Selasa, 16 Oktober 2012

Seorang Pedagang Buah


Pada suatu hari ada seorang perempuan Nisadha yang sudah tua sebagai pedagang buah datang ke rumah Nanda. Kita masih ingat bahwa Rajarishi Kausika pernah mengutuk putra-putra Resi Wasistha dan juga kelimapuluh putra raja Kausika sendiri untuk menjadi orang Nisadha. Orang-orang Nisadha berkehidupan sebagai para pemburu yang sering berpindah-pindah tempat. Para perempuan Nisadha kadang membawa buah-buahan ke desa dan menukarnya dengan butir-butir gandum. Kali ini tinggal beberapa butir buah-buahan yang tersisa dan dia menawarkannya di depan rumah Nanda.

Krishna kecil mendatangi pedagang buah tersebut dan minta barter buah-buahan yang dibawanya dengan butir-butir gandum dari rumahnya. Sang perempuan pedagang tersenyum dan mengangguk. Krishna kecil masuk ke rumah membawa butir-butir gandum dengan kedua telapak tangannya yang kecil menemui sang pedagang di jalan. Akan tetapi di sepanjang perjalanan, butir-butir gandum tersebut berjatuhan dan tinggal sedikit tersisa di telapak tangan yang diserahkan ke sang pedagang. Sudah bolak-balik Krishna mengambil butir-butir gandum dari rumahnya dan membawanya ke sang pedagang dan selalu saja tercecer di jalan dan tinggal sedikit yang tersisa di telapak tangannya. Sang pedagang tersenyum penuh kasih kepada Krishna kecil. Butir-butir gandum tersisa diletakkan sang pedagang ke keranjang. Dan kali ini sang pedagang memegang kedua telapak tangan Krishna yang lucu dan kecil. Sang pedagang mengambil seluruh sisa buah yang ada di keranjangnya dan memberikan kepada Krishna kecil yang segera didekapkan ke dada kecil Krishna. Sang perempuan tua pedagang tersenyum bahagia dapat menyenangkan anak kecil yang sangat menawan. Sang pedagang kemudian pamit kepada anak kecil tersebut dan meneruskan perjalanannya. Sudah seharian sang perempuan pedagang berjalan dan dia ingin beristirahat di bawah pohon yang rindang. Kala itu sang perempuan terkesima, ternyata butir-butir gandum yang jumlahnya sedikit yang dibawa anak kecil tersebut berubah menjadi banyak permata yang sangat berharga.

Sang perempuan tua pedagang buah-buahan segera menemui keluarga dan beberapa kerabat dalam kelompoknya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya. Kemudian mereka bersepakat menghentikan kehidupan mereka sebagai pemburu yang suka berpindah dan hidup berumah-tinggal di pinggir sebuah hutan. Mereka dapat hidup layak dengan banyak permata yang didapat perempuan tersebut. Mereka menanam pohon buah-buahan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka hidup berbahagia dan sang perempuan tua menjadi menjadi wanita bijak yang selalu berdoa kepada Narayana yang telah mengubah penghidupan mereka.

Dalam Bhagavad Gita IX :26-34 disampaikan, “Jika seseorang yang berhati bersih dan penuh kasih mempersembahkan daun, bunga, buah atau air, “Aku” menerimanya. Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai persembahan kepada-Ku. Ia yang berkarya tanpa keterikatan duniawi pasti akan mencapai Kesadaran Tertinggi. “Aku” yang berada dalam diri setiap makhluk sesungguhnya satu dan sama. “Aku” tidak membenci ataupun menganggap seseorang lebih penting daripada yang lain. Namun, mereka yang berkarya dalam kasih, akan selalu merasakan kehadiran”Ku”. Seseorang yang tersesat pun, apabila menyadari kehadiran-”Ku” di mana-mana, akan segera mencapai Kesadaran Tertinggi, karena ia telah memahami hal yang benar. Ia tidak akan pernah sesat lagi. Disebabkan oleh karma yang kurang baik, apabila seseorang lahir dalam keadaan yang kurang menguntungkan, akan mencapai Tujuan yang Tertinggi pula, apabila menyadari Kehadiran “Aku” di mana-mana. Apalagi mereka yang memang sudah lahir dalam keadaan yang menguntungkan. Mereka tentu akan mencapai Puncak Kesadaran yang Tertinggi itu. Pusatkan kesadaranmu pada “Aku”. Berpalinglah pada”Aku”. Berkaryalah demi “Aku”. Demikian kau akan dengan sangat mudah mencapai Kesadaran Tertinggi.

Pedagang perempuan tua dari suku Nisadha menggambarkan keadaan seseorang yang lahir dalam keadaan kurang menguntungkan disebabkan karma-karma kurang baik yang pernah dilakukannya di kehidupan sebelumnya. Akan tetapi dengan berkesadaran kasih, melakukan semua kegiatannya sebagai persembahan kepada Tuhan, berkarya untuk Tuhan, dengan mudah dia mencapai Kesadaran Tertinggi.
Raja Parikesit tertegun mendengar kisah yang disampaikan oleh Resi Shuka, “Luar Biasa! Betapa berbahagianya sang perempuan tua bisa melihat dan memegang tangan Sri Krishna. Dan nasib buruk yang menimpanya berubah menjadi kebahagiaan.

Bhagawan Byasa, kini menceritakan tentang seorang pedagang kecil. Sang pedagang kecil tidak hanya memikirkan keuntungan pribadinya, akan tetapi dia juga melakukan persembahan kepada Krishna kecil. Dia tidak berjiwa dagang. Dagang adalah pekerjaannya, sehingga setiap hari dia harus berdagang, akan tetapi dia mempunyai hati nurani, tidak semuanya dikalkulasikan dengan untung-rugi. Sang pedagang mendapatkan anugerah sebuah kesempatan untuk mempersembahkan barang dagangannya kepada Krishna secara tulus. Tidak semua orang mendapat kesempatan tersebut, dan sang pedagang tanpa sadar telah menggunakan kesempatan dengan baik. Sang pedagang berhasil karena dia melepaskan kalkulasi untung rugi dari pikiran dan dia menggunakan hati nuraninya.

Anda berderma untuk apa? Menyumbang untuk apa? Beramal-saleh untuk apa? Jika untuk “menagih” surga, anda hanyalah seorang penagih hutang. Jika untuk “memperoleh” ganjaran dan pahala, maka hubungan Anda dengan Tuhan, hanyalah hubungan antara “peminjam” dan “penagih”. Anda tidak lebih baik daripada para penagih hutang yang mendatangi seseorang dan’ mendesak dia untuk melunasi pinjamannya. Pikirkan! Jika Anda menyumbang, berderma, dan beramal-saleh “bukan karena kewajiban”, “bukan pula untuk mendapatkan (menagih) imbalan ; ketahuilah bahwa Tuhan telah “memberikan”‘ kesempatan itu kepada Anda! Berbahagialah bahwa di antara sekian banyak penagih hutang, pemberi pinjaman dan rentenir, Anda dipilih untuk menjadi “pencinta”! Para penagih hutang mendapatkan kembali hutang mereka. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Demikian pula keadaan Anda, jika Anda berdagang dengan Tuhan. Apa yang Anda berikan “dengan nama” Tuhan akan diberikan kembali kepada Anda. Tidak lebih, tidak kurang. Terserah Anda-apa mau anda? Hubungan seperti apa yang Anda inginkan dengan Tuhan? Hubungan antara kekasih dan yang dikasihi, atau hubungan antara peminjam dan penagih?.

Bhagawan Byasa memberikan nasihat secara tersirat dalam kisah pedagang buah dengan Krishna kecil, barterlah dengan sesama manusia untuk menghidupimu dan kepada Tuhan persembahkan semuanya dengan tulus penuh kasih. Barter, maksudnya berdagang dengan kesetaraan, sama-sama mendapat manfaatnya. Dan kepada Tuhan dalam wujud manusia yang memerlukan bantuan lakukanlah persembahan dengan tulus. 

1 komentar:

  1. filosofi dari kisah ini sangat tepat kita terus hayati dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus