mengulangi nama tuhan), tapa (melakukan perenungan), Homa (upacara api) dan dana (menyumbang). Yang tertinggi adalah memberikan sumbangan. Bagi mereka yang berdosa sekalipun, kedermawanan akan menghasilkan punya. Bagi mereka yang sudah menghuni neraka sekalipun, punia masih bisa membantu.
            Bagi mereka yang ingin mendapatkan punia harus melakukan perbuatan yang menghasilkan pahala. Seseorang itu harus memberikan sumbangan dan juga melakukan perbuatan baik. Adalah dosa bagi mereka yang tidak memberikan sumbangan. Sepuluh kedermawanan yang baik adalah – memberikan emas, biji wijen, gajah, perawan, pembantu, kuda, kereta, permata (batu berharga), sapi hitam dan tanah. Segala sesuatu yang disayangi oleh seseorang jika diberikan pada orang lain adalah sumbangan, yang akan menghasilkan pahala. Tetapi sumbangan harus diberikan pada mereka yang membutuhkan, orang yang pantas mendapatkannya. Ini bisa dilakukan kapanpun juga.
            Bagi mereka yang memberikan emas akan menghancurkan dosa dimasa lalu dan masa sekarang. Bagi mereka yang memberikan sapi maka keinginan mereka akan terkabul. Bagi mereka yang memberikan tanah akan terlahir kembali sebagai manusia. Menghiasi seekor sapi dengan biji wijen dan seekor ternak dengan emas dan memberikan binatang itu untuk disumbangkan akan menjadikan seseorang itu penghuni swarga hingga kepemimpinan Dewa Indra yang keempat belas kali. Bagi mereka yang memberikan til (biji wijen) sebagai sumbangan akan membuat dosa mereka sirna. Ini akan menghapus dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja baik dimasa anak-anak maupun masa remaja. Dalam hal ini, sumbangan yang diberikan pada saat tertentu akan lebih memberikan hasil.
            Ketika musim panas tiba, alas kaki harus diberikan pada orang yang lebih memerlukan daripada pemberi. Bagi mereka yang memberikan payung akan mendapatkan akan mendapatkan jalan hidup yang lebih teduh. Semua punia yang diberikan dengan tulus akan menghasilkan pahala. Bagi mereka yang terlahir sebagai manusia dan di bumi – mereka yang lahir sebagai mereka yang mengetahui hal ini harus memeberikan sumbangan jika mereka menginginkan kenyamanan pada kehidupan mereka berikutnya.

Mahima (keagungan) Anandana (memberikan makanan sebagai sumbangan)

            Anna (makanan, secara umum) menjaga prana dan menjaga semuanya agar tetap hidup). Jadi bagi mereka yang memberikan makanan sama dengan penjaga kehidupan itu sendiri. Tidak ada yang lebih penting daripada prana (kekuatan hidup). Annadana menghasilkan pahala dari semua dana yang terbaik. Karena itulah, ini harus dilakukan kapan saja. Tetapi harus dilakukan pada mereka yang berhak.
            Tetapi adalah baik apabila memberikan makanan bagi mereka yang sedang sekarat apakah ia orang yang baik atau pendosa.
            Bagi mereka yang memberikan makanan dengan tulus akan tinggal lama di swarga di Nandana dikelilingi oleh pohon Parijata dan di bawah Kalpavriksha (pohon pengabul keinginan).

                                    Memberikan air sebagai amal atau sumbangan (Jala dana)

            Setelan annadana ada jaladana – memberikan air sebagai amal. Ketika makanan bisa diberikan demikian juga dengan makanan. Itulah mengapa Jala-dana sangat penting. Bagi mereka yang memberikan minuman bagi mereka yang sangat haus, memberikan minuman pada saat panas membekar tenggorokan adalah dana (amal). Membuat sumur atau membuat tempat penampungan air adalah pahala yang baik. Dosa karena kelahiran seseorang akan hancur pada saat orang membuat sumur. Bagi mereka yang membuat lubang untuk sumur akan mendapatkan punia (pahala) yang sama dengan Aswamedha yajna. Walaupun pengelenggaraan yajna mencakup banyak sekali hal namun termasuk annadana dan jala dana di dalamnya.
            Setelah menggambarkan sepuluh dana yang agung dan annadana Serta jaladana, Suta Muni memberitahu mereka tentang ketidakmurnian tubuh. Tetapi sebelum melakukan ini ia mengingat Ibu Mulia.

                                    Ketidakmurnian tubuh
           
            Dalam tubuh, anna dan jala sangatlah berbeda. Dari udara yang dihembuskan oleh darah, api rasa lapar membakar air. Inilah yang memasak anna. Makanan yang telah dimasak menjadi ‘kekuatan substansial) dan sebagian lagi menjadi excreta (kotoran).
            Kotoran ini dibuang dari tubuh melalui beberapa organ – Telinga, Mata, Gigi, Organ kemaluan, Anus dan kuku.
            Karena anna (makanan), sperma dibentuk dan ini mengacu pada pembentukan tubuh. Sperma kemudian masuk ke vagina dan pada saat penerimaan itu semuanya haruslah bersih. Sperma ini kemudian menyatu dengan cairan dari vagina (yang disebut sonita) yang menyebabkan terjadinya prokreasi.

                                    Kualitas tubuh

            Ketidamurnian adalah kualitas dan sifat tubuh. Betapa kerasnya seseorang mencoba, ketidakmurnian tidak dapat secara total dibersihkan.
            Walaupun seseorang bisa mencium bau tubuh dan mengetahui batasan tubuh, tidak seorangpun yang bisa bebas dari bau ini; ini adalah bagian dari manusia. Untuk membebaskan seseorang dari ketidakmurnian, yang utama seseorang itu haruslah memiliki kesucian pikiran. Demikian juga dengan pentingnya kebersihan tubuh luar maupun dalam. Tanpa kemurnian dari dalam diri, kebersihan tubuh luar tidak ada artinya. Untuk itulah semua manusia berusaha untuk memperbaiki diri untuk mendapatkan kesempurnaan diri.
           
                                    Umur

            Setiap umur memiliki karakter atau kejadian tersendiri. Pada masa anak-anak dan masa balita karena indera belum berkembang, manusia merasakan sakit. Pada masa anak-anak akan tumbuh gigi- anak harus melewati banyak fase penyakit. Pada masa anak-anak dan masa sekolah, terjadi gangguan belajar, mendapatkan pengetahuan dan mendapatkan berbagai jenis pengalaman. Pada masa muda banyak sekali terjadi pengejeran untuk kepuasan indera dan masa mengumpulkan uang. Pada masa tua, manusia menjadi seperti tebu yang telah diperas seperti ampas. Usia tua menjadi siksaan yang amat mengganggu.
            Kemudian ada tahap untuk kita pergi. Tahap dalam hidup yaitu: tubuh terbentuk, terlahir sebagai bayi, kemudian memasuki masa tua dan akhirnya mati. Selain tentunya adanya penyakit juga, juga terdapat tanda lain apabila kita mendekati waktu kematian. Yang pertama adalah tidak berfungsinya indra, kemudian menurunnnya pendengaran, penglihatan, organ wicara da ketidakmampuan untuk melihat cahaya dan penyakit yang lainnya.
            Tetapi ada cara untuk menghindari kematian. Yaitu dengan memuja shabdha brahma. Shabdha brahma adalah Dewa Siwa sendiri.
            Kemudian Suta melanjutkan menceritakan tentang Manu (nenek moyang kita) dan Manvantara (waktu hidup manu).
           
                                                Manu, Manvantara, Posisi dan Rsi

            Swayambhu adalah Manu yang pertama. Ia adalah pemimpin- penegak hukum dan waktu hidupnya disebut dengan Swayambhu Manvantara. Dalam Manvantara ini tujuh putra spiritual (manasaputra) Brahma- Marichi, Atri, Pulaha, Kratu, Pulatsya dan Vishista tinggal sebagai rsi yang agung di Utara.
            Yang kedua adalah Swarochisha Manvantara dengan Swarochisha sebagai Manu. Rochana akan menempati tempat Indra. Para dewa disebut dengan Tushita. Urdhwasthambhu, Parasthambhu, Rishabha, Vasumantha, Jyotismanta, Dyutimanta, Rochishmanta adalah tujuh rsi.
            Uttama manvantara adalah yang ketiga. Uttama adalah seorang Manu. Satya (kebenaran), Veda (Weda) dan shruti (kitab agung) adalah dewanya. Satyapita adalah Indra. Urthwasthambha dan yang lainnya adalah tujuh rsi.
            Manu yang keempta adalah Tamas dan Manvantaranya disebut dengan Tamasa manvantara. Tamasa adalah Manu. Trishanku adalah Indra. Devabahu dan yang lainnya adalah tujuh rsi sementara itu Bhutarajaska adalah dewanya. Indra akan menjadi Dewa Wisnu.
            Yang keenam adalah Chakashusha manvantara dengan Chakshu sebagai Manu dengan Medharhidhi, Paulatsya, Vasu, Kashyapa, Jyotishmantha, Bhargawa dan Dhritimantha sebagai tujuh rsi.
            Mannvantara yang ketujuh adalah Vywaswata manvantara. Vywaswata adalah Manu. Kashyapa, Atri, Vashistha, Vishwamitra, Gautama, Jamadagni, Bharadwaja adalah tujuh rsi. Sadhwi, Rudra, Vishwadewa, Vasumata, Aditya, Ashwini Kumara adalah para dewa. Pakashasana adalah Indra.
            Sarvarni adalah delapan nama dalam sarvarni manvantara. Kashyapa, Bharadwaja, Angirasa, Vasishta, Atreya, Havya, Pulaha adalah para rsi. Keturunan Rohita adalah para dewa.
            Ruchi adalah Manu yang kesembilan. Rauchya manvantara memiliki Rama, Vyasa, Atreya, Diptimanta, Subahu, Shruti, Bharadwaja, Ashwathama adalah tujuh rsi. Dalam manvantara ini, Balichakravarti adalah Indra.
            Manvantara yang kesepuluh adalah Brahma Savarni Manvantara. Brahma Savarni adalah Manu. Harishmantha, Pulaha, Prakirti dan empat belas yang lainnya adalah enam belas rsi. Dwishamantha adalah para dewanya. Indra adalah Shambhu.
            Yang berikutnya adalah Dharma Savarni manvantara. Harishmantha, Kashyapa, Vapushmanta, Varuni, Atreya, Vasishta Anaya, Angirachara, Dhrushya Paulatsya Nishwarah. Agniteja adalah tujuh rsi. Dewanya adalah para vidhruta.
            Yang keduabelas adalah Rudra Savarni Manvantara. Dyuti, Vashisthaputra, Atreya, Sutapa, Angira, Tapomurti, Tapovashvi, Kashyapa, Tapodhana, Paulatsya, Pulaha, Taporati, Bhargawa adalah tujuh rsi. Putra spiritual Brahma adalah para dewa. Rutadharma adalah Indra.
            Yang ketigabelas adalah Devasavarnika manvantara. Angirasa, Dhritimantha, Paulatsya, Ahavyavana, Paulaha, Tatwadarshi, Bhargawa, Nirutsava, Nishprapancha, Atreya, Nirdeha, Kashyapa, Vasistha adalah para rsinya. Trividha adalah dewanya. Divashpati adalah Indra.
            Yang terakhir adalah Indrasavarni manvantara. Agnidhra, Kashyapa, Paulatsya, Magadha, Bhargawa, Atibahya, Shuchi, Angirasa, Yukta, Atreya, Pautra, Vasistha, Ajita, Pulaha adalah para rsi. Pavitra dan Chakshushu adalah para dewa. Shuchi adalah Indra.

                                    Penggambaran tentang Chayapurusha

            Setelah mandi, menggunakan pakaian yang bersih, memakai kalungan bunga dan mengucapkan Shiva Panchakshari stotra, berdiri dihadapan matahari atau bulan dan yang dipandang adalah bayangannya. Setelah beberapa saat, seseorang itu bisa melihat bayangan itu di langit putih. Inilah yang disebut dengan Chayapurusha. Setelah mempelajari bayangan itu, seseorang akan mendapatkan Shivadarshana. Melalui hal ini seseorang bisa tahu kejadian yang akan datang. Jika bayangan itu nampak tanpa kelapa maka ia akan meninggal dalam jangka waktu enam bulan lagi. JIka kulit tubuh nampak putih, akan terjadi pertumbuhan Dharma. Jika nampak hitam, dosanya yang bertambah. Jika berwarna merah, maka akan terjadi masalah atau menemui kesulitan. Jika berwarna kuning, maka akan ada kebencian. Jika tanpa leher, maka keluarga akan meninggal. Jika melengkung maka istri yang akan meninggal. Jika kaki tidak menyentuh tanah maka perjalanan sangat diperlukan. Inilah Chayapurusha melalui yang mana seseorang itu bisa melihat masa depan.
           
                                    Menghaturkan oblasi (persembahan) pada leluhur
            Sementara Muni menjawab pertanyaan mengenai arti oblasi pada leluhur, Suta Muni berkata:
            Oblasi ini harus dipersembahkan seperti yang digambarkan dalam Kalpa (prosedur upacara).
            Dimasa lalu ketika Shantanu meninggal, Bhisma menghaturkan persembahan (oblasi) untuk mengenangnya. Ia menyimpan bola dari nasi pada sebuah tempat. Pada saat itu, tangan Shantanu muncul dari tanah dan menerima persembahan itu. Bhisma menangis atas kejadian itu, ia menaruh bola nasi itu pada sebuah tempat tanpa menghaturkannya pada ayahnya. Shantanu sangat bahagia karena putranya mengikuti prosedur upacara yang benar. Kemudian Shantanu memberi putranya anugerah bahwa ia akan mati apabila ia menginginkannya.
            Jadi upacara oblasi pada orang yang meninggal harus diberikan sesuai dengan prosedur yang tertulis dalam Kalpa (Kalpokta vidhi).
            Kelompok leluhur tujuh berada di surga. Dari ketujuh itu, empat memiliki wujud dan yang lainnya tanpa wujud.
            Akan lebih baik jika kita menggunakan alat-alat persembahan dari perak jika berhubungan dengan orang yang mati. Karenanya keturunan bisa berlanjut. Karena upacara ini semuanya akan senang bahkan tumbuhan juga akan subur. Itulah mengapa manusia harus melanjutkan melakukan upacara ini.

            Prosedur dalam upacara bagi mereka yang telah meninggal: beberapa penjelasan

            Setelah mendengarkan Suta Muni para rsi bertanya pada mereka lagi.
            Manusia pergi ke surga atau ketempat lain sesuai dengan perbuatannya sendiri. Ia juga bisa terlahir kembali dan lagi. Apabila begitu bagaimana upacara atau hasil pahala dari upacara ini bisa sampai pada mereka?
            Suta Muni tersenyum dan berkata bahwa mereka sangat bingung. Bagi yang masih hidup disini para lelulur yang telah mendahului sulit untuk diketahui. Itulah mengapa pada saat upacara, persembahan harus dilakukan dengan enam cara.

1.       Agnikarma           - melalui inilah apapun yang dihaturkan dalam upacara mencapai loka yang lebih tinggi.
2.      Jika leluhur berada di dunia sana (yama loka), haturkanlah sedikit biji wijen.
3.      Jika mereka berada di neraka atau ditempat hukuman, nasi yang dimasak dihaturkan pada mereka.
4.      Jika mereka berada di surga, annadana (sedekah makanan, nasi yang dimasak) adalah hal yang tepat.
5.      Jika mereka berada di dunia manusia, uang yang diberikan sebagai amal (dakshina) akan membuat mereka berkenan.

Walaupun kita tidak mengetahui dimana mereka, kita harus mempersembahkan persembahan ini. Para nenek moyang memiliki kemampuan untuk memberikan anugerah. Walaupun mereka mungkin mengalami penderitaan di dunia sana, namun mereka masih bisa memberikan kita berkah. Kita harus membuat mereka berkenan dengan persembahan kita. Kemudian Suta Muni memberitahu mereka tentang cerita Saptavyadha (tujuh vajadha).

                        Cerita tentang tujuh pemburu (Saptavyadha)

Dalam Vamsa (keluarga besar) Bharadwaja, ada seorang brahmana yang bernama Kaushika. Ia memiliki tujuh putra yang bernama: Vaghushth, Krodhan, Himsru, Pishunu, Kavi, Swaprushtha, Pitruvarthi. Ketujuh putra ini menemui Garga sebagai muridnya dan mempelajari semua. Ketika semua ini terjadi, suatu hari Kaushika meninggal. Karena hal ini para putranya hidup dengan guru Garga. Ketika hari memperingati hari kematian ayahnya, para putra ini tidak memiliki keinginan sama sekali mengadakan upacara peringatan. Mereka dengan santai menggembala sapi gurunya. Walaupun yang lain mencoba mencegah, dua putra diantaranya Kavi dan Swaprustha membunuh sapi dan memakainya sebagai persembahan pada ayah mereka yang telah meninggal. Keduanya berbohong bahwa seekor singalah yang telah membunuh sapi itu. Brahmana yang polos ini percaya dengan apa yang mereka katakan. Walaupun ia percaya, keduanya telah melakukan dosa pada guru – selain juga karena membunuh seekor sapi.
Karena kedua dosa ini, mereka terlahir sebagai putra pemburu burung (boya) yang bernama Manaswi. Karena mereka melakukan hal baik dan juga pelayanan tulus dalam kehidupan sebelumnya maka merekapun memiliki kemampuan untuk melihat kelahiran mereka sebelumnya. Walaupun lahir sebagai seorang pemburu, mereka adalah vegetarian. Mereka memuja Dewa Siwa. Kemudian mereka terlahir sebagai dua burung bersaudara. Mereka tidak menikah. Pada kehidupan mereka kemudian merekapun menjadi burung lagi. Ada tujuh burung Chakravaka yang mengunjungi pulau Shari. Suatu hari raja pulau itu datang berkunjung. Salah satu burung itu melihat sang raja iapun ingin menjadi seorang raja. Satu burung yang lain ingin menjadi pegawai kerajaan. Karena ketulusan mereka melakukan segalanya berpuasa, tidak menikah dan lain-lainnya, mereka mendapat pahala dan terkabul keinginannya. Setelah beberapa kelahiran, merekapun terlahir dengan nama Brahmadatta dan nama baik yang lain di kota Kampilya. Kedua burung ini lahir sebagai Brahmana sedangkan Brahmadatta lahir sebagai Kshatriya. Raja Kampilya mengabdikan singgasana pada Brahmadatta dan meninggalkannya untuk melakukan tapasya. Para Brahmana yang adalah para menteri menjadikan putra mereka menjadi menteri lagi. Sehingga keinginan Chakravaka terkabulkan.
Karena ingatan tentang kelahiran sebelumnya, memikirkan kelahiran berikutnya, mereka hidup dengan baik dan tulus dan selalu berdoa bahwa mereka akan bebas dari perputaran kelahiran dan kematian.
Setelah mengatakan ini Suta Muni mengatakan pada para orang suci bahwa menceritakan kembali atau mendengar tentang cerita saptavyadha (tujuh pemburu) akan menguatkan tubuh, kata-kata dan manas.
Kemudian atas keinginan para rsi dan orang suci Suta Muni menceritakan tentang cerita Parashara.


Cerita Parashara

Parashara adalah cucu Brahma dari putranya Vasishta. Ia memiliki pengetahuan yang tak terbatas. Karena ia menyukai astronomi, ia menjadi astrologi yang termasyur. Ia menulis sebuah buku yang berjudul Parashara Samhita. Ia terkenal bukan karena cucu Sakthi tetapi karena cucu Vashistha.
Setiap hari ia biasa menghitung pergerakan planet dan dengan itu ia bisa meramalkan apa yang akan terjadi.
Suatu kali ia harus menyeberangi Yamuna. Ia menemui Dasaraja. Tetapi karena Dasaraja sedang makan, ia menyuruh putrinya Satyawati untuk mengantar sang raja menyeberangi sungai.

                        Satyawati dan Parashara

Perahu itu lajunya pelan. Riak-riak sungai Yamuna bergerak dengan indah. Walaupun itu tengah hari suasananya sangat indah. Satyawati menyanyi dengan merdu. Parashara tiba-tiba merasakan perasaan aneh yang membuatnya amat terkejut.
Karena pergerakan plane, saat itu adalah hari mendekati hari kelahiran Parashara. Apapun kastanya, jika seorang wanita itu masih murni, cahayanya akan sangat indah. Lirikan Parashara terhempas pada Satyawati. Kemudian ia bertanya padanya. Ia berkata bahwa ia masih perawan. Parashara karena itulah ia ingin agar Satyawati mengandung anaknya. Tetapi Satyawati takut keperawanannya hilang. Parashara mengatakan bahwa keperawanannya akan tetap tak terganggu. Parashara mengatakan bahwa bau amis akan hilang darinya berganti dengan bau yang sangat harum hingga sampai di kejauhan. Jadi Matsyagandhi (Satyawati) menjadi Yojanagandhi. Akhirnya malam itu Parashara menghamili Satyawati.


                                    Kelahiran Vyasa

Pada saat Sadyogarbha (saat melahirkan) Satyawati melahirkan seorang putra. Setelah anak itu lahir ia kemudian menjadi Vatu ( seorang anak dengan kulit rusa, dan kamandalu menggunakan pakaian yang sederhana). Karena ia lahir di pasir dengan sedikit cahaya, ia kemudian diberinama Krishnadwaipayana. Ia berdoa pada Satyawati untuk mengijinkannya melakukan tapasya dan ia akan datang dihadapannya dengan cepat ketika ia memanggilnya.
Setelah semua yang ia lalui, Satyawati kembali ke kerajaannya. Tidak ada yang bertanya apapun padanya. Setap orang bersikap biasa saja seakan ia tidak pergi dengan pertapa ke tepi sungai.
Begitulah penulis purana, Rsi Vedavyasa lahir kedunia.

                                    Cerita tentang Vyasa

Para rsi dan orang suci bertanya: bagaimana kelanjutan cerita tentang anak ituyang langsung bertapa setelah kelahirannya langsung melakukan tapasya!
Jawab Suta Muni:

Pada tapa itu, ia diberikan semua Weda oleh Brahma. Vyasa membaginya menjadi empat. Ia mengumpulkan informasi penting dan menulis Purana yang merangkum semua informasi penting dalam Weda.
Pada saat itu, pikirannya melayang dan ingin memiliki putra. Saat mengaduk arani ( untuk membuat api) ia melihat Grutachi, seorang apsara (bidadari), dan iapun sangat tergoda. Karena takut akan dirinya, yang bisa berbuat buruk, ia mengubah wujud menjadi seekor burung kakatua. Dengan menjadi burung ia kemudian tanpa sengaja telah menjatuhkan benihnya pada ‘arani’. Dari arani itu, bukan mengeluarkan api tetapi seorang anak yang sangat tampan. Para bidadari menaburkan bunga. Brahma sendiri turun ke bumi dan memberikan anak itu darbhasana, kulit rusa (Krishnajina), sebuah sabuk, kamandalu dan juga paraphernalia untuk tapasya (meditasi tingkat tinggi). Karena anak itu terlahir kari kecantikan seekor burung kakatua (shuka) maka ia diberi nama shuka.

Kata Suta Muni kemudian:

Kalian semua terberkahi dengan mendengarkan cerita tentang seorang rsi yang telah menjadi seorang tapasi sejak lahir.

Shuka menjadi murid Brihaspati. Vyasa ingin menikahkan putranya, Shuka. Shuka tidak ingin menikah. Vyasa menulis purana yang sangat berharga dan menyuruh Shuka membaca semuanya. Shuka tidak ingin terjebak dalam ‘samsara’ (ikatan kekeluargaan). Akhirnya Vyasa menuruh putranya pergi ke Janaka. Tetapi Shuka kembali ke ashrama ayahnya.
Kemudian dikatakan setelah gurunya mengumumkan bahwa ia telah melengkapkan studinya, Shuka menika dengan seorang gadis, ia kemudian memiliki putra. Cucunya Brahmadatta menjadi seorang raja dan kemudian menjadi bagian lima unsur.
Vyasa sangat sedih karena ia tidak bisa mencapai apa yang telah dicapai oleh Shuka. Tetapi Vyasa tahu bahwa hanya dengan memikirkannya saja Shuka akan memperlihatkan diri dihadapannya. Ketika Vyasa sedang memikirkan hal ini, Satyawathi memikirkannya. Setelah Vyasa meninggalkannya sebagai yojanagandhi, Shantanu menikah dengan Sathyawati. Shantanu memiliki dua putra dari Satyawati. Yang sulung bertarung dengan gandharwa dan tewas. Yang kedua dinikahkan dengan dua gadis perawan, Amba dan ambalika. Bhisma menyelenggarakan pernikahan ini (Bhisma adalah putra Santanu dan Gangga). Bhisma mengambil sumpah bahwa ia tidak akan menikah agar putra Satyawati yang mewarisi Shantanu. Karena nafsunya yang tidak terkendali suami Amba dan Ambalika meninggal. Kerajaan itu tanpa raja. Bhisma tidak mau menjadi raja. Tetapi ia ingin agar Amba dan Ambika memiliki putra dari Brahmana seperti yang disebutkan hukum suci.
Satyawati tidak mau memberikan menantunya pada orang asing. Tetapi ia menginginkan keturunan dan Vyasa memperlihatkan diri dihadapannya. Satyawati mengatakan sebagai putranya ia akan menjadi pasangan yang tepat bagi menantunya. Ia memintanya untuk menghamili Amba dan Ambalika.
Vyasa yang sangat sedih karena kehilangan dua saudaranya, iapun setuju untuk memberikan putera pada Amba dan Ambalika. Karena Amba menutup matanya saat bersama Vyasa, putranya terlahir buta. Kemudian yang kedua, Ambalika pucat melihat Vyasa dan untuk alasan itulah ia melahirkan putra yang sakit-sakitan.
Ketika Satyawati meminta Amba untuk bersama dengan Vyasa, Amba yang ketakutan mengirimkan pelayan.
Satyawati sangat kecewa. Vyasa tidak mau melakukannya lagi.
Kemudian Suta Muni memberitahu para orang suci dan orang suci bahwa putra Amba melahirkan Dhristarashtra, Ambalika melahirkan Pandu dan pelayan itu melahirkan Vidura.
Kemudian Gandhari melahirkan putra Dhritarashtra Duryodhana, Dushasana dan sembilan puluh tujuh putra dan seorang putri yang bernama Dushcala. Istri Pandu Kunti dan Madri (melalui berkah Dewa Yama, Vayu, Indra dan Ashwini) Dharma, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa dikenal dengan nama Pandawa. Mereka yang dilahirkan Gandhari dikenal dengan nama Kaurawa. Cerita Mahabharatha adalah cerita tentang Pandawa dan Kaurawa.

                        Vyasa datang ke Daksharana

Suatu kali ketika Vyasa sedang ada di Kashi, suatu hari karena ia marah ia mengutuk Kashi. Annapurna tidak keberatan. Dengan mengundangnya ia menjamunya makan. Dewa Siwa tidak mempermaslahkan hal ini. Jadi alih-alih mengutuk Vyasa, Dewa Siwa memerintahkannya untuk meninggalkan Kashi, Vyasa sangat sedih. Ia berdoa pada Dewa Siwa untuk menunjukkan tempat suci lainnya yang sama sucinya dan berharganya seperti Kashi. Dewa Siwa memintanya untuk pergi ke Dakiremi di selatan. Dakiremi ini tidak lain tidak bukan adalah Daksharama di dekat sungai Govadari.
Suta Muni menyatakan bahwa ia akan melanjutkan dan karena Vyasa adalah nitya, abadi dan selalu ada iapun tinggal disana.

                        Tatanan Penciptaan

Karena Sat dan Asat, Dewa Siwa menciptakan air terlebih dahulu. Kemudian ia mengeluarkan ‘Sankalpa’(keinginan). Dari percampuran itu muncullah seorang putra – yaitu Narayana. ‘Nara’ artinya air. Karena ia terlahir di air maka ia bernama Narayana. Pada saat yang sama Dewa Siwa menciptakan sebuah telur yang besar. Dari telur itu muncullah Brahma. Ia membagi telur itu menjadi dua. Yang lebih atas menjadi Swarga dan bagian bawah adalah bumi. Ruang antara keduanya adalah Akasha (langit). Perlahan-lahan bagian atas dan bagian bawah dibagi menjadi tujuh loka (dunia) dan kemudian menjadi empat belas.
Sepuluh arah (diksa) diciptakan. Empat arah dan empat (satu diantara masing-masing), satu diatas dan satu dibawah, dibawahnya terdapat sepuluh yang lainnya. Ketika batas demarkasi tercipta, Manas (pikiran- intelek- hati), Vaka (wicara), Kama (keinginan), Krodha (amarah) dan Prema (cinta) terlahir. Dari pikiran Brahma, tujuh rsi lahir: Marichi, Atri, Angirasa Pulatshya, Pulaha, Krati, Vasistha- sapta rsi lahir kebumi. Juga disebut sebagai Sapta- brahma. Kemudian muncullah sebelas rudra.
Di langit, halilintar, awan, pelangi dan lain-lain tercipta. Demi keberhasilan Weda muncullah Weda.Mantra, doa juga tercipta.
Yang tertua dari semuanya yaitu Brahma, menjadi Prajapati. Dari wajahnya, muncullah Brahmana, dari dadanya, pitrudewata (para leluhur), dari perutnya muncul manuisa dan dari tengah muncullah raksasa. Selain ini, berbagai makhluk hidup lain juga muncul. Akibat berkah Dewa Siwa, Brahma memiliki darshan dari Ardha Narishwara. Dengan itu ia mulai penciptaan Manu dan bersamanya diciptakan Shatarupa. Brahma meminta mereka hidup sebagai suami istri.
Manu yang pertama adalah Swayambhu Manu. Ia memerintah hingga tujuh puluh satu Mahayuga. Tujuh puluh satu Mahayuga terdiri dari satu Manvantara. Dhruva melakukan tapa selama tiga ribu tahun dan mendapatkan sebuah daerah dari tujuh rsi (saptarsi mandala). Cucu Dhruva adalah Chakshusha.
Pruthu membentuk bumi sebagai seekor sapi dan iapun memerahnya. Dari itu muncullah semua oshadhi (obat-obatan). Pruthu mengatur gaya hidup para dewa,manusia dan raksasa. Salah satu dari empat putranya, Barhina memiliki sepuluh putra dari istrinya Samudratanaya. Mereka disebut dengan Prachitasa. Di tengah lautan, mereka melakukan tapasya selama ribuan tahun untuk memuja Dewa Siwa.
Sementara itu, Bumi dipenuhi dengan pohon. Populasi manusia mulai bertambah. Dewa Siwa bermanifestasi, memberikan anugerah Prachitasa dan meminta mereka untuk menjaga Bumi. Dengan pandangan untuk mengembangkan dan menyelamatkan bumi, Prachita ini menciptakan api dan Udara. Pohon-pohon tumbang karena angin. Api menghancurkan segalanya. Manusia kebingungan dan menangis penuh dengan teriakan. Dewa Chandra datang. Ia menarik perhatian udara dan api dengan berjanji menikahkan putrinya Anubhuti pada mereka. Prachita sangat senang dan menikah dengan Anubhuti. Akibat pernikahan ini lahirlah Daksha.
Daksha adalah pencipta dan juga seorang prajurit yang handal. Hanya dengan keinginan ia menciptakan banyak benda maupun makhluk yang bergerak. Ia menikah dengan Virini yang memberinya sepuluh ribu putra yang bernama Haryasva. Ia menjadi prajapati (penguasa manusia) dan menyuruh putranya untuk mencipta. Tetapi karena dipengaruhi oleh Narada semuanya menjadi pertapa (orang suci).
Daksha yang mengetahui hal ini sangat sedih. Ia kemudian mencoba mencipta seribu putra yang ia sebut sebagai para Subhala. Narada juga membuat mereka menjadi orang suci dan mengenakan baju berwarna kuning kunyit.
Kemudian Daksha memiliki enam puluh anak gadis yang amat cantik jelita
Dari keenam puluh ini, ia memiliki sepuluh putrinya pada Dharmi, tiga belas  Kashyapa, dua pada putra Brahma dan empat pada Aristanemi. Dari putri-putri inilah lahir semua raksasa dan manusia.
Pada jaman Daksha, hanya dengan keinginan (sankalpa), penglihatan (darshana) dan sentuhan (sparsha) makhluk hidup terlahir. Tetapi apabila membicarakan tentang keturunan itu didapatkan melalui kopulasi (pembuahan).
Vishwa, putri Daksha, melahirkan Vishwa dewata, Sandhya, Sandhya, Marudwati, Marudwanta, Vasu, Vasavu, Bhanu, para Bhanu dan Muhurta, Muhurtaja. Lamba melahirkan Ghosa, Yami melahirkan seorang putri, Nagavidhi; Arundati melahirkan Pruthvilashama dan Saukalpa melahirkan Sankalpudu.
Ayu, Dhruva, Soma, Dharma, Anila, Analu, Pratyusha, Prabhanu adalah delapan Vasu (ashta vasu). Ayu memiliki putra: Riwata, Shrama, Shantha dan Dhruva memiliki satu putra Kala. Varcha adalah nama Soma. Dravina adalah putra Dharma. Anila memiliki dua istri dan lima putra. Selain ini, putra yang terlahir dari Anila diasuh oleh Kritika dan oleh karena itu dipanggil dengan sebutan Kartikeya.
Daksha adalah putra Pratyusha. Prabha adalah putra Devala.Prabha menikah dengan adik Brihaspati, Yogaviddha. Viswakarma adalah putra mereka.

            Cerita Kashyapeya – Penciptaan

Kashyapa memiliki tiga belas istri. Dari mereka keturunan Aditi adalah para aditya. Putra Diti adalah Detya (raksasa). Putra Danu adalah Danuja atau raksasa. Vinata melahirkan Aruna, Garutmana dan mahatiryaksa lainnya, binatang dan lain-lain (yang tidak berdiri tegak seperti manusia). Putra Surasa adalah ular. Mereka bukanlah reptil biasa. Mereka berkeliaran di mana saja. Surasa diberinama Nagamata (ibu para ular). Adisesha, Vasuki, Takshaka adalah putra-putra Surasa. Krodhavasa lahir dari taringnya. Mereka disebut dengan gana. Keturunan Surabhi menjadi ternak dan kerbau. Ila melahirkan pepohonan dan tanaman merambat. Muni melahirkan putri-putri saja sehingga mereka menjadi apsara. Kadruva juga melahirkan ular. Arishtha melahirkan ular yang lebih kuat dari manusia.
Putra-putra Khasha menjadi Yaksha dan Rakshasa. Tamra melahirkan Shanmukha dan yang lainnya melahirkan putra-putra dan delapan putri Keki, Syeni, Bhasi, Surgrivi, Shuki, Grudhrika, Ashmi, Vuluki. Dari semua ini, Kaki melahirkan sapi-sapi, Syeni melahirkan burung elang, Bhasi ; bebek. Sugrivi melahirkan burung dan Shuki melahirkan burung kakaktua yang cantik. Gridhrika melahirkan burung elang. Vuluki melahirkan burung hantu. Ashmi, yang termuda, melahirkan unta, kuda dan juga keledai.
Sehingga tanah, udara, makhluk air selain manusia terlahir dari tiga belas putri Kashyapa. Itulah mengapa Bumi dikenal sebagai ciptaan Kashyapa dan kita semua adalah Kashyapeya.
Kemudian Suta Muni berhenti meminta para rsi dan orang suci untuk menanyakan cerita atau legenda yang lain yang mereka inginkan. Murid Suta Muni, Shuka melanjutkan.

                        Sumedha Muni menceritakan tentang Lila Dewi

Raja Suradha kehilangan kerajaannya dan terpisah dari istri dan anak-anaknya. Ia dan seorang rsi yang bernama Samadhi pergi ke sebuah pertapaan. Disana Muni Sumedha menghibur mereka dengan menceritakan cerita tentang Shakti.
Pada saat banjir yang menenggelamkan bumi, saat Dewa Wisnu sedang tidur dari telinganya lahirlah dua raksasa Madhu dan Kaitabha. Ketika mereka mengamuk di lautan, mereka melihat Brahma berada pada lotusnya. Mereka mengganggunya. Brahma lari dan meminta perlindungan Dewa Wisnu. Dewa Wisnu berada dalam keadaan Yoganidra dan tidak nampaknya tidak akan bangun dalam waktu yang singkat. Kemudian Brahmapun berdoa pada Mahamaya. Dengan berkah, pada malam bulan Phalguna pada hari kedua belas. Ia kemudian bermanifestasi. Dengan kata-katanya yang penuh kelembutan, Ia menenangkan Brahma. Ia membangunkan Dewa Wisnu yang kemudian bertarung dengan dua raksasa itu selama lima ribu tahun. Bahkan setelah itu ia tidak mati. Dewa Wisnu berdoa pada Vishwamaya. Mahakali menggunakan mantranya pada para raksasa itu. Mereka tergoda dengan mantra itu. Dengan kebodohan mereka, mereka meminta agar Dewa Wisnu meminta sebuah anugerah. Dewa Wisnu meminta agar mereka mati ditangannya. Mereka siap dibunuh asalkan tempat itu tidak basah. Dengan berkah Mahamaya Dewa Wisnu melebarkan pahanya dan menaruh kepala mereka disana dan membunuhnya.
Setelah menceritakan cerita ini Sumedha Muni mengatakan siapapun yang mendengar cerita tentang Adi Shakti dan Dewa Siwa tidak akan pernah gagal mencapai tujuan mereka. Ia menceritakan pada mereka cerita tentang inkarnasi Mahalakshmi.

                       

Inkarnasi Mahalakshmi

Bagi raksasa Rambha, seorang putra yang bernama Mahisha terlahir. Mahisha melakukan tapa untuk memperoleh berkah Brahma. Ia meminta berkah agar siapapun tidak bisa membunuhnya. Ia mengacau di bumi dan menakuti semua orang. Ia menghukum orang yang baik dan menyiksa mereka. Ia membuat Dik Palaka (penguasa arah angin) menderita. Para dewa juga diganggu. Bahkan Dewa Seperti Dewa Indra takut. Semuanya meminta bantuan Brahma. Brahma kemudian mengajak mereka pada Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Mereka berpikir dengan berkahnya, hanya seorang wanita yang bisa membunuhnya. Dari wajah Dewa Wisnu dan Dewa Siwa cahaya yang agung muncul.
            Kemudian cahaya semua dewa dan Tri Murthi menjadi satu Durgadewi. Wajahnya muncul dari cahaya Dewa Siwa, rambutnya dari Yama, tangannya dari Dewa Wisnu, pahanya dan betisnya dari Varuna, bagian belakangnya dari Bumi, kakinya dari Brahma dan ibu jari dari matahari, jari-jari dari Vasawa, telinganya dari Kubera, giginya dari Sandhya, telinganya dari Vayu, dan cahaya dari semua dewa, tubuhnya duduk diatas bunga lotus. Dewa Siwa memberinya trisulanya. Dewa Wisnu memberinya terompet kerangnya dan chakranya dan Indra memberikan senjata permata (Chakrayudha). Indra juga memberinya bel dan senjata lain. Varuna memberinya tali, kekuatan Agni, Vayu memberikan busurnya. Yama Kaladandanya, Prajaspati memberinya kalungan bunga, Brahma memberikan Kamandalu, Surya memberikannya permata langka, Surya memberikan cahayanya dan Kala memberikan tamengnya. Dewa Lautan memberikan permata langka, busana yang indah, anting-anting, gelang dan ornamen yang lain. Vishwakarma memberikan tameng yang kuat. Semua danau memberikan sebuah kalungan bunga dari lotus segar. Himavanta memberikannya singa dan permata. Kubera memberinya anggur yang baik. Adisesha memberikannya perhiasan ular. Semua dewa memberinya senjata, kekuatan dan permata. Mereka meminta pertolongannya untuk membebaskan mereka dari penderitaan dan juga kesengsaraan.
            Amba meyakinkannya bahwa mereka semua akan baik-baik saja. Dan kemudian iapun mengeluarkan pekikan perang dan maju menyerang Mahisha.
            Mahisha yang mendengar pekikannya segera keluar dengan jutaan pasukan. Bersamanya, keluarlah raksasa yang menakutkan seperti Chikshura, Chamara, Udagra, Karala, Bashkala dan yang lainnya.

                                                            Mahisha dikalahkan

            Kemudian kedua pasukan berperang. Dalam sekejap, Devi membunuh raksasa seperti Chikshura. Mahisha mengamuk dan dalam wujud seekor kerbau dan iapun membunuh musuh-musuhnya. Para dewa ketakutan, walaupun mereka berada dibawah naungan Sang Dewi. Dewi kemudian melempar tali dileher raksasa dan menariknya. Ketika ia mengambil wujud seekor singa. Ia mengangkat pedangnya. Ia juga mengangkat pedangnya dan mengarahkannya pada raksasa. Dewi mengahtamnya dengan panahnya, pedangnya dan senjata lain pada saat yang sama.
            Kemudian raksasa ini menjadi seekor gajah. Ia kemudian memotong belalai gajah itu. Kemudian ia menggunakan kekuatan dirinya. Ia berteriak dan menerjang. Raksasa ini jatuh tersungkur di tanah. Ia menginjaknya dengan kaki pada lehernya. Ia menggunakan trisulanya dan mengangkatnya tinggi. Itulah semua.
            Pada saat itu, ada suara kemenangan yang membahana. Pasukan Mahisha menghilang. Semua dewa menyanyikan kejayaan Sang Dewi. Hujan bunga ditebarkan dari langit. Dan hari inilah disebutkan sebagai hari kelahiran Dewi. Mendengarkan cerita ini akan memberikan dorongan keberanian. Cerita ini menghancurkan semua musuh. Bagi mereka yang menceritakan dan mendengarkan cerita ini akan diberkahi dengan kebaikan.

                                    Kaushiki – Dhumavati

            Kemudian dengarkanlah cerita tentang Kaushiki:

       &;nbsp;    Terdapat dua raksasa yang bernama Shumbha dan Nishumbha. Kedua raksasa ini sama jahatnya dengan Mahisha tetapi tidak sama saktinya. Tidak mampu bertahan dari gangguan yang mereka timbulkan para dewa pergi ke Kailasha. Sang Dewi yang sedang bermanifestasi mendengar tangisan minta pertolongan. Parwati menciptakan seorang wanita cantik dari ‘kosa’nya. Karena ia lahir dari kosa, maka ia disebut dengan Kaushiki. Ia diminta untuk dipuja sebagai Matangi. Mendengar kesesangsaraan dewa, Kaushiki bermanifestasi dihadapan kota Shumbha dan Nishumbha.
            Penjaga pintu gerbang melihat wanita yang cantik ini bersinar dan iapun memberitahu majikan mereka:
            Ada seorang wanita yang duduk diatas seekor singa. Banyak sekali dewi yang melayaninya. Bahkan diantara para dewi itupun ia paling menawan. Ia sangat mempesona. Ia lebih agung dari pasangan Dewa Indra, Sachi Devi, lebih menarik dari Rambha, lebih mempesona dari Urvashi. Lebih polos dari Menaka. Keagungan dan keindahan dapat dirasakan hanya dengan memegang tangannya.
            Shumbha dan Nishumbha sangat tergoda. Mereka mengirim pesan pada wanita itu untuk memilih salah satu dari mereka untuk menjadi suaminya. Ia berkata siapapun yang bisa menyalahkannya maka ia akan menikah dengannya. Para raksasa mendengar ini sebagai penghinaan. Mereka mengirim, Dhumraksha diperintahkan untuk membawanya dengan paksa atau dengan cara yang baik.
            Dhumraksha mendekatinya dan ingin menyeretnya jika ia tidak mau ikut. Kaushiki tidak mau dan dalam sekejap jenderal para raksasa ini menjadi setumpukan abu. Sejak hari itu, Sang Dewi dikenal sebagai Dhumavathi. Bagi mereka yang ingin mengalahkan musuhnya haruslah memujanya. Setelah itu raksasa itu marah. Mereka mengepung kendaraan Sang Dewi, singa. Menunggu sampai semua bisa ia rengkuh, Sang Dewi mengaum. Auman itu membuat musuh berlari ketakutan. Shumba mendengar auman ini dan iapun mengutus Chandasura, Mundasura, Raktabija dan yang lainnya. Bahkan merekapun dibunuh oleh Sang Dewi. Kemudian Shumba dan Nishumba meju ke medan perang. Mereka ingin Sang Dewi mau menikahi mereka.
            Sang Dewi ingin berperang. Raksasa ini menghujani Sang Dewi dengan panah dan menggunakan semua senjata yang mematikan. Kemudian ia mengalahkan dua raksasa ini. Bahkan, kendaraannya sang gajah, memangsa kedua raksasa itu.
            Ketika Nishumba melemparkan gada pada Sang Dewi, Dewi Kaushiki melemparkan dua buah gada padanya. Satu gada menghantam gada raksasa itu dan gada yang lain menghantam tubuhnya. Ia jatuh tersungkur.
            Kemudian Kaushiki mengarahkan sebuah tongkat pada Shumbha. Tongkat itu menembus tulang iganya dan menghancurkannya kemudian. Ia jatuh tersungkur seperti pohon besar yang tumbang. Singa itu menelan raksasa yang mati itu.
            Ada kelegaan di hati semuanya. Mereka yang mendengarkan cerita Sang Dewi ini adalah orang-orang yang diberkahi. Ia adalah dasar dan akar semua ciptaan. Sangatlah baik apabila memuja-Nya, bermeditasi pada-Nya untuk mendapatkan berkahnya. Ia adalah kekuatan, kejayaan dan cahaya yang menyerap dalam segalanya. Tetapi tanpa berkahnya tidak ada yang bisa dicapai, tidak ada yang bisa terjadi. Dalam konteks ini, Aku akan menceritakan Yaksharupa, kata Suta Muni.

                                    Wujud Yaksha

            Suatu hari ada peperangan yang sangat sengit antara dewa dan raksasa. Dalam peperangan ini, para dewa menang. Para raksasa menyingkir hingga ke dunia bawah.
            Semua dewa berpikir bahwa ini semua terjadi karena keagungan mereka. Ibu Dewi yang menyerap dalam semua hal ingin membuat mereka sedikit rendah hati. Ia menguji mereka dengan memperlihatkan diri di kejauhan dengan cahaya yang sangat terang.
            Kemudian mereka mengutus Dewa Vayu untuk mengetahui siapa mereka. Yaksha itu tidak menjawab pertanyaan Dewa Vayu. Tetapi ia bertanya padanya siapa dirinya sebenarnya. Vayu kemudian mulai menyombongkan dirinya. Sang Dewi tidak berkesan. Sang Dewi berkata: “ Oh Cuma itu saja!” Dewa Vayu sangat marah dan pergi.
            Kemudian datanglah Dewa Indra. Pada saat ia datang, Sang Dewi menghilang. Indra menghina dan merendahkannya. Kemudian ia merenung. Kemudian Sang Dewi muncul begitu saja di depannya dan Dewa Indrapun berpikir bahwa ia pastilah kekuatan primordial, Adi Shakti. Kemudian Indra merasa sangat bodoh karena tidak bisa mengenalinya.
            Kemudian Dewi memanifestasikan diri sebagai cahaya yang sangat terang dan menderang dan memberitahu para dewa siapa dirinya dan iapun memberitahu mereka siapa dirinya sebenarnya. Ia akan memanifestasikan diri sebagai wanita atau pria atas kehendaknya. Ia berada diatas segalanya, tak terkalahkan, selalu menemui kemenangan.
            Inilah cerita tentang Sang Dewi yang memperlihatkan diri sebagai Yaksharupa. Wujud Yaksha meringankan penderitaan para pemuja dan memberikan kesenangan dan kenyamanan. Ia diberkahi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

                                    Inkarnasi Shatakshi

            Para rsi dan orang suci sangat terpesona dengan cerita Suta Muni. Mereka meminta Muni untuk menceritakan tentang cerita yang lain lebih banyak lagi.
            Suta Muni memulai:
            Adalah seorang raksasa yang sangat jahat yang bernama Durgama. Ia menguasai ketiga dunia dengan kekuatannya. Brahma, yang dipuja kemudian memberikan mereka empat Weda. Ia mempelajari semuanya. Ia memahami bagaimana para dewa bisa menjadi lemah dan ia melakukan sesuatu yang merendahkan para dewa. Ia menghidupkan semua api upacara, tapasya dan juga melakukan amal. Para dewa tidak senang dengan apa yang ia lakukan.
            Mereka setelah bersatu dengan yang lainnya berdoa pada Sang Dewi. Mereka mengeluh tentang raksasa Durgama. Tanpa air, tidak ada upacara yang bisa dilakukan. Tanpa itu semua tidak ada makanan. Setelah mengatakan ini para dewa meminta pertolongan-Nya.
            Mahamaya bermanifestasi pada saat itu juga dengan ratusan mata. Pada dua tangannya ia mengeluarkan panah dan busur serta bunga lotus. Kemudian muncullah sayuran dan juga umbi-umbian. Dari matanya, air mengalir. Dengan banyak makanan yang diberikan olehnya, manusia merasa lega. Ibu Dewi tetap seperti ini selama sembilan hari. Dengan air yang mengalir dari matanya, Bumi yang sangat kering menjadi basah dan tumbuhan mulai tumbuh. Sumur, tangki air dan danau terpenuhi. Semua orang tidak senang. Para dewa sangat senang.
            Dewi kemudian memberitahu mereka bahwa semuanya telah baik dan meminta mereka meminta anugerah lain. Para dewa meminta Weda dari Durgama. Para brahmana juga berharap demikian.
            Ibu Dewi menghilang. Ia diberi gelar Shakambhari Devi dan Shatakshi untuk memberikan sayuran dan makanan dan memiliki ratusan mata.
            Bahkan Durgama tidak memahami semua ini. Ia tidak bisa memahami bagaimana para dewa mendapatkan kekuatan mereka kembali. Ia kemudian menyerang surga kembali. Tetapi di depan Amaravati, Kota Indra, Ibu Dewi berdiri dengan chakra yang bercahaya. Semua dewa berada di belakangnya. Dari tubuhnya muncullah sepuluh kekuatan (Shakti) yang bernama Kali, Tara, Chinnamastaka, Bhuvaneshwari, Shri Vidya, Bhairavi, Bagala, Dhumra, Tripura Sundari, Matangi membuatnya menjadi Mahawidya. Kemudian kekuatan ini memunculkan kekuatan yang lain. Semua ini menghancurkan pasukan Durgama saat itu juga. Durga menghancurkan Durgama dengan satu pukulan karena itulah ia diberi gelar Durga. Ia diberi gelar seperti itu karena ia menjadikan hutan dan pegunungan sebagai tempat duduknya. Karena ia telah mengalahkan raksasa, Ia diberi gelar sebagai Bhimadewi dan karena ia membunuh Aruna dengan mengirimkan Bhramara, Ia disebut sebagai Bhramani dan Bhramaramba.
           
                                    Pemujaan terhadap Ibu Dewi
           
Suta Muni berkata:

            Alam adalah maya. Ini adalah Santana Brahma. Jika seseorang itu membangun sebuah kuil dengan batu, kayu atau lumpur untuk Ibu Dewi, selama ribuan generasi akan mendapatkan berkah Sang Dewi. Orang itu nantinya akan menempati tanah Dewi Siwa, Shivaloka. Jika seseorang juga menempatkan patung Shrichakra di tempat itu, orang itu akan mendapatkan manfaat yang amat banyak. Bagi mereka yang memuja Dewi di tengah-tengah Panchayatana, maka pahalanya amatlah banyak sehingga tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bermeditasi dan melakukan japa pada Sang Dewi akan menghasilkan lebih banyak lagi manfaat daripada menyebutkan nama Siwa sepuluh juta kali. Dengan berkahnya, tidak ada yang tidak mungkin. Semua yang memuja-Nya adalah kelompoknya, para gana. Ia memberkahi mereka yang memuja –Nya di kuil-Nya.
            Terdapat hari khusus dimana pemujaan akan sangat baik seperti misalnya Krishnashthami, Navami (hari kesembilan ) atau Amavasya atau lima parwadina, hari suci.
            Bhavani Vrata harus diadakan pada hari kedua pada bulan Chaitra. Pada hari ini, Uma dan Shankara harus dipuja dalam sebuah ‘ perayaan ayunan’.
            Pada hari kedua pada bulan Vyaksha, Ambika Vrata haruslah dilakukan. Pada bulan ketiga pada bulan ashada, perayaan keretanya harus dilakukan.
            Banyak sekali terdapat hari dan upacara yang berbeda dilakukandan beberapa ritual pemujaan dilakukan.
            Ini akan menjadi penuttup Umasamhita salam Shri Siwa Purana yang ditulis oleh Rsi Weda vyasa.


Akhir bagian kelima Umanama Samhita dalam
Siwa Purana yang terdiri dari tujuh samhita




Kailasha Purana

                                                          Samhita keenam

                                    Penjelasan tentang Arti Pranawa

            Para rsi dan orang suci meminta Suta Muni menjelaskan pada mereka arti Pranawa.

            Kata Suta Muni:

            Tidak ada bedanya antara Pranawa dan penciptaan. Jika penciptaan (atau jagat raya) kembali maka itu adalah Pranawa. Jika terbentang, itulah Pranawa. Jnana yang tertinggi adalah untuk mengetahui Pranawa. Benih pengetahuan adalah Pranawa. Pranawa, Keberadaan tertinggi, ada dalam ‘Om’. Karena hubungan antara guna, segalanya adalah Pranawa. Dewa Siwa adalah Pranawa dan Pranawa adalah Dewa Siwa. Pranawalah yang dimaksudkan dan Pranawalah yang diekspresikan. Keduanya adalah Vachaka dan Vacha. Brahmajnaji, mereka yang mengetahui pengetahuan tentang Dewa Siwa, tidak membedakan antara Pranawa dan ‘Om”.
            Pranawa yang diajarkan oleh Dewa Siwa pada orang sebelum mati di telinganya adalah Kashi. ‘A’ ‘U’ ‘M’- pada akhir nada- komposisi itu adalah Pranawa. ‘A’ adalah rajoguna. Yang berisikan empat wajah (chatur mukha). ‘U’ adalah wujud dari Pranawa – inilah tamoguna. Yang berkuasa adalah Dewa Wisnu. ‘M’ adalah wujud purusha yang memperkaya benih dan memiliki sifat sattwa guna. Yang berkuasa adalah Mahadewa. Kemudian Bindu berada dalam Maheswara dan Nada berada dalam Parama. Dengan cara yang sama kita harus mengetahui Sadayojata (terlahir sendiri) dalam ‘A’, Vamadewa dalam ‘U’ dan Aghora dalam ‘M’. Tatpurusha dalam bindu dan Ishana dalam nada. Dalam ‘Om’ terdapat delapan Kala (cahaya). Mereka yang lahir dengan Sadyojata jumlahnya adalah delapan. Lahir dari Vamadewa adalah tiga belas dalam ‘U’. Dalam ‘M’ terdapat delapan yang diciptakan oleh Aghora murthi. Bagi mereka yang terlahir dalam Tatpurusha adalah empat dan lima dari Ishana berada dalam nada.
            Mantra, yantra, dewata, prapancha, guru dan sishya – keenam ini disebut sebagai enam Padardha (enam zat atau substansi). Hanya lima huruf mantra yang menjadi yantra. Yantra sendiri adalah wujud dari dewa. Dewa itu adalah dunia (prapancha) dan juga dalam wujud guru. Tubuh guru adalah shishya.
            Dalam tubuh Sadhaka (pemuja) dalam Adharachakra ada ‘a’ ‘u’ dalam manipura dan ‘m’ dalam hridaya. Dalam Visuddhi chakra terdapat Bindu dan berada dalam Ajnachakra Nada. Yang paling kuat adalah Dewa Siwa dalam Sahasrara. Yang mencapai tahap Vairagya (ketidakterikatan- tanpa keinginan) bersama dengan kualifikasi – adhikara- untuk menerima Pranawa.
            Begitulah seseorang itu seharusnya mengikuti aturan prinsip celibasi, tidak melakukan kekerasan pada semua makhluk hidup, kebenaran, kebersihan, kebaikan dan perbuatan yang suci (sadachara). Selain itu, ia harus memakai abu suci dan Rudraksha sebagai bagian dari disiplin spiritual. Ketika semua ini telah dicapai, ia harus mencari seorang guru yang berbakti pada Dewa Siwa, yang mengetahui semua ilmun pengetahuan, seni dan filsafat dan ia yang bijaksana dan mampu membedakan dengan keyakinan bahwa tidak ada perbedaan antara guru dan Dewa Siwa. Murid harus mengetahi Sang Guru. Kemudian guru menguji shishya. Jika Sishya berhasil lulus ujian, atas ijin guru shisya harus makan dengan hati-hati (harus memilih) dan mengikuti semua ini dengan penuh perhatian dan niat.
            Setelah mengadakan latihan, untuk sishya, guru memberikan abu suci dari upacara api yang bernama girija homa dan menyuruhnya memakainya. Kemudian ia harus menjelaskan makna Pranawa pada muridnya.
            Kemudian Suta muni menjelaskan pada para rsi dan orang suci tugas dari seorang pertapa, kewajiban dan prosedur dalam ritual pemujaan Dewa Siwa, pemujaan Panchavarana (lima putaran siklus) dan pemujaan harian.

                        Ajaran Kumaraswami

            Suta Muni kemudian berkata:

            Suatu kali Vamadewa bertanya pada Kumaraswami mengenai Sanyasashram dan vairagya (hidup tanpa keterikatan).
            Aku akan memberitahumu, Wahai para rsi dan orang suci apa yang dikatakan oleh Shri Kumaraswami pada Vamadewa.
            Memuja lingga Dewa Siwa yang adalah wujud penyatuan antara Dewa Siwa dan Shakti akan memberikan kesejahteraan.
            Vamadewa meminta Shri Kumaraswami memberitahunya tentang mantra Mahavakya dan Shri Kumaraswami memberitahunya sebagai berikut:

i.                    Om prajnanam Brahma – prajnana adalah kebijaksanaan yang sempurna- kebijaksanaan yang didapatkan melalui indera adalah prajnanam dan itulah Brahma.
ii.         Om aham Brahmasmi
Aku terlahir dari berkah Siwa dan Shakti, Aku adalah Brahma.

iii.                Om tat twamasi
            Kamu (twam) adalah aku.

iv.                Om ayan atma Brahma
Ayam (dalam setiap waktu) mengatakan itulah aku, aku memperlihatkan Atma adalah Brahma.

v.                  Om ishavyasamidam sarvam
Keseluruhan jagat-raya ini hidup dalam Isha.

            Vi        Om Pranoka asmi
                        Pranama, memiliki kehidupan, kekuatan hidup.

            Vii       Om Prajnaatma
                        Percampuran dari semuanya dan gunanya maka akan membentuk sifat prajnaatma.

                        Dengan kata lain, prajnanama adalah ia yang didapatkan dari perwujudan, guna dan segalanya mendapatkan jnana yang lengkap.

viii.            Tadevaham tadamutra Yadamutra danmiha

Kebahagiaan yang terdapat dalam dunia ini juga terdapat di alam sana. Kebahagiaan yang ada di dunia sana seperti surga dalam dunia ini.

ix.                Anyadewa tadvidita dadho aviditadapi
Brahma yang terkenal melampaui yang diketahui dan tidak diketahui.

x.                  Om Yesha atmantaryamammrutah
Paramatma itu termasyur dalam semua hal, dalam semua loka dan dalam weda yang abadi dan bebas menjadi ia yang menempatkanmu dalam dirimu.

            Xi        Om Sayaschayama

                        Purusheyaschasavadityate sa ekah
                        Tempat Purusha di Mahanagara adalah Sukshma Sharira dan parama purusha yang ada dalam matahari adalah satu.

xii.              Om ahamasmi Parabrahma
Ia yang menjadi Jiwa adalah Paramabrahma. Ini berarti bahwa Parabrahma adalah Dewa Siwa sendiri.

            Xiii      Om vedashastra gurutwattu
                        Swayamaanada lakshanam
                        Ia yang adalah guru dari semua Weda dan shastra dan merasakan kualitas Nityananda – kebahagiaan abadi Ananda.

            Xiv      Om Sarwabhutastitham Brahma
                        Tadevham na samshayah
                       
                        Tidak diragukan lagi bahwa ‘satu’ yang ada dalam semua makhluk adalah aku.

xv.                Om Tattwasya pranohamasm
Pridhiviyah pranohamasmi

Aku adalah kehidupan (prana) dalam semua tatwa seperti yang ada di Bumi. Dalam semua tatwa di bumi aku adalah prana (kehidupan).

            Xvi      Om apancha pranohamasmi
                        Tejasacha pranohamasmi

                        Aku adalah prana (kehidupan) dari air dan semua cahaya.

            Xvii     Om Vayocha prano hamasmi
                        Akasasya prano hamasmi

                        Aku adalah dasar terbentuknya Udara dan juga Akasha.

             xix. Om Sarvoham, Sarwatmakoham Samsari, yadbhutam, yaccha bhavyam yadvartamanam,
                        Sarwatmaka twadadwitiyoham

                     Aku adalah semua. Aku ada dalam segala zat. Aku adalah penguasa jagat-raya, menjaga dan memelihara segalanya. Hal yang akan datang, yang ada dan yang memiliki atman dari semua, yang adalah Brahma dan semuanya adalah Aku.

           xx. Om sarwakhalvidam Brahma
                     Semua ini memiliki Brahma didalamnya.

xi.                Om Sarvoham vimuktoham
Yang ada dalam semua, Siwa itu adalah milikku. Aku bebas dari semua, bebas dari segala hal dan benar-benar bebas.

Kedua puluh dua mantra ini dikenal dengan nama Mahavakya. Ia mengajarkan mereka, haruslah disadari, tidak lain tidak bukan adalah Dewa Siwa. Inilah yang harus dijunjung tinggi, harus dipuja dan diikuti.
Yati, pertapa yang sesungguhnya atau seorang Avadhuta adalah orang-orang yang unik. Upacara kematian seorang pertapa juga unik. Dengan mengatakan itu pada para rsi dan orang suci Suta Muni menjelaskan tentang upacara yang diadakan pada hari kesebelas dan keduabelas dari kematian seorang yati.
Ini adalah akhir dari Kailasha Samhita (Bagian keenam) dari Shri Siwa Purana.


                                 Vayaviya Samhita
                                 Samhita ke tujuh

Dewa Vayu menemui para rsi (orang suci)

Kata Suta Muni:

Wahai para orang suci! Aku akan menceritakan sebuah cerita yang akan membuat dosa-dosa yang mendengarkannya terbasuh dari semua yang ia lakukan.
Suatu kali beberapa rsi dan orang suci menemui Dewa Brahma untuk memintanya menjelaskan tentang Parabrahma Tatwa, sifat dan ajaran Brahma. Mereka tidak mendapat jawaban yang diinginkan karena cara Dewa Brahma bercerita tidaklah tepat (ia menggunakan methode Neti Vada, menegasikan semua yang ia ceritakan).
Brahma melemparkan manomaya chakra. Ia memberitahu para rsi untuk melakukan sebuah satra yaga (upacara api) di tempat dimana chakra itu jatuh. Para rsi mengikuti chakra yang melayang itu, sangat beruntung sekali karena chakra itu jatuh di bumi. Hutan dimana chakra ini jatuh disebut dengan Naimisha aranya, hutan Naimisha. Sebuah batu dimana chakra ini jatuh di tempat itulah diberi nama Chakra tirtha.
Atas jaminan yang diberikan oleh Brahma, Dewa Vayu datang kesana pada saat satra yaga. Pada akhirnya, Vayu memanifestasikan diri dengan pengikutnya yang berjumlah empat sembilan Vayu dan menjelaskan pada para rsi tentang pengetahuan dan kesadaran akan Siwa Tatwa.
Semua ciptaan adalah Rudra. Rudra adalah Parabrahma. Brahma dan yang lainnya ada karena adanya diri-Nya. Ia abadi, konstan, menghancurkan kegelapan dan ia bercahaya seperti cahaya matahari. Ia ada dalam segalanya dan menyerap dalam segalanya. Ia adalah Ishana, penguasa segalanya. Ia tidak memiliki mata tetapi mampu melihat semuanya. Ia tidak memiliki telinga tetapi ia bisa mendengarkan semuanya. Ia tidak perlu tahu segalanya tetapi ia mampu mengetahui segalanya. Ia ada dalam diri semua makhluk hidup. Ia tidak memiliki keinginan. Ia adalah atom, bagian terkecil dalam sebuah atom. Ia lebih besar daripada yang lebih besar. Ia tidak memiliki keadaan atau kondisi; ia ada diatas segalanya. Ia adalah cahaya terang. Ia memiliki shodasa kala (enam belas kekuatan cahaya). Ia tidak memiliki pekerjaan. Ia tidak membutuhkannya. Ia tidak memiliki tanda atau simbol. Ia harus dicari oleh semua orang.

Pembagian Waktu

Ketiga bagian; Waktu, Kala, Kashta dan Nimisha adalah cahaya Dewa Siwa. Hanya ia yang bisa memahami ketiga bagian ini akan mencapai pembebasan. Tetapi, tidaklah mudah. Segalanya harus mengikuti waktu. Tidak ada yang bisa melawan waktu. Waktu berada dalam kendali Tuhan. Ia sendiri adalah Waktu.
Tidak ada yang tersisa selain WAKTU. Sangatlah sulit mengetahui kala tatwa, sifat waktu. Manusia menjadi agung atau sebaliknya, kuat atau lemah karena pergerakan waktu. Semua keagungan adalah waktu dan semua kegagalam adalah masalah waktu saja.
Para dewa bertanya pada Vayu bagaimana cara mengukur waktu dan bagaimana ini ditetapkan.

Vayu mulai berkata:

Kalamana juga disebut dengan Ayushmana. Waktu mata berkedip, tiga kali disebut sebagaI Nimisha. Lima belas Nimisha adalah satu Kastha. Tiga puluh kastha adalah satu Kala. Tiga puluh kala adalah satu muhurta. Tiga puluh muhurta adalah satu ahoratra, siang dan malam. Tiga puluh ahoratra adalah satu bulan. Dalam satu bulan, lima belas hari adalah setengah bulan (paksha) dan lima belas hari shukla paksha dan lima belas hari adalah shukla paksha dan lima belas hari shukla paksha dan lima belas hari krishna paksha. Enam bulan adalah ayana. Dua ayana adalah uttarayana dan dakshinayana. Keduanya menjadi satu tahun manusia. Satu tahun manusia adalah satu hari bagi dewa. Dakshinayana adalah malam. Dua belas bulan Dhakshinayana akan menjadi satu tahun suci. Tiga ratus dan enam puluh tahun bagi manusia adalah satu tahun dewa.
Berdasarkan inilah, pembagian yuga dilakukan. Terdapat empat yuga. Yang pertama adalah Krita yuga. Panjangnya adalah empat ribu tahun dewa. Untuk setiap sandhyakala terdapat 400 tahun dewa.Kedua sandhya (saat matahari terbenam dan terbit) menjadi delapan ratus tahun dewa. Yang berarti Krita yuga terdiri dari 4800 tahun dewa. Dijadikan tahun manusia menjadi 17 lakh 28 ribu tahun (17,28000 tahun). Dengan penjumlahan ini Treta yuga adalah 3600 tahun dewa. Dalam tahun manusia akan menjadi dua belas lakh sembilan puluh enam tahun (12.96.000 tahun). Dwapara yuga adalah 2400 tahun dewa yang sama dengan 8.64.000 tahun manusia. Kaliyuga adalah 1200 tahun dewa. Ini akan menjadi 4.32.000 tahun. Keempat yuga akan menjadi dua belas ribu tahun dewa yang berarti empat lakh dua puluh ribu (4.20.000) tahun.
Keempat yuga ini menjadi satu Maha yuga. Kasarnya 71 mahayuga sama dengan manvantara. 14 manvantara ini (1000 mahayuga) adalah satu kalpa. Ribuan kalpa adalah satu tahun Brahma. Satu tahun Brahma sama dengan delapan ribu. Ketika delapan ribu yuga telah berlalu, itulah Brahma savan. Tahun brahma adalah delapan puluh brahma savana. Satu tahu brahma adalah satu hari Wisnu. Satu hari Dewa Wisnu sama dengan satu hari Rudra. Jika Maheshwara terserap ke Nya- ini berarti bahwa satu hari Siwa telah berlalu. Satu tahun Rudra adalah satu hari Maheswara. Jika kita terus menghitung Panchamukheshwara, akan menjadi satu kalpa. Selama ciptaan masih ada, ini adalah hari baginya. Bahkan ia tidak mengenal siang dan malam. Kita mengatakan ini dengan pemahaman kita sendiri.

Penciptaan Brahma dan yang lainnya.

Sarveshwara sendiri menciptakan Brahma dan memberikannya tugas untuk mencipta. Pada awalnya, dengan berkah Dewa Siwa, Brahma mencipta dengan penuh perhatian manas. Kemudian ia ingin agar semuanya berjalan dengan cepat sehingga ia menginginkan teman dan iapun melakukan tapasya. Brahma memuja-Nya. Sesuatu selain Purusha (pria). Ini membutuhkan bentuk manusia yang lain. Dewa Siwa yang lembut menciptakan Shakti untuknya. Kemudian Brahma memiliki ide tentang wujud wanita.
Brahma menciptakan manusia dan kemudian melakukan prokreasi. Dengan ini, kreasi dengan ‘manas’ dihentikan.

Dewa Siwa dan Dewi Parwati

Selain manusia, bahkan para dewa sangat menyukai waktu bersama dengan shaktinya. Tetapi dalam kehidupan pasangan dewapun juga terjadi sedikit pertentangan.
Parameshwara biasa menyebut Dewi Parwati sebagai Kali (kulit yang hitam). Ini sangat menyakitkan, dan membuat marah Dewi Parwati. Suatu kali tidak mampu menahan lagi ia melakukan tapasya pada Brahma.
Ia melakukan tapasya dengan penuh bakti. Ia berkonsentrasi pada Parabrahma dengan keinginan untuk diberkahi dengan kulit yang putih (Gauravarna).
Di hutan dimana ia melakukan tapasya, ada seekor harimau yang kejam. Suatu hari harimau ini tidak bisa menemukan mangsanya. Harimau ini pergi ke pertapaan Parwati untuk memakannya dan memuaskan rasa lapar perutnya yang mengganggu. Tetapi bagaimanapun kuatnya harimau ini melompat ia tidak bisa menerkam Dewi Parwati. Dewi Parwati duduk memandangi harimau ini. Ia merasakan kasih sayang pada binatang ini. Harimau ini tetap berada di pondok itu untuk menjaga pertapaan. Harimau ini ikut melakukan pemujaan seperti yang Parwati lakukan.
Saat itulah terjadinya kekacauan yang disebabkan oleh Sumbha dan Nishumbha terjadi. Brahma meminta pertolongan Sang Dewi. Ibu Dewi memperlihatkan diri pada Dewa Brahma. Ibu Dewi menyampaikan keinginannya untuk memiliki kulit yang putih (Gauravarna). Brahma berdoa pada-Nya jangan berubah dulu sebelum para raksasa itu terbunuh.
Kalitatwa yang muncul darinya disebut dengan Kaushiki. Brahma memberinya seekor singa sebagai tunggangannya.Ia juga mempersiapkan makanan dan minumannya. Kaushiki adalah dewi yang membunuh raksasa Shumbha dan Nishumbha.

Cerita tentang Somanadi

Membiarkan Kalitatwa Ibu Dewi muncul sebagai Gauri. Ia pergi ke Kailasha. Ia mengambil harimau yang telah menjadi penjaga setianya bersamanya.
Ibu Dewi muncul dengan kulit yang putih yang membuat para pemuja dan pengikut Ibu Dewi terkejut.
Bahkan Dewa Siwa sangat terkejut. Ia langsung menuju tempat peraduan Dewa Siwa. Mereka menikmati kebersamaan dan kemudian Dewa Siwa menceritakan cerita lengkap tentang Kaushiki.
Ia bertanya memohon padanya agar mengijinkannya memperlihatkan harimaunya pada Nandi.
Dewa Siwa melihat harimau itu dengan senyuman pada wajahnya. Harimau itu diubah menjadi seorang wanita dengan wajah yang sangat cantik. Dewa Siwa dan Dewi Parwati menyebutnya “Somanandi”
Vayu menjelaskan pada para rsi dan orang suci bagaimana Siwa diciptakan dan memperlihatkan delapan yoga –Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Samadhi yang disebut sebagai Ashtanggayoga- kedisiplinan dengan delapan aspek.
Dengan mengikuti disiplin ini, Shakti Siwa akan bercahaya dalam diri manusia dan dalam waktu yang singkat akan menuju jnana.
Bagi mereka yang tidak berhasil menjalani disiplin ini bisa tetap berhasil dengan mengulangi delapan nama Dewa Siwa, dan bisa juga mencapai siddhi – pencapaian.

Delapan nama Dewa Siwa:
i) Shivanamah             : Wahai Dewa Siwa yang menjadikan semuanya suci, penghormatan padamu!
ii) Maheshwarayanamah: Wahai, Penguasa yang akan menunjukkan pembebasan, salam penghormatan padamu!
iii) Rudrayanamah       : wahai, yang perkasa yang bisa menghalau bencana, penghormatan padamu.
iv) Vishnavenamah     : Wahai yang menyerap dalam semua hal, penghormatan untukmu!
v) Pitamahayanamah   : Wahai asal muasal segalanya dan dunia, penghormatan padamu!
vi) Samsara bhishajenamah: Wahai penyembuh yang agung, penghormatan pada semua!
vii) Atmayanamah       : Wahai atma semuanya, penghormatan pada dirimu!
viii) Paramatmanenamah: Wahai, yang transenden dan mengatasi semua, yang penuh welas asih, penghormatan padamu!


Lima yang pertama adalah dasar dari pancha sadhana (lima cara memuja) dan dasar bagi penciptaan, tiga yang berikutnya adalah pemberi pembebasan. Tidak perduli betapa sedikitnya seseorang mempelajari ini semua, orang tersebut akan lebih dekat dengan Dewa Siwa dan mendapatkan berkahnya.
Bagi mereka yang tidak bisa memujanya secara fisik maka akan diberikan sebuah alat yang bernama Pushpashataka Manasa puja pemujaan secara mental dengan delapan sifat- i) tidak melakukan kekerasan (Ahimsa), ii) pengendalian indera (Samyamana indriya chapalya), iii) Daya (kasih sayang pada semua), iv) ketenangan (pengendalian diri), v) Kedamaian (memberikan pengampunan dan memaafkan musuh), vi) Perenungan (tapasya), vii) Dhyana (meditasi yang dalam), viii) Kebenaran diatas semua keadaan.
Kemudian Vayu menjelaskan tentang cara memuja lingga sesuai dengan kebiasaan masing-masing keluarga.
Dengan melakukan sebuah vrata (pemujaan keagamaan) saudara Dhaumya Upamanyu mendapatkan pengampunan atas dosanya.



Kisah Upamanyu

Ada seorang rsi yang bernama Vyaghrapada. Upamanyu adalah putranya. Setelah ayahnya meninggal, ia harus tinggal di rumah pamannya bersama dengan ibunya.
Putra-putra pamannya itu punya banyak sekali susu yang mereka bisa minum, namun Upamanyu tidak punya susu yang cukup yang bisa ia minum. Ia biasanya memandang ibunya dengan mata memelas. Ibunya juga tidak berdaya, ia biasanya mencampur tepung jagung dengan air dan memberikannya padanya. Ia tahu bahwa itu bukanlah susu. Ia sangat sedih.
Upamanyu meminta ijin pada ibunya untuk melakukan tapasya dan memuja Dewa siwa. Ia menjalani tapa yang sangat kusyuk. Ia melakukan tapa yang membuat para dewa khawatir. Mereka menuju Kailasha, dengan dipimpin oleh Dewa Wisnu. Dewa Siwa ingin menguji Upamanyu dan mendekati anak itu dengan menyamar menjadi Indra. Upamanyu tidak perduli. Ia kemudian berkata bahwa ia hanya menginginkan berkah dari Dewa Siwa dan tidak dari yang lainnya.
Dewa Siwa yang menyamar menjadi Dewa Indra marah. Ia mengatakan Dewa Siwa adalah dewa tanpa tempat persemayaman, dan mengembara di kuburan.
Ini membuat Upamanyu marah dan melemparkan aghorastra. Kemudian Dewa Siwa memperlihatkan dirinya dihadapan Upamanyu. Upamanyu sangat terkejut. Ia merasa sangat bahagia. Dewa Siwa memberi anugerah tanpa diminta oleh Upamanyu. Dewa Siwa memeluknya demikian juga Dewi Parwati. Upamanyu menjadi putra Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Upamanyu memberitahu Sri Krisna tentang Dewa Siwa

Kemudian Upamanyu pergi ke Himalaya. Suatu hari Shri Krishna datang ke tempat itu dan memberikan penghormatan pada Upamanyu. Ia memberitahu Shri Krishna bahwa ia tahu siapa dirinya. Upamanyu menceritakan pada Krishna tentang Dewa Siwa. Tidak ada yang lebih agung, lebih tinggi atau lebih mendalam dari Dewa Siwa. Siwadhyana, bermeditasi pada Dewa Siwa, akan memberikan semua yang ia minta. Yang paling penting adalah Bhakti.
Bhakti, Upamanyu memberitahu Krishna ada tiga jenis Bhakti: Bahya (intisari), Ananya (jenis yang lebih cepat) yang akan mengarah pada pencerahan yang lebih cepat dan Ekanta Bhakti. Ekanta Bhakti adalah cara yang paling cepat bagi sadhaka untuk mencapai pembebasan saat kelahiran ini. Ini mungkin dikarenakan oleh pahala dalam kehidupan terdahulu. Ada perbedaan atas kecepatan, namun pada akhirnya akan mengarah pada pembebasan cepat atau lambat.
Kemudian Upamanyu memberitahu Krishna tentang Japa – pengulangan nama Tuhan secara terus menerus dengan disiplin.
Setelah mendengarkan ini semua, Shri Krishna bertanya pada Upamanyu untuk memberitahunya tentang lima cara beryoga yang disebut dengan yoga pancakha.

Yoga Panchaka

Terdapat lima jenis yoga: 1) Mantra Yoga 2) Sparsha Yoga, 3) Bhava yoga, iv) Abhava yoga dan v) Maha yoga.
Anti kekerasan, kebenaran, tidak tamak, tidak menikah, adalah yama. Kebersihan, ketenangan, tapa, japa, doa adalah niyama (prinsip yang telah ditanamkan). Padmasana adalah berbagai posisi duduk untuk bermeditasi dan mengulangi nama Tuhan.
Yoga adalah jenis disiplin atau latihan tubuh dan pikiran. Mereka yang ingin berlatih yoga, pertama yang harus dipahami adalah tiga hal- Dhayana, Dheiya dan Prayojana (perenungan/meditasi, tujuan dan pahala).
Kemudian ada beberapa pantangan terhadap yoga yang disebut yoga vighna. Harus dilakukan dengan kekuatan, ketahanan, komitmen dan ketulusan. Bahkan tempat melakukan yoga harus dipilih dengan baik.

