Rabu, 08 Februari 2012

MANIFESTASI KEMARAHAN

Pada suatu ketika kemarahan saya sedang memuncak dan pada saat itu pula saya bertemu dengan seorang tokoh spiritual. Tokoh spiritual ini menganjurkan kepada saya untuk mengekspresikan kemarahan saya agar saya bisa merasa lebih baik. Dia menyarankan pada saya untuk mengatakan sesuatu atau melakukan hal-hal yang mengizinkan kemarahan saya keluar, seperti mengambil sebatang kayu kemudian dipakai untuk memukul benda-benda yang ada atau membanting pintu dengan sekuat tenaga. Tokoh spiritual ini percaya bahwa inilah caranya untuk menyalurkan energi kemarahan yang ada didalam diri saya.

Setelah saya melakukan apa yang dianjurkan oleh tokoh spiritual ini yaitu, memukul-memukul benda dan membanting pintu dengan sekuat tenaga. Saya merasakan sedikit kelegaan, untuk sementara. Tetapi saya merasakan adanya efek samping dari  melampiaskan rasa kemarahan saya ini sangat membahayakan. Melampiaskan kemarahan dengan cara ini membuat saya merasa menjadi jauh lebih menderita lagi.
Kemarahan memerlukan energi untuk bermanifestasi. Ketika saya berusaha untuk melepaskannya dengan menggunakan seluruh kekuatan saya untuk memukul-mukul benda, setelah 1 jam berlalu, saya merasa kelelahan. Karena saya telah kelelahan, saya merasa kehabisan energi untuk memberi makan kemarahan saya. Pada saat itu saya berpikir bahwa kemarahan saya sudah tidak ada lagi, tapi itu tidaklah benar, yang tampak sekarang adalah saya sudah kelelahan untuk marah lagi.
Saya merenungi bahwa yang sebenarnya adalah bibit-bibit kemarahan yang ada didalam diri saya sendirilah yang menghasilkan kemarahan. Benih-benih kemarahan saya berasal dari ketidaktahuan, perpepsi yang keliru, kurangnya pengertian dan rasa welas asih.
Pada saat saya melampiaskan kemarahan seperti itu, sebenarnya saya sedang memperkuat benih-benih kemarahan dalam diri saya. Inilah bahaya dari cara saya melampiaskan kemarahan.
Didalam perenungan saya sendiri ternyata melampiaskan kemarahan dengan cara memukul-mukul benda atau membanting pintu atau dengan cara lainnya sesungguhnya, hal ini akan membuat situasi menjadi lebih parah.
Pada saat saya memukul benda, saya merasa bukannya menenangkan atau mengurangi kemarahan saya, tapi saya sedang menyuburkan benih-benih kemarahan saya. Kalau melampiaskan kemarahan dengan memukul benda saya lakukan setiap hari berarti saya menyuburkan kemarahan saya dan pada suatu ketika saya bertemu dengan orang yang telah membuat saya menjadi marah, mungkin saya akan mempraktikkan apa yang telah saya lakukan setiap hari. Saya akan memukul orang itu begitu saja dan karena perlakuan saya itu kemudian saya harus mendekam didalam penjara. Inilah bahayanya melampiaskan rasa kemarahan.
Sebenarnya dengan mengeluarkan energi kemarahan sangatlah tidak efektif, karena kemarahan masih ada didalam diri saya sendiri alis tidak mau keluar dari sistem tubuh saya.
Cara saya melampiaskan kemarahan ini adalah suatu latihan yang didasarkan atas ketidaktahuan. Ketika saat saya membayangkan objek kebencian sebagai sebuah benda, dengan memukul objek yang saya benci ini, seakan lebih mempertebal ketidaktahuan saya dan kemarahan saya. Ini bukannya mengurangi kekerasa dan kemarahan saya. Saya merasakan menjadi lebih brutal dan semakin menjadi marah.

Wahai kemarahan..........
Engkau adalah bayang kelam sekaligus pesona kehidupanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar