Jumat, 31 Agustus 2012

Prahlada : Pemuja Yang Taat


Hiranyakasipu adalah raja raksasa. Dia melakukan praktek spiritual dengan sangat keras, dan Dewa Brahmā memberinya anugrah bahwa ia tidak dapat dibunuh oleh manusia atau binatang. Anugrah ini membuatnya sombong, dan dia menteror ke tiga dunia, mengatakan bahwa tidak ada Tuhan lain selain dirinya dan semua orang harus menyembah-Nya.

Dia punya seorang putra bernama Prahlāda, seorang anak religius yang selalu menyembah Tuhan Wisnu. Ini membuat ayahnya sangat marah, ia ingin menghilangkan pemikiran Wisnu dari pikiran anaknya, sehingga ia menyerahkan anaknya kepada seorang guru yang sangat keras untuk melatih dia untuk hanya menyembah Hiranyakasipu sebagai Tuhan dan bukan menyembah Wisnu. Prahlāda tidak hanya menolak untuk mendengarkan sang guru, tetapi mulai mengajar siswa lain untuk menyembah Wisnu. Gurunya sangat marah dan melaporkan kepada Raja. 
Sang Raja berlari ke kamar anaknya, dan berteriak, "Aku mendengar kau telah menyembah Wisnu!"
Dengan gemetar, Prahlāda berkata pelan, "Ya ayah."
"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melakukannya lagi!" kata raja.
"Aku tidak bisa menjanjikan itu ayah" Prahlāda langsung menjawab.
"Kalau begitu aku akan membunuhmu," teriak Raja.
"Tidak bisa, kecuali diinginkan Dewa Wisnu," jawab si anak.

Sang Raja mencoba semua kekuatannya untuk merubah pikiran Prahlāda, tapi tak satupun berhasil. Ia kemudian memerintahkan para pengawal untuk melemparkan Prahlāda ke laut, berharap agar Prahlāda takut dan berjanji untuk tidak lagi menyembah Wisnu. Tapi Prahlāda tetap setia pada Vishnu dan terus berdoa kepada-Nya dalam hatinya dengan cinta dan kesetiaan. Penjaga mengikatnya ke sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam laut. Atas rahmat Tuhan, batu itu terjatuh dan Prahlāda mengapung ke permukaan air dan terdampar di pantai dengan selamat. Dia terkejut melihat Wisnu di pantai. Wisnu tersenyum padanya dan berkata, "Mintalah padaku apa saja yang engkau inginkan."
Prahlāda menjawab, "Aku tidak ingin kerajaan, kekayaan, surga, atau umur panjang. Aku hanya ingin kekuatan untuk selalu mencintai-Mu dan tidak pernah mengubah pikiranku menjauh dari-Mu."
Wisnu mengabulkan keinginan Prahlāda.
Ketika Prahlāda kembali ke istana ayahnya, raja tertegun melihatnya masih hidup.
"Siapa yang mengeluarkanmu dari laut?" raja bertanya.
"Dewa Wisnu," kata si anak, polos.
"Jangan sebut nama itu di hadapanku," teriak ayahnya. "Di mana Dewa Wisnu-mu? Tunjukkan dia padaku," ia menantang.
"Dia di mana-mana," jawab si anak.
"Bahkan dalam pilar ini?" Tanya Raja."
"Ya, bahkan di pilar ini!" Jawab Prahlāda yakin.
"Kalau begitu suruh dia muncul di depanku dalam bentuk apapun yang ia inginkan," seru Hiranyakasipu dan memecahkan pilar itu dengan senjata besinya.

Tiba-tiba melompat keluar dari dalam pilar satu mahluk bernama Narasinga, yang setengah manusia dan setengah singa. Hiranyakasipu, berdiri tak berdaya di hadapannya. Takut, ia berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang datang menolongnya. Narasinga mengangkat Hiranyakasipu dan meletakkannya di pangkuannya, di mana tubuhnya dirobek-robek. hingga menemui ajalnya.

Tuhan memberkati Prahlāda karena kepercayaannya yang mendalam. Setelah kematian Hiranyakasipu, para raksasa itu hancur, dan Dewa mengambil alih dunia sekali lagi dari raksasa. Sampai hari ini, nama Prahlāda dimasukkan diantara pemuja besar.

3 komentar:

  1. Tuhan tidak pernah berbohong.
    Dewa Brahmā memberinya anugrah bahwa ia tidak dapat dibunuh oleh manusia atau binatang. tidak terluka oleh senjata.
    tuhan setia terhadap janjinya.
    Hiranyakasipu terbunuh oleh Narasinga, setengah manusia dan setengah singa.jadi tuhan tetap setia pada janjinya karena dia meminta tidak terbunuh oleh manusia. tidak juga binatang
    tuhan juga setia, karena hiranyakasipu dicabik dengan kuku nya.

    Jadi kalau mau berdoa, berdoalah yang benar.
    jangan berdoa setengah2
    heehee...
    Om Satya Dharma Shanti

    BalasHapus
  2. om swastyastu....
    wuih rame tumben nak simpang dini... hehehhe
    ngiring sareng2 malajah.... :)
    om santih, santih, santih, om

    BalasHapus