Kesimpulan

Itulah ajaran yang diberikan oleh Vayu seluruh cerita dalam Siwa Samhita, para rsi dan orang suci kemudian melakukan yajna pada hari berikutnya dan setelah mengambil avabhrutasnana – mandi suci dan melakukan pemujaan sesuai dengan Kalpa yang diceritakan oleh Brahma.
Sanata Kumara telah menunggu Nandikeshwara. Nandikeshwara yang diliputi oleh Siwamaya mengutuk Sanata Kumara karena tidak menjamunya dengan kutukan bahwa ia akan menjadi seekor unta.
Kemudian Sanata Kumara memperkenalkan semua rsi dan orang suci di Naimisha pada Nandikeshwara. Atas perintah mereka Nandikeshwara mengajarkan pada mereka Siwa tatwa/
Sehingga tujuh samhita yang panjang dalam Siwa Purana telah diberikan pada Veda vyasa oleh Sanata Kumara. Dan kemudian aku menceritakan pada kalian semua- kata Suta Muni.
Suta Muni kemudian mengatakan dan memperingatkan para rsi dan orang suci agar mereka tidak menceritakan atau meneruskan cerita pada mereka yang tidak memuja Dewa Siwa. Atau mereka yang tidak berhak atas Mahapurana atau mereka yang bukan murid dan mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Dengan memberikan cerita ini, pada orang yang tidak tepat akan membuat pencerita masuk ke neraka.
Kemudian Suta Muni memberikan salam penghormatan pada semua rsi dan orang suci.
Semua orang yang mendengarkan Pravachana Suta Muni akan diberkahi oleh Suta Muni dan iapun memohon diri untuk pergi dan para rsi mengantarnya hingga perbatasan pertapaan.
Setelah kembali mereka melakukan ‘satra’- (sebuah yaga atas nama Rudra) memuja semua dewa dengan penuh bakti.
Kemudian mereka menuju Kashi. Disana mereka tinggal untuk memuja Dewa Siwa dan oleh karena itu diberkahi oleh Siwasayujya- kedekatan dengan Dewa Siwa.
Inilah akhir dari Vayaviya Samhita dalam Siwapurana.
Inilah juga akhir dari cerita tentang Dewa Siwa dalam Siwa Purana yang dibuat dengan berkah untuk semua manusia oleh Rsi Vedavyasa (yang juga disebut dengan Shri Vyasa Bhagawan) oleh Kaundinyasa gotara – Vijaya Bhaskara Rama Rao Vadapali dari Vizianagaram, dengan berkah dari Sadguru Shivashri Sivanandamurti


OM Santih! Santih! Santih!!!!!

Margasirsha Bahula Chaturthi
Tahun telugu Swabhanu
12 Desember 2003
New Delhi.














                                   
           





                                    Arati Siwa Jee ki

            Om jaya shiva onkara swami jaya shiva onkara
            Brahma Wisnu sadasiwa ardhangi dhara

            Ekana caturanana panchanana raje,
            Hansasana garudasana vrashavahana saje,

            Do bhuja chara caturbhuja dasha bhuja ati sohe,
            Tenon rupanirakhata tribhuvana jana mohe

            Akshamala banamala rundamala dhaari
            Chandana mrigamada sohe bhole shubhakari

            Shetambara petambara baghambara ange
            Sanadika brahmadika pretadika sange

            Kara ke madhya kamandala chakra trishula dharta
            Jaga karta sangharta jaga palana karta

            Brahma, Wisnu, Sadashiva janata aviveka,
            Pranavakshara ke madhye tenon hee ekaa

            Triguna swami je ki arati jo koi gave,
            Kahata shivaananda swami
            Manavanchita phala pave


Rudhraasthaka

            Namami shamishana nirvana rupam
            Vibhuma vyapakam brahmaveda swarupam

            Nijam nirgunam nirwikalpam niriham
            Chidakasha makasha vasam bhajeham

            Nirakaram omkaramulam turiyam,
            Giraa gyana gotitamesham girisham

            Karalam mahakala kalam kripalam,
            Gunaagara sansaraparam natoham

            Tusha radri sankasha gauram gabhiram
            Manobhuta kotiprabha shri shariram

            Sphuranmauli kallolini charu gangga
            Lasadabhala balendu kanthe bhujangga.

            Chalatakundlam bhru sunetram vishalam,
            Prasananam nilakantham dayalam.

            Mrigadhisha charmaambaram mundamalam
            Priyam shankaram sarwanatham bhajami

            Prachandam prakrishtham pragalbham paresham,
            Akhandam ajam bhanukoti prakasham.

            Triyah shula nirmulanam shulapanim,
            Bhajeham bhavaanipatim bhavaganyam.

            Kalatita kalyana kalapantakaki
            Sada sajjnanandadata purari.

            Chidaananda sandoha mohaa pahari,
            Praseda praseda prabho manmathari.

            Na yavad umanatha padaravindam,
            Bhajamtiha loke pare va naranam

            Na tawatsukham shanti santapanasham
            Prasida prabho sarva bhutadhivasam.

            Na janami yogam japam naiva pujam,
            Natoham sada sarvada shambhu tubhyam.

            Jara janma dukhowdya tatapyamanam,
            Prabho pahi apanna mamisha shambho



            Shiva Panchakshara Strotam

            Nagindraharaya trilochanaya
            Bhasmaangaragaya maheshwaraya,

            Nityaaya shudhaya digambaraya,
            Tasmai na karaya namah shivaya

Mandakini salila chandan chartitaya
Nandishwara pramathanatha maheshwaraya

Mandarapushpa bahupushpa supujitaya,
Tasmai makaraya namah shivaya.

Shivaya gauri vadanabjavrinda
Suryaya dakshaayadhwara nashakaya

Shri nilakantha vrishdhwajaya,
Tasmai shikaraya namah shivaya

Vashishtha kumbhodava gautamarya,
Munindra devaarchita shekharaya

Chandrarka vaishvanara lochanaya,
Tasmai vakaraya namah shivaya

Yaksha swarupaya jatadharaya
Pinaka hastaya sanatanaya,

Divyaya devaya digambaraya,
Tasmai yakaraya namah shivaya.



Shri Lingashtakam

Brhamamurari surarchita lingam
Nirmala bhashita shobhita linggam
Janmaja dukhavinashaka linggam

Devmuni parvararchita linggam
Kamdaham karunakar linggam
Ravanadarpa vinashana linggam
Tatpranamami sadashiva lingga

Sarvasugandhi sulepit linggam
Budhivivardhana karan linggam
Sidha sura asuravandita linggam
Tatpranamami sadasiwa linggam

Kanaka mahamani bhusita linggam
Fanipati veshtita shedhita linggam
Daksuyaga vinashaka linggam
Tatpranamami sadasiwa linggam

Kunkama chandanalepit linggam
Pankajahara sushobhita linggam
Sanchita papa vinashana linggam
Tatpranamani sadashiwa linggam

Devganaarchita sevita linggam
Bhavairbhaktibhireva ch linggam
Dinkarakoti prabhakara linggam
Tatpranamami sadashiwa linggam

Ashtadalopari veshtita linggam
Sarvasamudrava karana linggam
Ashtadaridara vinaashita linggam

Surguru sarvar pujit linggam
Survanapushpa sadarchita linggam
Paratpram parmatmaka linggam
Tatpranamami sadashiwa linggam


Dvadasha Jyotirlingga sloka

Shaurashtre somnathama ch shrishaile mallikarjunama
Ujjainiyam mahakala monkaram maleshvaram

Parayam vaidyanatham ch dakinyama bhimshankaram
Setubandhe tu rameshama nageshama darukavane

Varanasyama tu vishveshama triyambkam gautamitate
Himalaye tu kendarama ghusmeshama ch shivalaye

Eitani jyotirlinggani sayam pratha ch pathennarha
Sapatjanamkritam papam smarena vinshyati


Ucapkan Om Namah Siwaya 108 kali



Arti kata

Yajna               : upacara api dengan berbagai macam persembahan
Yaga                : nama lain dari yajna
Dhupa             : dupa (wewangian yang seperti lidi)
Dipa                : lampu yang menyala, bagian dari pemujaan
Naivedya         : segalanya yang dihaturkan pada Tuhan dalam pemujaan
Japa                 : mengulangi nama Tuhan pada saat pemujaan
Dhyana            : meditasi pada Tuhan atau dewa
Sukshma          : kecil atau mikro
Sthula              : makro, besar
Panchabhuta    : lima unsur pertiwi, apah, teja, vayu, akasha; bumi, air, udara dan langit (yang tak terbatas)
Suhagana         : wanita yang sudah menikah, dianggap suci
Shodasha  upachara    : formal, ritual penyambutan, delapan belas jumlahnya seperti dhupa dan dipa.
Bhasma              : abu suci, biasanya dioleskan pada dahi dan tubuh pada saat menyiapkan pemujaan.
Tripudra             : tiga garis lurus dengan bhasma menghiasi dahi
Vamsa                : keturunan
Swarupa             : penampakan
Sakara                : dengan wujud
Nirakara             : tanpa wujud
Saguna               : dengan guna, sifat
Nirguna              : tanpa guna, atau sifat
Diksha                : pemujaan yang ketat
Rakshasa            : raksasa, musuh para dewa, bidadari atau dewi
Mrutyunjaya       : ia yang menaklukkan kematian, juga nama Dewa Siwa
Pralaya               : banjir
Pancha indriya   : lima unsur organ
Pancha-tanmatra: sabdha, sparsha, rasa, rupa, gandha; tanmatra, suara, sentuhan, rasa, penampakan dan bau.
Jnanendria          : panchaindria
Karmendria        : organ yang melakukan lima jenis tindakan
Ananda              : berkah kebahagiaan
Muhurta             : melakukan perbuatan baik
Murti                  : patung
Utsawa Murti     : patung yang dibawa pada saat prosesi dan patung itu dipuja dengan baik.
Diksa                  : arah timur laut dll
Purushartha        : dharma, artha, kama dan moksha. Jumlahnya empat merupakan tujuan hidup, susunan suci, Uang, Keinginan dan Pembebasan.
Mukti                 : pembebasan dari ikatan duniawi, juga pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Chintana             : pemikiran
Kirtana               : menyanyikan nyanyian suci dewa-dewi
Smarana             : mengingat
Gayana               : menyanyikan dengan indah
Shravana            : mendengarkan
Sadhana             : berlatih
Sadhaka             : pemuja yang melakukan sadhana
Yuga                  : waktu yang lama; ada empat yuga: Satya, Treta, Dwapara dan Kaliyuga. Saat ini adalah Kaliyuga.
Triguna               : Satwa, Rajas, Tamas menjadi tiga sifat: satwika, rajasika dan tamasika; sifat yang baik, agresif dan bodoh.
Purna awatara    : inkarnasi yang lengkap dan penuh.
Havya                 : yang dipersembahkan dalam yajna kundin; api yang ada dalam ritual api.
Anugrah             : berkah Tuhan, yang secara umum juga berarti berkah
Kalpa                  : waktu yang lebih panjang dari sebuah yuga
Manvatara          : periode dimana masing-masing manvantara memiliki Manu tersendiri, Masing-masing Manvantara sesuai dengan nama jamannnya.
Ardhanariswara: setengah laki-laki dan perempuan dari Ishwara
Akshahauini      : pasukan yang besar yang terdiri dari 21870 kereta, banyak gajah, 65610 kuda dan 109350 pasukan.
Triloka                : swarga martya dan patala loka, surga, bumi dan dunia bawah.
Kosa                   : ukuran jauh sama dengan sekitar satu atau dua mil
Yojana                : sebuah ukuran yang sama dengan empat kosa besar sekitar sembilan mil
Abhisheka          : upacara memercikkan air pada dewa atau orang yang diangkat menjadi raja.
Kshetra               : lapangan, tempat atau tempat pemujaan.