Selasa, 05 Februari 2013

Gunung Yang Tinggi dan Jurang Yang Dalam


Dalam Gelap Bintang Bersinar Terang
Oleh: Gede Prama

Sebuah pepatah Zen yang inspiratif berpetuah apik, “bila gunung tinggi maka jurangnya dalam.” Ini sudah menjadi hukum alam sejak dulu. Tidak ada satupun gunung tinggi yang tidak disertai oleh jurang yang dalam.

Kita semua menerima hukum alam ini secara ikhlas tanpa penolakan yang teramat berarti. Akan tetapi, begitu berhadapan dengan diri sendiri maupun pemimpin, ada semacam ketidakrelaan massal dalam hal ini.

Sebut saja diri ini yang tidak semuanya terjelaskan. Ketika sampai di salah satu puncak gunung yang tinggi (baca: jabatan dan penghargaan yang tinggi), jarang sekali ada orang yang tidak rela menerimanya. Namun, begitu jurang ada di depan mata ( pensiun, turun jabatan dan sejenisnya) tidak sedikit orang yang amat tidak rela. Bahkan, banyak orang yang membiarkan dirinya tersiksa atau jatuh sakit oleh jurang jurang sejenis.

Penyakit post power syndrome, depresi yang dialami tidak sedikit orang ketika jabatan atau rezeki hilang, orang stres karena sempat dipuja kemudian dihina, adalah sebagian saja bukti dari ketidakrelaan orang akan hukum alam “gunung tinggi jurang dalam.”

Padahal, dengan ataupun tanpa kejernihan, tidak ada satupun manusia yang bisa melawan maupun merubah hukum alam terakhir. Anda maupun saya sama saja dalam hal ini. Menyadari prinsip terakhir, saya sedang dan terus menerus belajar untuk semaksimal mungkin tampil sama di puncak gunung, maupun di dasar jurang. Dan modalnya hanya satu: sikap. Sebab, makna dari setiap kejadian, tidak terletak pada kejadian itu sendiri. Melainkan, dalam sikap kita menyiasati kejadian. Di puncak gunung, kita memang bisa melihat lebih banyak hal ketimbang di dasar jurang. Kita juga bisa menghirup lebih banyak udara segar di sana. Kita juga bisa dilihat banyak orang di tempat yang tinggi ini.

Tetapi jangan lupa, kebahagiaan ala puncak gunung jauh lebih nikmat, kalau kita pernah sengsara di dasar jurang. Rasa syukur akan indahnya puncak gunung, amat berbeda antara mereka yang pernah dan belum pernah disiksa oleh dasar jurang. Dalam logika orang kebanyakan, puncak gunung memang indah, dan dasar jurang menakutkan. Namun, meminjam argumen seorang rekan, bahwa kemalangan memperkenalkan seseorang pada dirinya, maka dasar jurang bisa juga menghadirkan sesuatu selain kesedihan.

Bahkan, ia bisa memperkenalkan kita pada lorong gelap yang teramat berarti: sang aku. Saya mulai mengenal batas daya dukung fisik ini ketika masuk rumah sakit karena kebanyakan belajar. Belajar presentasi tidak henti henti setelah dibuat insomnia oleh sejumlah penghina. Bangkit dari hidup setelah menikah di umur masih remaja, dan diramalkan banyak orang akan cerai sekian bulan kemudian. Memaksa diri untuk sekolah, bahkan ketika anak berjumlah dua orang, setelah dibuat minder oleh sepasukan orang sombong.

Dirangkum menjadi satu, puncak gunung yang teramat indah sebenarnya dimulai dari dasar jurang yang menakutkan. Ini juga berlaku pada dunia pemimpin dan kepemimpinan. Tidak ada satupun pemimpin hebat tanpa cacat.

Mahatma Gandhi yang beragama Hindu ditembak oleh seorang panganut Hindu. John Lennon dengan lirik lirik lagunya yang menyejukkan juga bernasib serupa. John F. Kennedy yang amat legendaris juga mati tertembak. Ini semua menegaskan kembali ketidakkuasaan manusia hebat manapun akan hukum alam “gunung tinggi jurang dalam.” Sayangnya, sama dengan ketidakmampuan kita dalam melihat sang aku secara lebih utuh, kita juga dihinggapi kekurangan untuk hanya menerima kehebatan pemimpin, dan menolak jurang dalam yang inheren dalam pemimpin manapun.

Saya masih menemukan sejumlah purnawirawan TNI yang kecewa berat pada pak Harto. Sebab, di tahun tahun awal beliau berkuasa semuanya diselesaikan secara amat arif dan bijaksana. Sekarang, tidak sedikit orang yang dulu memilih dan menempatkan Gus Dur sebagai pahlawan, menempatkannya dalam posisi terhujat. Mirip dengan mereka yang kecewa pada pak Harto, kumpulan barisan sakit gigi ini juga hanya mau menerima puncak gunung, dan menolak jurang dalam.

Keadaan yang sama juga terjadi di perusahaan. Demonstrasi, mogok dan ancaman sabotase sejenis juga berawal pada usaha penolakan hukum alam terakhir. Sebagai pimpinan perusahaan, saya pernah dimaki oleh orang paling bawah, dibandingkan dengan pimpinan terdahulu, dicurigai memiliki niat niat buruk. Namun, begitu diselami dan dipelajari, hampir semuanya berakar pada kekecewaan pada jurang dalam, dan hanya mau menerima keindahan puncak gunung.

Entah sampai kapan kita akan terus mengisi hidup dengan kekecewaan akan dalamnya jurang. Dan dibuai mimpi akan keindahan puncak gunung. Padahal, jangankan manusia biasa seperti Anda dan saya, Gandhi dan Kennedy saja tidak berhasil mempertahankan hidupnya terus menerus di puncak gunung.

Belajar dari sini, mungkin ada manfaatnya untuk belajar dari Charles A. Beard yang pernah menulis: “Bila malam cukup gelap, Anda baru bisa melihat indah dan terangnya bintang bintang.” Satu spirit dengan pepatah Zen di awal, di manapun dan sampai kapanpun, kita akan senantiasa dihadapkan pada jurang dalam dan puncak gunung yang tinggi. Sudah menjadi hakekat alamiah, kalau keduanya saling mengisi dan melengkapi.

Kalau kita menerima puncak gunung dan jurang dengan ikhlas, bisakah kita menerima diri kita dan juga pemimpin kita dengan keikhlasan yang sama?

Sumber: Sarikata 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar