Selasa, 17 April 2012

Kepemimpinan dalam Sastra Kuna

Dalam Tantri Kamandaka, si gajah yang besar dan kuat namun angkuh, mati dibunuh oleh persekutuan si burung siung, lalat dan katak. Persekutuan dan persatuan merupakan suatu kekuatan yang maha besar sehingga akan mampu menumbangkan kekuatan sebesar apapun.
Penguasa-penguasa di Bali jaman dahulu rupa-rupanya memaklumi hal ini sehingga beliau melaksanakan strategi menggalang persatuan rakyat dalam wilayahnya. Warga-warga disatukan, dipersaudarakan dengan menyatukan pura kawitannya dalam satu kompleks pura dengan pura raja dan menyebut mereka wargi sang raja. Pada hari-hari tertentu wargi-wargi itu bertemu di Pura, yang menggalang rasa kelompok dan rasa bakti kepada raja. Namun dalam hal ini raja harus cerdik melaksanakan segala upaya mempersatukan rakyatnya. Dalam sastra Jawa Kuno dikatakan bahwa Raja harus melaksanakan taktik Catur Upaya Sandhi, yaitu Sama, Beda, Dana dan Danda.

Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Adapun terjemahan isi dari Asta Brata dalam Kekawin Ramayana adalah:
"Dan ia disuruh untuk menghormatinya, karena Ida Bhatara ada pada dirinya, delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu, itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni, demikian delapan jumlahnya, beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja, itulah sebabnya disebut Asta Brata"
  1. Indra brata, Sang Hyang Indra usahakan pegang, Ia menjatuhkan hujan menyuburkan bumi, inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata, sumbangan-sumbanganmu itulah bagaikan hujan membanjiri rakyat.
  2. Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat, ia memukul pencuri sampai mati, demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat, setiap yang merintangi kebenaran usahakan dimusnahkan.
  3. Bhatara Surya selalu menghisap air, tiada rintangan, pelan-pelan olehnya, memberikan penghidupan, demikianlah engkau mengambil penghasilan, tiada cepat-cepat demikian Surya Brata.
  4. Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya, perilaku lemah lembut tampak, senyummu manis bagaikan amerta, setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau hormati.
  5. Bagaikan anginlah engkau waktu mengamati perangai orang, hendaklah engkau mengetahui pikiran rakyat semua, dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak kentara, inilah Bayu brata, tersembunyi namun mulia.
  6. Nikmatilah hidup dengan nikmat, tidak terlalu membatasi makan dan minum, makanlah secukupnya, berpakaian dan berhiaslah yang sewajarnya, yang demikian disebut Dhanabrata patut diteladani.
  7. Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit, itulah engkau tiru Pasabrata, engkau mengikat orang-orang jahat.
  8. Selalu membakar musuh itu perilaku api, kejammu pada musuh itu usahakan, setiap engkau serang cerai berai dan lenyap, demikianlah yang disebut Agnibrata.

Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Tuntunan Niti dan hukum menjadi pedoman bagi sang pemimpin.
"sakanikang rat kita yan wenang manut, manupadesa prihatah rumaksa ya, Ksaya nikang papa nahan prayojana, Jananuragadi tuwi kapangguha”.
Artinya:
Tiang negaralah engkau jika bisa mengikuti. Petunjuk-petunjuk hukum Manu (Manawa dharmasastra) usahakan pegang. Hilangnya penderitaan itulah tujuannya. Cinta orang tentu akan kita jumpai.
Petunjuk-petunjuk seperti ini sangat banyak dijumpai dalam sastra-sastra Jawa Kuna, yang memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh bertindak sesuka hatinya ketika ia memegang kekuasaan. Dari semua hukum-hukum yang harus dipedomani oleh seorang pemimpin, disimpulkan dalam dharma yang mengandung pengertian segala sesuatu yang mendukung orang untuk mendapatkan kerahayuan. Dalam kakawin Ramayana, Bhismaparwa dan lain-lain dijumpai uraian dharma sebagai pedoman raja (pemimpin) dalam memimpin negaranya.
“Ika ta prassidha dharma ulahaning kadi, Kita prabhu, si mangraksa rat juga, Mtangian mangkana,asihning wwang ring, Sarwa bhuta marikang dharma mangkana ngaranya. Kotamaning asih ika pagawenta piratrana ring rat,ika ta sang prabu, Makambek mangakana”.
Terjemahan:
Demikianlah dharma yang sempurna engkau kerjakan sebagai raja melindungi negara, sebabnya demikian, sayangmu pada semua makhluk dharma namanya, penampilan kasih sayang itulah kamu kerjakan, untuk melindungi negara, demikianiah sang prabhu (pemimpin) seharusnya bertingkah laku.
Kutipan diatas diambil dari Bhismaparwa, yang merupakan nasihat Bhagawan Bhisma kepada Prabhu Yudistira. Apabila sang Prabhu tidak melaksanakan tugas-tugasnya sebagai raja yang melindungi rakyat dan negara, tidak menjadi panutan yang dipimpinnya, maka ia akan kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikut-pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat diketahui dari kutipan berikut:
"Laku bhrtya matinggal ratunya, yan hana ratu akeras mapanas ing gawe, byakta sira tininggal ing wadwa nira, leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda, yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira, ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa, awisesa ngaranya manarub, ya hana wwang kulina janma sinoraken, yang hana wang adhahjati dinuhuraken, yeka anarub ngaranya, yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma”, (slokantara 40)
Terjemahan :
Pelayan dapat meninggalkan rajanya, bila raja kejam dan bengis tindakannya. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa, yaitu raja yang mencampur-baurkan persoalan. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan, itulah mencampur-baurkan namanya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif.
Kutipan ini menunjukkan beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang pemimpin agar tak ditinggalkan oleh para pengikutnya. Seorang pemimpin yang baik menurut ajaran Hindu haruslah memperhatikan masalah kesejahteraan para pengikutnya. Petunjuk tentang itu dapat dilihat pada nasihat Rama kepada Wibisana berikut ini:
“Dewa kusala salam mwang dharma ya pahayun, Mas ya ta pahawreddhin bhaya ring hayu kekesan, Bhukti akaharepta wehing bala kasukan, Dharma kalawan artha mwang kama ta ngaranika”. (Kakawin Ramayana III, 54)
Terjemahan:
Pura-pura (tempat suci), rumah sakit dan pedarman supaya diperbaiki, supaya diperbanyak untuk biaya pembangunan disimpan baik-baik. Nikmatilah apa yang kamu ingini berilah kesejahteraan. Dharma, artha, dan kama namanya demikian itu.
“Santasih nitya thaganan”. (Ramayana III, 65)
Kasih sayang hendaknya engkau selalu lakukan.
Kutipan ini juga mengandung makna bahwa raja atau pemimpin harus mengembangkan nilai kejujuran (satya ta sira mojar) dan karena itu semua rakyat akan segan terhadap raja atau pemimpinnya.
Kepemimpinan Yang Paripurna Menurut Hindu
"Gunamanta Sang Dasarata, Wruh Sira Ring Weda Bhakti Ring Dewa, Tarmalupueng Pitra Puja, Masih Ta Sireng Swagotra Kabeh"
Kutipan bait Ramayana di atas, menegaskan bahwa seorang pemimpin yang sempurna dalam konsep Hindu adalah seorang Rajarsi atau ksatria pandita. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kedua sifat dalam dirinya, yaitu sifat seorang Ksatria yang gagah berani dalam menegakkan dharma, dan seorang Pandita yang arif bijaksana, selalu dalam kesucian, dan penuh cinta kasih. 

1 komentar:

  1. ... tulisan lengkap tentang Sifat Kepemimpinan menurut sastra... mantap... ngiring simpang ring http://sudiatmika.com/ajaran-asta-brata/

    BalasHapus